Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 246 - Penantian Panjang


__ADS_3

Naga hitam itu memiringkan telinganya, kurang jelas mendengar apa pun di sekitar. Dia mencari posisi yang lebih nyaman untuk tidur dengan kepala di atas kaki patung.


Bola mata hitam pekatnya bertemu dengan mata biru yang sedang mematung di depan sana. Naga itu terkejut dan lari begitu ketakutan, tak menyangka pemuda itu akan kembali lagi. Dia menghilang begitu saja di balik kobaran Api Keabadian.


"Ye Long!" Xin Chen hendak mengejar, naga itu terlalu cepat bergerak. Sirip di punggungnya tumbuh sempurna, terbangnya jauh lebih cepat dari sebelumnya.


Teriakan Xin Chen menggema di satu tempat itu, dia menunggu beberapa saat hingga akhirnya naga itu diam-diam memunculkan diri. Menatap pemuda itu ketakutan, lalu menundukkan kepala.


Xin Chen menarik napas lega. "Kau masih hidup." Dia tersenyum, lalu merasa bersalah di detik yang sama. "Aku terlalu kalap hari itu, aku menyalahkanmu. Padahal kita sama-sama berjuang."


"Aku tarik kembali kata-kataku hari itu."


Ye Long tetap tak berani menatapnya, Xin Chen duduk bersila. Dia berbicara, sedikit berbisik.


"Rubah Petir telah mati. Mungkin-belum, aku tak bisa memastikannya. Dia temanmu, bukan?"


"Seandainya aku datang lebih awal, mungkin hal ini tak akan terjadi kepadanya." Xin Chen terus berbicara walaupun lebih terkesan seperti berbicara sendiri. Dia tahu Ye Long bisa mendengarnya. "Aku harus mencari cara untuk menyelamatkannya, ayahku ... Dan kalau bisa, ayahmu." Ucap Xin Chen.


"Dia adalah sumber kehancuranmu."


Xin Chen tersedak napasnya sendiri, lalu mengintai sekitarnya dengan tatapan was-was. Beberapa kali menyapu sekitarnya, tak mungkin dia salah dengar tadi. Seseorang menjawabnya. Masih begitu terkejut, suara itu muncul kembali.


"Aneh, kah? Bahasa manusia memang sulit tapiii aku sudah mempelajarinya selama di sini."


Xin Chen menatap Ye Long hampir tak percaya, lantas tertawa lepas. Tak menyangka Ye Long yang menyahutnya dari tadi, dan kini dia tak bisa menghentikan tawanya sendiri. "Sial, kali ini benar-benar lucu."


"Aku tidak mengatakan kata-kata kotor, rarrghh! Aku sudah mempelajari bahasa manusia ribuan tahun. Mana bisa salah!" Ye Long mencoba mencari tahu tapi rasanya memang tak ada yang salah. Dia menatap Xin Chen yang masih tergelak.


"Sudah lama aku tak melihatmu tertawa."


"Jadi kau sudah bisa berbicara? Sejak kapan?"


Ye Long mengibaskan ekornya, menggeram kecil lalu teringat sesuatu. "Dua tahun lalu."


"Permainan sulingmu juga bagus."


"Ingin mendengarnya?" Xin Chen ingin memujinya tapi dia terlanjur tertawa tadi, mendapati Ye Long sudah bisa berbicara layaknya siluman kuat lainnya. Dia hanya merasa aneh.


Xin Chen meniupkan serulingnya, tapi tidak dengan irama yang benar. Irama sumbang mengusik telinga Ye Long dan naga itu mendesis refleks. Dia melompat ke arah Xin Chen, tubuhnya yang kini dua kali lebih besar seolah-olah menggetarkan tanah di sekitarnya.


"Telingaku bisa berdarah-rarrghhh!"

__ADS_1


Nada seruling meninggi, Ye Long melibaskan ekornya kesal. Dia sering mendengar Xin Chen memainkan serulingnya dengan irama yang indah, hampir di setiap akhir tahun. Memang pemuda itu senang sekali mengerjainya, bahkan dia bisa tertawa lepas saat bersama seekor naga dibandingkan dengan manusia.


"Hari itu, aku ingin sekali menyelamatkan orang tua laki-lakiku, dia masih hidup. Aku mencarinya selama ini hanya agar bisa melihat bagaimana dirinya." Ye Long tiba-tiba murung.


"Dia tak lebih dari sebuah kehancuran. Aku ingin menyelamatkan ayahmu hari itu, tapi aku tak bisa membiarkan majikanku terluka karena mereka. Aku sudah kehilangan banyak hal, dan hanya kau yang masih bisa kupertahankan. Aku tidak ingin meninggalkan tempat ini, walaupun kau tak akan mendatangiku lagi. Aku sempat berpikir begitu."


Saat Ye Long mengingat Rubah Petir, dia merasakan perasaan aneh. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Dia mulai merasakan emosi yang dalam, sama seperti manusia.


"Aku ingin melihatnya. Rubah, dia berjuang sampai darah terakhirnya."


"Kau bisa melihatnya saat kita bisa mengembalikan permatanya. Benda itu kembali dicuri. Bukan oleh naga, tapi manusia. Merebutnya dari tangan manusia jauh lebih susah, mereka memiliki seribu taktik yang harus kita bongkar satu per satu. Siap?"


"Selalu siap."


"Omong-omong kau bisa berubah menjadi manusia atau semacam hewan kecil begitu?"


"Seperti?"


