
Seminggu telah berlalu semenjak hukuman mati dibatalkan, terkadang Xin Chen menghilang begitu saja membuat Wei Feng dan lainnya kembali cemas. Dia mengakui bahwa bocornya informasi itu juga termasuk kesalahannya. Dan Wei Feng tak ingin nyawanya terancam lagi karena hal yang sama. Saat itu hari masih pagi, Wei Feng, Yu Xiong dan Youji yang telah sembuh bergegas masuk ke dalam kamar. Perang akan dimulai tak lama lagi dan mereka sudah melakukan segala hal penting sebelum perang tersebut.
Namun saat Wei Feng hendak membuka pintu, di bawah celah pintu tersebut muncul sebuah kabut pekat yang tebal. Dia langsung merinding di tempat, samar-samar merasakan sebuah kekuatan mengerikan dari balik pintu tersebut.
Youji menahan tangan Wei Feng yang seketika membeku, "Kita harus membiarkannya. Xin Chen berpesan padaku untuk jangan mengganggunya dulu."
"Mahkluk apa itu ..." Wei Feng seperti ingin pingsan saat dia melihat dari celah pintu. Sosok tersebut membuka matanya yang hitam gelap dan pintu langsung terbanting dengan sendirinya.
"Kita cari makanan dulu."
"Mati saja kau!"
Ketiganya mendelik horor ke arah pintu, tadi itu suara asing yang tidak mereka kenal sama sekali.
Lalu terdengar amukan besar, untung saat itu asrama sedang sepi jadi tak ada yang mendengar suara tersebut.
*
Xin Chen kehabisan akal menghadapi sosok di hadapannya. Dia menekan kekuatan Roh Dewa Perang hingga batas terakhir agar kekuatan itu tidak semakin membesar dan memengaruhi sekitar seperti yang sudah-sudah. Tentu saja Roh Dewa Perang mengamuk, "Mati saja kau!"
"Bunuh aku jika kau merasa bisa hidup tanpa kekuatanku."
Roh Dewa Perang sampai gondok melihat kelakuan Xin Chen, dia tidak percaya dirinya dibangkitkan setelah sekian lama demi bertemu dengan manusia bermulut serba benar seperti ini. "Manusia titisan setan."
"Kau itu setannya."
"Kau lebih setan daripada setan."
__ADS_1
Xin Chen tidak mau mendebat seperti bocah yang bertengkar saat mainannya diambil. Dia kembali ke topik pembicaraan awal.
"Kau pasti akan mengambil alih kesadaranku."
"Cih, kau juga tidak punya pilihan lain 'kan selain dengan mengharapkanku?"
"Aku punya begitu banyak pilihan sampai-sampai menjalankan rencanaku lebih susah daripada menyingkirkanmu."
Kenyataan itu membuat Roh tersebut tertohok, mungkin jika menghitung semenjak kemunculannya, Roh Dewa Perang sudah tertohok sampai sembilan kali. Padahal di awal dia yakin Xin Chen tidak banyak bicara seperti sekarang ini.
"Tentu saja kau membutuhkanku." Nada bicaranya meninggi, "Saat sampai di tingkat ketiga kau membutuhkan kekuatan yang besar untuk menguasai semua jurus yang ada di Kitab Pengendali Roh. Jika tidak paling selamat kau hanya mati. Sialnya, kau akan dikuasai oleh kekuatan yang berada di luar kendalimu. Dan kau hanya akan menjadi musuh terbesar bagi umat manusia."
"Manusia yang dapat membunuh seratus ribu orang dengan cepat? Kekuatan ini tidak masuk akal. Kau juga melihatnya, bukan? Saat seseorang hampir mati dan merasakan insting kuat untuk bertahan hidup. Mereka akan mendorong teman sendiri ke dalam jurang demi nyawa mereka sendiri. Saat didorong oleh temanmu, kau merasa itu tidak masuk akal. Itulah keserakahan. dia akan membuka mulutnya lebar-lebar untuk memakan apa yang bisa dihabisinya. Kekuatan ini akan merusakmu sampai ke akar-akarnya. Atau membuatmu hidup selamanya hingga kau sangat merindukan kematian."
