Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 358 - Hukuman Mati II


__ADS_3

Wei Feng tak tahu apa yang sebenarnya ada di otak Xin Chen, dia benar-benar ingin memukul kepala pemuda itu. Mungkin sudah kehilangan fungsi atau otaknya memang sudah tidak ada lagi di sana. Kini mereka berempat dibawa ke depan sebuah istana besar bernuansa putih yang dihiasi dengan kolam danau dan tumbuhan indah dan rindang. Tempat itu ternyata adalah tempat tinggal Kaisar Yin, meski bukan rumah pribadinya dan hanya ditinggali jika dia berkunjung ke markas pusat.


Tangan mereka berempat diikat di belakang tubuh dengan posisi bertekuk lutut. Menunggu Kaisar Yin berada di depan mereka, secara hukum mereka sudah resmi dijatuhi hukuman mati. Jenderal-1 berani memanggil Kaisar Yin karena sebenarnya kasus ini yang paling menjadi perhatian mereka selama membangun pasukan perang. Selain itu dia ingin membuktikan pada Kaisar Yin seberapa besar kesetiaannya.


Mereka akan dijatuhi hukuman pancung, semua orang yang semula hanya berbaris kini bebas menonton mereka dari segala sisi. Mereka dilingkari oleh orang-orang yang menatap mereka dengan wajah kasihan, marah, benci dan menghina. Bisik-bisik saling bersahutan dari sana, Wei Feng tidak bisa mengajak Xin Chen berbicara lagi karena mereka dipisahkan sejauh lima meter. Di depan mereka empat orang berdiri sambil menenteng pedang. Siap mengambil nyawa mereka kapan pun perintah dikeluarkan.


Hari ini adalah hari tersial bagi Wei Feng dalam hidupnya. Identitas klan Yu Xiong terungkap, Youji mengaku pada musuh dan Xin Chen hanya diam saja. Selain memprotes Wei Feng tidak tahu lagi cara untuk menyelamatkan dirinya dan tiga temannya. Dan mulai detik itu dia mulai menyadari bahwa berteriak pun tidak akan mengubah apa-apa.


"Aku tidak percaya kau kalah semudah itu." Wei Feng mencoba melepaskan ikatan di tangannya.


Tak lama riuh rendah mulai terdengar bising di hadapan mereka. Terdengar sahutan panjang komandan prajurit, menyambut kedatangan Kaisar Yin dari pintu istana. Laki-laki itu berjalan tegak, sekujur tubuhnya dihiasi pakaian permadani serta perhiasan mahal. Menggambarkan seberapa tinggi status sosialnya.


Selama laki-laki itu berjalan, Xin Chen terus menundukkan kepala. Dia tahu Kaisar Yin akan mengenali wajahnya. Tidak mungkin dia tidak menyadari hal ini. Dan Xin Chen tidak ingin memperumit masalah tersebut dengan kabur begitu saja. Andai bisa pergi dengan menaiki Ye Long, Xin Chen tidak yakin apakah dia sempat menyelamatkan tiga temannya sebelum kepala mereka dipenggal.


Semua keputusan seperti sulit. seluruhnya berakhir dengan satu jalan buntu; ketiga temannya mati. Di sisi lain dia dapat melihat seberapa besar keinginan bertahan hidup Wei Feng. Dia tidak bisa membuang temannya begitu saja ke dalam jurang, sementara melawan pun tidak ada gunanya.


Pikirannya carut-marut hingga Xin Chen tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Dia hanya terus menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Kaisar Yin.


"Kami menangkap sekelompok penyusup yang memasuki barisan prajurit selama seleksi! Mereka berasal dari Distrik-18, distrik itu sudah seharusnya dihancurkan setelah insiden ini. Yang Mulia, jika anda memberikan hamba perintah untuk menghancurkan dan membangun distrik baru lagi, maka hamba akan dengan senang hati melakukannya."

__ADS_1


"Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan. Setelah mereka, pastikan kau menggantung hidup-hidup penguasa distrik-18."


Bukan hanya mereka berempat, bahkan Jenderal-18 juga akan terkena imbasnya akibat masalah ini. Sesaat Xin Chen merasa sepasang mata seperti sedang menatapnya, dia semakin menunduk dalam.


"Aku merasa seperti pernah melihat wajah itu ..."


