Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 203 - Tiga Tombak


__ADS_3

Bayang-bayang malam sudah lama menghilang di Kota Qingyun, berganti dengan panas terik matahari yang membakar jalanan di kota tersebut. Pagi ini Qi Baixuan tampak lebih murung dari biasanya, dia akan sendiri di rumah ini. Lan Zhuxian adalah anak yang patuh dan pekerja keras, Qi Baixuan benar-benar akan merindukannya suatu hari nanti.


Tapi apa boleh dibuat, Qi Baixuan tidak bisa menahan Lan Zhuxian lagi bersamanya. Xin Chen hendak pergi, nyaris lupa dengan Lan Zhuxian yang akan ikut bersamanya.


Qi Baixuan yang mengantarkan kepergian Lan Zhuxian yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri menjadi sedikit dramatis, laki-laki itu ternyata tak lebih dari orang tua yang kesepian. Xin Chen sempat berpikir demikian tapi tak mau diusiknya laki-laki kekar yang sedang menangis itu. Kabar kepergian Lan Zhuxian menjadi kabar yang menyenangkan di telinga walikota Kota Qingyun, beberapa dari mereka sempat bergerombol untuk melihat tiga orang tersebut.


"Ha, pergi juga dia bencana itu. Dasar pembawa sial," celutuk salah satu penduduk. Tidak jelas siapa yang mengatakannya karena ramainya bisikan para penduduk.


Lan Zhuxian berusaha mengacuhkannya namun tetap saja, kawanan anak kecil berlarian di bawah kakinya sambil berseru-seru gembira, "Bencana pergi! Bencana pergi!"


Tawa-tawa kecil terdengar, Lan Zhuxian memasang wajah yang tenang, dia mencoba tak memasukkan kata-kata itu ke hati. Benar adanya penyerangan tujuh tahun yang lalu merupakan bencana yang ditimbulkan oleh kubu Kekaisaran Qing. Namun orang-orang di sini memukul rata bahwa semua orang dari kekaisaran lain adalah pembawa bencana. Sikap rasis ini sudah bukan rahasia lagi, terlebih mereka jadi lebih agresif saat orang itu memiliki keterampilan dlam bela diri.


Xin Chen cukup malu melihat perlakuan miring yang dilakukan penduduk kota ini kepada Lan Zhuxian, bahkan kota yang disebut sebagai kota terdamai pun melakukan perbuatan seperti ini. Dia tak mau memperlama lagi, "Kami harus pergi."


"Tu-tunggu!" teriak Qi Baixuan.


"Kakek Qi, ini sudah yang kelima kalinya kau mengatakan itu." Xin Chen memasang wajah kesal, tarikan napas berat terdengar kembali setelah itu. Qi Baixuan menyengir, "Yang ini benar-benar terakhir."


Laki-laki itu menghadap ke arah Xin Chen lalu membungkuk di depannya. "Apa pun tujuanmu, Tuan Muda Xin kedua, aku akan selalu mendukungmu. Jadi kau tidak perlu khawatir jika tidak ada yang berdiri di sisimu."


Xin Chen menepuk pundaknya, menyuruh Qi baixuan menegakkan punggungnya. "Baiklah, kau orang pertama yang mengakui tujuanku. Terima kasih, Kakek Qi."

__ADS_1


Qi Baixuan tersenyum senang, "Akhirnya aku bisa melihat keramahanmu, Tuan Muda Xin kedua. Hahahha."


"Tuan Muda, mulai hari ini saya bersumpah akan mengabdi pada anda, dengan mempertaruhkan nyawa saya sendiri. Terima kasih telah menerima saya."


Xin Chen melipat kedua tangannya. "Baiklah peta berjalan, Jembatan Shangyu di mana?"


Lan Zhuxian bahkan tak terganggu sama sekali dengan panggilan tersebut. "Arah selatan dari sini, di seberang perbatasan dekat perbukitan Tuan Muda."


Langkah kaki kedua pemuda itu melalui sebuah menara tinggi yang dibangun di penghujung kota Qingyun. Wajah pemimpin kota pertama di kota tersebut di pahat dalam bentuk sebuah patung. Tubuhnya sedikit gempal dengan raut muka penuh ambisi, sayangnya keindahan patung trsebut hilang oleh kotoran burung di atas rambutnya.