"Kadal, biawak atau tokek. Apa saja. Badanmu itu bisa menguasai jalanan kota asal kau tahu."


Xin Chen mengerutkan alisnya saat Ye Long mendesis tak terima, dia merasa tubuhnya tak terlalu besar untuk seukuran siluman biasa. Lagipula jika dibandingkan dengan siluman-siluman lainnya, tubuh Ye Long yang sudah berusia dua puluh ribu tahun lebih termasuk ramping dan kecil. Namun, biar begitu jika tubuhnya di sandingkan dengan tubuh Lang, serigala itu kalah jauh. Lang hanya setengah dari besar badan Ye Long yang sekarang.


Tujuh tahun memang bukan waktu yang singkat, walau pun Ye Long hanya sedikit makan tetapi tubuhnya tumbuh dengan bantuan Api Keabadian. Kekuatan yang dapat menangguhkan dirinya meski pun berbulan-bulan tidak makan. Semenjak dulu lagi, Ye Long terbiasa hidup berteman kelaparan dan luka. Sebelum Xin Chen dilahirkan, dia telah berkelana mengarungi dunia untuk mencari tahu tentang dirinya sendiri.


Ye Long menatap badannya sendiri, Xin Chen melipat kedua tangan di depan dada.


"Ekormu itu bisa menampar lima orang dewasa sekaligus. Apalagi kalau kau sedang marah, bisa-bisa mereka pingsan. Ah, tidak. Melihat wajahmu saja mereka pasti kocar-kacir."


"Aku tidak seburuk itu. Aku menyukai manusia."


"Ya, kau bisa menjilat mereka seperti makanan dan memakannya tanpa sadar. Kau memang Naga Hitam yang baik."


Ye Long memasang tampang tak suka. "Rrarrrghh! Kalau aku jahat dari kecil lagi aku memakanmu."


Xin Chen tertawa kecil. "Kalau aku jahat aku pasti meninggalkanmu sendirian di hutan itu."


Telinga Ye Long turun, tak mau mendebat lagi. Dia mengalihkan pembicaraan.


"Ingin buat perjanjian antar manusia dan siluman?"


Perjanjian atau kontrak itu hanya dilakukan untuk mengikat antara majikan dan peliharaan sehingga mereka dapat hidup berdampingan. Biasanya meninggalkan tanda, Ye Long tak menunggu jawaban dan segera merubah dirinya. Memasuki tubuh Xin Chen dan meninggalkan bentuk ukiran naga hitam di lehernya.

__ADS_1


Xin Chen merasa kekuatan mereka memiliki kemiripan sehingga Naga Hitam itu dapat dengan mudah menyatu dalam kekuatannya. Ye Long kembali menampakkan diri, saat seekor siluman bertambah kuat mereka bisa memiliki akal dan emosi layaknya manusia. Berbicara dan melakukan kontrak adalah keistimewaan yang bisa didapatkan siluman tertentu.


"Ini lebih bagus. Naga pintar."


Ye Long tiba-tiba saja melompat ke arahnya, dia tampak begitu senang. Melihat majikannya kembali, naga itu sampai melupakan perutnya yang keroncongan. Xin Chen tertawa geli saat naga itu berguling di tanah.


"Sudahlah, kau sudah terlalu tua untuk bersikap manja begitu."


"Kau juga sudah tua." Balasnya, mata Ye Long berbinar saat melihat tumpukan daging dikeluarkan Xin Chen. Dia memang sudah mempersiapkan makanan itu sebelum pergi ke Kota Renwu. Mengingat tempat ini sama sekali tak menyediakan makanan apa pun. Xin Chen hanya memperhatikan Ye Long makan sampai dia menghabiskannya.


"Api di tempat ini apa masih bisa dipadamkan?"


Ye Long mengalihkan perhatian, menatap sekitarnya yang memang dipenuhi api. Tapi hal itu tak mempengaruhinya.


"Jika pemilik api ini telah tiada, api ini akan mati dengan sendirinya."


"Ini semacam kutukan di Kota Renwu."


Xin Chen kembali menatap Ye Long, sedikit tak tega saat melihat naga itu.


"Aku akan membunuh Naga Kegelapan."


"Aku memang ingin membunuhnya."


"Mengapa?"


"Aku sudah mengatakannya. Dia adalah sumber dari segala kehancuran."


Xin Chen menatapnya tak yakin, Ye Long mendengus. "Shui pernah mengatakannya, dan aku sudah memikirkannya selama ini. Menyelamatkannya hanya akan membuatnya semakin tersiksa, aku ingin mengakhiri penderitaannya dari tangan para manusia kotor itu."


Tanpa sadar Xin Chen tersenyum, dia menepuk pelan kepala naga itu. Merasa keduanya dapat saling memahami dengan mudah.


"Kita sudah banyak berubah. Ye Long, aku ingin meminta tolong padamu."


"Dengan senang hati."


"Gigit aku kalau aku membunuh atau menyakiti manusia atau siluman tak bersalah. Berjanjilah."


"Aku sekalian akan membakarmu jika kau mau."


"Penawaran yang bagus."

__ADS_1


***


Thor klo nulis serba kepepet. Jadi apa yang ketulis itulah yang ada, dulu masih sempet revisi2 sekarang udh gk bisa lagi😩 maapkan klo ad yang salah yaakk(༎ຶ ෴ ༎ຶ) klo kepikiran Mulu takutnya updatenya sebulan sekali. Mau gitu nulisnya lebih bagus kek author lain, tapi apalah daya diriku. Mengsyedih.


__ADS_2