
Makam telah berhasil dibuat. Laki-laki itu berdoa untuk kematian sepupunya, tak mampu menahan air matanya lagi. Dia tak tahu harus berteriak seperti apa lagi agar manusia itu mengerti bahwa membunuh keluarganya adalah hal yang tak adil. Istrinya diperkosa dan dibunuh di malam dirinya melahirkan anak mereka. Anaknya juga dihabisi saat berusia 6 tahun dan terakhir, sepupu serta kawan-kawannya mati diperbudak dan dipermainkan selama lima belas hari di tempat ini.
"Tuan, ambil saja nyawaku ini. Aku rasa mati pun jauh lebih menyenangkan dari pada di perlakukan seperti sampah-"
Ucapannya terhenti dan bola matanya membeliak lebar saat sebuah pedang nyaris memenggal lehernya, angin kencang dari bilah senjata itu menggores lehernya dan membuat garis luka yang mengalirkan darah. Pedang itu diambil Xin Chen dari musuh.
Pria itu membeku di tempat sedangkan Xin Chen berucap tenang.
"Banyak orang menginginkan mati, tapi sebenarnya mereka takut akan kematian itu sendiri. Lari tidak akan menyelesaikan apa-apa, kau hanya akan semakin membenci dirimu sendiri."
"Saya hanya-"
"OH! Di sini kau rupanya, bajingan!"
Keduanya memperhatikan gerombolan pendekar berdatangan bersamaan, mereka terlihat murka dan dibakar amarah, beberapa sudah bersiap untuk mengambil kepala dua orang tersebut. Dan hanya menunggu perintah dari ketua.
Xin Chen menunjuk pria di sebelahnya.
"Lepaskan orang ini dengan begitu akan menyerahkan diri tanpa paksaan."
__ADS_1
"Ta-tapi!"
Pimpinan kelompok itu sedikit mempertimbangkan, melihat seberapa mudah pemuda itu menentukan keputusan tampaknya dia memang bukan pemuda biasa, penampilan bisa saja menipu. Dia mengangguk sambil menyeringai.
"Serahkan dirimu terlebih dahulu." Tatap matanya berubah menantang. Xin Chen meletakkan pedang di bawah kakinya.
"Tch, kau berlagak sok kuat padahal hanya manusia yang lemah. Tangkap dia dan biarkan yang satu lagi lari. Anggap saja sebaga permintaan terakhirnya, hahahha!"
Kontan orang-orang mengepungnya, mengikat kembali tangan Xin Chen yang juga sebelumnya diikat. Laki-laki itu kini memastikan bahwa Xin Chen tak memiliki benda tajam untuk melepaskan diri seperti sebelumnya.
Malam turun dengan cepat, bau rusa yang dibakar di atas api tercium kuat di kamp besar tersebut. Di antara pesta makan itu Xin Chen diikat, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk di sana. Pandangannya turun ke bawah dan sedari tadi tampak tertidur. Tak ada yang berinisiatif memeriksa keadaannya dan mereka terlalu sibuk dengan makanan sendiri.
Mata Xin Chen terbuka saat mendengar keributan dari arah belakangnya, tiga pria dewasa tengah menyeret sesuatu yang berukuran besar. Semua orang saling pandang saat seekor binatang menakjubkan hadir di tengah-tengah mereka. Mahkluk itu tak sadarkan diri saat kerumunan manusia menodongkan senjata ke arahnya dengan waspada, takut sewaktu-waktu siluman itu terbangun dan menyerang mereka.
"Kami mendapatkannya di penginapan dekat sini, aku sebenarnya tak menyangka bahwa dugaanku benar. Memang aura siluman satu ini sangat berbahaya. Ikat dia dan jangan sampai dia melepaskan diri. Terlebih lagi dengan mulutnya. Balut dengan semua kain yang kalian punya!" titah laki-laki yang tampaknya memiliki kuasa lebih besar darpada orang sebelumnya.
Di tempat lain Xin Chen hanya bisa menatap Ye Long. Benar dugaannya, naga itu ditangkap. Dan yang lebih mengejutkannya mereka di bawa ke tempat yang sama. Andai dia bisa menyelamatkan naga itu pasti akan dilakukannya tanpa ragu. Tapi di sini ada hal lebih penting yang harus dikerjakannya.