Xin Chen bergeming di tempat. Tak bisa dibohonginya hari ini dia betul-betul panik. Jika identitasnya sebagai anak Pedang Iblis diketahui maka habislah sudah semua rencananya. Rencana memenangkan perang tidak akan berhasil. Membayangkan bagaimana Kota Fanlu kembali digulung oleh kobaran api keabadian yang merenggut semuanya dari Xin Chen. Tangannya yang diikat mulai terkepal. Xin Chen ingin sekali menggunakan seluruh kekuatannya untuk melenyapkan Kaisar Yin, tapi di sisi lain dia tahu itu bukan penyelesaian terbaik.


Karena jika Kaisar Yin mati hari ini, seluruh prajurit Kekaisaran Qing akan langsung turun menghancurkan Kekaisaran Shang.


Kaisar Yin tak melanjutkan kalimatnya, tetapi Xin Chen merasa seseorang mendekat ke arahnya.


Langkah kaki berhenti tepat di depannya. Xin Chen dapat melihat bayangan sosok tersebut dengan jelas.


Pikirannya terlalu kacau untuk mendengar apa yang orang lain perbincangkan. Namun ketika itu Xin Chen dapat bernapas lega ketika seseorang memasukkan semacam kain karung untuk menutupi kepalanya. Kaisar Yin tentu orang yang bermartabat. Dia enggan melihat langsung saat kepala penyusup itu bergelinding di tanah.


Saat itu rasa lega yang dirasakannya menghilang.


'Apa benar hanya sampai di sini saja? Aku bahkan tidak melakukan apa pun.'

__ADS_1


Sejenak pikirannya kembali jernih, Xin Chen tidak bisa melihat apa pun di sekitarnya. Selain mendengar suara Jenderal-1 yang mulai mengumumkan semua informasi palsu dan juga kebenaran tentang diri mereka.


"Zu Chen, bukanlah anak dari klan Zu atau pun putri dari Zu Linlin! Kepala Desa Bao Ning telah mengatakan yang sebenar-benarnya bahwa orang ini bukan berasal dari desa mereka. Benar begitu?"


Sosok yang bernama Bao Ning, orang yang Xin Chen temui di desa itu. Orang yang mengizinkannya ikut Seleksi prajurit mengacungkan tangan dan mengiyakan semua dugaan tersebut. Walaupun seharusnya dia berterima kasih karena Xin Chen mau menutupi kekurangan sukarelawan di desa mereka sehingga desa tersebut tidak terbakar, tetapi saat ini laki-laki itu merasa nyawanya lebih penting dari apa pun.


"Berikutnya, Youji! Anak dari salah satu keturunan dari Kekaisaran Qing, klan Jin yang telah melarikan diri ke Kekaisaran Shang akibat perseteruan dengan sebuah klan. Menunjukkan bahwa dia bukan lagi bagian dari kekaisaran ini karena bersekongkol dengan musuh!"


Selanjutnya Wei Feng, mereka mengungkap semua identitas mereka tanpa cela. Xin Chen tidak tahu dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut. Namun yang diketahuinya, sebelum di bawa ke tempat ini Xin Chen sempat melihat seseorang yang berdiri di sebelah Jenderal-1. Hanya dugaan tapi Xin Chen memiliki dugaan kuat bahwa sosok itu adalah orang yang menemukan semua informasi mereka. Dari tatapannya saja dia terlihat seperti orang dengan otak di atas rata-rata.


Di saat itu ucapan Jenderal-18 terlintas. Feng De. Tangan kanan Jenderal-1 yang terkenal berbahaya dan licik. Hari ini Xin Chen baru mengetahui mengapa laki-laki kekar dengan julukan Jenderal-18 sampai dibuat ketakutan oleh dua orang ini.


"Jangan berurusan dengan musuh dari musuhmu."


Xin Chen teringat dengan tangan kanan Jenderal-18 yang sempat memperingatinya. Dia berpikir keras. Baru menyadari sesuatu berulang kali dikatakan padanya lewat ancaman tersebut.


"Maka dengan ini, hukuman mati akan dilangsungkan di hadapan Yang Mulia."


"Bunuh mereka berempat," titah Kaisar Yin tanpa berlama-lama. Tepat di saat itu pula, keempat pedang bergerak hendak memenggal leher keempat orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2