
Tutup peti berderak saat seseorang mencoba membukanya, Lao Zi nyaris tak sadarkan diri saat melihat siapa yang datang. Wajahnya pucat menyerupai mayat, mulut pemuda itu bergetar saat bersuara kecil dan serak.
"Tuan Muda ..."
"Hei, ikan! Ini kami! Apa yang terjadi padamu?" seru Tian Xi khawatir sambil menepuk-nepuk pipi pemuda itu, dia membebaskan Lao Zi terlebih dahulu dari rantai tajam di sekujur tubuhnya. Di belakang Tian Xi, Lan Zhuxian ikut membantu Lao Zi keluar.
Menghilangnya Lao Zi selama beberapa hari menimbulkan permasalahan di dalam kelompok. Tidak ada yang mengajarkan memanah dan berbagai urusan ditelantarkan begitu saja. Lan Zhuxian tak bisa menyerahkan tugas Lao Zi seenaknya pada unit satu lain, termasuk Dong Ye. Dia curiga dengan apa yang terjadi dan beruntung Tian Xi-yang dekat dengan ikan-ikannya bisa mencari jejak dengan siapa terakhir kali Lao Zi terlihat.
Tanpa sepengetahuan Dong Ye mereka memasuki bangunan yang diberikan kepada Dong Ye untuk mengurus tugasnya. Terdapat banyak kertas dan laporan di sana dan satu tempat terbuang. Lan Zhuxian sudah menduganya, Lao Zi berada di tempat ini.
Tak lama mereka menatap Dong Ye yang telah berdiri di ambang pintu, memasang wajah penuh kesal.
"Apa yang kalian lakukan di tempatku?"
"Justru saya yang mempertanyakan apa maksud tuan mengurung Lao Zi di tempat ini. Dia hampir terbunuh-"
"Dia membakar semua hasil jerih payahku!" Dong Ye pergi dan kembali dengan tumpukan kertas yang sebagiannya telah menjadi abu. "Ini apa?! Kau, tidak tahu apa-apa Lan Zhuxian! Masalah antara kami bukan urusanmu!"
"Keselamatan nyawa Lao Zi adalah tanggung jawab saya."
"Oh, jadi kalian satu komplotan, ya? Baiklah! Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal, Lan Zhuxian! Orang-orangmu akan berpaling dari kalian, tunggu hingga Tuan Muda Xin kembali!"
__ADS_1
"Berhenti sampai di situ, Dong Ye!"
Kali ini gelegar suara Bai Huang seakan-akan bergemuruh di telinga Dong Ye, tapi tetap saja dia memperlihatkan wajah tak peduli. Terlanjur kesal dengan tiga orang di hadapannya dan kini tahu-tahu Bai Huang juga ikut datang menyelamatkan Lao Zi.
Bai Huang tak membutuhkan penjelasan apa-apa. Semua sudah jelas, dari beberapa orang dia sempat mendengar beberapa kali dua orang ini terlibat pertengkaran serius di markas. Bukan hanya satu-dua kali saja, tapi Bai Huang tak menyangka Dong Ye melakukan hingga sejauh ini. Nyaris membunuh Lao Zi di dalam peti mati, anak muda itu pasti sudah kehilangan akal, pikirnya.
"Lihat saja ... Sampai ku keluarkan kalian dari tempat ini. Jangan harap untuk meminta maaf dariku," peringat Dong Ye terakhir kali. Dia menabrak tubuh Bai Huang dengan sengaja lalu menyepak pintu. Bai Huang menatap punggungnya hingga menghilang serta berpikir-pikir keras. Tatapannya berangsur pada Lao Zi yang tengah kesakitan, menyuruh Tian Xi dan Lan Zhuxian segera memapahnya ke tempat pengobatan.
Hari-hari berlalu mulai tidak nyaman semenjak pertengkaran dengan Dong Ye. Benar saja, pemuda itu berhasil menguasai banyak orang yang beralih mempercayainya. Perlahan-lahan Dong Ye menanamkan rasa kebencian di hati para pendekar lain sehingga banyak sekali yang mulai tidak menyukai kebijakan Lao Zi, Bai Huang, bahkan menentang Lan Zhuxian yang merupakan suruhan langsung Tuan mereka.
