Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 65 - Kumbang Hutan


__ADS_3

"Sepertinya kau menyukai kumbang, Chen."


Xin Chen tertawa kecil, memamerkan seekor kumbang yang diletakkannya dalam kotak bening berukuran kecil. kotak-kotak itu sengaja dibawanya untuk mengumpulkan kumbang yang ditangkap dan menyimpannya di cincin ruang.


Di Lembah Kabut Putih sendiri hanya seekor kumbang saja bisa dihargai dengan nilai tinggi, tergantung keindahan dan langka tidaknya spesies yang dijual.


"Di hutan ini kumbang-kumbang berkeliaran bebas, sepertinya jarang ditangkap, ya?"


Youji terlihat seperti pemuda ramah pada umumnya, bukan hanya baik, tapi dia juga memiliki sikap polos. Karena kepolosannya itu Xin Chen sampai terkejut mendengar perkataan pemuda itu.


"Kau tidak tahu kumbang itu beracun ? Apalagi kalau disentuh, mungkin serbuk racun di sayapnya bisa masuk ke hidungmu, racun itu akan membuatmu..."


Brukh


Xin Chen sudah pingsan lebih dulu sebelum Youji berhasil menyelesaikan perkataannya.


"Pingsan. Yah, sudah pingsan duluan." Tanggap Youji enteng, dia menggendong tubuh Xin Chen ke atas pundaknya dan membawa anak itu masuk lewat pagar belakang rumah mereka.


Youji masuk ke dalam ruangan tempat Xin Chen dibaringkan, pagi sudah mulai terik di luar sana membuat cahaya matahari masuk melalui celah-celah rumah. Membuat udara yang semula sejuk berangsur hangat, dia meletakkan beberapa tanaman herbal dan mengolesnya di hidung Xin Chen.


Untuk mengurangi efek racun kumbang tadi dengan aroma tanaman herbal. Setidaknya membuat keadaan Xin Chen sedikit lebih baik dari sebelumnya.


Suara Jin Sakai membuat Xin Chen membuka matanya, terbangun menyadari dirinya sedang berada di tempat asing.


Melihat Youji dan Jin Sakai di tempat ini Xin Chen yakin dirinya sedang berada di rumah mereka.


"Ah... Aku tak tahu kau akan datang sepagi ini, Chen." Jin Sakai sedikit menarik senyum saat Xin Chen menatapinya, anak itu menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Racun kumbang membuatku pingsan di hutan, Kak Youji tak memberitahuku kumbang itu beracun."


Jin Sakai menoleh pada anaknya, ingin menegur anaknya itu agar tak seperti itu lagi. "Kau seharusnya memberi tahu para kumbang di tempat ini berbahaya, Youji."


Youji menggendikan bahunya sembari menggendong belut hasil tangkapannya ke dalam tempat, "Ayah, kumbang itu tidak terlalu beracun. Mereka hanya membuat Xin Chen pingsan saja. Tidak perlu khawatir seperti itu juga."


Jin Sakai mengangkat bahunya tak peduli, kembali mengurus pekerjaannya di ruangan menempa. "Chen, kalau kau sudah siap ayo bergegas. Kita akan menempa pedangmu sekarang."


"Eh, tapi... Aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu." Dia melompat dari tempat pembaringan dan berdiri tepat di depan pintu, "Aku akan kembali setengah jam lagi. Bisa tunggu sebentar saja?"


Jin Sakai berpikir sebentar sebelum akhirnya mengiyakan.


"Tidak apa-apa, pergilah. Kami akan menunggumu."


Xin Chen mengangguk pelan, dia segera berlari kencang menuju rumah Wei Feng. Ketika hendak mengeluarkan suara untuk memanggil Wei Feng, Xin Chen buru-buru membungkam mulutnya. Mengerutkan dahi sampai berlipat, tampaknya Wei Feng sedang berada dalam masalah saat ini.


"Memangnya hari itu siapa yang meminta kalian untuk membantuku? Dan apa-apaan ini? Bukannya inisiatif kalian sendiri yang mau membantuku dan sekarang malah meminta uang bayaran."


Dua wanita bersaudara itu jelas tidak terima dibalas balik oleh Wei Feng, "Jelas-jelas hari itu kau lihat harga obatnya tidak murah. Kau tahu keluarga kami juga membutuhkan uang daripada membantu orang sepertimu?"


