Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 78 - Sang Pengendali Roh


__ADS_3

Xin Chen segera merapat pada Rubah Petir, bersiap melindungi serangan yang datang dari mana saja. Selain itu dia mengerti betul mengapa Rubah Petir tak benar-benar mengeluarkan kekuatannya, yaitu agar para manusia yang bermukim di dekat sini tak menyadari kekuatannya dan tetap menjaga identitas Rubah Petir dari musuh.


"Siapa kau sebenarnya? Jangan menyembunyikan diri seperti itu!" Xin Chen berteriak, belum sedetik usai mengatakannya sebuah asap hitam membesar di bawah kakinya. Menyerap tubuh Xin Chen untuk masuk ke dalam.


"Apa-apaan–!?"


"Xin Chen?!" Rubah Petir menoleh ke belakangnya, melihat Xin Chen sudah terjebak oleh perangkap roh.


Rubah Petir mengeluarkan kekuatan petirnya untuk menyerang roh-roh yang semakin menarik tubuh Xin Chen ke dalam lubang tersebut


Sementara itu Xin Chen mengeluarkan seluruh kekuatannya, membuat kekuatan tersebut justru terserap oleh para roh dan juga kini kesadaran Xin Chen kian berkurang seiring berjalannya waktu.


Keadaan gawat ini membuat Rubah Petir sangat kesal, iris mata keperakannya bercahaya terang saat langit mulai mengamuk. Listrik-listrik berkekuatan tinggi jatuh menghantam bumi, mengincar musuh dan tetap tak bisa menyentuhnya sedikitpun.


Dalam pertarungan melawan sosok pendekar pengguna roh memang tidak akan bisa berimbang. Sama halnya seperti memadamkan api dengan api. Semakin banyak kekuatan dikeluarkan semakin kuat pula roh itu menyerang.


Selain itu kemarahan Rubah Petir adalah karena musuhnya ini tidak pernah menunjukkan diri secara langsung, dia hanya mengeluarkan jurus-jurus mematikan ilmu aliran hitam dan bergerak seperti pecundang. Tak berani menunjukkan wajahnya lagi setelah sebelumnya terlihat di dahan tinggi.


Petir di langit berubah menjadi jarum petir, bentuknya sama seperti pedang berukuran kecil tanpa gagang. Baru kali ini Xin Chen melihat Rubah Petir menunjukkan kemarahannya dalam bertarung, meski masih terlihat tenang namun tak bisa dipungkiri dari jumlah kekuatan yang dikeluarkannya kini, Rubah Petir terlewat kesal pada lawannya.


"Tunjukkan dirimu, pecundang!" Rubah petir mengeluarkan suaranya, tak mendengarkan jawaban apapun Rubah Petir lantas menurunkan pedang petir yang langsung turun dalam jumlah banyak.


Sejauh apapun Rubah Petir melepaskan serangan musuhnya tetap tak tersentuh barang sedikitpun, entah di mana dia bersembunyi, sementara roh-roh yang terus menyerap Xin Chen masih akan bergerak sebelum pemilik mereka dibunuh.

__ADS_1


Rubah Petir mengupayakan berbagai cara agar Xin Chen bisa terlepas dari jeratan roh tersebut, tetapi semuanya mustahil. Kekuatan petirnya terserap saat dia menyerang. Tidak ada pilihan lain selain membunuh musuh.


"Xin Chen, bertahanlah."


Wei Feng tak tahu mau berbuat seperti apa, seumur hidup dia tak pernah melihat kekuatan petir yang amat mengerikan. Dan juga asap hitam yang bergerak layaknya manusia membuat betisnya seolah memiliki tulang lagi. Lelaki itu hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Sementara roh masih terus membunuh Xin Chen dengan pelan tapi pasti. Wajahnya kian memucat, bukan karena tubuhnya dilukai tapi jiwanya sedang direnggut. Agar menjadi salah satu pengikut yang bergerak atas keinginan pemilik roh ini. Hal itulah yang ditakutkan oleh Rubah Petir sejak tadi.


Dia tak begitu berharap Xin Chen datang ke sini, justru hanya akan membuatnya tak bisa fokus. Anak itu tidak mungkin bisa menghadapi musuh dengan kekuatan tidak masuk akal seperti ini. Dapat mengendalikan roh adalah sebuah kekuatan yang terbilang langka, seperti halnya Xin Fai yang dapat membunuh ratusan Manusia Darah Iblis dengan roh dari Kitab Tujuh Kunci tanpa bergerak dari tempatnya.


Pria ini juga dapat melakukannya dengan mudah, justru Rubah Petir sadar roh-roh tersebut tidak hanya melukai tapi merasuki tubuh korbannya untuk mengambil jiwa mereka. Asap hitam tebal telah sampai di ujung leher Xin Chen, Rubah Petir makin merapatkan gigi tajamnya. Bagaimana bisa dia menyerang para roh ini jika mereka tak memiliki kelemahan apapun?


