
" Kalian siapa?!" seruan itu melengking mengoyak keheningan malam. Lan Zhuxian bersiap menarik pedangnya, "Kami hanya kebetulan lewat. Tolong turunkan senjata kalian."
"Kalian yang seharusnya menurunkan senjata! Ini adalah wilayah kami!"
Jelas dari wajah mereka, tidak ada satu pun yang ramah dari mereka. Hanya sekumpulan orang-orang kasar dengan bicara keras. Xin Chen berjalan di tengah-tengah Lan Zhuxian dan tiga orang bertombak itu. "Biarkan kami lewat."
"Tidak bisa, kalian bisa saja para penjahat! Turunkan senjata kalian!"
"Lalu apa?" Otak Xin Chen memang terlalu sensitif tentang masalah keuangan, dia berujar dengan nada yang sangat ketus. "Kau hendak menyita senjata kami dan menjualnya ke toko senjata, bukan?"
Tiga orang itu bertukar pandangan dengan gelisah, "Kau terlalu menghina kami!"
Xin Chen menunjuk dua pedang pusaka yang bertengger di pinggang dua orang dari mereka, "Kalian tidak mungkin memiliki benda-benda itu melihat dari bagaimana kalian menodongkan senjata. Kalian hanya penduduk biasa, bukan pendekar. Kalian mengatasnamakan tanah tak berpemilik ini sebagai wilayah kekuasaan kalian untuk merampok orang-orang yang tak sengaja melewati tempat ini."
Xin Chen membuang napas prihatin. "Sayangnya aku juga mempunyai otak yang sama seperti kalian. Tentang uang memang tidak bisa kau tawar-tawar denganku, tuan." Lalu setelah berkata demikian Xin Chen sedikit tergelak.
"Tuan memang hebat," puji Lan Zhuxian tanpa sadar. Dia tak menyangka tiga orang ini sampai berpikir demikian. Mencuri berkedok melindungi kawasan mereka. Satu dari tiga orang itu menggeram seperti serigala yang hendak memangsa musuhnya, dia menerjang tinggi dan menusukkan tombaknya ke arah Xin Chen.
Lan Zhuxian mengambil alih pertarungan melawan tiga orang sekaligus, kelihaiannya dalam mengendalikan pertarungan bahkan dapat menyeimbangi tiga orang sekaligus.
Lan Zhuxian hanya membuat ketiga orang itu pingsan, tidak sampai babak belur apalagi mati. Dilihatnya Xin Chen menggeledah isi kantong mereka. Hanya beberapa keping perak yang mereka bertiga miliki. Sementara pemukiman di belakang mereka bahkan tak memiliki penerangan. gelap menyertai, mereka tidur sangat-sangat cepat.
"Sebenarnya orang-orang ini datang dari mana?"
Lan Zhuxian mempelajari tiga orang di depannya dengan rinci, dia memperhatikan kain lusuh yang dikenakan mereka. Mungkin sebelum menjadi kumal, kain itu terbilang cukup mahal dikarenakan mmang bahannya yang bagus.
__ADS_1
"Kulit cokelat dan tangan kasar, mereka kemungkinan penebang kayu. Kain ini, bahannya mungkin didapatkan dari kekaisaran lain dan juga garis wajah mereka. Ini adalah campuran keturunan orang asli Kekaisaran Shang dengan kekaisaran Qing. Kemungkinan trbesarnya adalah mereka orang perbatasan yang tinggal di perbukitan. Jembatan Shangyu, mereka berasal di desa di dekat sana."
Xin Chen sampai menghentikan aktivitasnya mendengarkan penjelasan panjang Lan Zhuxian, tak habis pikir dengan kemampuan berpikirnya. "Pantas saja banyak orang yang tak suka denganmu."
"Maksud Tuan?"
"Hanya pemikiranku, kau bicara sangat mendetail. Omonganmu juga terlampau jujur, aku yakin kalau aku menyuruhmu menggambarkan ciri-ciriku, bahkan sampai bulu hidungku kau bawa-bawa."
"Maafkan saya, Tuan."
Xin Chen mengalihkan pikirannya pada hal lain, Lan Zhuxian segera membawa tubuh tiga laki-laki itu ke bawah pohon. Menghindari binatang buas memakan mereka saat tak sadarkan diri.
"Kita lihat-lihat dulu ke sana, mungkin bisa bermalam. Aku punya firasat malam ini akan badai hujan." Xin Chen menyusuri jalan setapak menuju pemukiman tesebut tanpa menunggu persetujuan Lan Zhuxian.
Xin Chen mendekati mayat tersebut, seharusnya dimakamkan dengan layak namun jasadnya ditelantarkan seperti binatang yang mati. Lan Zhuxian iba melihatnya, suaranya hanya berbisik-bisik.
