Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 256 - Sang Pembunuh


__ADS_3

Anak panah meluncur gesit menuju satu arah, di mana dua orang dan seekor naga berdiri terkepung. Ye Long menggeram kencang, mengepakkan sayapnya hingga membuat panah-panah tersebut terlempar ke arah berlawanan. Naga hitam itu menyempurkan api biru yang selanjutnya membuat musuh terpecah, meski begitu mereka tetap menyerang di saat menemukan kesempatan.


Namun dari sekian banyaknya anak panah, tidak ada satu pun yang mengenai target, mereka baru menyadari beberapa detik kemudian saat sebuah anak panah nyaris menusuk pemuda yang mengenakan jubah tetapi benda itu seolah-olah hilang di telan sesuatu, terdapat perisai tipis yang tak mudah dilihat dan semua anak panah mereka berakhir hilang di sana.


"Kita harus cepat. Ye Long, kualihkan padamu."


"Rarrghh! Lawan ikan teri lagi?!" Sebelum selesai memprotes kedua orang tersebut sudah pergi dari sana.


Xin Chen tak mau mnghabiskan lebih banyak waktunya untuk meladeni kelompok pemanah itu, bisa saja saat dirinya sedang sibuk bertarung musuh lebih dulu menyimpan barang rahasia mereka. Beberapa pendekar menghalau jalan dengan menebaskan pedang panjang. Pertumpahan darah terjadi begitu saja, Xin Chen terus menyerang ketika membelah kawanan musuh.


Teriakan perang menggema di kamp yang letaknya paling dalam tersebut, tak ada yang ragu untuk maju melawan bahkan ketika mereka melihat puluhan teman mereka jatuh terkapar tak bernyawa. Laki-laki yang mengikuti Xin Chen di belakang menggigil ketakutan, bibirnya tak bisa mengatakan apa pun selain diam dan mengikuti ke mana perginya pemuda itu.


"Le-lewat sini tuanku ..." Laki-laki itu menunjuk ke sebuah rumah yang berada di dataran paling tinggi, dilindungi oleh pagar yang terbuat dari tanah tinggi. Tak ada satu pun yang berjaga di sana, Xin Chen tahu itu adalah jebakan. Dia berhenti tepat sebe;um menginjakkan kaki di depan gerbang, menendang pintu yang terbuat dari kayu dan seketika itu pula belati-belati kecil terlempar ke arahnya.


Senjata kecil itu berhenti melayang tepat di depannya dan jatuh menimbulkan bunyi berisik di tanah, di dekat gerbang itu sendiri tumbbuh sebuah pohon besar di mana seorang pembunuh berdarah tengah mengincarnya dengan tatapan mata nyalang. Dia tertawa terbahak-bahak saat melihat dua orang itu selamat dari jebakan sederhananya.


"Cih, hanya kalian sepertinya penyusup yang menggunakan otak saat hendak bertamu ke rumah musuh." Dia turun dengan melompat dari dahan pohon, tubuhnya yang berat menimbulkan bunyi tapak yang terdengar keras. Dia tak membawa senjata apa pun dan hanya dengan tangan kosong saat menghadapi Xin Chen dan seorang pria di sebelahnya.


"Tampaknya kau orang yang berasal dari kekaisaran lain. Bukan begitu? Kau orang utusan alkemis gila Kekaisaran Wei?" Di pikiran pembunuh itu Xin Chen lebih mirip dengan ciri-ciri orang kekaisaran sana walaupun dari segi kekuatan aura dari pemuda itu terasa berbahaya. Sekilas dia memang berpikir bahwa sosok tersebut adalah orang Kekaisaran Qing dan pengguna roh. Tapi hal itu mustahil, Kekaisaran Shang dan Kekaisaran Qing telah lama bermusuhan. Dan pembunuh itu tahu bahwa lawannya itu bukanlah orang biasa.


Sebagai orang yang dilahirkan di Kekaisaran Qing dirinya lebih tahu bagaimana cara membedakan orang Kekaisaran Shang dan orang Kekaisaran Qing.

__ADS_1


"Benar tidaknya bukan urusanmu."


"Berarti benar?"


"Mau tahu jawabannya?"


