Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 192 - Menantang Badai II


__ADS_3

Teriakan itu terdengar begitu keras, Xin Zhan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi sehingga dapat terlihat olehnya awan mengapung di atas dan sebuah lubang hitam besar muncul di atas kepala mereka. Cuaca yang sama saat perang terjadi di Kota Renwu. Bahkan badai itu jauh lebih mencengangkan dari angin ****** beliung. Orang-orang pelaut biasanya hanya mencari ikan, tidak sampai ke tengah laut karena cuaca inilaha yang paling mereka takutkan. Banyak yang terpaku oleh gumpalan awan di atas mereka hingga Xin Zhan memberikan interupsi.


"Gulung layar! Cepat!"


Kain layar mulai sobek di beberapa bagian karena kencangnya angin badai, hal itu terus terjadi hingga dua jam lamanya. Mereka kehilangan arah setelah itu, hujan telah lama berhenti dan badai telah berlalu. Tidak ada korban jiwa dan semua orang dapat menarik napas lega. Dalam dua jam itu mereka merasa begitu dekat dengan kematian, namun meskipun keadaannya begitu runyam Xin Zhan dapat bersikap tenang.


"Syukurlah kita semua selamat!"


"Jangan senang dulu, kita tidak tahu apakah saat pulang nanti kapal ini masih bisa berlayar hingga ke Kota Fanlu.


Semua orang terdiam atas ucapan Xin Zhan, benar apa katanya. Tiang layar telah rusak, kain layar pun tak bisa dipakai lagi. Kain cadangan yang mereka bawa sudah dihanyutkan ke sungai. Memikirkan keadaan tersebut membuat Xin Zhan pusing, prajurit-prajurit malah saling menyalahkan tentang siapa yang menghanyutkan barang penting tersebut.


"Diamlah. Tetap perhatikan ke depan, kita tak tahu apa yang sedang menunggu kita di sana."


Xin Zhan menunjuk sebuah dataran yang dikelilingi kabut tebal, kelihatan jauh lebih mengerikan dari sekedar tanah tak berpenghuni. Tidak ada burung atau kehidupan di sana, semua mati dalam kepulan api abadi. Semakin kapal mendekat dengan Kota Renwu, suhu panas naik hingga ke atas permukaan kapal. Banyak yang menyadari hawa panas yang membunuh ini, bahkan hanya dengan menarik napas saja rasanya badan mereka akan terbakar.

__ADS_1


Xin Zhan menyuruh kapal berhenti dan memantau kota yang tak begitu jauh itu lagi dengan seksama, hanya satu yang terlintas di kepalanya.


'Tak mungkin dia bisa hidup di sana.'


Kapal tak memungkinkan lagi untuk berlayar ke sana, Xin Zhan dapat melihat jelas api biru bersemayam di pinggiran laut. Memenjarakan kota itu dalam Api Keabadian, tak ada jalan masuk di sana.


Masih terpana melihat bagaimana perubahan besar yang terjadi di Kota Megah itu, mereka yakin kota itu sudah terkutuk. Dan kasus kematian nelayan baru-baru ini mungkin disebabkan oleh cuaca tak biasa yang mereka lihat sebelumnya.


Seseorang memberikan usulan, "Mungkin sebaiknya kita segera memikirkan cara untuk kembali agar bisa menyampaikan bagaimana keadaan Kota Renwu yang sekara-"


"Apa yang terjadi barusan?"


"Mungkin karena suhu di dalam sana terlalu panas, lihatlah! Awan tadi rupanya bergerak ke Kota ini. Kita harus segera pergi sebelum badai kembali mengamuk!" seru laki-laki yang paling tua di antara mereka, tugas mereka sebenarnya hanyalah untuk melihat kondisi kota tersebut, dan menuliskan apa-apa saja yang sekiranya mencurigakan. Baru kapal hendak kembali bergerak, letusan yang lebih besar menggelegar hingga membuat kapal terombang-ambing oleh getaran hebat tersebut. Sesuatu mengamuk di dalam sana. Detik itu, semuanya kembali memaku. Takut jika berani bergerak maka nyawa mereka akan habis. Angin yang sangat kencang dengan serta merta membawa awan hitam ke tempat mereka. Lagi-lagi hujan turun dengan begitu deras, satu hal yang membuat Xin Zhan panik adalah angin badai itu menyeret mereka menuju Kota Renwu.


