Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 353 - Kota Terbuang


__ADS_3

Zenzen tidak mengangguk atau menggeleng, dia terlihat tidak yakin. Sementara Xin Zhan dan Xin Chen masih terus menunggu jawabannya.


Zenzen menekuk wajahnya. Kembali berduka atas kematian ibunya yang bahkan tidak memiliki tempat untuk dimakamkan. Jarinya berhenti menulis, mengingat para kawanan pembunuh berdarah dingin dan para prajurit yang berulang kali mendatangi rumahnya. Dia kembali merasakan ketakutan yang sama saat ayahnya dibunuh.


Beberapa lama kemudian barulah Zenzen menulis, meski tulisannya berantakan keduanya dapat memahami apa yang dia maksud.


"Jika kalian mencari mereka, kalian akan dibunuh. Aku tidak mau kalian juga ikut terlibat. Hanya ayah dan ibuku saja. Aku akan menjalani hidupku dengan tenang."


Dia mengambil lembar berikutnya dan menulis cepat. "Aku boleh pulang?"


Xin Chen menolak mentah-mentah. "Kami sepertinya punya urusan dengan mereka. Kau bilang pemilik benda itu mengerahkan prajurit dan juga pembunuh berantai, bukan? Mereka tentu bukan orang sembarangan. Di mana ayahmu bekerja?"


Zenzen menuliskan sebuah tempat yang tidak mereka ketahui. Setelah itu dia mengatakan bahwa tempat ayahnya bekerja sering berpindah-pindah. Tugas ayahnya hanya sebagai penjaga markas kelompok misterius yang berdiri dengan banyak bendera di depan halamannya. Dulu saat datang pertama kali di tempat itu Zenzen tidak mengerti apa pun. Dia hanya merasa tempat itu tidak bisa didatangi oleh sembarangan orang.


Jika bukan karena ibunya yang sebentar lagi akan melahirkan, ayahnya tak akan berani mencuri di tempat tuannya sendiri. Lilin kecil di sebelah mereka mulai habis, api di ujungnya bergerak-gerak tertiup angin.


Xin Zhan bertanya beberapa hal lagi untuk memastikan dugaannya. Hingga akhirnya pagi tiba, anak itu tidak bisa tidur semalaman dibuatnya. Xin Chen baru mengizinkannya kembali saat hari sudah terang.


"Tetap berjalan di keramaian. Jangan berani-berani berjalan sendirian lagi seperti semalam." Xin Zhan memperingatkan dengan wajahnya yang garang. Anak itu membungkuk beberapa kali, malah seperti sedang meminta ampun padanya.


Mereka berpisah di depan penginapan. Saat itu Xin Chen hanya berharap Zenzen bisa selamat dari para pembunuh. Dia segera berlari, selagi jalanan masih sepi keduanya berlari dari atap ke atap agar bisa melihat semua tempat lebih jelas.


Xin Zhan menarik baju adiknya, membuat keduanya hampir terjatuh.

__ADS_1


"Lihat di sana-"


"Ck, lepas."


Xin Chen tidak sempat melihat ke mana kakaknya menunjuk karena dari bawah terdengar bentakan nyaring. Pemilik kedai terganggu dengan suara berisik di atapnya dan melihat dua orang aneh itu yang menjadi penyebabnya.


"Turun tidak?!" Dia sudah bersiaga melepaskan sandalnya. Dalam hitungan ketiga benda itu pasti akan melayang. Tidak tanggung-tanggung, dia melepas kedua sandalnya. Cukup untuk melempar dua kepala di atas atapnya.


Xin Zhan kabur sambil menyeret adiknya, memasuki jalan-jalan sempit hingga pemilik kedai kehilangan jejak mereka. Dia bertolak pinggang, berpikir ke mana mereka akan pergi selanjutnya.


"Menurutmu kita harus ke man-"


Kata-katanya terhenti ketika melihat wajah adiknya yang benar-benar jengah.


Xin Chen membalikkan badan lalu pergi begitu saja. "Hei, kau mau ke mana? Yang benar ke arah sini, ck! Adik bodoh, dengarkan aku. Kuhitung sampai tiga!"


"Tiga." Xin Chen malah meneruskan hitungannya, jelas saja Xin Zhan kesal sampai ke ubun-ubun. Dia kembali menarik baju adiknya.