Ribuan pedang petir saja takkan mengurangi kekuatan mereka, saat senjata itu menyerang mereka kembali seperti semula. Tidak tertembuskan.


Suara tertawaan menggema, tak jelas dari mana asalnya dan seolah mengejek Rubah Petir. "Aku sudah mengawasi kalian sejak lama. Rupanya benar, kau adalah Rubah Petir dan anak itu penerus Pedang Iblis. Sepertinya aku bisa menyelesaikan kalian berdua dengan mudah."


Tertawaan lantang kembali menggema di atas Rubah Petir, sebuah cambuk melibas dari atas. Para roh-roh keluar semakin banyak menciptakan puluhan cambuk mematikan lainnya.


Jika terkena bukan hanya tubuh yang akan terluka, jiwa pun akan langsung keluar dari tempatnya. Manusia biasa terkena satu kali cambukan itu akan mati seketika. Ilmu aliran hitam ini dikhususkan untuk menjadi Pengendali Roh, Jurus Pemadam Jiwa yang telah disempurnakan dengan cara Pendekar Kekaisaran Wei sendiri.


Pertarungan masih terus berlanjut, sayangnya setelah beberapa menit berhasil melindungi diri dengan menggunakan kekuatan petirnya, salah satu cambuk berhasil memukul telak kaki Rubah Petir. Siluman itu berusaha melepaskan diri secepat mungkin.


"Kau tidak menyadari bunyi angin yang diciptakan para roh kesayanganku ini?" Sebuah suara kembali muncul, ketika pergerakan Rubah Petir terkunci lelaki dengan rambut sebahu itu keluar. Asap tebal yang menyatu dari segala penjuru angin membentuk tubuhnya hingga terlihat seperti seorang manusia.

__ADS_1


"Suara dari Irama Kematian ... Aku tak menyangka akan mendengarnya di hutan ini sebulan yang lalu, dan yang lebih mengagetkannya..." Pria itu menunjuk Xin Chen dengan kuku jarinya yang hitam dan tajam.


"Sasaran empuk ku justru bisa menguasai jurus itu dengan mudahnya, ah... Kuakui, meski hanya dasarnya saja, dia sudah cukup hebat mengusik jiwa para rohku."


"Kau siapa dan dari mana kau datang?"


"Hahahaha... Sepertinya nama Pengendali Roh belum begitu terkenal di kalangan para Siluman Penguasa Bumi sepertimu. Aku cukup sedih mendengarnya." Pria itu mendekat pelan-pelan, tidak terdengar bunyi hentakan kakinya sedikit pun.


"Aku dari Kekaisaran Wei, dunia ilmu sihir hitam terhebat dalam sejarah. Melihat kau juga berperan untuk melindungi perdamaian di Kekaisaran ini aku cukup terkesan padamu,"


"Tch, kau dari Kekaisaran Wei? Mungkin jika kau benar-benar orang penting dari sana kau paham betul dengan apa yang sedang ku cari sekarang."


"Kau tidak akan mendapatkannya, karena apa? Yah, pikir saja. Suatu saat Kekaisaran kalian melemah karena orang-orang dari Kekaisaran Qing juga turun tangan untuk menghapuskan nama Kekaisaran kalian dari peta dunia."


Pria itu mengembangkan senyum sinisnya.


"Sekarang menurutlah saja, Rubah Petir. Kami membutuhkan permata perak itu untuk kebaikan dunia. Memperbaiki tatanan dunia yang sudah sangat buruk, anggap saja kau mati dalam perjuangan hebat. Bagus bukan? Daripada mati menjadi budak manusia, hahahah."


"Sayangnya mulutmu terlalu kotor untuk mengatakan kata perjuangan. Orang-orang yang hanya bisa mengandalkan kekuatan roh untuk bertarung sepertimu, takkan tahu apa arti perjuangan."


"Apa katamu?" Sorot mata pria itu tampak memburu, dia tak ingin lagi berbelas kasih apalagi berbasa-basi dengan Rubah. Tidak ada guna, pikirnya. Tangan lelaki itu terangkat, membuat sekumpulan roh bergerak membentuk tangan dari lubang di tempat Xin Chen berdiri. Mencekik anak itu hingga hanya jeritan kecil keluar dari mulutnya. Saat ini kesadaran Xin Chen telah diambil dan hanya tersisa sangat sedikit.


Rubah Petir sempat berpikir untuk bertarung serius, hal ini tak bisa lagi dibawa sepele. Di awal dia memang sempat meragukan kekuatan pengguna roh seperti ini. Tapi semenjak tahu lawannya nyaris tidak memiliki kelemahan, sudah membuatnya waspada. Pertarungan ini seakan menjadi peringatan besar baginya, bahwa sosok roh akan menjadi mahkluk yang sama mengancamnya seperti iblis.

__ADS_1


Wei Feng memanah tepat di jantung musuh, tapi panahnya itu tembus begitu saja. Lelaki muda itu menggaruk belakang kepalanya saat sang musuh bergerak untuk menatapnya ke belakang dalam tatapan membunuh.


__ADS_2