
Api unggun menyala terang di tengah-tengah mereka, cukup besar sehingga api yang tinggi membara menerangi segala tempat. Para prajurit bercengkrama dalam suasana penuh persaudaraan, mereka seperti kembali ke jaman-jaman ketika muda. Turun ke medan perang, tidur di atas tanah berbau darah, malamnya bercerita soal pertarungan yang baru saja mereka lewati dengan bangga.
Bai Huang menenggak araknya, tampak wajahnya lebih baik dari sebelumnya. Laki-laki itu membaur dengan para prajurit yang berumur hampir kepala lima. Sedangkan mereka yang muda sibuk memakan daging panggang.
"Tuan kita itu, dia tidak bilang siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi, dia sangat menyeramkan. Aku tidak tahu bagaimana keempat ratus prajurit itu menghilang. Itu ... Itu sungguh mengerikan. Bahkan," ucapan pria tua itu terpotong, sudah dari tadi pagi dia dan teman-temannya menceritakan hal yang sama. Tentang misteri ke mana para para pendekar yang kulitnya bahkan melebihi ketebalan baju besi. Jumlah mereka empat ratus, dan dalam kurun waktu dua jam saja semua hilang tak bersisa.
Bai Huang tak menanggapi pertanyaan tersebut dan mendengarkan yang lain berargumen. Dia hanya menikmati minumannya, hingga akhirnya salah satu pria itu menyadari sesuatu.
"Hei, tapi ... Aku merasa tidak asing dengan tuan yang satu ini, di mana kah aku pernah melihatmu?"
"Aku juga ingin mengatakannya barusan. Ku kira hanya aku yang merasa tak asing dengannya." Sambung yang lain.
"Kalian sebaiknya tak usah mengingatnya," tanggap Bai Huang mulai terganggu. Tapi mereka tetap menerka.
"Tuan, bukankah Anda Pilar Kekaisaran ketiga?"
Mereka ribut sendiri, tampak tak percaya dengan fakta tersebut. Sebagai Pilar Ketiga Bai Huang jarang menampakkan wajahnya karena selalu dalam pakaian perang. Lengkap dengan baju besi, pedang, dan pelindung kepala. Bai Huang mendengus samar, menambah araknya. Sementara tatap matanya tertuju ke tempat lain.
"Aku turut menyesal hari itu tak membantu anda, tuan. Kami dibungkam. Saya tahu ini terdengar egois, tapi kami memiliki keluarga yang harus dilindungi. Seandainya kita memiliki sesuatu yang kuat di belakang kita, orang itu tak akan berani berbuat semena-mena."
"Untuk itulah kita berada di sini." Lao Zi menimbrung, bergabung di barisan lingkaran tersebut. Tidak ada yang mengenalnya kecuali Bai Huang, laki-laki itu tertawa kecil.
"Tidak kusangka dia membawamu juga."
"Keluarga kami berutang budi kepada Tuan Xin," ucapnya pelan. Bai Huang sudah mengenal pemuda itu, dia sederhana dan juga jujur. Hanya saja kebaikannya sering kali dimanfaatkan orang-orang.
"Utang budi?"
"Saya punya ibu yang sakit-sakitan, saat beliau meninggal Tuan Xin datang berkabung. Padahal saya bukan siapa-siapa di Kekaisaran. Kakek juga sudah tiada. Saat itu umur saya hanya delapan atau sembilan tahun, yatim-piatu ditinggalkan ayah ibu." Cerita Lao Zi membuat Bai Huang prihatin.
"Kau tidak punya saudara?"
__ADS_1
"Ibu bilang, saat mengandung dia sudah tiga kali keguguran. Saya yang berhasil selamat, tapi karena itu dia dibunuh oleh orang-orang misterius."
Lao Zi tak tahu harus berbuat apa saat ditinggalkan ibunya, dia tidak menangis atau menjerit. Satu hal yang dipinta ibunya saat itu, agar dia tetap hidup dan bahagia. Lao Zi mengingatnya sembari tersenyum kecil. "Tuan Xin bahkan memedulikan orang kecil seperti saya, itu membuat saya benar-benar ingin melihatnya kembali. Semua orang menginginkannya kembali. Kecuali ..." Tatap mata Lao Zi perlahan menusuk ke satu titik, Bai Huang mencoba mengikuti arah pandangnya dan tak tahu siapa yang Lao Zi maksud.
"Kau memiliki hati yang lurus." Bai Huang menghabiskan sisa araknya, menghela napas dari mulut. "Kita memiliki alasan tersendiri untuk berdiri di sini."
