
Han Zilong melepaskan serangan dengan kecepatan tertingginya, namun pedangnya seakan tertahan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat darinya. Pedang pria itu mulai berubah haluan, sebelum bisa mendekati kepala Ren Yuan sebuah senjata lainnya menangkis cepat dan membuat pedang Han Zilong terlempar jauh.
"Kau tidak apa-apa?"
Xin Fai segera mendekati Ren Yuan, memastikan istrinya baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa, suamiku. Terlebih lagi, anak kita yang paling kecil sudah pulang," kata Ren Yuan dengan bahagianya, bahkan saat di hadapan suaminya itu dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menangis.
"Syukurlah. Waktuku tidak banyak, Chen'er, bantu ibumu ke tempat yang lebih aman. Biar Ayah selesaikan ini dengan cepat."
"Bohong," kata Xin Chen, mengepalkan tangannya tak terima. "Ayah masih mengatakan hal itu setelah tahu bahkan tidak mungkin untuk mengalahkan mereka sendirian."
Xin Fai mendekati anaknya, memeluknya erat. "Percayakan ini semua pada Ayahmu, paham?"
"Kau menyuruhku untuk menolongmu di saat-saat seperti ini, Ayah. Dan sekarang menyuruhku mundur seperti seekor tikus yang ketakutan?"
Xin Chen tidak peduli lagi jika kini ibunya akan memanggilnya untuk mundur, dia terus mendekat ke arah Han Zilong. Sembari mengeluarkan sebuah pedang perak dengan ukiran gambar naga. Xin Fai memindai di sekitarnya dan mendapati siluman naga tengah meringkuk, berusaha bangun untuk membantu Xin Chen melawan Han Zilong.
"Chen'er, kembali-! Suamiku, cepat tarik dia atau... " Ren Yuan begitu ketakutan.
"Ayah, tolong jaga ibu. Sebentar saja, aku ingin kau melihat hasil latihan ku. Tidak bersama para guru dari Lembah Kabut Putih, dua bulan ini aku berguru pada Rubah Petir, dan mempersiapkan kekuatan untuk hari ini. Hanya saja aku baru tahu, perang ini datang jauh lebih cepat sebelum aku bisa mempersiapkan diri..."
Seiring berjalannya waktu, tanah yang dipijak Xin Chen mulai retak. Energi kekuatan yang meledak-ledak muncul di sekitar tubuh Xin Chen. Di saat itu Xin Zhan ternyata datang bersama Lan An setelah mendengar pertempuran hebat di tempat terakhir kali mereka melihat Ren Yuan, karena khawatir pada Ren Yuan mereka segera bergerak. Dan yang sekarang terlihat di hadapan mereka adalah Xin Chen dan juga api biru menakjubkan yang membakar di sekitarnya.
Bunga Api biru di dahinya mulai bekerja, menyerap energi alam yang berasal dari Hutan Kabut dengan buas. Xin Fai membuka matanya lebar-lebar, dia takkan pernah bisa membayangkan bahwa anaknya itu tumbuh jauh lebih mengerikan dibanding dirinya di masa lalu. Keinginannya untuk bertambah kuat sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan dirinya.
Semua orang sama terkejutnya, terlebih Xin Zhan dan Ren Yuan. Wanita itu terdiam sesaat hingga akhirnya tersenyum, tak menyangka anaknya yang paling kecil itu dapat menguasai perubahan elemen api di usianya yang sangat muda.
__ADS_1
"Apa-apaan dia itu, bersikap seperti orang bodoh yang lemah setelah memiliki kekuatan sehebat itu?!" Xin Zhan merasakan kekesalan mengisi kepalanya, rasa tak terima dan juga iri bercampur aduk.
Xin Fai menahan dada Xin Zhan agar tak mendekat, memberikan Xin Chen waktu untuk bertarung. Seandainya pun dia tak mampu melawan Han Zilong, Xin Fai akan langsung menghabisinya. Namun dia yakin hal itu sangat tidak mudah. Semenjak tadi pagi dia bertarung melawan anaknya saja, dan sampai sekarang kekuatan Han Wu hanya berkurang seperempatnya.
Han Zilong tidak merespon untuk beberapa detik, dia memperhatikan aliran kekuatan di dalam tubuh lawannya dengan seksama. Ketika Xin Chen menghentikan langkahnya, dia mengangkat wajahnya perlahan. Bola matanya yang berubah sebiru langit menatap lurus padanya.
"Dengar aku Dewa Petir, sang Roh Elemen Angin di atas sana. Aku tahu kau sedang menonton kekacauan yang kalian sebabkan ini, atau kau sedang bersenang-senang di tempat mu dan menelantarkan kesalahanmu pada manusia!"
"Hah? Serius dia berbicara dengan siapa?" Tanya Lan An pada Xin Fai, kebingungan. Lawan bicaranya tak menjawab dan masih terpaku dengan anaknya di sana. Tidak terjadi apa-apa selama dua menit, Xin Chen masih membatu di tempatnya sementara Han Zilong mulai menunjukkan gerak-gerik hendak menyerang.
"Percuma saja, dia akan mati! Hei, kawan! Cepat tarik dia dari sana!!" Lan An makin khawatir, ingin rasanya dia seret anak itu sekarang juga. Tapi dia yakin belum sempat menarik Xin Chen Han Zilong akan lebih dulu menebas lehernya.
"Kau tidak lihat ada yang aneh dengan cuacanya?"
"Ini memang akan mendung kawan, apa harus kuajarkan padamu apa arti mendung? Situasi di mana air-air hujan akan turun dari langit-" Xin Fai menutup mulutnya.