"Pemerintahan yang sekarang sudah terlalu busuk." Xin Chen masih menatapi patung tersebut, zaman sebelum semuanya berubah seperti sekarang, Kekaisaran Shang layaknya surga bagi para pendekar aliran putih. Singgungan kecil yang terjadi di desa-desa bahkan ditanggapi serius oleh sepuluh Pilar Kekaisaran. Sayangnya, enam Pilar Kekaisaran telah tiada sebab peperangan di masa lalu. Bersama Pedang Iblis yang turut menghilang. Menyisakan para pilar yang dipilih secara sembrono-dan kadang hanya ditunjuk bukan karena kekuatan dan juga pandangannya yang mencerminkan sosok pahlawan. Melainkan ditunjuk oleh para penasehat baru yang gila kekuasaan; menunjuk Pilar Kekaisaran berdasarkan ikatan darah.


Dan yang terjadi sekarang, hampir tak ada Pilar Kekaisaran yang tidak memiliki latar belakang sebagai Pilar Kekaisaran. Tugas-tugas penting kadang hanya diwakili dengan mengutus prajurit tanpa mengambil tindakan lebih lanjut.


"Saya rasa Kekaisaran ini begitu indah. Andai saya terlahir sebagai orang sini ...."


"Memangnya kau dibuang oleh mereka? Keluargamu? Saudaramu?"


Lan Zhuxian berdeham. " Sebenarnya saya berasal dari keluarga kaya raya. Keluarga kami menciptakan senjata api seperti bom yang dapat menghancurkan satu kota."


Cerita Lan Zhuxian membuat Xin Chen berhenti dengan tampang serius. Lan Zhuxian tak beda seriusnya, wajahnya yang datar dan tenang membuat aura mencekam muncul di sekitarnya.

__ADS_1


"Tuan Muda tidak perlu terlalu serius, saya hanya bercanda." Dia berkata enteng, "Saya hanya orang pesisir yang kehilangan rumah. Hanya itu."


Xin Chen mencebik samar, Lan Zhuxian bercanda sambil memasang tampang serius. Untung juga dirinya tak langsung percaya. "Selera humormu aneh juga, tapi kalau cerita itu sungguhan bagus juga. Kau bisa meciptakan senjata ...." ucapan Xin Chen terputus, melihat Lan Zhuxian malah berhenti di dagangan penjual jimat.


"Oi, oi, peta berjalan." Xin Chen mendekat. Melihat arah pandangan Lan Zhuxian.


"Jimat ini milik Guru Yuhao. Tuan Muda, kau pasti membutuhkan jimat keselamatan ini-"


Lan Zhuxian tertegun saat dia tak bisa menyentuh Xin Chen, jimat di tangannya menggantung dan Xin Chen mengambilnya tanpa terganggu.


Namun tangannya segera membuang jimat tersebut, membuat sang pedagang menatap aneh pada pemuda itu. Dia marah walau pun masih menjaga etikanya. " Aku tahu ini hanya dagangan murah, tapi setidaknya hargai sedikit."


Xin Chen meminta maaf, tak menyangka tindakannya tadi menyinggung sang penjual. Jimat yang diambil Lan Zhuxian tadi adalah jimat pengusir roh. Xin Chen tak tahu siapa Guru Yuhao yang dimaksudnya, tapi yang pasti sosok tersebut pasti adalah orang yang sangat kuat.


"Ada apa Tuan Muda?"


Xin Chen meminta maaf sekali lagi pada penjual itu, menyeret Lan Zhuxian dari sana. Mereka harus cepat-cepat bepergian sebelum matahari terbenam.


Langsung berseberangan dengan kota Qingyun, sebuah perkampungan tanpa nama terletak di pinggir hutan belantara, mereka tiba di sana saat awal malam tiba. Di sana para penduduknya hanya sedikit, mereka hidup dengan mengandalkan uang menebang kayu. Xin Chen yakin tidak yakin apakah mereka bisa bermalam di perkampungan tersebut, terlihat sangat kumuh dan satu rumah yang kecil bisa di tinggali sampai sembilan orang.


Saat mereka hendak ke jalan menuju kampung, tiga orang dengan tombak maju menghadang. Menghunus mata tombak tepat di leher mereka.

__ADS_1


"Kalian siapa?!"


__ADS_2