Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 269 - Kitab Pembasmi Roh


__ADS_3

"Aku adalah Yuhao, Pembasmi Iblis yang ditakdirkan untuk membunuh para bencana manusia sepertimu. Lama mencarimu selama tujuh tahun ini dan akhirnya kau memunculkan diri, anak kedua Pedang Iblis, Xin Chen."


Bibir merah wanita itu menyeringai dalam kemenangan, dia mendengus geli. Melihat incarannya bahkan tak berdaya di depan sana, jari-jemari lentik berwarna hitamnya bergerak ke sana kemari. Memegang rahang pemuda itu selayaknya manusia biasa, mencengkram dan memelototi dengan tatapan murka.


"Kau adalah sampah yang bahkan tak pantas berada di neraka."


Dia masih terlihat menikmati wajah kebingungan itu, tawanya kian keras.


"Oh? Baru kali ini aku menemukan pengguna roh yang bahkan tak mengenal siapa diriku? Kukira kau sudah bersiap-siap untuk kedatangan Pembasmi Roh dari Negeri Perang ini. Kau tidak tahu apa itu mantra pengusir roh? Atau semua jenis mantraku yang sudah dipersiapkan untuk menghancurkan manusia tak berwujud sepertimu."


Suara rendah wanita itu terus mendengung di telinganya, Xin Chen tak bisa melihatnya. Yang dapat dirasakannya hanyalah tangan kiri dingin yang kini mencengkram pipinya.


"Ah ... Sayang sekali, wajah setampan ini ..." Dia memalingkan wajah itu dengan paksa, melihat dengan jeli setiap lekukan di wajah tersebut.


"Harus mati terbakar menjadi abu bersama kertas-kertas kotor. Kertas-kertas yang menjadi bukti perbuatan kotor kalian. Menghabisi manusia-manusia dengan jumlah yang menyaingi penjahat kelas atas ... Nyawa mereka takkan sebanding dengan nyawa sampah sepertimu, asal kau tahu."


Sekarang Yuhao mengeluarkan sebuah tenunan kain yang dilumuri dengan darah, membentuk tiga kalimat berupa kutukan di atasnya.


"Hari Penghakiman Telah Tiba."


"Heh ...."


Tiba-tiba saja terdengar tanggapan dari pemuda itu, membuat wanita bernama Yuhao itu cukup terpana.


"Oh?" Yuhao menaikturunkan sebelah alisnya dengan wajah tak berubah, meskipun ketenangannya serupa aliran air yang damai namun kemurkaan di wajah tuanya tetap terlihat jelas. Wanita itu menelan kemarahan yang sedari tadi mengacaukan pikirannya, dia telah lama mencari Pengendali Roh ini, tujuh tahun. Mengarungi segala daratan di Kekaisaran Shang dan menemui berbagai marabahaya demi pertemuan hari ini.


Tanpa sadar air mata menetes di kedua matanya, dia bahkan hampir melupakan bagaimana suara anaknya saat sedang bermain, senyuman polos yang membuatnya ingin selalu hidup untuk membahagiakan putri tercintanya dan juga wajah manis itu, semua tentang anaknya itu, seolah-olah lenyap oleh dendam pada mereka yang dapat mengendalikan roh.


"Kalian menghancurkan segala-galanya yang kupunya. Kebetulan anakku hanya satu-satunya yang kupunya. Hanya dia ...." Yuhao menekan pipi Xin Chen dalam, menggunakan jari-jarinya yang tajam. Menembus tubuh roh itu dengan menimbulkan asap, dia dapat membakar Xin Chen kapan saja tanpa menyisakan apa pun. Termasuk nyawa.


"Anakku, kalau kau melihatnya, dia anak yang patuh dan manis. Dia ... Tidak ada yang berpikir untuk membunuhnya, tidak ada ..." Yuhao terisak, wanita itu bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya tersenyum dan menangis. Kehilangan anaknya adalah luka yang selamanya tak akan sembuh. Semakin memikirkannya Yuhao semakin gila.


"Kau, gurunya Lan Zhuxian?"

__ADS_1


Yuhao terdiam dengan wajah yang serius, tetapi setelah itu cengkramannya semakin erat.


"Kau mencoba mempengaruhiku?"


"Aku tak peduli dengan masa lalumu."


"Oh, dingin sekali. Kupikir Tuan Muda Xin kedua memiliki watak yang jauh lebih baik dibandingkan orang sepertimu."