Pedang di tangan Xin Chen mengeluarkan tiga jenis perubahan elemen api merah, petir dan Api Keabadian. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi, benar saja sebuah kekuatan alam dalam skala yang mengerikan menyambutnya di saat itu. Xin Fai pertama kali menyadari saat melihat gumpalan awan hitam hanya mengerubungi di atas mereka saja, bukan hanya itu sebuah lubang hitam di tengah-tengah awan itu seperti mengeluarkan bunyi gema yang mengerikan.
Kekuatan setingkat dewa ini bahkan takkan Xin Fai rasakan ketika melawan Naga Es, kekuatan yang penuh dengan kebijaksanaan dan kekuasaan. Xin Fai tak pernah menyangka anaknya itu bahkan berurusan dengan sosok yang disebutnya sebagai Dewa Petir atau apalah itu.
Dan terlebih lagi saat terdengar kembali bunyi-bunyi aneh di atas sana, kepulan awan yang semula berkumpul kini membentuk menjadi sebuah tangan yang persis menghadap ke bumi. Lebih tepatnya ke arah Han Zilong berdiri saat ini. Pria dengan julukan Panglima Berdarah itu bergeming di tempatnya seakan-akan memprediksikan apa yang akan terjadi berikutnya.
Tahu dirinya mungkin akan terpojokkan Han Zilong memfokuskan tenaga dalamnya untuk memperkuat pertahanan tubuhnya sambil mewanti-wanti adanya pergerakan dari atas langit.
Aliran kekuatan alam yang mengitari di sekitar Xin Chen menjadi semakin tak terarah, dengan matanya sendiri Xin Fai dapat melihatnya. Sosok anaknya yang terakhir kali di lihatnya dulu kini berubah, menjadi Xin Chen yang tidak pernah dilihatnya. Dia mencari kekuatan, dan telah berusaha mempersiapkan dirinya untuk hal seperti ini.
__ADS_1
"Petir Kutukan."
Tangan Dewa Petir yang berada di atas sana mengeluarkan mantra mengerikan yang menghancurkan mantra yang sebelumnya digunakan Han Zilong untuk menyelubungi Kota Renwu. Dalam satu kali hentakan petir, gempa dahsyat menghancurkan tanah di sekitarnya hampir seratus meter. Mereka semua nyaris terhempas jika tak segera berlindung atau mencari tempat aman. Hanya Xin Chen yang masih berdiri di tempatnya semula, api biru di keningnya mulai berubah warna.
Hampir seluruh kekuatannya telah dia gunakan untuk menjatuhkan Petir Kutukan itu, tak menyangka bahwa Roh Elemen Angin mengulurkan tangannya untuk membantu.
Saat melihat ke belakangnya, satu hal yang pertama kali menyambutnya tatapan bangga ayahnya.
"Kau sudah besar, Chen."
"Hehehe, latihanku kali ini sepertinya membuat Ayah bisa tersenyum bangga."
"Tersenyum hampir sakit jantung lebih tepatnya," ralat Xin Fai hampir tertawa. Dia berusaha menerima kenyataan ini dan apapun yang dilihatnya sekarang meskipun terasa tidak mungkin bagi Xin Chen untuk mengendalikan kekuatan alam dan juga kekuatan yang sebegitu mengerikannya. Bahkan Xin Fai yakin saat ini dia bisa bertarung dengan anaknya sendiri.
***
note/curhat: Cuma mau sdkit cerita soal bbrp pembaca meresahkan yg suka komen seenaknya.
Ceritanya ampas, jelek, gak mutu, alur gak jelas dan lain-lain.
Bayangkan aja coba dulu, atau setidaknya buat satu novel deh. Kamu bakal tau susahnya bikin cerita itu gmna. Satu chapter kalo dibaca doang mah 5 menit kelar, nulisnya? Hadeh berjam2. Nyatanya masih banyak sekali pembaca tidak menghargai penulisnya. krisar dan menghujat itu beda, kawan. Sama sekali beda. Biasakan untuk menggunakan bahasa yang sekiranya berkenan, dengan begitu authornya belajar readers pun senang.🥰🥰
Resiko pekerjaan? Ada banyak penulis di platform ini yang gak digaji. Mereka berusaha mati-matian untuk menyuguhkan sebuah cerita padamu, lalu dengan angkuh kamu meludahnya dan mencaci makinya. Ya, Tuhan. Author pribadi gak berharap muluk-muluk, gak pernah maksa vote baru mau up. Cukup hargai aja, dan jika berkenan memberikan apresiasi semampu kalian juga alhamdulillah. atau, kalau kalian mau krisar, saran dll lgsg chat aja di ig: @kak.vi pasti author balas, kok.😊
Sudahlah, mungkin banyaknya msalah belakangan ini dan juga gak sempet istirahat membuat author agak sensitif.
__ADS_1
Dan terakhir cuma mau bilang, selama 30 hari ke depan thor akan fokus menulis sebuah novel lainnya (rahasia tapi wkwkkw🤭). tenang, ppi 2 akan tetap lanjut. sebisa mungkin akan author bagi waktu dengan baik. tapi tetap saja fokus Thor terbagi, bulan ini juga perkuliahan akan dimulai jadi karena author sendiri yang biasa revisi mungkin gak sempat lagi. karena kadang revisi memakan waktu yang lebih lma dibandingkan menulis novelnya sendiri. lagi-lagi thor meminta maaf kalau ada typo atau semacamnya.
Akhir kata, thankyou!🤍