Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 175 - Medan Tempur III


__ADS_3

Angin-angin kencang memasuki sela pepohonan, berarah menuju satu tempat yang menariknya ke sana. Jika hanya dengan mata biasa, mungkin mereka akan menangkap hal seperti itu. Sementara di mata Xin Fai kini aliran kekuatan alam tengah berkumpul layaknya alunan dua kekuatan yang saling berkebalikan. Qiang Jun dengan kekuatan alam yang dominan cahaya terang dan anaknya yang memanggil kekuatan kegelapan.


Sedikit demi sedikit energi alam yang bergerak ke tubuh Qiang Jun memutar haluan, beralih ke tempat Xin Chen berada. Tak membiarkan hal itu terjadi Qiang Jun kembali menariknya sembari menyerang lawan di tujuh titik berbeda hanya dalam satu detik.


Xin Chen yang tidak menyangka akan kedatangan serangan tiba-tiba berusaha menyangkal serangan tersebut, namun sayangnya kelalaiannya sepersekian detik itu berakhir fatal. Tubuh rohnya terpotong oleh Qiang Jun, membuat kekuatan Xin Chen melemah drastis.


Seolah tak puas memutuskan tangannya, Qiang Jun kini memerangkapnya dalam lingkaran cahaya. Salah satu teknik dari Kitab Tujuh Kunci yang membuat musuhnya terjebak dalam pusaran kematian. Ribuan sayatan pedang menyusul setelahnya dan Xin Chen masih terjebak di dalam sana.


Xin Fai menghentikan Qiang Jun dan menghantamkan tendangan yang begitu kuat, dalam serangan secepat itu dia berhasil mengenai kepala lawan. Membuat Qiang Jun terpental telak membentur bebatuan, tak disangka pria itu masih berdiri dan secepat kilat menyambar kembali. Pertarungan antara Pedang Iblis dan Kaisar Langit itu kembali dimulai.


Hanya dalam waktu hitungan menit saja pertarungan itu kembali menarik perhatian para Pilar Kekaisaran. Sebenarnya mereka ingin sekali menolong, tapi rasanya tak mungkin mengimbangi kecepatan pertarungan keduanya yang sangat gila. Pertempuran antara keduanya sama-sama berimbang, Xin Fai sedikit mencari-cari di mana anaknya berada dan sejurus pandang dirinya dapat melihat Xin Chen kembali memunculkan diri meski keadaannya cukup parah.


Tubuh anak itu hanya terlihat memudar, rasa sakit di hatinya ketika Xin Chen mengatakan tanpa beban bahwa dirinya sudah tidak memiliki tubuh. Sebagai ayah, sebagai seorang pelindung untuk keluarga serta Kekaisaran Shang, Xin Fai merasa dirinya tak berguna.


"Beri aku kesempatan sekali lagi saja, Ayah. Aku pasti akan mengalahkannya."


Xin Chen sadar meski dalam pertarungan satu lawan satu dengan Qiang Jun, dia masih seratus kali lebih lemah dari Ayahnya tapi dia yakin masih ada yang bisa dilakukan.


Sementara pria itu hanya memundurkan diri sedikit dari Qiang Jun, Xin Chen masuk dan menciptakan lubang hitam besar di bawah kaki Qiang Jun. Lelaki itu nyaris sekali terjebak namun kakinya yang lincah bergerak refleks menjauh dari bahaya. Sekali, dua kali dan puluhan kali dirinya menggunakan triknya untuk menjebak Qiang Jun.

__ADS_1


Padahal jika saja Qiang Jun lengah Xin Chen akan dengan mudah memusnahkannya, sama seperti Han Zilong. Tapi lelaki itu sama sekali tak tersentuh. Dia menjauh dan terus menjauh seakan tahu Xin Chen sedang menyiapkan jebakan untuknya.


"Cih, orang tua ini ...." Akhirnya habis juga kesabaran Xin Chen, dia mengamuk. Tidak peduli lagi dengan segala perhitungan dan rencana yang sedari tadi dipersiapkan untuk melawan Qiang Jun.


"Hujan Petir!"


Satu kota dikejutkan oleh tarikan energi yang sangat besar, langit kembali menghitam. Hanya rantai petir yang sesekali muncul di balik awan yang tebal. Hujan petir turun tak lama setelahnya, dampak tersebut bahkan mengenai Naga Kegelapan.


