Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 260 - Hantu dari YuangXe


__ADS_3

"Jangan bilang, pusaka itu benar-benar masih ada?"


Laki-laki tua itu tak begitu mengikuti apa yang sedang dibicarakan Xin Chen dan hanya fokus dengan apa yang tengah di pikirkannya.


Sebelum bicara Piao Qi menengok kanan kiri bergiliran seakan-akan mewaspadai telinga lain yang hendak mengorek informasi darinya. Tak ada orang yang datang sepagi mereka, dan itu pun juga karena sang pemilik kedai teh memiliki kebiasaan membuka toko lebih cepat dari orang biasa. Sang penjaga toko sedang menarik kerai dan jaraknya cukup jauh dari mereka sehingga tak mungkin dapat mendengarkan apa yang sedang mereka perbincangkan.


"Dengar, anak muda." Dia menarik lengan jubahnya yang terlalu lebar ke atas meja kecil di depan mereka. Menautkan kedua tangan dengan tampang sangat serius.


"Apa kau pernah mendengar sesuatu seperti Hantu dari YuangXe?"


Diamnya Xin Chen telah menjawab bahwa pemuda itu tak mengetahui tentang siapa yang hendak diceritakannya. Piao Qi sedikit merinding di saat itu, bukan lagi oleh hawa sejuk pagi yang membuatnya kedinginan. Namun oleh kisah berdarah yang mendengung di telinganya.


"Orang itu lebih muda dariku, dan lebih tua darimu. Mungkin sekitar empat puluh tahun atau lebih. Dia adalah poros dari kekuatan di YuangXe. Orang-orang di sana ganas selayaknya binatang. Jangan berani kau injakan kaki ke tanah mereka. Setiap inci dari pasir di tempat itu adalah perangkap. Camkan baik-baik itu di kepalamu."


"Aku mengerti."


Lega, Piao Qi bercerita lagi. "Hantu dari YuangXe mungkin hanya satu dari ratusan cerita mengerikan di tanah itu. Aku tak berani berbuat curang. Tapi memang benar adanya, mendapatkan informasi ini setara dengan banyaknya uang yang kau keluarkan. Orang yang mendengarkan cerita tentang Hantu dari YuangXe kebanyakan mati, mereka menutup mulut dan enggan membuka jati diri mereka sendiri."

__ADS_1


Piao Qi menggeleng sembari memainkan cangkir teh di tangannya, tak yakin dengan bagaimana nasib suku terbuang itu nantinya. "Mereka akan diusir tak lama lagi dan sampai saat itu tiba, kemungkinan terbesarnya manusia kasar itu akan berbalik menyerang orang yang memberikannya tempat untuk berlindung. Terdengar menyedihkan jika membahas tentang mereka, dengar-dengar ... Mereka sering merebus rumput liar untuk dimakan. Aku juga menaruh kasihan jika mendengar itu, tapi sikap mereka membuatku muak."


Teh di depan Xin Chen telah mendingin selagi mereka bercerita, dia cukup tertarik dengan kisah-kisah lama yang berada di kekaisaran ini. Banyak hal yang tak diketahuinya, Kekaisaran Shang adalah tanah luas. Terlalu banyak sejarah dan kisah-kisah lama terjadi.


Piao Qi tak pernah menuliskan apa yang diketahuinya di masa lalu, bahkan sekalipun dia tahu banyak tentang asal-usul, sejarah, peperangan dan politik di tanah ini. Laki-laki itu bertekad membawa semuanya ke alam kubur dan hanya memberitahukan apa yang dia ketahui jika diminta. Informasi ini bukan sesuatu yang bisa diterima oleh sembarangan orang, jika Xin Chen tak mengatakan bahwa dia merupakan pemimpin Empat Unit Pengintai saat ini sudah tentu Piao Qi takkan bersedia menemuinya.


"Jadi tentang informasi dari Kekaisaran Qing kau benar-benar tak mengetahui sedikit pun?"


Piao Qi menggeleng tak enak, "Sayangnya begitu. Tapi aku juga tak ingin membuatmu kecewa dan menceritakan soal informasi ini. Mungkin tak lama lagi aku akan tutup usia, konflik di tanah YuangXe harus segera diselesaikan. Aku berharap demikian," tuturnya tersirat nada putus asa. "Jika mereka dibuang, jujur saja sebagai manusia aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka. Pembantaian besar-besaran, atau pemusnahan satu suku. Itu akan menjadi luka menyakitkan. Menurutmu sendiri bagaimana?"


