
"Ye Long ...?"
Tubuh naga itu tak jauh sekaratnya dari Kaisar Qin, sayapnya patah dan luka sobek menganga di beberapa bagian tubuh tersebut. Ye Long berusaha menyuarakan sesuatu dan itu sama sekali tidak dimengerti Xin Chen yang mulai menatapnya dengan tatapan amarah.
"Apa yang kau lakukan?! Kau mencoba menghentikanku? Agar kehendak ayahmu berjalan lancar, kan?!" Detik itu Xin Chen sadar dirinya terlalu termakan emosi. Tapi hatinya hancur di dalam dan tak dapat dihentikannya.
"Seandainya ayahmu tidak pernah ada. Seandainya kau juga tidak ada ..."
Ye Long menurunkan kedua telinganya takut, api Keabadian di tangan Xin Chen siap membakarnya. Majikannya itu seolah-olah menatapnya seperti Naga Kegelapan. Karena memang bentuk dan warna kulit mereka mirip. Rasa dendam mengisi tatapan itu, Xin Chen benar-benar membakar sayap Ye Long hingga tertoreh bekas luka dalam di sana.
Ye Long menjerit dan melibaskan ekornya, tanpa menyerang tuannya sama sekali. Naga itu seperti meminta pengampunan, dia dapat merasakan apa yang dirasakan majikannya sekarang; kehilangan. Sekuat apa pun Xin Chen berusaha, bahkan hingga nyawanya tiada, semua tetap tak bisa dihentikannya. Xin Fai kini telah tidak ada di sisi mereka, dan yang paling bersedih akan hal itu adalah Ibunya, Ren Yuan.
Xin Chen melepas tangannya, tatapan murka terhadap Naga Kegelapan tertuju pada Ye Long. "Aku tahu kau berusaha melindungi ayahmu, kau juga tak ingin dia mati. Tapi dengan menyelamatkannya, kau membuat seluruh manusia di muka bumi ini merana. Dan aku, kehilangan ayahku. Kekaisaran ini kehilangan pelindungnya. Kau menertawakan kami, bukan? Lakukan sepuasmu, jangan pernah pakai lagi nama yang pernah kuberikan padamu itu. Dan mulai detik ini, jangan pernah menganggapku majikanmu lagi."
Ye Long hendak mengejar majikannya namun api biru membatasi langkahnya. Di bawah patung Pilar Kekaisaran pertama yang telah kehilangan kepalanya, di tempat itu Xin Chen membuang Ye Long. Naga kecil itu membungkuk di sana, menatap tanah-tanah kering yang telah hancur oleh perang. Dan bayang-bayang tubuh Xin Chen telah menghilang di dalam hutan. Dia meninggalkan semua orang tanpa mengatakan apa-apa.
Berita akan penyerahan diri itu menyebar layaknya api yang membakar kertas. Begitu cepat terjadi hingga terdengar oleh kekaisaran lain, Kekaisaran Shang telah kehilangan pelindung dan sebenarnya itu adalah waktu yang tepat untuk menyerang mereka. Hanya saja sebuah perjanjian yang dilakukan Qin Yijun dan Xin Fai, di mana tidak akan terjadi pertumpahan darah di tanah itu selama kurun waktu yang ditetapkan, dengan perjanjian itu secara tidak langsung siapa pun yang akan menyerang Kekaisaran Shang juga harus berhadapan dengan orang-orang suruhan Qin Yijun. Berita tentang Naga Kegelapan tak kalah menakutkannya.
__ADS_1
Dan secara cepat Kekaisaran Qing telah menduduki posisi tertinggi dalam hal militer, hanya menunggu waktu hingga Kaisar dari tanah itu merebut wilayah-wilayah kekaisaran lain.
Pengangkatan Lan An sebagai Pilar Kekaisaran pertama dilakukan tanpa dihadiri Kaisar Qin yang sedang dirawat. Peperangan telah usai, di hari itu korban yang berjatuhan memang tak sedikit namun dengan keputusan Xin Fai hari itu, lebih banyak nyawa yang terselamatkan.
Penyelamatan yang dilakukan untuk menyelamatkan para penduduk yang tertimbun reruntuhan terus dilangsungkan di Kota Renwu. Mayat-mayat yang berhasil dipindahkan segera dikuburkan dengan layak, banyak wanita dan anak-anak yang kehilangan suami serta ayah mereka. Mereka menangis merana. Di samping mereka sendiri, seorang anak kecil yang belum menginjak usia 8 tahun sedang meratap di sebelah mayat ibu dan ayahnya.
