
Malam hari kediaman Chang Wei dan Ho Xiuhan dipenuhi oleh puluhan pria, kebanyakan mereka menggunakan pakaian kumuh. Sebagian lainnya adalah kurir surat, pedagang dan penjaga benteng. Mereka belum diberi tahu apa-apa tentang mengapa mereka semua dikumpulkan.
Chang Wei belum pulang dari kuil, Ho Xiuhan sudah menunggu lama dan teman-temannya mulai protes. Sebagian dari mereka harus kembali bekerja.
"Ah, sudahlah! Buang-buang waktuku saja. Bisa-bisa aku dipecat majikan Aku pulang lebih dulu, maafkan aku."
"Hai, apa yang kau kejar. Menikah juga belum, tidak ada yang kau tengok di rumah. Kembali ke sini sebelum aku menempeleng mukamu dengan sandal!" cerewet Ho Xiuhan, panas juga telinganya mendengar yang lain mengoceh. Hingga akhirnya dua orang datang ke tempat mereka, dia menarik napas lega.
"Saya sudah mengumpulkan mereka-"
Orang itu menghunuskan pedang. Tepat ke leher Ho Xiuhan.
Lantas temannya yang lain siaga, kebanyakan dari mereka tidak membawa pedang karena mereka bukan lagi pendekar. Ho XXiuhana terkesiap, orang itu bukan Xin Chen atau pun Shui. Melainkan utusan walikota baru di Kota Fanlu.
"Ada apa mantan Aliansi Pedang Suci tiba-tiba mengumpulkan anggota?" Bisik suara itu terdengar mengecam, Ho Xiuhan ta menyangka rapat tertutup mereka terdengar di telinga walikota. Laki-laki itu meludah ke samping.
"Oh, kenapa? Mau mengorek uang dari kami? Orang pemerintahan memang tidak kenyang-kenyang memperkaya dirinya sendiri. Cuih!"
"Jaga omongmu, anj*ng liar!"
Perut Ho Xiuhan ditendang dengan lutut, dia mundur. Tertawa miring, "Lihat langkah kalian, seseorang telah kembali untuk menghancurkan kebusukan kalian. Tunggu saja tanggal mainnya, bocah!"
Ho Xiuhan segera dirantai, Kota Fanlu yang saat ini begitu menghindari pertarungan dan pertumpahan darah, sedkit pergerakan mencurigakan akan langsung ditindak. Hal itu membuat Ho Xiuhan muak."
"Sekawanan anj*ng liar tidak akan berani menyerang jika pemimpin mereka saja tidak bisa melindungi dirinya sendiri." Kalimat itu membuat darah di kepala Ho Xiuhan mendidih, dia menyepak dua orang tersebut. Terjadi pertarungan berat sebelah, dua orang itu dikeroyok dua puluh orang. Tak butuh waktu lama untuk menumbangkan kedua orang tersebut.
Pria suruhan walikota jatuh berguling di tanah, lebam di sana-sini. Samar-samar dia mendengarkan derap langkah kaki di dekatnya terbaring. Matanya yang buram tak bisa menangkap jelas siapaa sosok bermata biru dan jubah hitam itu, saat terbangun di keesokan harinya dia tidak mendapati apa-apa selain kayu petak yang ditulis sesuatu dengan mata pedang.
__ADS_1
"Era Baru Dimulai."
*
Para ahli obat kewalahan.
Luka di tubuh Lan An mustahil bisa disembuhkan, anggota organ dalamnya terluka tusuk beberapa kali dan beberapa bagian koyak. Shen Xuemei tak menjawab surat yang telah dikirimkan jauh hari, sementara itu jalur pelabuhan didatangi badai sehingga kapal dari tempat lain sulit bertolak ke pelabuhan di Kota Renwu.
Ren Yuan telah pergi bersama beberapa orang lain untuk mengambil obat, sangat sulit menemukannya dan membutuhkan waktu beberapa hari. Beberapa yang lain ditugaskan untuk merawat luka tersebut hingga Ren Yuan kembali. Xin Xia jatuh sakit, dan hari itu yang lain sibuk berunding.