Hingga terjadi perpecahan kelompok yang signifikan. Dong Ye menguasai lebih dari setengah kepercayaan para anggota yang berpihak padanya. Mereka ingin sekali menjatuhkan Lan Zhuxian dan Lao Zi dari kedudukan mereka. Hal itu semakin diperparah saat akhirnya Bai Huang kehabisan kesabaran menghadapi Dong Ye yang terus mengadu domba. Dia bertengkar hebat hingga terlibat pertarungan dengan anak dari bangsawan kota itu.
Kontan saja terjadi perselisihan yang sebelumnya sudah pernah dikatakan Xin Chen. Lan Zhuxian kehabisan langkah, ini sudah dua pekan sejak Xin Chen meninggalkan Lembah Para Dewa tanpa mengirimkan surat apa pun. Lan Zhuxian tak tahu harus ke mana dia menyampaikan berita ini agar sampai pada pemuda itu, yang diketahuinya kini adalah hampir semua anggota menentang sembilan anggota unit satu, terkecuali Dong Ye yang merupakan penggerak mereka.
"Dia sudah bertindak terlalu jauh." Yun Shan menggebrak meja dengan dua tangan terkepal, napasnya berat dipenuhi amarah. Ingin rasanya dipukulnya Dong Ye detik itu juga, sayangnya anak bangsawan itu sudah lebih dulu mengasingkan diri dan dilindungi oleh para bawahannya.
"Kita berdelapan saja tidak cukup untuk menghentikan otak licik begitu. Memang dasarnya serigala berbulu domba. Minta dihajar." Jun Xiang menambahi, dia sama kesalnya seperti Yun Shan. Bai Huang berdiri menyenderkan tubuh pada dinding di dekat pintu. Dia yang paling serius saat itu, ucapannya cukup keras mendominasi ruangan.
"Dia berhasil mengambil alih anggota, tak lama lagi orang bawahannya yang tak beda suka menjilat itu akan menggantikan posisi kita dan Dong Ye akan berdiri di posisi pertama. Lihat saja jika Tuan Muda Xin kembali, bisa saja dia berlagak seolah-olah memiliki tempat ini dan mengusirnya." Lalu laki-laki itu mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.
"Ini memalukan, padahal Tuan Muda Xin sudah mempercayakan hal ini padaku. Tapi semuanya terjadi. Bagaimana pun caranya kita harus menghentikan mereka."
__ADS_1
"Ada yang punya rencana?" Tian Xi bercelutuk. Lan Zhuxian memutuskan untuk mengeluarkan pendapatnya.
"Bagaimana jika kita bicarakan ini baik-baik dulu dengannya? Kehancuran kelompok adalah sesuatu yang paling dihindari Tuan Muda."
"Untuk apa kau mengajak bicara seekor binatang? Dia hanya akan menggigitmu walaupun kau berbicara dengan bahasa paling santun. Sudahlah Lan Zhuxian, kita perangi saja dia, bukan begitu, Pendek Dungu?" Nan Ran meminta pendapat Tian Xi yang hanya mendengus malas.
"Kau gila? Mereka sekitar 300 orang saat ini, sementara sisanya memihak netral. Tidak ada yang mau cari keributan apalagi berdiri di pihak kita. Walaupun jika Lan Zhuxian yang mengatakannya terus terang untuk memerangi orang-orang Dong Ye. Lalu apa? Kita perang saudara?"
Dia melanjutkan, "Sangat tidak efektif."
"Lalu ada yang punya solusi?"
Lao Zi bangun dari tempat duduknya, menenteng busur di tangan yang sudah dipersiapkannya dari siang.
"Aku yang akan membunuhnya. Tidak peduli jika nanti aku akan dikeluarkan atau dihukum mati. Aku tidak akan membiarkan orang picik sepertinya mempengaruhi Tuan Muda Xin."
Tepat saat Dong Ye mengatakan hal itu, pintu ruangan tempat mereka berada didobrak dari depan. Di sana telah berdiri ratusan orang dengan membawa obor api.
"Sayangnya sebelum kau melakukan hal itu, kami lebih dulu akan membawa kepalamu padanya."
***
__ADS_1
Lagi-lagi thor minta maap cm bisa satu chapter. Sdikit cerita, kmrin itu thor sampe absen kuliah dan fokus ngejar 10ribu kata seharian, dari subuh sampe malem. Jari kyk mati rasa, pas nulis denyut2an. Takut mau paksain hari ini ntar malah berabe.
Semoga bisa dimengerti man teman. Besok atau lusa thor usahakan untuk up lebih 🤧 Arigathanks!✌️