"Ah... Aku tidak mau urus. Ayo, Chen. Lebih baik kita pergi dari sini," ajak Wei Feng sembari mendecih. Kesal melihat wajah dua perempuan itu lama-lama.


"Kau ini-! Tidak tahu terimakasih!'


"Berapa utangnya? Mungkin aku bisa membayarnya?"


"Lima puluh keping emas!"

__ADS_1


"Chen, untuk apa kau bayar mereka. Aku sama sekali tidak berutang, ayolah..." Wei Feng mulai menggerutu, dia melirik dua wanita itu dengan ekor matanya. Bukan hal aneh lagi kalau orang-orang mendatangi rumahnya karena alasan utang.


Karena tidak memiliki pekerjaan dan malas bertani seperti penduduk lainnya Wei Feng sama sekali tak memiliki penghasilan untuk bertahan hidup.


Dia hanya bisa memakan hewan buruan, beberapa kali jatuh sakit karena meminum air sumur kotor dan hidup serba kekurangan.


Keadaan Wei Feng yang seperti inilah yang mengundang rasa kasihan orang-orang akan tetapi perangai pria itu buruk dalam menyikapinya. Dia lebih suka bersikap seenaknya daripada menghormati sikap baik orang lain.


Pada akhirnya Xin Chen mengeluarkan 25 keping emas, menyerahkannya pada dua wanita itu. "Maaf, aku hanya punya ini. Semoga kalian bisa membebaskannya dari utang."


"Huh, lebih baik daripada pada tidak dibayar sama sekali," celotehnya menyindir Wei Feng. Dia tersenyum lembut pada Xin Chen. "Lagipula kau masih anak kecil, tidak mungkin kau bisa membayar semuanya. Kecuali kau orang dewasa dan tidak punya kerja seperti pria di sampingmu ini. Kujamin hidupmu akan sengsara sampai kiamat."


Xin Chen hampir tertawa mendengarnya, sebenarnya dia masih memiliki bergunung-gunung emas di dalam cincin ruang. Hanya beberapa saja yang dikeluarkannya untuk jaga-jaga.


Selain karena memang seharusnya anak kecil seumuran Xin Chen memang tak memiliki uang banyak seperti orang dewasa, untuk hal seperti ini Xin Chen pun tak mau menghabiskan uangnya terus menerus. Ren Yuan selalu mengajarkannya untuk berhemat. Maka dari itu dia terbiasa untuk tidak memboroskan uangnya.


Xin Chen tidak pernah merasa dirinya pelit sebab dibandingkan dirinya, Xin Zhan jauh lebih pelit. Maka dari itu Ren Yuan sering menyuruhnya saat ingin membeli apapun, anaknya itu pandai menawar barang dan dengan parasnya yang tampan mampu membuat wanita manapun akan memberikannya harga semurah mungkin saat dia datang.


Di sisi lain Xin Chen penasaran apa yang sedang dilakukan keluarganya di Lembah Kabut Putih. Apakah semuanya baik-baik saja atau tidak dia juga tidak tahu. Yang pasti dia yakin Xin Zhan tidak akan diam, kembarannya itu pasti sedang berlatih mati-matian agar bisa menjadi penerus Pedang Iblis kedua.


'Zhan Gege, lihat saja. Pulang dari sini kau akan terkejut saat aku kembali.' tekad Xin Chen sudah bulat. Dia harus membuktikan pada siapapun bahwa dia tidak selemah dulu. Dia akan merebut gelar Pedang Iblis itu bagaimanapun caranya. Sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja suara tinggi Wei Feng memekakkan telinganya.


"Tunggu... Yang kau sindir itu aku bukan!?" Wei Feng tidak tahan dengan omongan wanita itu. Pertengkaran tiga orang di depannya pun dimulai, Xin Chen bahkan tidak sempat mengajak Wei Feng untuk menyerahkan hasil buruan mereka kemarin pada Gu Long.


Setelah beberapa lama berbincang-bincang ternyata dua bersaudara ini adalah Wan Yi dan Wan Ming. Wajah keduanya sama-sama cantik dan terurus, mungkin termasuk orang yang kaya jika di desa ini.


Apalagi kuku-kuku indah mereka terawat dengan sempurna. Lelaki manapun pasti akan melihat dua kali saat dua bunga ini lewat. Hanya saja, orang seperti Wei Feng tidak tertarik dengan urusan wanita. Dia lebih memilih memanah daripada menggoda wanita.

__ADS_1


***


__ADS_2