"Guruku pernah mengatakan sesuatu seperti Hati di Bawah Pedang. Selama dengan membunuh aku dapat membawa era baru yang lebih baik, maka aku tidak peduli apakah suatu saat nanti aku akan menyesali keputusan ini atau tidak. Biar pedang yang akan menjawab ini semua dengan keadilan."
"Yang perlu ku ketahui apakah kau mau bekerja untukku? Jika tidak aku akan menyingkirkanmu."
Xin Chen sudah mengetahui cara membunuh kekuatan roh yang dianggapnya berbahaya. Memang terdapat beberapa roh yang tak ingin tunduk pada pengendalinya. Dan dengan buku yang diberikan Jun Xiaorong, Xin Chen mengetahui banyak hal tentang Kekuatan roh termasuk menyingkirkan kekuatan seperti Roh Dewa Perang.
Roh Dewa Perang tak bsia menyangkalnya bahwa Xin Chen memiliki kemampuan untuk melenyapkannya. Selama semua ini adalah kekuatan Xin Chen, maka dirinya bisa dibunuh kapanpun.
"Kau benar-benar menyebalkan."
"Jangan membuatku lebih terlihat menyebalkan dengan membakarmu menjadi abu."
"Baik, baik, baik! Kau menang! Puas?"
__ADS_1
Xin Chen tersenyum penuh arti. "Akhirnya kita bisa bekerja sama."
*
Pagi buta Xin Chen telah menghilang dari kamarnya. Wei Feng dan lain sudah mencoba mencarinya ke mana pun dan tak melihat pemuda itu. Xin Chen tidak mengatakan rencana yang akan dilakukannya, juga tentang Jun Xiaorong yang merupakan ayah dari salah satu anggota Unit Satu di Empat Unit Pengintai. Semuanya berjalan sangat rahasia selama satu Minggu ini bahkan Xin Chen dengan sewenang-wenangnya menghilang saat latihan terakhir.
Wei Feng semakin dibuat panik karena hari ini adalah hari di mana perang besar akan terjadi. Mereka akan segera berangkat ke Kekaisaran Shang.
Dari tingkat kedua, ketiganya sudah melihat barisan raksasa berisi infanteri, kavaleri, para pemanah dan banyak lainnya yang berbaris mengikuti kelompok mereka. Di bawah sana ibarat banjir manusia tengah meluap, tak terbayangkan ratusan ribu prajurit itu akan menghancurkan Kekaisaran Shang. Ini benar-benar gawat, Youji tak bisa menemukan ke mana Xin Chen pergi. Dia harus melihat hal ini.
Jantung mereka berdetak keras dan mata terbuka lebar-lebar seperti sedang melihat dunia kiamat. Seruan-seruan perang menggema dari ujung ke ujung, bendera dikibarkan dengan megah serta para komandan perang turun. Situasi mendebarkan itu didukung oleh cuaca mendung yang menandakan akan terjadinya hujan darah di Kekaisaran Shang. Akan membutuhkan waktu setidaknya dua hari itu membawa semua orang ini ke Kekaisaran Shang. Dan Kekaisaran Shang tak memiliki pasukan sebanyak ini untuk bertahan dari mereka.
"Kita akan dihancurkan berkeping-keping. satu-satunya penyelamat sudah tak terlihat. Ini benar-benar kacau, apakah Xin Chen tidak memiliki cara untuk menghentikan mereka?"
Wei Feng sudah melihat semua persiapan perang. Semua sempurna tanpa celah. Tanpa adanya tanda-tanda penyerangan dari dalam. Wei Feng berpikir Xin Chen akan membakar persediaan makanan dan semua perlengkapan mereka.
Tapi dugaannya salah.
"Aku takut dia hanya diam seperti saat kita hampir dibunuh oleh Jenderal-1."
Yu Xiong menggeleng, "Kak Chen tidak akan melakukan itu. Ini semua demi nyawa ribuan orang. Antara kita atau mereka yang kalah. Keduanya sama-sama merenggut nyawa."
Prajurit bersenjata naik dan menggedor pintu mereka, memaksa mereka untuk keluar dan langsung berkumpul.
Bahkan saat semua persiapan telah dilakukan dan semua prajurit telah memakai zirah perang, Xin Chen tak pernah lagi memunculkan dirinya.
"Kecambah Keparat ini, aku bersumpah akan menjambaknya kalau dia sampai meninggalkan kita."
__ADS_1