
Xin Zhan tenggelam sampai ke pinggang, kesadarannya mulai habis dikaburkan asap tebal yang pekat. Tak terasa apa pun dalam paru-parunya lagi, artinya dia tak lagi bisa bernapas. Kapal telah tenggelam sepenuhnya, bersama lima puluhan prajurit, mereka semua tewas dalam perjalanan ke Kota Renwu. Setidaknya, kabar kematian ini akan menjadi kematian terhormat bagi mereka yang tiada. Namun bagi seorang Xin Zhan yang dipercaya akan mewarisi kekuatan Pedang Iblis, kabar duka ini akan menjadi berita yang semakin membuat Kekaisaran Shang terpuruk.
Xin Zhan tak pernah menyangka kekuatan Api Keabadian sekejam ini, dia membakar tanpa pandang bulu. Pantas saja bahkan air laut menjadi panas, mungkin juga di bawah sana rumput-rumput laut dan karang sudah rontok dilalap api ini. Xin Zhan tak dapat lagi merasakan tubuhnya, wajahnya tenggelam, matanya hanya dapat melihat permukaan air yang mengeluarkan asap. Namun, tangannya setia terangkat ke atas sambil memegang kalung pemberian ibunya.
"Selamat ulang tahun, untuk kita berdua." Ucapannya tak jelas oleh air yang memasuki tenggorokannya. Rasa panas membakar saat air serupa api itu menembus kulit-kulit dalam tubuhnya. Xin Zhan meregang nyawa, tak dapat menahan rasa sakit lagi hingga dalam detik terakhir. Tubuhnya telah tenggelam dalam lautan tak berhati itu.
*
Ren Yuan menjadi khawatir atas alasan yang tidak jelas, berulang-ulang kali dia menarik napas kasar. Seharusnya pelayaran itu sudah mencapai Kota Renwu, dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan anaknya pertama, Xin Zhan.
Namun, setitik air matanya jatuh tanpa sebab. Ren Yuan menghapusnya pelan, melihat air mata telah membasahi punggung tangannya. Padahal dia sedang tak bersedih. Malam hari berlalu sangat lama, Ren Yuan tidak dapat tidur semalaman. Sementara Kota Fanlu telah lama sunyi, tak ada yang keluar rumah atau beraktifitas lagi.
Kegelisahan itu tak serta-merta menghilang, Ren Yuan memutuskan untuk pergi ke pelabuhan yang tak begitu jauh dari rumahnya. Memandang jauh ke laut lepas sambil mengira-ngira di mana anaknya Xin Zhan berada, dan apa yang sedang menimpanya saat ini. Malam itu langit tak berbintang, hanya awan-awan tipis kelabu yang bergerak menutupi bulan yang hanya separuh nampak. Cahaya remang-remang tak mengaburkan pandangan Ren Yuan, dari angin yang berhembus wanita itu dapat memperkirakan badai tengah melanda jauh di depan sana.
"Zhan'er ...."
Kedua tangannya menyatu, pandangan Ren Yuan terus menatap jauh, hingga penghujung malam tiba dan dirinya tetap berada di sana. Angin malam berganti pagi buta yang begitu dingin, Xin Xia rupa-rupanya mengetahui Ren Yuan tak ada di rumah, dan mendengar dari salah satu nelayan bahwa wanita itu tengah berdiri di pelabuhan sendirian.
Xin Xia memberitahukannya bahwa hawa dingin tak bagus bagi kesehatan Ren Yuan, segera tanpa menunggu jawaban Ren Yuan, Xin Xia segera membawanya ke rumah.
__ADS_1
Pagi tiba, sinar matahari kembali datang membawa hawa panas. Lalu lalang di Kota Fanlu masih sangat padat, berhubung Kota itu sudah menjadi pusat Kekaisaran Shang. Pengganti Kota Renwu yang telah ditinggalkan. Banyak pendekar berkeliaran di kedai-kedai arak dan juga toko-toko senjata. Dibandingkan Kota Renwu, Kota Fanlu lebih menawarkan keindahan laut lepas, makanan laut serta kesederhanaan masyarakatnya dalam bertutur kata.
Tempat damai dan tentram itu tentu saja tak pernah luput dari berita-berita mengerikan, bulan ini sudah berapa kalinya kasus kematian terdengar. Kasak-kusuk kembali terjadi di pinggiran laut seperti terakhir kali warga menemukan mayat laki-laki tua yang mati dengan sebuah kayu berisi pesan di tangannya. Namun, berita kali ini jauh lebih menggemparkan daripada apa pun.
