
Hari sudah beranjak malam semenjak mereka tiba di markas militer pusat dan mengikuti segala macam kegiatan yang cukup melelahkan. Wei Feng dan Yu Xiong mengeluh di sepanjang perjalanan, mereka benar-benar kelelahan berjalan sepanjang hari. Tempat ini begitu luas sehingga memaksa mereka berjalan jauh untuk tiba ke tempat lain. Di tambah lagi disuruh berdiri hingga berjam-jam.
Keadaan Wei Feng tidak bisa dikatakan baik karena lukanya masih belum sembuh. Hanya Yu Xiong dan Xin Chen yang tidak mengalami luka serius. Mereka disuruh berkumpul di satu bangunan yang lebih terlihat seperti tempat berlatih pedang. Terdapat begitu banyak senjata yang diletakkan pada dinding sebelah kiri. Sementara itu ruangan tersebut begitu lebar dan dibagi lagi menjadi lima tingkat.
Seharian penuh menjalani aktifitas tanpa henti akhirnya lagi buta baru mereka dipersilahkan untuk beristirahat. Ternyata sudah disiapkan sebuah gedung untuk prajurit dari distrik-18. Memang terlihat lebih kecil dibandingkan asrama yang lainnya. Namun tempat itu jauh lebih mewah dari asrama di Distrik-18. Terdapat beberapa kamar yang muat ditempati lima orang sekaligus. Xin Chen, Wei Feng dan Yu Xiong memilih kamar yang dapat tinggali oleh lima orang. Hanya ada satu kamar. Sementara yang lainnya lebih memilih tidur sendiri-sendiri dan ruangannya relatif lebih kecil.
Wei Feng baru bisa menarik napas. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kamar yang nyaman. Tak pernah terbayangkan akan sampai di tempat ini. Begitu megah dan juga indah. Juga baru pertama kali dalam seumur hidup Wei Feng melihat pasukan prajurit sebanyak itu. Benar-benar menggambarkan situasi perang yang mendebarkan. Dia menoleh pada Xin Chen yang kelihatan lebih diam dari sebelum-sebelumnya.
"Hai, setidaknya katakan sesuatu! Kau diam-diam seperti itu membuat kami seperti punya salah padamu."
Xin Chen duduk di dekat jendela, melihat keadaan markas pusat yang berada di bawahnya. Mereka berada di tingkat kedua asrama. Pemandangan di depannya begitu suram. Entah mengapa setiap melihat langit di pagi buta suasana hati Xin Chen memburuk. "Aku mempunyai firasat buruk."
"Tentang penyusupan kita?" Wei Feng tertarik, dia juga ikut melemparkan pandangan ke luar jendela di mana langit biru gelap yang mendung seperti akan menurunkan hujan. Di pagi sebuta ini bahkan keramaian di markas pusat tak ada bedanya dengan tadi siang. Masih begitu ramai mempersiapkan banyak hal. Mereka nyaris tidak bisa tertidur oleh suara ribut yang tak henti-hentinya berdengung di telinga.
"Bukan. Aku merasa ada yang lebih buruk dari itu semua. Anehnya aku tidak tahu itu apa."
__ADS_1
Yu Xiong baru saja membersihkan diri. Wei Feng sudah gerah semenjak tadi siang dan langsung mandi setelah Yu Xiong. Mereka diberikan beberapa pakaian yang seragam dengan beberapa kelompok prajurit di tempat ini. Mungkin saat ini mereka tergolong sebagai prajurit paling rendah di tempat ini. Yu Xiong memilih tidak tidur karena waktunya juga sangat tanggung. Dia ikut duduk, tak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.
Sejak awal datang ke tempat ini Yu Xiong, Youji dan Wei Feng sepakat untuk tidak mengacaukan rencana Xin Chen dan hanya membantu ketika diperlukan. Tapi dirinya pun tidak bisa tinggal diam karena Xin Chen tidak menjelaskan apa-apa tentang yang harus mereka lakukan setelah ini. Waktu terus berjalan dan peperangan akan dimulai dalam waktu dekat ini.
