
"Oi, oi! Kadal perut karet! Jangan kau makan semua daging di kota ini-!"
Ye Long mendengus dan lanjut berjalan cepat ke meja tempat pemotongan daging lainnya, langkah kaki naga itu membuat dunia seperti dilanda gempa besar. Anak-anak kecil menangis dan para orang tua menghujat-hujati Xin Chen dengan kata-kata pedas. Kerumunan terpecah saat sosok mahkluk aneh yang ditutupi jubah besar lewat seenaknya. Ekornya melibas gerobak dagangan orang dan itu semua menimbulkan masalah untuk sang majikan.
"Bawa biawakmu itu ke tempat lain, hei! Sial, dia mencuri sayurku! Biawak busuuuuk!"
"Argghh kenapa tempat ku juga di sepak terjang si kadal?! Hoi, ganti rugi! Bandar biawak!"
"Kejar dia! Tangkap, jangan sampai lepas!"
"Ye Long sialan ..." Xin Chen tak henti-henti merapalkan umpatan dalam hati. Andai dirinya tidak memakai tudung jubah mungkin dia akan malu selamanya.
Tidak memakan waktu lama, Ye Long berhasil menggemparkan pasar perkotaan. Tiba-tiba saja dia keluar saat Xin Chen sedang menyediakan persediaan makanan sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan yang terjadi seperti sekarang ini, Ye Long menghajar semua makanan masuk ke dalam perutnya. Bahkan hampir memakan anak manusia yang dia kira hewan.
"Ye Long! Kau sudah makan satu gerobak daging hari ini, berhenti makan atau mau mendengar Irama Kematian dariku?"
Ye Long sempat berhenti mengunyah saat mereka berhasil menepi di tempat yang lebih sepi. Meski begitu wajahnya tak kunjung merasa bersalah.
"Mulut diciptakan untuk makan, bukan untuk menghujat orang di belakang-!"
Xin Chen tak mau dengar lagi apa kata Naga Hitam itu, dia menarik telinga naga itu tinggi-tinggi. Semenjak bisa berbicara ternyata Ye Long jauh lebih cerewet dari Rubah Petir maupun Lang. Dan kelakuannya itu, tak ada bedanya dengan Xin Chen sendiri. Keras kepala dan selalu berbuat onar di setiap detiknya.
Ye Long berhenti mengunyah bunga kol saat mendengar suara derap kaki dari ujung jalan, dia melompat dan menghilang begitu saja. Bersembunyi di tubuh majikannya.
"Oh, hei. Kau yang bawa kadal besar tadi, ya?"
"Maaf mengacaukan tempat kalian."
Satu dari tiga laki-laki yang mengajaknya bicara tertawa, dia mengibaskan sebelah tangan dengan ramah. "Tak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan. Semoga hari anda menyenangkan."
Lalu tiga laki-laki itu melanjutkan pembicaraan mereka sembari berjalan, Xin Chen mengekor dari belakang secara diam-diam, bukan bermaksud menguping hanya saja arah jalannya kebetulan sama dengan tiga orang tersebut.
"Sudah digerakkan? Kau yakin berita itu benar?"
__ADS_1
Tanya yang satunya, dia lebih kurus dari tiga kawannya itu. Sementara dua yang lain menggendikan bahu, kurang pasti benar apa yang mereka ketahui betul apa salah.
"Aku dengar dari atasan. Mungkin bisa jadi benar, kalau iya, berarti Kekaisaran memang cukup gila. Mengambil resiko mengusik kawanan serigala, yang ada mereka malah tambah berisik. Lagi pula seharusnya mereka lebih tahu siapa-siapa saja yang berpihak pada kelompok tersebut. Bukan hanya orang-orang dewasa, bahkan beberapa sekte mulai mencari cara untuk membangun hubungan dengan mereka."
"Kau tahu banyak, tapi jujur aku juga kurang setuju dengan Kaisar Qin." Dia sedikit menurunkan intonasi berbicara, takut ada orang lain yang mendengar suaranya. "Jika mereka sebenarnya berpihak ke kita dan Kaisar Qin malah menekannya, kita bisa rugi. Mereka mempunyai satu pendekar tanpa batas, seperti prajurit perbatasan bilang. Satu orang itu saja sudah bisa menumbangkan seribu orang dalam satu hari."
Salah satu dari mereka sempat menyadari hawa kehadiran di belakang mereka dan segera memalingkan muka, tak mendapati siapa-siapa di sana. Namun hawa di sekitar membuat tengkuknya seperti merinding tanpa sebab.
"Kita harus cepat-cepat kembali! Ayo!"