Xin Zhan ditemukan terkapar di pinggiran laut. Tak bernapas. Tak ada detak jantung atau pun denyut nadi. Semua orang yang berkerumun seolah-olah dibekukan oleh es, tak mampu bergerak maupun sekedar berkata-kata. Seorang penjaga kota memberanikan diri untuk berjongkok di sebelah tubuh Xin Zhan dan mengecek suhu tubuhnya. Dingin, pucat dan nyaris seperti tidak ada darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Kegetiran tampak jelas di wajah laki-laki itu, setelahnya dia melemparkan pandangan pada masyarakat pesisir.
"Dia sudah mati."
"Tidak mungkin ...."
"Kau berbohong, mana mungkin dia meninggalkan kita semua ...."
Pagi itu jalanan kota digemparkan oleh kembalinya Xin Zhan, tanpa perahu atau apa pun yang menjadi alasan mengapa dia bisa sampai ke Kota Fanlu. Tak ada luka bakar atau pun sayatan luka, iring-iringan langkah kaki yang membawa tubuh pemuda itu bergerak ke sebuah rumah yang dihiasi pekarangan bunga indah dan beberapa tanaman herbal. Beberapa tahun terakhir Ren Yuan memutuskan untuk menjadi seorang ahli obat, namanya cukup terkenal dan keahliannya pun tak lagi diragukan.
Wanita itu baru saja memakai alas kakinya untuk pergi diam-diam ke pelabuhan sebelum kehadiran sekelompok orang mengejutkannya. Orang-orang itu berjalan tergopoh-gopoh ke tempatnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah laut.
"Tuan Muda Xin telah kembali!"
Wajah Ren Yuan tampak gembira, tak ada yang ditunggunya selain kepulangan Xin Zhan, tapi apa yang dilihatnya dari eskpresi wajah orang-orang tersebut kelihatan seperti terjadi sesuatu yang sangat buruk. Ren Yuan menangkap kegelisahan itu, dia berucap tetap tenang.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Itu ...." Pemuda itu menyenggol teman di sebelahnya, mereka sebenarnya pelaut yang biasa berada di pangkalan. Keduanya saling berharap, tak ada yang mau menjelaskan keadaan pada Ren Yuan karena wanita itu lah yang paling terpukul jika berita ini terdengar di telinganya.
Ren Yuan melewati keduanya terburu-buru, firasat buruk yang dia rasakan adalah pertanda. Sederetan penduduk menatap ke arahnya, seolah-olah tahu apa yang akan terjadi jika Ren Yuan melihat bagaimana keadaan Xin Zhan.
Atas perintah pimpinan prajurit, Xin Zhan dibawa ke rumah berobat terdekat. Hanya ada seorang ahli obat yang usianya telah lanjut. Dia menerima kedatangan itu sampai terkejut-kejut.
"Tolong, demi nyawa anak muda ini. Berikan segala yang kau punya-!" Laki-laki dalam zirah besi dan tubuh besar itu memohon, jika sekarang ini masih ada cukup ruang untuk bersujud dia akan melakukannya dengan senang hati. Baginya Xin Zhan adalah jantung Kota Fanlu, bahkan hampir seluruh Kekaisaran. Bukan sedikit pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan Xin Zhan untuk terus menjaga Kekaisaran ini dalam tujuh tahun. Dia meneruskan tugas ayahnya, dengan atau tanpa diupah.
"Aku akan membayarnya dengan semua uang bekerjaku. Lakukan yang terbaik. Kami memohon padamu."
Laki-laki tua itu memeriksa denyut nadi Xin Zhan, merasakan ketidakmungkinan untuk mengembalikan nyawa tersebut. Tapi seluruh mata menatapnya penuh harap, sang atasan para prajurit dengan baju zirah itu memeriksa ke belakang dengan bingung. Dia sempat mengirimkan dua orang untuk memberitahukan ini pada Ren Yuan tapi sampai sekarang mereka belum terlihat.
"Apakah mereka belum menyampaikan berita ini?"
"Biar saya sampaikan pada Nyonya Ren secepatnya."
Sebelum sempat mereka bergerak ternyata Ren Yuan sedang berlari di rumah pengobatan itu, melihat anaknya telah tak sadarkan diri. Mata wanita itu membulat, dia persis melihat Xin Chen 7 tahun lalu, saat berada di bawah kaki Ratu Iblis. Tak bernyawa.
__ADS_1