
Seluruh perhatian kini berpusat pada Yu Xiong, kematian sudah siap datang pada anak kecil malang yang malang itu. Sebab, belum beberapa menit ditempa saja, pedang buatan Jin Sakai sudah siap mengambil nyawa orang.
Kekacauan dan keributan terjadi, baik ibu Yu Xiong maupun Jin Sakai sama-sama berlari menyelamatkan anak kecil tersebut. Tapi apa daya semua berjalan begitu cepat tak terkendali. Ibu Yu Xiong berteriak, menangisi anak semata wayangnya yang kini terancam nyawanya karena pedang tersebut.
Sebagai satu-satunya anak, Yu Xiong menjadi putra yang sangat disayangi di keluarga. Meski sikap nakalnya sering melampaui batas wajar dan kerap kali ibunya yang menjadi sasaran cemoohan. Wanita itu masih sangat menyayangi Yu Xiong, bahkan hingga detik di mana jantung Yu Xiong tembus oleh mata Pedang Baja Phoenix.
Di sisi lain Xin Chen memejamkan matanya sebentar. Tak bergerak dari tempatnya berdiri sedang orang lain berlari mendekati Yu Xiong. Tak begitu lama dia membuka mata, sedikit terlihat lega.
"Berhasil."
"Apanya yang berhasil, Kecambah Iblis! Berhasil membuat anak kecil terbunuh karena ulahmu ya?! Kenapa kau berikan pedang itu kepada anak sekecil Yu Xiong? Dia mana tahu betapa bahayanya pedang!" Wei Feng menggertak, satu-satunya yang terlihat tenang di sini hanyalah Xin Chen. Dan satu hal lagi, nama Xin Chen sudah diubah menjadi nama yang berbeda. Setiap minggunya Wei Feng memiliki stok nama baru untuk mengejek Xin Chen.
"Sebelum mengoceh seharusnya kau lihat dulu, Xiong'er baik-baik saja atau tidak."
Wei Feng mencebik, dia menengok ke tempat Yu Xiong terjatuh. Sedikit terkejut bercampur heran mengapa anak yang dimaksud Xin Chen tak meninggal setelah mata pedang menembus jantungnya. Seharusnya sekarang dia sudah kehabisan darah dan menghembuskan napas terakhirnya.
Karena walaupun hanya seorang pemanah, Wei Feng juga tahu pedang seperti itu memiliki ketajaman luar biasa. Tidak hanya menembus jantung tapi juga mengoyak organ dalam korbannya. Wei Feng sedikit menerka-nerka kemudian bola matanya kembali pada Xin Chen, sedikit ragu saat mengatakannya.
"Jangan bilang kau....?"
"Teknik menghilangkan tubuh ini sepertinya memiliki banyak rahasia." Hanya itu yang keluar dari mulut Xin Chen sedangkan Wei Feng menggaruk kepalanya, sakit kepala sendiri melihat apa yang baru saja terjadi.
Dalam kurun sebulan tidak ada sedetik pun waktu yang disia-siakan oleh Xin Chen dan juga karena Rubah Petir yang menyuruhnya untuk berlatih mandiri akhirnya Xin Chen memutuskan untuk mempelajari banyak hal
Kini Xin Chen mengerti bagaimana menggunakan kekuatan Topeng Hantu Darah dengan baik, dia dapat mengalirkan kekuatan dari Topeng Hantu Darah dan menargetkan sasaran yang akan tembus apapun dengan kemampuan topeng tersebut dalam jarak kurang dari dua meter. Hal ini cukup mudah dilakukan jika dia sudah menguasai sepenuhnya cara menggunakan Topeng Hantu Darah.
__ADS_1
Kekuatan menembus ini masih terus dilatihnya sampai sekarang, untuk menemukan rahasia-rahasia lain yang tak dia ketahui.
Dimulai dari beberapa kitab yang sempat dicurinya dari Asosiasi Pagoda Perak hingga beberapa kitab yang dicurinya dari Gu Long. Membuat sedikit kemajuan pada dirinya selama di Desa Pelarian.
Wawasan dan pengetahuan Xin Chen semakin bertambah, terlebih lagi sekarang dia berhasil membuat sebuah lengan pelindung berbahan besi yang dibuat bersama Youji agar saat menggunakan kekuatan petir tangannya tidak terkena imbas dari kekuatan tersebut.
Sementara itu Rubah Petir tampaknya mulai menyukai Ye Long, dia bertapa bersama naga itu di goa air terjun, tempat Ye Long bersembunyi. Seminggu sekali Xin Chen datang ke sana, terlalu sering datang juga tak baik. Dia takut ada orang yang curiga dan akan menemukan Ye Long di goa itu.
