Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 340 - Tekad yang Rapuh


__ADS_3

Seringai lebar di mulut Yung Qi menghilang ketika dia mulai merasakan efek obat yang dikonsumsinya. Dia kembali kehilangan keseimbangan, laki-laki itu menggeram keras dengan sebelah tangan menekan kepala yang terasa berdenyut perih. Dia menggemerutukkan gigi sembari menatap Xin Chen yang kini mulai mengangkat senjatanya.


"Waktu pertunjukanmu telah berakhir."


Yung Qi mundur lima langkah, dia meloncat saat Xin Chen hendak menebas kakinya. Beberapa orang yang sebelumnya menguasai arena tengah seketika buyar melihat pertarungan keduanya kembali memanas. Kali ini penonton tidak lagi mengeluarkan suara karena atmosfer dari arena yang begitu menegangkan memaksa mulut mereka untuk diam.


Yung Qi menahan pedang Xin Chen, dia sampai menahan napas demi menghalau serangan tersebut. Pedang tipis dengan kualitas rendah itu menjadi senjata mematikan di tangan Xin Chen. Dia menggumam marah.


"Kau sengaja membiarkanku memang lalu mengolok-olokku dengan cara seperti ini?" Kaki Yung Qi kembali mundur, pasir di bawahnya masuk ke dalam karena kakinya.


"Asal kau tahu, aku sangat membenci orang-orang sepertimu. Aku percaya kau adalah orang Kekaisaran Shang dan semua itu terbukti, aku melihat gerak-gerikmu selama ini. Kau dan tiga orang itu adalah pengkhianat. Aku tidak punya masalah mau kau adalah penyusup atau bukan. Tapi tetap saja aku membenci siapa pun yang berasal dari Kekaisaran itu!" Yung Qi mengatakannya dengan keras agar semua orang dapat mendengarnya, dia membalikkan serangan yang semakin memojokkannya tetapi hal itu tidak memperbaiki keadaannya sama sekali. Justru kini dengan mudahnya Xin Chen membelah pedang di tangannya.


Yung Qi terdorong jauh sewaktu tendangan keras menghantam bagian dadanya. Dia segera bangun, ujung bibirnya mulai mengeluarkan darah kental.


"Aku tidak peduli walau pun tidak ada yang mempercayai ku-" Yung Qi kembali jatuh ke atas pasir, wajahnya kotor oleh darah mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Hatinya masih teguh untuk memenangkan pertarungan ini. Dia merangkak dengan kedua tangan hendak meraih pedang lain yang digenggam oleh mayat yang tergeletak. Ketika tangan kirinya hendak mencapai gagang pedang tersebut, sebilah pedang memotong pergelangan tangannya hingga mengucurkan darah.


Sontak jeritannya memenuhi seisi arena yang kini mulai lengang, semua orang telah membunuh satu sama lain dan hanya menyisakan mereka yang merupakan anggota dari kelompok merah. Terkecuali Wei Feng yang tengah terbaring sekarat ditemani Youji dan Yu Xiong serta Yung Qi dari kelompok biru. Hanya mereka berdua yang tersisa dari kelompok tersebut. Puluhan pasang mata menatap Yung Qi dari bangku penonton, melihat laki-laki itu tengah berjuang untuk melawan Xin Chen yang tiba-tiba saja membalikkan keadaan. Yung Qi yang sekarang terlihat berbeda jauh dari dirinya yang menggunakan kekuatan dari pil. Dia hanya laki-laki biasa yang bahkan jauh lebih lemah dari peserta lain.

__ADS_1


Erangan kesakitan serta tangisan tertahan Yung Qi mulai terdengar.


"Aku tidak akan memaafkanmu ... Aku tidak akan memaafkanmu ..." Yung Qi merangkak dengan tangan bercucuran darah, begitu juga dengan wajahnya yang dibanjiri oleh aliran darah merah. Dia terbatuk-batuk merasakan panas menjalar di sekujur tubuhnya akibat reaksi dari pil yang dia makan sebelumnya. Pil itu adalah pil terlarang yang hanya diperjualbelikan di pasar gelap Kekaisaran Qing. Hanya ada beberapa pil yang dijual setiap tahunnya dan dapat dihitung dengan jari.