"Dia menanggung kelaparan, tempat ini adalah tempat bagi mereka yang kehilangan rumah."
Sayup-sayup terdengar rintihan di balik-balik rumah papan, tidak ada pintu di rumah itu dan hanya ditutupi dengan kain panjang lusuh agar binatang buas tak melihat manusia di dalamnya. Lima anak-anak yang masih kecil saling berdekapan takut, mereka menggigil hebat saat terdengar suara dari arah depan rumah bobrok tersebut.
Mendapati dua pemuda berdiri di depan mereka, dua di antara mereka mengalami penyakit kulit yang cukup parah. Lan Zhuxian tak berbasa-basi lagi, dia segera menyodorkan obat-obatan yang sempat di bawanya dari Kota Qingyun. Namun saat kakinya menginjak lantai di dekat anak kecil itu, sebuah perangkap datang. Lima pisau berkarat bergerak cepat menancapnya dari arah depan.
Lan Zhuxian menangkisnya, kontan tersadar saat tiba-tiba saja mereka telah dikepung oleh puluhan manusia kelaparan. Mereka terjebak di tengah-tengah, Lan Zhuxian memindai sekitarnya lalu berucap kecil.
"Mereka sepertinya tidak bisa diajak bicara baik-baik, Tuan Muda. Biar saya yang mengurus."
__ADS_1
Kumpulan orang-orang ini cukup cerdik, pertama mereka mengutus tiga orang langsung untuk menghadang. Berpikir tiga orang tadi bisa saja gagal, mereka menyiapkan perangkap lain dengan mengorbankan anak-anak kecil. Xin Chen menatap anak kecil di hadapannya dengan lama. Setidaknya dia masih memiliki kemanusiaan untuk mengerti bahwa mereka begitu kelaparan. Diikat seperti umpan ikan untuk memancing tangkapan.
Matanya yang tenang menyiratkan kemurkaan. Di belakang mereka para dewasa di perkampungan tersebut telah menghunus senjata kepada mereka. Xin Chen dan Lan Zhuxian kalah jumlah.
Lan Zhuxian tanpa menunggu perintah segera menghadapi belasan orang itu sendirian, ketajaman pedangnya mengoyak keheningan malam. Pemuda itu tak menyukai pertumpahan darah, sebab itu tidak satu pun dari musuhnya kehilangan nyawa
Di sisi lain anak kecil di dalam rumah tersebut menghambur ke arah Xin Chen. Memeluk kakinya, kedinginan dan juga kelaparan. Xin Chen berjongkok, di matanya anak-anak ini sama seperti anak pada umumnya. Hanya saja mereka kehilangan kebahagiaan di masa kecilnya. Mereka ketakutan oleh rimba yang ganas.
Xin Chen mengeluarkan beberapa kue kering dan juga makanan yang sempat di belinya di Kota Qingyun, mereka menyambutnya dengan berebutan. Pemuda itu duduk menyandarkan tubuh di dinding yang hampir roboh tersebut.
"Kak, bagaimana kau bisa sampai ke sini? Tempat ini bukan jalur yang tepat jika ingin bepergian."
Yang paling tua akhirnya bisa berbicara dengan jelas walaupun tenggorokannya serak tercekat.
"Kami mengambil jalan pintas. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"
Bocah itu menundukkan kepala, menatap kue kering di tangannya. Kesedihan muncul di wajahnya. "Kami kehilangan tanah. Sudah delapan bulan kami berpindah-pindah tempat. Jika bukan karena diusir, karena binatang atau siluman buas. Entah seberapa jauh kami sudah berpindah ... Orang tua kami beberapa sudah tiada, sisanya kehabisan akal mengisi perut sendiri." Dia menatap adiknya, sibuk mengunyah dengan kelaparan.
"Seharusnya salah satu dari kalian mengajukan masalah ini ke pusat. Kalian dari perkampungan di Jembatan Shangyu, 'kan?"
Bocah itu menggeleng dua kali, "Sudah puluhan kali kami melakukannya, masalah sekarang sedang banyak-banyaknya. Kami mungkin hanya sebagian kecilnya, lagipula kami bukan siapa-siapa di Kekaisaran. Nyawa kami juga tidak ada yang tangisi jika sudah tiada."
"Aku membenci Kekaisaran kita yang sekarang ..." Xin Chen tak sadar menggumam, bocah itu menoleh ke arahnya.
"Suatu saat rimba yang buas ini akan menjadi rumah yang hangat untuk kalian. Pegang kata-kata ini agar kau dan adikmu terus hidup sampai hari itu datang."
__ADS_1