"Dia mencarimu ke sini."


"Di mana dia sekarang?" balas Yuhao cepat, dia bahkan tak menyangka mulutnya akan berkata demikian.


"Tak akan ku beri tahu."


"Pengguna roh sialan."


Tangan penuh luka Yuhao mulai berpindah ke kepala Xin Chen, membacakan sesuatu yang tak dimengerti. Xin Chen tahu saat itu nyawanya benar-benar terancam, dia tak memiliki pilihan lain saat itu.


Xin Chen kehilangan keseimbangannya, tangannya menumpu pada bahu Yuhao.


Wanita itu tersenyum, "Sungguh anak muda yang tak berdaya."


Dia merapalkan satu per satu mantra, sembari memperhatikan wajah putus asa Xin Chen dari jarak yang dekat. Detik itu, usai wanita itu merapalkan mantra, Xin Chen melepaskan kepalanya dari tangan Yuhao.


Yuhao terkejut, kontan merasakan sesuatu seolah-olah membakar tubuhnya dari bawah. Layaknya sebuah kertas yang dibakar oleh lilin, wujud rohnya perlahan dilalap oleh api hitam.


Dia menggeram saat melihat mata biru pemuda itu terbuka, dia sudah mendapatkan kembali kesadarannya sebelum Yuhao merapalkan mantra.


Dan tangannya yang tadi bersandar pada bahu Yuhao, serta kemungkinan Xin Chen merapalkan kembali mantra yang dia baca.


Pemuda itu tersenyum tipis, "Kau juga pengguna roh, bukan?"


"Bajing-"

__ADS_1


Yuhao mundur, membatalkan kutukan mantra yang diberikan Xin Chen. Sebagai penciptanya, Yuhao tahu pasti tentang mantra tersebut. Bagaimana meniadakannya dan bagaimana membuatnya.


Kerutan penuh kebencian di wajahnya betul-betul berada di puncak. Yuhao mulai serius, dia tertipu dengan wajah itu.


"Kau memang lawan yang menyebalkan." Yuhao mengatakan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Xin Chen.


"Tapi kau takkan menang selangkah pun dariku. Demi kematian putriku, demi hari ini dan demi sumpah yang telah aku ikrarkan di hari kematiannya ...."


Sekumpulan asap tebal menutupi seisi hutan belantara yang melindungi YuangXe, jumlah roh yang muncul dari permukaan bumi menyentuh angka ribuan. Tak terhitung berapa yang mati di tanah tersebut.


Dua bulan bukanlah waktu yang singkat, Xin Chen yakin selama waktu itu Yuhao telah mengumpulkan banyak prajurit roh. Serta seumur hidupnya kini, dia telah memiliki puluhan ribu roh yang siap bertarung untuknya.


Keadaan yang tak menguntungkan itu membuat Yuhao kembali tertawa, Xin Chen tak memiliki peluang. Terlebih lagi saat wanita itu mengucapkan sesuatu dengan nada sombong.


"Di Kekaisaran Qing ada dua kitab roh yang mampu membinasakan ratusan klan dan juga ratusan ribu prajurit. Kitab Pengendali Roh milikmu, serta ... Kitab Pembasmi Roh milikku. Mau melihat yang mana yang akan menang?"


Tawa serta seringai di wajah wanita itu semakin menjadi-jadi, namun di sisi lain Xin Chen tak bisa membantah bahwa aura yang dimiliki Yuhao tak pernah ditemukannya di belahan dunia mana pun. Jika bisa dikatakan, mungkin Yuhao adalah satu-satunya pengendali roh terkuat yang masih hidup.


Sementara kitab hitam pekat bercampur merah darah di tangannya memiliki pengaruh kuat yang dapat merasuki pikirannya. Senjata terberat yang memang diciptakan untuk membunuh orang sepertinya. Kitab Pembasmi Roh.


"Tapi kuberitahu lagi kepadamu. Di jaman dulu, dua pengendali roh terkuat pernah bertarung menggunakan kedua kitab ini. Mau tahu siapa yang menang?"


Yuhao tersenyum lebar, membuatnya jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.


"Kitab Pembasmi Roh. Dia yang menang. Kami memiliki satu hal yang tidak kalian miliki. Mau tahu apa?"


**


Iklan dulu wkkw


Iklan disponsori oleh teh pucek.


Maap satu-satu updatenya. Seperti biasa, digantikan di hari lain🄰

__ADS_1


__ADS_2