Tidak banyak orang yang mau membeli pil itu meskipun kekuatan yang mereka dapat adalah sepuluh kali lipat dari kekuatan yang sebenarnya. Karena dengan mengonsumsi pil tersebut, terdapat dua efek samping yang mengerikan. Antara cacat atau mati. Namun Yung Qi berani mempertaruhkan itu semua demi hari ini. Dia merasa dirinya memang ditakdirkan untuk bertemu dengan Xin Chen, satu dari ratusan ribu orang yang merupakan musuhnya.


"Tunanganku ... Ling'er ... Kalian membunuhnya ..." Air mata laki-laki itu bercampur dengan darah, wajahnya nyaris tidak bisa dikenali lagi. Yung Qi bangun setelah mendapatkan pedang lainnya. Dia menghunuskan senjata itu di depan musuh yang hanya diam memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tidak ada yang menyerangnya tetapi Yung Qi kembali jatuh ke tanah, perutnya seperti dililit oleh kawat besi yang dibuat meleleh oleh panasnya api. Erangan dari mulutnya kembali menggema layaknya jeritan saat seseorang tengah meregang nyawa. Dia berteriak hingga suaranya nyaring terputus-putus.


"Aku membuatnya menunggu, aku menyuruhnya menungguku untuk pulang. Dia begitu mencintaiku hingga tidak sanggup melepasku saat mengikuti seleksi prajurit tiga tahun lalu ..." Laki-laki itu terus berbicara hingga tidak ada yang mengerti apa yang dikatakannya, "Saat aku pulang ... Dia tidak pernah lagi menyambut kepulanganku ..."


Mata memerah Yung Qi menatap tajam pada Xin Chen. Menghadirkan situasi mencekam di saat Yung Qi tak lagi mengatakan apa-apa.


Sekarang Yung Qi dapat membaca ekspresinya, dia tahu manusia itu masih memiliki perasaan selayaknya dirinya. Tapi hal yang membuatnya marah adalah Xin Chen sama sekali tak berbicara.


"Kenapa kau diam?! Kau memang bagian dari mereka, bukan?! Atau jangan-jangan hari itu kau yang melakukannya?!"


Tenggorokan laki-laki itu tercekat, suaranya meninggi termakan emosi. Dalam beberapa saat Xin Chen terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Sejak awal mereka bertemu pemuda itu memang tak pernah menyerangnya kecuali jika Yung Qi benar-benar mengusik dirinya. Dia tidak terlihat marah sebenci apa pun Yung Qi terhadapnya.

__ADS_1


"Penyesalan itu hanya membuat orang yang kau sayang tidak bisa beristirahat dengan tenang."


"Tahu apa kau!?"


Jenderal-18 berdiri, dia merasa pertarungan kedua orang ini terlalu berlarut-larut hingga para penonton mulai merasa gelisah. Teriakannya yang keras seketika mengambil semua perhatian.


"Seleksi akan berakhir dalam waktu lima menit lagi!"


Seperti tidak peduli dengan hasil akhir seleksi Yung Qi kembali melanjutkan kemarahannya. "Majulah, biar aku bisa membunuhmu. Atau setidaknya membuatmu terluka agar dia bisa tenang ..."


Xin Chen benar-benar maju, tidak ada suara lagi selain erangan dari Yung Qi. Mereka bertarung habis-habisan, terlebih lagi Yung Qi yang terluka parah karena tidak bisa menghindari satu pun serangan Xin Chen. Pandangannya buram, laki-laki itu lebih terlihat seperti prajurit berdarah yang bertarung meskipun sudah mati.


Tubuh Yung Qi kembali tergeletak di tanah, dia bangkit untuk yang kesekian kalinya tanpa sedikitpun rasa untuk menyerah. Kedua lututnya bergetar hebat, darah menetes di tempatnya berpijak.


Yung Qi mulai kehabisan kesadarannya, dia menggumamkan sesuatu yang hanya dapat didengar oleh Xin Chen.


"Arrrghh! Kenapa ... Kenapa aku tidak bisa melihatmu ..."

__ADS_1


Xin Chen menebas bahu kiri Yung Qi yang pergelangan tangannya telah terpotong.


" ... Sebagai musuhku?"


__ADS_2