Xin Chen kembali menampakkan wujudnya, ingin sekali mendengar obrolan mereka lagi. Tapi tampaknya yang mereka bicarakan tadi ada hubungannya dengan kelompok Empat Unit Pengintai baru.
"Jangan bilang mereka sudah ambil langkah duluan? Lan Zhuxian tidak mungkin tidak memberitahu ku."
Dia berlari, memanggil Ye Long dan terbang dengan cepat dengan naga tersebut. Menuju tempat yang dikelilingi lembah tinggi, dengan kecepatan sayap Ye Long yang tiga kali lebih cepat mereka dapat menempuh perjalanan lebih singkat. Ye Long menggeram sesekali saat petir di atas mereka mulai berkecamuk. Mereka melewati desa terkutuk yang selalu didatangi oleh badai.
Di saat itu Xin Chen menatap ke arah air terjun tinggi tempat di mana dirinya menemukan Rubah Petir. Dia tak sengaja melihat sekelebatan sosok yang memasuki daerah perhutanan.
"Ye Long, ke bawah!"
"Cepat-"
Ye Long dengan serta merta berhenti mengepakkan sayapnya dan hanya jatuh bebas ke bawah. Xin Chen menguatkan pegangan hingga dalam sepersekian detik sebelum menghantam pepohonan, Ye Long mengibaskan kembali sayap.
Xin Chen turun dan langsung mengejar arah terakhir kali dia melihat sosok mencurigakan tersebut. Dia mengawasi daerah dengan cepat dengan menggunakan kekuatan roh. Sekilas dapat dirasakannya sesuatu sedang melarikan diri ke arah barat, kurang dari sedetik sosok itu sudah berlari di luar jangkauannya.
Xin Chen tak sempat mengejar. Sosok itu terlampau cepat, dia mengepalkan tangan erat. Mungkin saja sosok itu tahu bagaimana cara mengembalikan Rubah Petir. Seseorang mengambil permatanya dan Xin Chen benar-benar tak memiliki petunjuk siapa yang membawa lari benda berharga tersebut.
Tanpa disadari Ye Long kembali, kipasan sayapnya yang kencang membuat dedaunan pohon beterbangan kencang. Dia mendarat di sebelah Xin Chen dengan mulut menyembunyikan sesuatu.
"Apa itu?"
Ye Long mengeluarkannya, hanya sebuah kalung emas biasa yang dihiasi mutiara indah. Xin Chen mendecak.
__ADS_1
"Lihat situasi, kita tidak sedang berburu harta karun."
"Aku menemukan ini saat terjatuh dari tubuhnya."
"Tubuhnya?"
"Manusia itu?"
"Siapa?"
"Aku bukan induknya, mana tahu siapa dia."
Xin Chen menatapnya dengan tatapan suram. Ye Long menggeram samar. "Manusia, rambutnya diikat aneh. Pakai pakaian aneh. Lebih dari itu aneh semua."
Xin Chen hampir tak mengerti apa yang sedang dijabarkan Ye Long, dia menyimpan barang itu lebih dulu. Mungkin lebih baik menanyakannya nanti saat di markas karena pikirannya saat ini tertuju pada keselamatan Empat Unit Pengintai di Lembah Para Dewa.
"Bagaimana jika Kaisar Qin memerangi mereka?"
"Siapa?"
"Teman-temanku."
"Teman-teman manusia? Rarrgghh! Pasti seru!"
"Terserah. Kita harus cepat atau sesuatu yang buruk mungkin sedang terjadi pada mereka."
Kepak sayap membelah udara dengan tajam, Ye Long fokus mempercepat perjalanan hingga batas tertingginya. Naga itu merasa bebas setelah terkurung tujuh tahun di kota yang suram. Hawa sejuk dan keindahan alam yang dirindukannya selama bertahun-tahun itu akhirnya kembali dirasakannya.
Ye Long turun saat melihat gerbang besar, di tempat itu Lembah Para Dewa terkunci rapat dan dilindungi oleh dinding besi tebal yang tak dapat ditembus dengan mudah.
Xin Chen baru saja turun sebelum seseorang berbicara di depannya.
"Apakah Anda Tuan Muda yang mereka maksud? Maaf mengganggu waktu Anda, sebelumnya. Tapi saya sudah menunggu sampai tiga hari di depan gerbang ini, tidak ada yang memperkenankan kami masuk walaupun kami datang dengan cara damai."
__ADS_1
Sosok itu menunduk singkat.
"Perkenalkan nama saya Xin Zhan, utusan langsung Kaisar Qin untuk berkunjung menemui pemimpin dari Empat Unit Pengintai."