Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 97 - Ruang Penyimpanan Buku


__ADS_3

Sementara Xin Chen hampir tertawa-tawa melihat korban tipuan mautnya itu, untung saja dia hebat dalam menyembunyikan diri dan segera lari dari sana. 'Nah, kali ini aku tidak mencuri lagi. Setidaknya aku membeli Baja Phoenix ini dengan dua ribu koin emas. Hehehe.'


Xin Chen mempercepat langkahnya dan menembus begitu saja asrama dan bangunan-bangunan di tempat ini, merasa tak menemukan sesuatu yang berarti dia hanya bisa menarik napas sebentar sembari menempelkan tangannya di dinding kelelahan.


Topeng Hantu Darah menyerap terlalu banyak kekuatan jika dipakai secara berlebihan. Bukan hanya fisiknya saja, mental Xin Chen juga ikut terganggu saat ini.


Sesudah memulihkan sedikit kekuatannya Xin Chen lanjut mencari ke sana kemari, dia memerhatikan setiap orang yang dilihatnya dan tetap tak menemukan setidaknya satu orang yang bertarung dengannya di lorong desa tadi, yaitu orang-orang yang mencuri Pedang Baja Phoenix, mereka tidak ada di mana pun.


Saat menemukan jalan buntu Xin Chen terpaksa memutar balik arah, dia tak bisa menemukannya walaupun sudah pergi ke segala arah dan kini hanya tersisa satu tempat yang belum dijelajahinya yakni Ruang Penyimpanan Buku.


Di dalam tempat itu semua buku dan kitab berjejer sangat rapi.


Seseorang berdiri di dekat jendela ruangan. Dia adalah pengurus tempat ini. Wanita dengan pakaian merah muda itu membereskan buku-buku yang berhasil dikumpulkan oleh Empat Unit Pengintai dan mengasingkan beberapa kitab penting di tempat tersembunyi.


Meski sekarang dalam keadaan terdesak Xin Chen tak bisa menutupi rasa penasarannya terhadap sebuah gulungan berwarna hitam agak kebiruan di atas meja. Tampaknya gulungan itu sangatlah penting sampai di asingkan di satu rak berbeda. Dia menunggu wanita itu memindahkan buku-buku ke ruangan rahasia lebih dulu sebelum bergerak.


Tak lama wanita itu benar-benar pergi dari sana, Xin Chen tak menyia-nyiakan waktunya dan langsung membuka isi gulungan dengan ukiran naga tersebut. Di waktu yang sama Xin Chen terkejut dengan isi di dalamnya, tampaknya isi gulungan ini memang berisi tentang spesifikasi binatang langka seperti Naga Hitam.


Pantas saja Pimpinan Empat Unit Pengintai mengetahui hal ini. Belum sempat membaca sampai habis Xin Chen dikejutkan dengan suara tapak kaki dari arah belakangnya.


Dan Xin Chen tak sadar batas waktu pemakaian mode roh sudah berakhir, dia harus menyembunyikan diri segera jika tak mau ketahuan. Tapi sayangnya tidak ada tempat bersembunyi terdekat di sekitarnya.


Mata wanita itu terbuka lebar saat melihat Xin Chen tiba-tiba muncul di depannya, mereka sama-sama membatu untuk waktu yang lama. Sebelum wanita tersebut berteriak Xin Chen segera menyerangnya di tengkuk. Membuat wanita itu jatuh pingsan.

__ADS_1


"Hampir ketahuan. Kalau tadi dia berteriak aku bisa berada dalam bahaya."


Xin Chen menyeret tubuh wanita itu ke tempat tersembunyi lalu pergi ke tempat lain sembari mempercepat laju larinya. Barang yang dicarinya tidak ada di Ruang Penyimpanan Buku. Sedangkan sekarang ini dia perlu mendapatkan Pedang Baja Phoenix dan di mana Pusaka Langit itu disimpan oleh pemilik siluman ular tadi.


"Aku sudah mencari ke semua tempat sebelumnya. Pedang Baja Phoenix tidak ada di mana pun, kecuali jika benda itu disimpan di tempat yang sangat tersembunyi..." gumamnya pelan, tidak ada tanda-tanda dari hawa keberadaan Pedang Baja Phoenix di manapun. Tampaknya si pemilik siluman ular telah berhasil menyimpannya ke tempat paling aman agar tak bisa dicuri.


Orang yang sedang dipikirkan ternyata langsung muncul ketika itu juga, Xin Chen mengeratkan kepalan tangannya kesal. Pemuda yang tadi mencuri Pedang Baja Phoenix berjalan dengan raut wajah bahagia di depannya.