"Apakah akan digantikan Pilar pertama baru?"
Karena mereka sebenarnya tak cukup suka Lan An berdiri di atas mereka. "Atau mungkin jika pun dia selamat, posisinya akan menurun. Ini kesempatan bagi yang lain untuk memunculkan diri."
Dari sanalah muncul sesuatu yang tidak diduga; Para Pilar Kekaisaran turun ke jalan menyapa rakyatnya. Tidak ada yang menganggapnya aneh, salah satu dari pilar itu menyapaa-nyapa dari dalam kereta kuda yang mewah. Dia tersenyum bangga saat semua orang mengelu-elukannya, sebagian melemparkan bunga dan puji-pujian.
"Hahaha, ada seseorang yang baru bangun dari mimpi indahnya."
Laki-laki itu tak bisa melihat siapa yang berbicara, terlalu banyak orang di sekitarnya.
"Tidurmu pulas sekali, sampai saat Pilar Pertama jatuh baru kau bergerak."
"Siapa di sana?"
"Mau dengar sedikit rahasia?"
Pria itu tak bisa melihat siapa yang berbicara, tahu suara itu terdengar jelas di dekatnya.
__ADS_1
"Diam!"
Seketika para warga yang tadinya riang gembira menyambutya terdiam, melihat reaksi pria itu yang mulai aneh. Dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Tempat kalian berdiri sekarang tidak akan aman, dia akan kembali untuk melenyapkan parasit elit seperti kalian."
"Diam, berengsek!" Pria itu tak mengerti mengapa darahnya seperti mendidih, emosinya tidak stabil.
"Aku berani menjamin kalian akan hancur tak lama lagi."
"Enyahlah kau, sampah kotor-"
Dia mendapatkan kesadarannya sendiri sambil terengah-engah, sesuatu yang membuat tubuhnya mati rasa telah menghilang. Saat menyadari sekeliling semua orang tengah memandangnya takut, mereka mundur dan pergi begitu saja.
*
Tirai yang dijalin dengan jalinan sutra bergerak pelan di tiup angin yang memasuki jendela di sebuah kediaman, tempatnya agak sepi dibandingkan hari-hari sebelumnya. Siang hari tak banyak yang bisa menengok, sedangkan di sana hanya ada Xin Zhan yang berjaga. Dia duduk di bawah pohon besar di halaman. Mengasah pedangnya sembari melamun, masih terbayang akan sosok yang malam lalu bertemu dengannya di atap.
Pemuda itu menepis pikirannya, berniat kembali ke dalam rumah tersebut. Dia sedikit menengok ke bangunan atas di mana ruangan Lan An berada. Namun betapa terkejutnya Xin Zhan saat di balik tirai di kamar itu, bayangan sosok muncul di dalamnya.
Tanpa berpikir panjang Xin Zhan langsung beranjak dari tempatnya, terburu-buru hingga melupakan pedangnya sendiri. Kencang berlari, sesampainya di sana Xin Zhan tak mendapati apa-apa selain Lan An yang masih berada di posisi semula, tidak ada yang terjadi atau memang dia salah lihat tadi.
Namun entah mengapa, Xin Zhan juga mengharapkan sesuatu. Bahwa orang misterius yang datang itu adalah orang yang sama dengan yang pernah menyelamatkan hidupnya dari keganasan api di Kota Renwu. Xin Zhan tak bisa mengatakan siapa orangnya, namun, dia dapat mengingat jelas bahwa orang tersebut memiliki warna sebiru Api Keabadian yang membakar kota Renwu.
Terdengar bunyi mencurigakan dari arah ruang tamu, Xin Zhan mengikuti sumber suaranya dengan mengendap-endap. Setahunya tidak ada orang di rumah. Benar saja, tidak ada apa-apa di sana. Xin Zhan memperhatikan sekali lagi dengan teliti, meski pun hari masih siang dia juga agak merinding jika rumah pamannya ini dihuni oleh hantu.
Xin Zhan berniat kembali ke kamar Lan An, namun saat dia membuka pintu, pintu itu sama sekali tidak mau terbuka. Seseorang menguncinya dari dalam.
__ADS_1