Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 145 - Membongkar Identitas


__ADS_3

Biarpun tidak seperti yang diharapkan namun pertarungan terakhir ini cukup menarik untuk ditonton, para wakil murid yang kebanyakan adalah pendekar senior ataupun tetua saling bertukar pendapat. Siapa lagi yang mereka bicarakan kalau bukan Xin Chen, anak termuda dari klan Xin. Kalaupun menyimak obrolan mereka hanya akan ada kata-kata sindiran terhadapnya, mengingat yang mereka ketahui selama ini Xin Chen selalu gagal dalam latihannya.


"Kuharap bukan hanya omonganmu saja yang besar, Tuan Muda Xin kedua."


Sekarang Xin Chen baru menyesali kata-katanya tadi, terlanjur sudah, dia pun tidak terima dikatai oleh perempuan dari Kekaisaran Qing ini. Wajahnya yang memang ketus itu seolah menantangnya dari tadi.


"Keluarkan pedangmu dan bertarunglah serius denganku."


"Aku tak punya pedang lagi, sudah habis ku patahkan saat latihan."


Xin Chen tidak berbohong juga, Pedang Baja Phoenix sudah tergores saat terakhir kali dia memakainya. Mau mengandalkan pedang lain yang disimpannya pun kualitasnya sangat rendah jika dibandingkan dengan senjata lawannya.


Bukannya membantu, pedang itu pasti akan dibelah dua oleh wanita itu. Sebenarnya Xin Chen lebih sering menggunakan pedang Petir yang tercipta dari kekuatannya sendiri. Saat pedang itu rusak dia dapat menciptakan baru, lebih hemat daripada gonta-ganti pedang seperti pendekar kebanyakan.


"Cih, sudah sombong begitu kau masih tak henti-hentinya meninggikan dirimu! Kali ini aku tak akan segan-segan, jika kau ingin mati konyol tidak usah menangis di depanku!"


"Senior Su sepertinya salah paham. Memang sejak awal melihat aku datang kemari membawa senjata?"


Su Zhen tak menjawab melainkan menatapnya tajam. Dia memerhatikan Xin Chen lebih lama. Benar tidak ada satupun senjata di tubuhnya, sejak datang ke Kuil Teratai dia sama sekali tak melihat anak itu membawa pedang.


Su Zhen sudah bersiap dalam posisi bertarung, dia begitu serius. Aura bertarungnya pun sangat terasa. Tangan kanan Xin Chen bergerak ke samping, mengumpulkan kekuatan Api Keabadian yang mengalir dalam tubuhnya membentuk sebilah pedang yang sulit untuk dipatahkan.

__ADS_1


Li Yong sampai terbangun dari tempatnya duduk, elemen api Keabadian adalah elemen yang begitu langka. Kebanyakan petarung hanya menguasai elemen dasar seperti angin, air, api dan tanah. Namun apa yang dilihatnya ini, elemen Api Keabadian adalah api yang takkan pernah padam. Bahkan hanya dari jarak kejauhan saja panas dari pedang itu sudah terasa membakar udara.


"Aku takkan menyerang jika Senior Su tak mau bergerak. Jika seharian Senior Su tercengang maka seharian juga aku akan melihatmu di sini."


Su Zhen tersadar dan menautkan kencang kedua alisnya, giginya bergemerutuk keras sekali. "Sepertinya kau cukup lihai menyembunyikan kekuatan aslimu selama ini."


'Cerewet sekali manusia ini, andai Lang ada di sini ingin sekali ku adu mulut mereka berdua.' rutuknya dalam hati. Dirinya pun tidak bisa meremehkan Su Zhen, jika terus menerus menyembunyikan kekuatan justru dirinya akan terlihat konyol di hadapan para tetua dan juga pendekar senior di Kuil Teratai.


Su Zhen tak ragu lagi menyerang, dia menargetkan area titik buta yang seharusnya menjadi kelemahan Xin Chen. Sebagai petarung handal kemahirannya mengayunkan senjata tak bisa dipungkiri lagi. Setiap serangannya akan sangat berbahaya jika lawan tak berhati-hati.