Berhasil mendapatkan Pedang Baja Phoenix membuat dirinya disanjung oleh Ketua Empat Unit Pengintai yang terkenal garang. Sebuah pujian yang amat jarang diberikan kepada anggota Empat Unit Pengintai sepertinya. Tentu hal itu memberikan kesan baik terhadap dirinya.


Xin Chen harus mendapatkan letak Pedang Baja Phoenix dari pemuda itu, dia pasti tahu sesuatu.


Sebenarnya ada satu cara yang agak gila terpikir di kepalanya sekarang, menurut Xin Chen hanya ini satu-satunya jalan agar dia dapat mengambil kembali Pedang Baja Phoenix yaitu dengan menggunakan kepingan Baja Phoenix merah yang memiliki kekuatan jahat.


Mereka berbincang sangat lama membuat Xin Chen yang sedang menunggu hampir kehabisan kesabaran. Dan juga Xin Chen tidak tahu bagaimana keadaan Ye Long sekarang ini mengingat dia sedang diburu oleh orang-orang dari Empat Unit Pengintai dan Ketuanya juga.


Lima menit berlalu sia-sia, Xin Chen tak bisa menahan diri lagi. Dia keluar dari persembunyiannya dan menggunakan busur petir untuk membidik kepala salah satu penjaga markas tersebut.


Panah petir menancap tepat di kepala pria tersebut, membuat dia tersengat listrik dan kejang-kejang selama beberapa detik. Xin Chen menarik busur lainnya dan membidik ke temannya yang satu lagi. Namun pria itu sudah menyadari keberadaannya dan mampu menangkis serangan yang Xin Chen lepaskan.


Terlanjur ketahuan Xin Chen langsung maju menyerang sang penjaga markas terlebih dahulu. Dia mendekat dalam kecepatan penuh dan menyusup ke balik punggungnya lalu mengambil pedang di pinggang pria tersebut. Langsung saja Xin Chen menghabisi nyawanya dengan pedang tersebut, membuat darah mencuat mengotori bajunya.


Sementara pemuda dari Empat Unit Pengintai masih terus mengawasinya. Tak ada niat untuk melarikan diri sama sekali. Dia memamerkan senyum remeh. "Kau masih tak ingin menyerah juga, ya?"

__ADS_1


"Kembalikan pedangku."


"Itu milikmu? Kau merasa Pusaka Langit itu milikmu?" Tawaan nyaring menggema keras, Xin Chen masih berusaha sabar. Setelah sedikit bertarung dengan pemuda itu Xin Chen dapat membaca bagaimana level kekuatannya. Sama seperti orang-orang dari Empat Unit Pengintai lainnya, pemuda ini memiliki keahlian dalam melakukan gerakan tipuan


Maka dari itu Xin Chen harus berhati-hati saat menyerang atau jika tidak dirinya lah yang berada dalam posisi bahaya.


"Hahahaha... Seharusnya kau tahu, pada dasarnya Pusaka Langit dan benda berharga lain seperti itu memang tidak memiliki pemilik asal. Dia ada untuk diperebutkan. Siapapun yang memilikinya harus bersiap jika sewaktu-waktu barang itu diambil orang lain."


"Kalau begitu aku akan mengambilnya sekarang juga darimu."


"Hm? Kau yakin bisa?"


Pemuda itu menertawakannya kembali, setidaknya dia yakin kekuatannya masih jauh di atas Xin Chen. Saat dia mengedipkan mata, sosok di hadapannya telah menghilang dalam sekejap mata. Membuat manik mata pemuda itu memicing, dia tak merasakan keberadaan apapun di sekitarnya. Dan juga kini Xin Chen tak terlihat di mana pun.


"Mau bersembunyi? Kau kira ini bisa menipuku?" tidak mendengar jawaban dia berbicara lagi.


"Atau dia sudah melarikan diri?"


Lima detik tak menemukan apa-apa pemuda itu akhirnya menggendikan bahu tak peduli, maupun Xin Chen melakukan serangan tiba-tiba belum tentu dia akan mendapatkan kembali Pedang Baja Phoenix yang telah disimpannya di tempat teraman dalam markas Empat Unit Pengintai.


Pemuda itu menarik sedikit senyumnya saat dirinya berhasil mengendus keberadaan Xin Chen, sebuah suara terdengar di balik punggungnya dan dia segera menangkap anak panah petir tersebut hanya menggunakan tangan.


"Jangan berharap bisa mengelabuiku."

__ADS_1


__ADS_2