Tentu saja Piao Qi sudah memperkirakan jawaban itu yang akan keluar dari Xin Chen, dia paham dengan situasi lawan bicaranya itu.


"Tapi aku tertarik dengan sosok yang kau sebut Hantu dari YuangXe."


Piao Qi menjentikkan jari telunjuk. Pembahasan ini membuat dia sedikit bersemangat. "Tanpa nama. Orang-orang YuangXe kebanyakan tak memiliki nama dan hanya menggunakan kata 'saudara' untuk memanggil sesamanya."


Xin Chen mengangguk.

__ADS_1


"Hantu dari YuangXe ini pernah melakukan kejahatan besar yang membakar hangus benteng desa dan menjalar hingga membakar separuh rumah di pedesaan. Bukan hanya itu, dia membunuh tanpa alasan yang jelas. Mungkin sekitar satu atau dua bulan teror itu terjadi. Hantu dari YuangXe menghantui pikiran masyarakat. Aku tidak tahu apakah ini ada kaitannya dengan orang itu, namun semenjak teror tersebut terjadi kasus bunuh diri yang sangat tinggi."


Sang Pendongeng Legenda sedikit berbisik, "Ada seseorang yang mengatakan pernah melihat wujudnya. Orang itu menyatu dengan bayangan dan hanya tangannya yang muncul setiap kali pembantaian dimulai. Lalu, sebelum aksi pembunuhan berantainya, rumah-rumah yang akan dihabisi akan ditandai dengan darah."


Xin Chen mulai mendapatkan gambaran tentang sosok tersebut, cerita itu memang sedikit mengerikan jika didengar oleh orang-orang biasa. Piao Qi tak pernah membeberkan cerita itu dan hanya menyimpannya berpuluh-puluh tahun. Karena memang pembantaian Hantu dari YuangXe adalah tragedi paling pedih yang tak sanggup dikoreknya lagi.


"Aku bisa membaca tekadmu, anak muda. Kau pasti hendak bertemu dengannya, wajahmu menyiratkan demikian. Tak bisa pula kukatakan kalau kau bisa menang melawannya. Seperti yang kubilang di awal, orang-orang YuangXe tak membuka diri tentang apa pun akan jati diri mereka. Termasuk kekuatan sang Hantu dari YuangXe. Bisa saja dia lebih kuat darimu dan hal itu hanya akan mengantarkanmu pada kematian tragis selanjutnya."


"Aku datang ke sana bukan untuk bertarung apalagi mendamaikan peperangan yang mungkin akan pecah di tanah mereka," jelas Xin Chen langsung ke intinya. "Ada sesuatu yang harus ku pastikan. Jika benar dugaan ku akan apa yang mereka lindungi selama dua ratus tahun itu, maka benda itu harus segera kuselamatkan sebelum jatuh ke tangan yang kotor."


"Ah, kau juga memperkirakannya, ya?" Piao Qi justru terlihat santai, dia menatap Xin Chen dengan senyuman penuh arti.


Xin Chen tak menyahutinya, tak yakin apakah Piao Qi benar-benar satu pemikiran dengannya saat ini. Namun, sekali lagi dia tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa orang tua itu menimbun begitu banyak informasi penting di kepalanya. Dengan bicara saja, Piao Qi bisa mengubah banyak hal di Kekaisaran ini. Termasuk dalam politik kekaisaran, rahasia demi rahasia di Kekaisaran disimpannya baik-baik tanpa ada satu kata pun terlewatkan.


"Tampaknya kau memang tidak bisa diremehkan. Mengincar pusaka langit yang dikabarkan telah lama musnah itu adalah perbuatan nekad. Kau bukan hanya menghadapi tuan tanah dan Hantu dari YuangXe. Melainkan ratusan suku asing terlatih serta para pendekar misterius yang melakukan pencarian ke sana diam-diam. Musuhmu tak terhitung jumlahnya. Entah kau bisa bertahan di rimba binatangnya itu, mereka takkan peduli bagaimana pun cara untuk membunuhmu."


Wajah Piao Qi mengelam. "Bahkan jika perlu, untuk menumbangkan satu ancaman seperti pemimpin Empat Unit Pengintai sepertimu, musuh yang saling bertentangan pun akan saling bergabung demi bisa mengambil kepalamu. Ini bukan hanya soal perburuan Armor Dewa Perang, melainkan perburuan nama pendekar misterius terkuat yang telah merisaukan hati para pendekar aliran hitam di seluruh penjuru Kekaisaran Shang."

__ADS_1


__ADS_2