Lantas semua orang panik bukan main, mereka kian dekat dengan lautan api tersebut. Nyawa lima puluh orang itu dalam bahaya.

__ADS_1


Xin Zhan berulang kali mengusap wajah kasar, kekacauan tak berujung ini hanya akan membunuh mereka semua. Lantas, ia menyuruh mereka menurunkan jangkar, tapi hal itu tak begitu berpengaruh. Malah, angin kencang itu semakin menyapu mereka ke arah daratan api tersebut.


Hanya tersisa beberapa ratus meter jaraknya dari mereka, hawa panas membakar seolah-olah melelehkan kulit mereka dengan sangat keji. Salah seorang pingsan karena tak dapat menghirup udara lagi, asap tebal membubung tinggi hingga ke langit. Tak ada ruang untuk bernapas lagi.


Derak-derak lantai kapal terdengar membisingkan, kepanikan bercampur menjadi ketakutan pada kematian. Para prajurit itu berulang-ulang kali bertanya kepada Xin Zhan tentang apa yang harus mereka lakukan. Saat mereka mengeluarkan dayung besar untuk mengayuh kapal, benda itu langsung rusak oleh air panas yang tingkat panasnya sangat tidak biasa. Selain itu, lagi-lagi mereka mendapati kebocoran di mana-mana. Jelas sudah, pertanda mereka akan menjemput ajal tak akan lama lagi.


Banyak yang sudah menyerah, mereka duduk bersandar pada tiang-tiang dan juga dinding kapal yang terombang-ambing oleh angin panas. Udara membuat keringat mereka berjatuhan. Tak ada lagi yang memekik, mereka sebentar lagi akan tiba pada kematian. Begitu pun dengan Xin Zhan, segala hal sudah dicobanya, tapi tidak ada yang berhasil. Andai saja tadi perlengkapan kapal tak dibuang dengan sembrono mungkin mereka masih bisa selamat.


Kayu telah menjadi abu, badai dahsyat menari-nari di lautan, dekat sekali dengan kapal. Xin Zhan menatap sayu pada sebuah kalung yang diberikan Ren Yuan padanya. Tersenyum lemah, tak bisa dibayangkannya apa yang akan terjadi jika Ren Yuan mendengar kabar kematiannya. Kesedihan akan bertambah tiga kali lipat. Xin Zhan tak ingin membuat Ren Yuan menangis untuk kesekian kalinya, tapi dia pun tak tahu bagaimana cara menyelamatkan dirinya hari ini.


Awan gelap berada tepat di atas mereka, menjatuhkan petir-petir mengerikan yang membuat beberapa bagian kapal hancur seperti dilempari bom peledak. Hampir setengah kapal tenggelam, seperempat prajurit telah masuk ke dalam air tanpa mengapung lagi. Mereka langsung meninggal saat tenggelam, detik itu juga.


Satu per satu orang-orang di atas kapal menghilang, kapal hampir tenggelam sepenuhnya. Sekarang yang tampak di hadapan Xin Zhan hanyalah sebuah tanah dipenuhi Api Keabadian yang menjalar ibarat tanaman merambat. Dia yakin belum menginjakkan kaki di situ, dirinya akan mati duluan. Xin Zhan menggenggam kalung di tangannya bergetar.


"Xin Chen, andai benar kau masih hidup. Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa ibu sakit. Datanglah untuk jenguk dia, atau jangan pernah memanggilnya ibumu. Aku ... Kalau aku mati hari ini, tolong jaga dia."

__ADS_1


Kaki Xin Zhan telah tenggelam dalam air yang panasnya melebihi air mendidih, melebihi kepanasan lahar gunung, lebih menyakitkan dari sekedar dibakar hidup-hidup. Xin Zhan berusaha untuk tidak berteriak, berharap sewaktu-waktu dia bisa melihat adiknya untuk terakhir kali. Dengan begitu dia akan lega, setidaknya Ren Yuan kelak akan ada yang menjaga, walau tanpa ada dirinya.


__ADS_2