Pembunuh itu bergeming lalu tertawa menantang sembari mengeluarkan pedang yang sedari tadi di sembunyikannya. "Tidak perlu lagi. Aku sudah tahu jawabannya. Kau bukan bagian dari mereka. Orang Kekaisaran Wei takkan terbuka jika itu tentang identitasnya."


"Oh, sepertinya dari semua musuh yang kuhhadapi hari ini hanya kau yang menggunakan otak."


"Hahahha!" Lawan bicaranya tertawa lantang, menggeleng beberapa kali. "Jika kita bukan musuh aku akan dngan senang hati berteman denganmu."


Dia bersiap-siap dengan posisi serang, tubuhnya yang terlihat tebal itu tampak sulit untuk ditembus dengan serangan biasa. Seperti biasa musuh selalu memulai serangan kejutan di awal pertarungan, Xin Chen memutuskan untuk bertarung fisik dengan laki-laki ini.


Namun saat mendapati Xin Chen mulai jengah dengan alur pertarungan di saat itu pula dirinya menyerang habis-habisan, Xin Chen berkedip saat hempasan dan tebasan mengejar tubuhnya dengan sangat cepat. Percikan api muncul setiap kali serangannya dipatahkan oleh Xin Chen. Lama bertahan dengan serangan sang pembunuh, sebuah kejutan lain muncul. Laki-laki itu menghilang dan hendak menusuknya dari belakang.


Xin Chen mundur dari tempatnya dan berbalik badan, di situasi seperti ini refleksnya menentukan alur pertandingan. Sejauh ini tidak ada satu pun dari mereka yang terluka. Lawannya menyeringai lebar dan saat itu Xin Chen baru menyadari bahwa jubah di bagian belakangnya terkoyak.


"Ch, kau pasti meremehkanku."


Xin Chen menggelengkan kepala. "Tidak, aku hanya terkejut dengan teknikmu. Di Kekaisaran Shang tidak ada yang memilikinya."

__ADS_1


"Hm, terdengar seperti pujian. Hahaha, hah ... Sebenarnya aku juga sedang malas bertarung. Tapi para orang tua laknat itu menyuruhku seperti budak. Benar-benar orang tua yang meresahkan."


Xin Chen memasukkan kembali senjatanya, "Kenapa tidak kau hajar saja?"


"Bagus untukmu, tidak bagus untuk nyawaku." Decih orang itu memutar bola matanya, dia masih dengan senjatanya. Mata laki-laki itu agak menyipit saat melihat sang lawan menyimpan senjata.


"Hei, hei. Kau tidak bermaksud menyerah, bukan? Kita belum bertarung sungguh-sungguh."


"Bagaimana aku bisa bertarung melawan orang yang bahkan tak berani membunuhku?" Jawaban pemuda itu membuatnya berpikir agak lama, tampaknya dia baru menyadari hal itu dan hanya bisa menggaruk tengkuk.


"Ahahaha, sial. Kau meledekku." Dia menancapkan kedua belati di tanah dan duduk di depan gerbang. Tetap tak mengizinkan kedua orang itu masuk ke dalam.


"Kami tak berniat berdamai dengan orang-orangmu." Kalimat langsung tanpa dipikir panjang itu seketika membuat wajah sang pembunuh berubah, dia hanya menghela napas sekali.


"Aku sudah melihat caramu bertarung tadi. Mengerikan juga. Sementara aku masih mempunyai anak dan istri di rumah, aku bukan orang bodoh yang suka menantang maut."


"Kalau begitu biarkan kami masuk."


"Aku tak bisa!" Tiba-tiba dia berdiri, kali ini wajahnya berubah emosi. "Jika orang di dalam mati kau bunuh ... Maka semua akan sama saja, aku juga akan dibunuh dan anak istriku ..." Tangannya terkepal sangat erat. Napas laki-laki itu mulai tak beraturan.


"Hadapi aku sekarang, kali ini aku tak akan main-main denganmu. Walaupun harus bertaruh nyawa."

__ADS_1


"Bergabung dengan kami. Kau hanya butuh uang untuk menghidupi keluargamu, bukan? Aku akan dengan senang hati menerimamu."


__ADS_2