Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 325 - Latihan


__ADS_3

"Siapa yang datang?! Habisi sekalian di sini!" Wei Feng membalas pukulan yang mengenai rahangnya. Hidungnya berdarah, lebih parah dari yang lainnya. Wei Feng sampai tak sempat memukul lagi musuhnya yang sudah jatuh karena Yu Xiong menariknya dan Youji mundur.


Xin Chen berhenti, melihat preman tersebut. Hanya bertanya sesuatu yang tidak mereka mengerti mengerti.


"Anggap ini apa?"


"Hah?" Mereka berpikir, lalu saling memandang satu sama lain. Tidak memahami apa yang sedang ditanyakan pemuda itu.


"Latihan." Xin Chen menjawabnya sendiri. Satu tinju hendak mengenai wajahnya, Xin Chen menangkap tangan tersebut dan membanting tubuh lawannya ke tanah. Membuat anak buah itu berteriak hingga berguling kesakitan, tiga anak buah lainnya maju kompak.


Xin Chen menyerang mereka di kaki, membuat dua orang jatuh dan langsung menjadi incarannya. Keduanya babak belur dan berakhir pingsan saat Xin Chen membenturkan kepala mereka satu sama lain. Anak buah yang satu lagi kabur dan bersembunyi di balik kotak kayu berisi sayuran. Dia berteriak ketakutan, "Untuk apa kau mengejarku?! Aku bukan ketuanya!"


"Ketuanya atau tidak, aku hanya muak melihat wajahmu."


Laki-laki itu tak mengerti lagi, padahal dia tak mengatakan apa pun yang menyinggung Xin Chen. Ketuanya itu yang mencari masalah. Dia curiga, jika Xin Chen berjalan di keramaian dan menemukan satu orang jelek yang membuatnya muak mungkin dia akan langsung dilibasnya di tempat. Laki-laki itu tak bisa mengelak saat Xin Chen berdiri di depannya. Kakinya ditarik hingga tubuhnya tertelungkup.


Tentu saja dia tak langsung dilepas. Kedua tangannya ditarik ke belakang sampai hampir patah. Dia berteriak memohon ampun. Sebelum tangannya benar-benar lepas, baru Xin Chen mendengarnya. Laki-laki itu juga langsung pingsan di tempat.


Hanya tersisa preman yang menjadi ketua kelompok saja. Xin Chen tahu dia sedang bersembunyi di mana. Tanpa menunggu lagi langsung ditangkapnya laki-laki yang sedang bersembunyi di balik tumpukan jerami. Dia terkejut seperti melihat hantu, kepalanya ditarik ke depan. Tubuhnya jatuh tersungkur di atas tanah, dia buru-buru menyeret tubuhnya ke belakang saat melihat Xin Chen mendekat. Tak ada ekspresi menakutkan. Hanya saja hawa di sekitarnya lah yang membuatnya tubuhnya merinding.


"Si Cacat yang Selamat dan Si Bisu Pendiam, katamu?"


"A-aku tidak mengatakannya ..." Napasnya semakin tidak beraturan. Xin Chen mencengkram kerah bajunya dan memukul tepat di hidungnya yang seketika mengeluarkan darah.

__ADS_1


Prajurit yang lain datang dan langsung menyerobot keramaian. Satu dari mereka menodongkan pedang ke belakang tengkuk Xin Chen.


Preman tadi mengemis iba, "To-tolong ..."


"Aku sudah menanyakannya padamu tadi, kan? Kita sedang apa?"


"Sedang apa? Kau sedang membunu-"


"Kita sedang latihan. Tidak usah dibawa serius. Yang lain saja sampai babak belur. Dan juga luka ini bagus untuk ketahanan kulitmu."


Kedua prajurit itu semula bingung, namun mereka dapat melihat tiga orang lainnya mengacungkan jempol sambil mengangguk-angguk. Mereka mungkin memang teman. Masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan, prajurit itu mengangguk dan pergi begitu saja.


"Hoi, ini tidak seperti yang kalian lihat! Arghh, prajurit otak udang, tidakkah kau lihat aku hampir mati dibuatnya?! Siapa pun tolong aku!!"