Hal itu membuat siapa pun kasihan, namun tak ada waktu untuk mengasihani orang lain sementara diri mereka tak ada bedanya. Wajah Ren Yuan pucat pasi, setelah kepergian suaminya wajah-wajah murung terlihat jelas di wajah orang-orang kekaisaran, bangsawan dan bahkan para penduduknya sendiri.
Li Yong, dan orang-orang dari Kuil Teratai yang sempat Xin Fai panggil beberapa hari lalu terkejut saat melihat Kota Renwu telah rata dengan tanah. Hanya tiang bangunan dan beberapa rumah lainnya yang sudah hancur sebagian bisa bertahan.
Li Yong menyesal dirinya tak dapat datang tepat waktu, semua sudah hancur di tempat ini dan yang tersisa hanyalah tangisan kehilangan. Dilihatnya sebuah kaki terhimpit di bawah reruntuhan menara. Dia menyuruh beberapa orang yang ikut bersamanya untuk memindahkan runtuhan tersebut, di dalam sana terlihat tubuh bersimbah darah. Dia adalah salah satu anggota Aliansi Pedang Suci yang bertarung habis-habisan selama perang.
Kedatangan Li Yong disambut baik oleh yang lainnya, segera dilakukan rapat darurat untuk menentukan posisi para Pilar yang telah kosong. Enam Pilar Kekaisaran termasuk Xin Fai di dalamnya telah tidak ada yang mengisi. Hanya tersisa Lan An, Xiu Juan dan Bai Huang. Beberapa penasehat dan tetua Lembah Kabut Putih menghadiri rapat tertutup itu selama beberapa jam.
Sementara di luar sana, di beberapa titik Api Keabadian tak bisa dipadamkan. Mau dengan cara apa pun di lakukan tetap api itu berkobar. Salju turun sekali pun takkan membekukan panas api murni tersebut. Beberapa masyarakat mengeluhkan hal itu dan mengatakan bahwa Kota Renwu sudah tak layak untuk di huni.
Pemulihan Kota Renwu dilakukan terburu-buru, Pilar Kekaisaran pengganti telah ditunjuk atas keputusan bersama dan saat ini mereka akan memutuskan kota yang akan menggantikan Kota Renwu sebagai ibu kota kekaisaran.
__ADS_1
Malam hari tiba, Ren Yuan menatap nanar langit malam yang tak berbintang. Melihat Xin Zhan baru saja kembali, untuk sementara mereka tinggal di salah satu kediaman bangsawan yang masih bertahan walau hanya sebagian. Putra tertuanya itu tak pernah menangis lagi sejak hari itu, dia menyibukkan diri untuk menyelamatkan sisa-sisa mayat di sepanjang jalan kota Renwu.
Xin Zhan tak peduli lagi, dia mengubur semua kesedihannya dalam-dalam. Kesehatan Ren Yuan akhir-akhir ini memburuk dan dirinya tak ingin membebankan pikiran wanita itu karena dirinya.
"Xin Chen ... Entah ke mana perginya ...."
"Jangan pernah sebut dia lagi, Ibu. Dia takkan pulang lagi."
Xin Zhan mengelap luka yang masih terbuka di lengan ibunya.
Keesokan paginya masyarakat pengumuman besar dikeluarkan, mereka akan meninggalkan Kota Renwu dalam beberapa hari. Tak ada yang bisa diselamatkan dari kota yang sudah hancur itu. Tanahnya gersang seperti dikutuk, Api Keabadian semakin menjalar hingga ke sudut kota dan juga air di tempat itu mengering karena panas yang sangat tak biasa.
Pengumuman itu membuat Ren Yuan ragu, dia yakin Xin Chen masih ada di sekitar sini. Dalam waktu dua puluh empat jam, Kota Renwu sudah dilanda keheningan. Para masyarakat diungsikan ke desa seberang. Istana Kekaisaran sudah dilalap hangus oleh Api Keabadian. Kini hanya tersisa Ren Yuan dan Xin Zhan di tengah kota yang semakin menjadi abu itu.
Api biru mengudara, melebihi tinggi orang dewasa. Angin bertiup kencang dan membuat Api Keabadian semakin melebar. Hanya dalam kurun waktu dua jam, Kota Renwu menyerupai neraka panas yang mengerikan. Ren Yuan menatap kobaran api yang dapat melalap besi hanya dalam beberapa detik itu, dirinya yakin Xin Chen masih ada di sana.
Namun, Xin Zhan terus memanggilnya. Untuk terakhir kalinya Ren Yuan melihat Kota Renwu, di balik kobaran api yang terus membesar Ren Yuan melihat bayangan Ye Long sedang menunduk di sana. Persis seperti saat Xin Chen meninggalkannya di tempat itu, Ye Long tak mau bergerak dari sana sedikit pun.
__ADS_1