Para pendekar di depannya sibuk mengikat seluruh tubuh Ye Long, ekornya diikat pada tiang kayu besar. Berjaga-jaga karena bisa saja ekor itu membunuh nyawa teman mereka. Selain itu mulutnya dibalut ketat oleh kain dan ranting pohon tebal yang sedikit berduri. Mereka saling bantu membantu hingga tak lama terdengar suara siulan yang mengusik perhatian.
__ADS_1
Siulan itu berasal dari orang yang mereka sandera, dia terus melakukannya bahkan ketika puluhan orang mengancamnya untuk diam. Tapi memerintah orang tersebut tak beda halnya dengan berbicara pada batu, mereka membuang muka tak peduli dan terus melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Tiang besar yang sebelumnya dipergunakan uuntuk mengiikat ekor naga itu tiba-tiba saja roboh dan menghantam ke permukaan tanah. Salah satu telat menyadari dan berakhir dengan tubuhnya tertimpa batang kayu tersebut, laki-laki itu pingsan di tempat sementara kawannya mulai merasa panik saat terddengar geraman sangar yang memekakkan gendang telinga.
"Dia bangun!'
"Cepat selesaikan ikatan talinya-" perintah ketua mereka, dia mundur lalu menghadang cakaran Ye Long yang nyaris menembus kepalanya. Kain dan ranting di mulut Ye Long terlepas sebelum mereka selesai mengikatnya, Naga Hitam itu mengamuk hebat. Dia menyemburkan napas api, membuat sekitarnya kacau oleh bara Api Keabadian.
"Rarrghh! Irama itu bahkan sampai terdengar di mimpiku!"
"Heh? Seekor naga ternyata bisa bermimpi?"
Mata hitam pekat Ye Long bergerak ke satu titik di mana seseorang sedang duduk dengan santai, sementara manusia berlarian di depannya. "Aku yakin saat aku mati bahkan irama itu akan terus menghantuiku." Ye Long mendesis kecil kemudian mempelajari sekitar dngan cepat. Terakhir kali mereka berada di penginapan dan tiba-tiba saja asap tebal mengaburkan pandangannya.
Jebakan itu ternyata membuat Ye Long sampai di tempat ini. Namun ada satu hal yang membuatnya heran tak main-main. Apa yang sedang dilakukan majikannya itu, dia bisa saja lari dan menghabisi orang-orang ini dengan mudah. Tampaknya memang kelompok manusia berbaju seragam ini bukan kawan mereka.
Naga itu membakar para manusia yang hendak menyerangnya, ekor Ye Long menghantam salah satu pria dewasa. Sayang kekuatannya cukup kuat hingga dapat membalikkan serangan. Manusia-manusia di tempat ini tampaknya dua-tiga tingkat lebih kuat dari yang sering dilihatnya.
Terdengar bisik kecil yang anehnya terdengar jelas di telinga Ye Long, dia tak sempat melihat karena kelompok manusia terus mengepung dari berbagai sisi. Hanya saja Ye long menyadari mereka tak memiliki niat serius untuk membunuhnya. Hal itu cukup menguntungkan, Ye Long bisa bergerak dengan bebas.
__ADS_1
Saat dia dapat menoleh ke belakang tak di dapatinya Xin Chen di mana pun. Hanya bekas tali temali yang terbuang di atas tanah. Ye Long menggeram kesal saat dari arah kamp terdalam manusia lain berdatangan. Rombongan bertambah dua kali lipat dan dia nyaris kehilangan kekuatan untuk membakar mereka satu per satu. Dalam jangka waktu yang agak lama tersebut, sebuah jaring besar menutup pandangan Ye Long. Lalu tombak yang terbuat dari besi dan mata runcing menancap di sayapnya, membuat naga itu melonjak kesakitan di tempat.
"Bunuh dia dan ambil permatanya! Kita harus pergi dari sini sebelum pemiliknya mengetahui keberadaannya saat ini!"