Daripada meladeni pergerakan wanita itu Xin Chen justru melawan balik, tak membiarkan Su Zhen menyudutkan posisinya. Pertarungan berjalan hampir seimbang, bahkan Li Yong membuka tutup mulutnya. Ini sama sekali berkebalikan dengan kabar yang didengarnya dari Lembah Kabut Putih Putih. Mana ada murid yang bahkan tidak bisa membuka 10 lingkaran tenaga dalam yang mampu mengimbangi Tetua ke-20 sekte Bunga. Itu seperti bualan semata.


Terlambat menyadari ternyata aliran listrik dari pedang Xin Chen tersalur ke pedang milik wanita itu, membuatnya mundur beberapa saat sewaktu merasa tubuhnya menerima tegangan kejut.


"Kau-!"


"Ada apa Guru?" Murid-murid dari sekte Bunga tercengang, baru kali ini dia melihat gurunya mundur dalam pertarungan.


"Dia ini..."


Senyuman Xin Chen seolah membuat mulutnya terbungkam. Jika dia mengatakan bahwa anak itu menguasai elemen petir juga, Xin Chen pasti akan menertawainya dan menyuruhnya membuktikan tuduhan tersebut.

__ADS_1


"Licik juga kau," desisnya setengah berbisik.


Xin Chen tak menggubris melainkan mendekati posisi Su Zhen berdiri, pedang api di tangannya menghilang sepersekian detik dan muncul lagi saat berbenturan dengan senjata lawannya.


Su Zhen membalas lebih agresif, kali ini dia mulai bertarung serius. Jumlah kekuatan yang dikeluarkannya juga tak main-main, dalam sekali serangan tubuh Xin Chen dibuatnya terpental menghantam dinding arena. Jarak yang cukup jauh itu membuat penonton kagum dengan kekuatan wanita singa itu.


Fu Yu tahu benar jika sudah mengeluarkan kekuatan sebegitu banyaknya berarti Su Zhen menganggap lawannya ini cukup pantas untuk bertarung dengannya. Kedua alis tebal wanita itu bahkan terus menukik semenjak tadi. Dia berlari sangat kencang menyusul tubuh Xin Chen untuk melepaskan serangan lainnya, namun tendangannya hanya mengenai udara.


Xin Chen muncul di belakangnya, dengan kaki yang di tarik dari atas. Dia menendang ke arah bawah mengenai pundak wanita itu, hingga Su Zhen hampir terjongkok jika dia tak segera menahan dengan menumpu kekuatan pada otot betisnya.


Pertarungan yang semula hanya sebagai latihan pedang kini menjadi pertarungan fisik. Su Zhen tak mau menggunakan pedang karena api Keabadian milik Xin Chen sedari tadi telah membuat besi pedangnya membengkok. Memalukan jika mengeluarkan pedang itu dan dilihat wakil murid lainnya. Sementara kini dalam pertarungan fisik dirinya cukup beruntung, kekuatan tubuh Xin Chen jauh lebih lemah di bawahnya.


Satu dua serangan mengenai Xin Chen telak, Su Zhen cukup puas melihat wajahnya yang mulai tersudutkan. Hanya saja dalam serangan ketiga dia sama sekali tak bisa mengenai lawannya itu. Xin Chen bergerak begitu cepat hingga kecepatannya sama sekali tak bisa diikuti.


Topeng Hantu Darah yang digunakan Xin Chen tak hanya mampu menyembunyikan dirinya namun juga menipiskan aura keberadaan. Su Zhen mulai kewalahan, meski begitu pikirannya harus tetap jernih. Dengan pernapasan tingkat tinggi wanita itu mengaktifkan keseluruh inderanya. Pendengaran, penglihatan dan penciuman. Teknik yang hanya dimiliki dari sekte Bunga ini dikatakan bahkan mampu untuk melacak keberadaan roh sekecil apapun.


Su Zhen membuka matanya lebar-lebar saat merasakan serangan akan datang, benar saja dugaannya. Xin Chen datang dari balik punggungnya. Berniat menggagalkan serangan tersebut justru Su Zhen tak memperhitungkan serangan jenis apa yang akan dikeluarkan.


Pedang Api Keabadian yang kekuatannya lebih besar membentur pedangnya, bukan membentur melainkan membelah senjata besi berkualitas itu dengan sangat mudah. Dalam hitungan detik potongan pedang yang telah terlepas dari tempatnya jatuh di bawah kaki Su Zhen. Pedang yang telah menemaninya bertahun-tahun itu patah begitu saja, di hadapan banyak orang.


Dan bahkan di hadapan muridnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2