"Ke sini, ke sini. Anak ini memang susah sekali diatur."


"Kali ini biar aku yang menentukan jalannya."


"Kau mana tahu-" Xin Zhan meralat, adiknya lebih dulu datang ke tempat ini. Seharusnya Xin Chen lebih tahu tentang Kekaisaran Qing. "Awas kalau tersesat."

__ADS_1


Dan mereka benar-benar tersesat. Xin Zhan memarahinya di sepanjang jalan, sudah berjalan tiga jam mereka sama sekali tidak mengenali tempat yang mereka datangi. Hanya ada sebuah kota tua yang dihiasi oleh hiasan menggantung yang menghubungkan seluruh kota. Rumah-rumah tinggi membayangi jalan lebar di kanan kiri.


Xin Zhan mendengkus kesal. Kali ini dia yang menuntun jalan. Matanya yang tajam menoleh ke kanan kiri, dia berhenti bergerak ketika derap langkah di belakangnya menghilang. Xin Chen berjongkok di tanah, mengamati bulatan kecil yang terjatuh di tanah. Terlihat mengkilap. Hanya kesimpulannya saja, benda itu bukan berasal dari kota tua ini.


Xin Zhan segera merapat dan memperhatikan bulatan kecil itu. Dia menggenggamnya dengan erat. "Kita menemukan mereka."


Dia menoleh pada Xin Chen yang mencoba memahami maksud omongan.


"Aku membelikan ini pada ibu, mungkin sekitar satu tahun yang lalu. Bulatan kecil ini pasti tersebar di sepanjang jalan. Mungkin untuk memberi petunjuk pada kita."


Kali ini Xin Chen yang menarik baju kakaknya dan bersembunyi di lorong-lorong rumah. Mereka merapat ke dinding, terlihat di atas mereka tiga orang berlari kencang dari rumah ke rumah. Xin Chen menahan kakaknya untuk tidak mengejar karena masih ada pergerakan lainnya di kota ini.


Awan mendung datang, hujan turun tiba-tiba menciptakan genangan air di jalanan. Selama beberapa menit mereka tak bergerak hingga hujan turun dengan derasnya.


Bunyi hujan menutupi suara langkah kaki mereka yang kini mulai menyusul satu orang dengan pakaian serba hitam. Dia mengelak beberapa kali, tubuhnya licin seperti belut. Xin Chen kesusahan menyerangnya. Laki-laki itu memanfaatkan rumah-rumah di sekitarnya untuk mengelak dan bersembunyi.


Kejar-kejaran di antara ketiganya menimbulkan suara berisik, laki-laki itu memukul dan menendang beberapa kayu hingga rusak. Di balik kegelapan, sepasang mata memperhatikan dua orang yang tengah berusaha menangkap musuh. Dia menutup mata lalu menghilang. Menyatu dalam gelapnya lorong.


Laki-laki yang mereka kejar terjebak. Dia tertangkap di tangan Xin Zhan. Belum lagi berbicara sepatah kata, laki-laki itu langsung menggigit lidahnya sampai putus. Lalu menggigit pedang di pinggang Xin Zhan dan mengarahkan senjata tajam itu ke perutnya sendiri.


Hal itu terjadi begitu cepat hingga Xin Zhan tak sempat memahami apa yang dilakukannya. Xin Chen terjun bebas dari rumah tinggi. Darah menyatu bersama air hujan yang terus mengalir ke genangan banjir. Xin Chen menutup matanya, mendengar suara langkah kaki yang bercampur dengan berisiknya bunyi hujan.


Meski tidak begitu jelas tetapi Xin Chen semakin yakin saat mendengar suara kecipak air. Tanpa menyia-nyiakan waktu dia segera berlari diikuti Xin Zhan di belakangnya.

__ADS_1


Benar saja, suara ribut yang orang tadi lakukan mengundang banyaknya pendekar kuat yang bersembunyi di dalam rumah. Muncul gerombolan orang yang menenteng berbagai macam senjata dengan gaya menantang. Mereka semua menutup wajah dengan topeng. Dalam dua detik saja keduanya sudah terjebak di dalam pusaran musuh.


***


__ADS_2