Kekhawatiran Yu Xiong terlihat jelas dari wajahnya, dia baru saja hendak bicara dan segera mengurungkan niatnya saat melihat Xin Chen bergerak. Dia mengangkat sebelah tangan saat seekor merpati putih melesat cepat memasuki jendela. Burung itu bertengger di tangannya membawa surat yang kemungkinan besar berasal dari Kekaisaran Shang.
Xin Chen membuka gulungan kecil yang diikat pada kaki merpati tersebut. Dia kembali merasakan firasat buruk itu datang. Yu Xiong ikut memperhatikan di sebelahnya dengan penasaran. Saat gulungan terbuka yang terlihat hanyalah sepenggal kalimat dan sebuah tanda tangan di bawahnya. Yu Xiong tidak menganggap surat itu serius. Namun melihat wajah Xin Chen saat ini, dia mulai menyadari sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Hanya sebaris kata yang dikirimkan Xin Zhan dari Kekaisaran Shang, mungkin dia mengirimkan banyak merpati untuk membawa surat itu sampai ke tangan Xin Chen. Isinya ditulis sangat terburu-buru tetapi Xin Chen tahu apa yang dimaksud oleh Xin Zhan. Ren Yuan telah diculik dan dibawa menuju Kekaisaran Qing.
Wei Feng baru saja selesai dan menangkap sesuatu yang buruk di wajah kedua temannya. Terlebih lagi Xin Chen yang sangat panik. Wei Feng menahannya saat pemuda itu bergegas ingin keluar dari sana.
"Kita tidak diperbolehkan keluar ke mana pun sebelum ada perintah. Kau pasti tidak lupa dengan peraturan ini, bukan?"
"Aku tidak peduli dengan aturan itu. Menyingkir."
__ADS_1
Wei Feng memberi isyarat pada Yu Xiong, meminta penjelasan. Xin Chen telah pergi dari kamar dan hanya menyisakan mereka berdua. Setelah mendengar apa yang terjadi barulah Wei Feng menyusul Xin Chen keluar. Ibunya tertangkap oleh musuh, tentu saja Xin Chen begitu panik mengingat ayahnya juga mengalami hal yang sama. Dan itu begitu membekas di ingatannya. Xin Chen tidak ingin hal itu terulang kembali.
Namun langkah Xin Chen terhenti saat sepuluh prajurit bersenjata segera menghalangi jalannya. Dia langsung dikerubungi dan ditodongkan senjata di depan mata. Yu Xiong dan Wei Feng menyusul di belakang Xin Chen yang ingin menyerang prajurit-prajurit itu. Mereka segera menarik Xin Chen masuk dan menyeretnya ke kamar. Wei Feng tahu mengapa Xin Chen bisa sepanik ini. Tapi Xin Chen tidak bisa bertindak sembarangan jika tidak ingin perjuangan mereka menyusup selama ini terbongkar begitu saja.
"Tenanglah, tarik napasmu. Kau terlalu panik."
"Aku tidak bisa membiarkan mereka membawa ibuku-"
"Jika kau tertangkap di sini maka kesempatanmu untuk pergi juga akan hilang. Semua yang kita rencanakan selama ini akan hancur. Pikirkan baik-baik sebelum melangkah. Pasti ada kesempatan."
Suara ketukan di pintu menginterupsi Wei Feng, dia segera menjelaskan bahwa tadi ada kesalahpahaman. Setelah berdebat panjang akhirnya mereka melepaskan Xin Chen yang hanya terduduk di lantai, terlihat kacau.
Dia berkali-kali menoleh ke luar, air mukanya sangat berbeda dari sebelumnya. Kali ini, untuk pertama kalinya baik Wei Feng dan Yu Xiong melihat ekspresi sesungguhnya yang disembunyikan Xin Chen selama ini. Kesedihan dan putus asa.
**
__ADS_1