*


Yu Xiong kembali teringat akan ketakutannya semula, kali ini dia sama sekali tak melihat Xin Chen. Tampaknya mereka terpisah cukup jauh. Selain itu, preman-preman yang sebelumnya sempat bertengkar dengan mereka berada di barisan kanan dan kirinya. Mereka melirik Yu Xiong dengan tatapan penuh dendam. Andai saja salah satu dari mereka membawa pisau, Yu Xiong yakin dia akan dibunuh diam-diam di tempat.


"Kau lihat apa yang akan terjadi setelah menghina kami."


"Kalian yang memulainya." Yu Xiong menjawab, nyalinya menciut saat si ketua membalikkan badan kurusnya. Wajah lebamnya terlihat jelas hasil perbuatan Xin Chen.


"Orang itu yang lebih dulu mencari masalah denganku."

__ADS_1


Yu Xiong tak tahu Xin Chen ada masalah apa dengan si preman ini, dia hanya tahu mereka akan terus terlibat masalah setelah pertengkaran tadi. Apalagi sekarang dirinya terpisah dari kelompok. Sebagai yang paling muda, mentalnya lebih mudah digoyahkan.


"Kau takut, bocah ingusan? Aku penasaran, apakah orangtuamu membuangmu sampai-sampai kau berada di sini? Si Kecil yang Malang ini membuat hatiku sedih saja. Biar aku tebak, ibumu adalah pelacur, bukan? Sampai-sampai tak mempunya uang untuk menjamin hidupmu aman?"


Yu Xiong tidak bisa terima, ibunya sudah setengah mati bekerja di ladang untuk menghidupinya. Wanita itu bahkan tak memiliki waktu tidur hanya untuk menjaganya. Dia menganggap Yu Xiong seperti harta yang berharga. Tak pernah sekalipun matanya terlepas dari anaknya. Dan di sini, ibunya dipermalukan, tangan Yu Xiong terkepal gemetar.


"Mulutmu tidak pantas mengatakan apa pun tentang ibuku." Kedua gigi Yu Xiong merapat menahan marah, hingga suara yang keluar dari mulutnya terdengar seperti geraman.


"Lihatlah, si kecil sudah marah. Ibunya pasti bangga. Dia pasti akan membela ibunya. Anak yang berbakti, sungguh. Kalian semua, terharu saja. Tidak perlu menahan air mata. Ketulusan si kecil ini patut diapresiasi."


Kesal. Yu Xiong baru pertama kali bertemu orang bermulut ular sepertinya. Sangat berbisa. Tak heran Xin Chen saja sampai terbawa emosi menanggapinya. Yu Xiong menarik napas tiga kali. Menghiraukan orang-orang di sekelilingnya sambil menelan kata-kata hinaan selanjutnya.


Apa yang mereka katakan tentang ibunya tidak benar. Dia tidak perlu marah. Mungkin saja mereka sedang mengatai ibunya sendiri. Yu Xiong menatap ke depan, melihat tubuh-tubuh yang diseret ke pinggir arena tanpa nyawa. Hanya beberapa yang selamat di putaran tersebut. Dan barisan sekitarnya semakin lama semakin sedikit. Hingga akhirnya dia dapat melihat Xin Chen berdiri di ujung. Hanya tersisa sendirian di pojok kiri. Sementara Yu Xiong dikelilingi oleh musuh yang tak henti-henti mengacaukan pikirannya.


"Kau terlalu fokus. Apakah kau sedang gugup? Hei, kecil. Mau tahu sedikit rahasia tentang memanah?"


Yu Xiong tak menjawab, dia hanya menoleh. "Pemula sepertimu tak akan mampu mengenai sasaran. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasainya. Kau bahkan tak tahu bagaimana cara berdiri yang benar, kan?"


Wajah Yu Xiong sudah menjawab bahwa pernyataan itu benar. Si preman kian menjadi-jadi.


"Lihatlah orang-orang yang mati itu, lihatlah, kau begitu miris melihat mereka. Padahal nasibmu tak akan berbeda dari mereka semua."


Lima orang itu dipanggil kompak, mereka segera mengambil busur dan menembak hanya dengan satu anak panah. Lolos dengan sangat mudah sambil mengejek-ejek Yu Xiong yang hanya bisa melihatnya putus asa. Yu Xiong bergeming di tempat saat namanya dipanggil ke depan. Dia terlalu takut. Hingga kedua lututnya gemetar.

__ADS_1


__ADS_2