Seandainya Huo Zhao mau memberitahunya semua kemampuan Topeng Hantu Darah mungkin ini akan menjadi lebih mudah, hanya saja sejak hari itu Huo Zhao sudah tak pernah menunjukkan dirinya lagi.
Membuat Xin Chen beberapa kali terpikirkan oleh roh perempuan tersebut, entah apa yang terjadi padanya hingga tak pernah muncul lagi.
Rubah Petir pernah mengatakan kemungkinan Huo Zhao tak bisa kembali pada Topeng Hantu Darah karena mantra yang menyegel jiwanya di sana sudah dipatahkan oleh biksu muda itu. Membuatnya tidak bisa kembali lagi ke dunia manusia.
Sementara Yu Xiong tak bersemangat seperti tadi, dia mulai takut memegang pedang. Bukan seperti harapan Xin Chen, kini pedang tidak terlihat keren lagi di mata Yu Xiong, malah menakutkan dan membuatnya berpaling muka.
Xin Chen menepuk pundak Yu Xiong, "Tidak ada yang salah dengan pedang ini. Kau tidak perlu takut."
"A-aku tidak mau memakainya lagi..." Yu Xiong menyembunyikan mukanya belakang kaki ibunya. Xin Chen tak tahu bagaimana harus membujuk Yu Xiong, mungkin karena dia anak itu selamanya akan trauma dengan senjata tajam.
"Kau bilang kau juga ingin menjadi pendekar, kau ingat laki-laki tidak boleh menarik kembali kata-katanya?"
Untuk sesaat Yu Xiong terdiam, menunduk dalam dan masih menggelengkan kepala pelan.
"Pedang ini adalah bagian dari sosok pahlawan, kau takut dengannya?" Xin Chen mendekatinya. "Seharusnya yang kau takutkan musuh-musuh di luar sana, kau bisa menyingkirkan mereka semua dengan pedang ini."
__ADS_1
Yu Xiong masih terlihat takut, "Aku tidak takut dengan pedang..."
Dia menunjuk pedang Baja Phoenix di tangan Xin Chen. "Kecuali dengan yang itu."
Jin Sakai tertawa kencang, setelah sebelumnya dibuat kaget setengah mati karena pedangnya hampir membunuh Yu Xiong. Rasa khawatir itu hilang, entah memang karena pedang tersebut meleset atau bagaimana hingga tak melukai Yu Xiong sedikitpun. Sementara Xin Chen tak menjelaskan apapun.
"Ya... Ya! Terserah. Yang penting jangan pernah menarik kata-katamu itu Xiong'er atau aku akan menjewer telingamu sampai lepas!"
"Ibu, Kakak Chen akan mengamuk!" Yu Xiong bersembunyi di belakang ibunya, baru saja Xin Chen hendak menakuti, Wei Feng sudah lebih dulu maju.
"Seharusnya yang kau takuti monster yang ini!"
Bruakh!
Ketenangan seketika sirna saat suara hentakan pada pintu kayu berdenging nyaring, sekelompok pendekar datang ke desa bersama senjata dan armor lengkap. Pasukan berkuda pun turut datang ke tempat mereka berada, Xin Chen keluar dan mendapati kekacauan terjadi di mana-mana.
Salah seorang penduduk diseret ke luar rumah dan dipenggal tanpa ampun, mata Xin Chen terbelalak melihatnya. Tidak tahu di mana letak kesalahan penghuni desa ini hingga diserbu.
Kebakaran dan hancurnya beberapa rumah tak bisa terhindarkan lagi, orang-orang keluar dari rumahnya secara paksa. Mereka ditodongkan pedang agar tak memberontak dan digiring ke satu titik berkumpul. Tempat di mana Xin Chen berdiri saat ini. Mereka membawa para penduduk tepat di depan mata Xin Chen sekarang.
Yu Xiong menangis ketika gagang pedang sengaja dibenturkan di tulang kepalanya, dia diseret-seret oleh beberapa anak muda keluar.
Suasana serba kacau ini membuat Xin Chen tak bisa tenang, dia mengelilingi sekitarnya mencari-cari akar masalah. Sampai detik ini satu hanya orang yang dicurigainya. Benar saja, orang tersebut bersuara tepat di saat Xin Chen memikirkannya.
"Terkejut melihat hasil perbuatanmu sendiri?" Sebuah suara terdengar berat dari arah belakang.
__ADS_1
***
bagian mananya yg gak ngerti we? bisa tolong kasi tau? maklum authornya lg mumet, jd susah mikirš¤§