Melihat Qiang Jun menggunakan kekuatan alam untuk menciptakan perisai di tubuhnya, Xin Chen rasa memang serangan jarak jauh takkan mempengaruhi lelaki itu.


"Chen, mundur lah. Biar Ayah yang menghabisinya."


Xin Chen masih tidak ingin menyerah, tapi segala jenis jurus dan kemampuan telah dikerahkannya. Tak ada yang benar-benar melukai lelaki itu.


Perasaan yang sedari dulu menemaninya dalam setiap perjalanannya, ketika di pundaknya dendam dan amarah akan kematian keluarganya membayangi Xin Fai.


"Kau akan tetap melindungiku di belakang, bukan?"


Xin Chen tak menyahut, dia masih terhanyut dalam pikirannya sendiri. Selama ini, mau itu pendekar misterius kuat yang bahkan berasal dari Kekaisaran yang terkenal dengan ilmu hitamnya, Xin Chen masih memiliki harapan untuk membunuhnya.

__ADS_1


Sementara Qiang Jun, bukan lagi dalam jangkauannya. Xin Chen takkan bisa mengimbangi lelaki itu dalam segi apapun. Qiang Jun seolah telah bertarung ribuan tahun untuk mengetahui segala langkah yang akan diambil musuhnya.


Sementara ayahnya bertarung dengan Qiang Jun, Xin Chen mencoba mengamati dengan seksama. Sembari pikirannya tertuju pada kecepatan keduanya, teringat bagaimana ayahnya mematahkan pedang Qiang Jun tadi. Sangat-sangat cepat dan penuh perhitungan. Seandainya Xin Chen memiliki kecepatan yang setara dengan mereka. Dengan sedikit mengurangi kekuatan alam yang datang pada Qiang Jun serta mengunci pergerakannya dengan roh-roh miliknya.


"Seandainya bisa begitu ...." sesalnya kemudian, tak memiliki pilihan lain selain membalikkan badan dan mencari Xin Zhan dan Ren Yuan, setidaknya dia berguna untuk hal lain. Dilihatnya sekali lagi keadaan Naga Kegelapan, kali ini siluman itu yang terpojok. Bukan hanya Pilar Kekaisaran saja kali ini lima ratus pendekar agung mengerubunginya tanpa ampun. Mereka baru saja dikumpulkan satu jam yang lalu untuk mempersiapkan formasi.


Melihat bantuan yang didatangkan begitu kompak, pastinya menahan Naga Kegelapan dengan dua Siluman Penguasa Bumi agaknya mudah. Tapi hanya sekedar menahan, Naga Kegelapan takkan kalah meskipun tubuhnya dilelehkan atau dicincang sedemikian rupa.


Berpikir soal Naga Kegelapan, Xin Chen melihat sebelah matanya yang tertutup. Salah satu bola matanya telah diambil Xin Fai.


Satu pemikiran lainnya muncul di benak Xin Chen, walaupun sepertinya ide ini akan mendapatkan gertakan dari ayahnya. Xin Chen tidak peduli. Mau sebanyak apapun kekuatan yang harus dimasukkan ke dalam tubuhnya, selama itu untuk menyelamatkan orang lain. Hal itu takkan dipermasalahkannya.


Salah satu serangan Xin Fai nyaris mengenai mata Qiang Jun, satu-satunya momentum bagus untuk menyerangnya tapi sayang lawannya itu memiliki insting yang mengerikan. Dia membaca setiap marabahaya di depannya dengan mudah. Hal ini membuat Xin Fai berulang kali menarik napas berat.


Sebelum akhirnya seekor ular api memisahkan mereka berdua, Xin Chen dengan tangan kirinya yang dipenuhi oleh api biru menatap ayahnya lurus.


"Aku masih belum menyerah."


"Kau ingin menghadapinya sendirian lagi?" Terdengar nada keberatan, pertarungan terakhir Xin Chen tadi hampir membuat jantungnya lepas.

__ADS_1


"Hanya dengan satu cara aku bisa mengalahkannya, aku berjanji takkan meminta apapun lagi setelah ini." Xin Chen menahan kalimatnya sementara ayahnya hanya diam beribu bahasa. Apapun permintaan Xin Chen, pasti akan di luar akal sehat manusia.


"Aku menginginkan permata milik Naga Es."


__ADS_2