Saat mereka tengah sibuk dengan perbincangan masing-masing, alunan seruling menyusup di gendang telinga mereka. Halus dan samar, seseorang tengah duduk di atas dahan pohon yang letaknya cukup jauh. Saat alunan seruling berhenti, pemuda itu berjalan ke arah mereka.
Lan Zhuxian lantas mengikutinya dari belakang, hingga Xin Chen duduk di depan mereka. Memerhatikan sekelilingnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Mereka masih terlalu larut dalam suasana kemenangan, Xin Chen sebenarnya tak ingin mengganggunya tapi dia pun memiliki alasan kuat untuk mengatakannya.
"Empat Unit Pengintai, kita sudah memperebutkan nama mereka. Untuk beberapa hari ke depan kita akan fokus pada pembangunan markas baru, lakukan yang terbaik. Jika sewaktu-waktu orang kekaisaran memprotes tindakan kita, aku tak keberatan dianggap sebagai seorang pembelot dari pada duduk menunggu saudara kita dibantai sampai habis."
Mereka sontak bersorak menyetujui, Xin Chen melanjutkan. "Aku sudah menentukan sepuluh anggota inti pertama, unit ke satu. Bulan Darah."
Lan Zhuxian menyodorkan gulungan berisi nama para anggota inti awal.
"Pertama, aku sendiri."
"Kedua, Bai Huang."
Bai Huang agak terkejut namanya dipanggil, dia segera bangkit dan maju ke depan. Berdiri di sebelah Xin Chen yang duduk di atas batu besar.
"Ketiga, Lan Zhuxian."
Lan Zhuxian yang sudah berdiri di depan membungkukkan badan.
"Mohon bantuannya."
"Keempat, Shui." Sosok yang dipanggil hampir tidak menyadari andai para prajurit yang duduk di sebelahnya tak memberi tahu, dia segera berjalan-setengah berlari seperti bocah dan berdiri sembarangan di sebelah Bai Huang.
__ADS_1
"Kelima, Lao Zi."
Pemuda yang dipanggil mengangkat busur panahnya, pembawaannya membuat yang lain terpana dengan sosoknya yang terkesan tertutup.
"Selanjutnya, keenam. Yun Shan."
Yun Shan adalah satu dari mantan pengawal Kaisar yang mengundurkan diri. Dia berteman dengan Lao Zi karena memang umur mereka yang hampir setara.
"Ketujuh, Nan Ran."
Nan Ran maju sambil menyengir ke arah Tian Xi, berusaha mengejek temannya itu. "Ikan-ikan mu itu akan terpana dengan pesonaku, Pendek Dungu."
"Omonganmu bau bangkai semua, Tinggi Besar."
Nan Ran berjengkit, dia hendak membalas tapi tak punya waktu selain berjalan ke depan.
"Kedelapan, Jun Xiang."
Sama seperti Lao Zi dan Yun Shan, Jun Xiang adalah bawahan Kaisar. Meskipun kedudukannya di bawah Yun Shan, namun kekuatan dan keterampilannya memainkan pedang tak bisa diremehkan.
Xin Chen membaca kembali, "Kesembilan, Tian Xi."
Tian Xi maju, menyerobot masuk ke barisan sebelah Nan Ran. "Ikan-ikanku jauh lebih berkilau dari pada mukamu, Tinggi Besar."
Mereka berdua menatap dengan saling bermusuhan, bahkan tak peduli dengan tatapan yang lain. Nan Ran mendesis berbisik, "Tunggu saja kau, Pendek Dungu."
Saat pemanggilan nama terakhir, terjadi jeda beberapa saat. Mereka menunggu dengan sabar tanpa banyak memprotes.
"Dan yang kesepuluh, Dong Ye."
Namun saat nama tersebut keluar, terjadi sesuatu yang membuat Xin Chen teralihkan. Busur di genggaman Lao Zi saling berdempet kerap hingga berbunyi keras di suasana yang hening itu. Lao Zi agak maju dari tempatnya, dengan tatapan hendak memprotes.
__ADS_1
Sementara Dong Ye maju dengan wajah khasnya, dia meninggikan kepala, melewati tempat duduk yang lain dan melangkahi beberapa pendekar senior. Hal itu tentu menimbulkan bisik-bisik kecil.
"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Muda," ucapnya sambil menunduk. Tersenyum dengan ekor mata tertuju pada Lao Zi.