Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 259 - Pendongeng Legenda


__ADS_3

"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


Ye Long selesai dengan pekerjaannya, mendekati sang majikan yang duduk di atas timbunan pohon tumbang. Pemuda itu berpikir dalam hingga tak begitu menyadari bahwa Ye Long sudah berada di sebelahnya.


"Hei, majikan? Apa ada yang mengganggumu?" Seperti biasa Ye Long mendudukkan dirinya dengan keras hingga tanah tempatnya berada seperti bergetar.


"Tidak ada." Akhirnya manusia itu menangkap kehadirannya, melempar pandangan pada malam buta yang dingin. Seberkas cahaya jingga matahari tembus di balik-balik pohon tinggi. Angin pantai sejuk datang ke arah mereka dengan suasana yang menenangkan.


"Kau melupakan kemanusiaanmu?"


Pertanyaan itu keluar begitu saja saat Ye Long memikirkannya, dia pikir Xin Chen tak perlu terlalu memikirkan apa katanya tadi tetapi majikannya itu sudah terdiam. Wajahnya terangkat hingga terlihat sepasang bola mata yang kini terlihat hampa.


"Ada dua jawaban. Mungkin dan hampir."


"Hah, kau selalu memasang wajah seperti itu. Seolah-olah seluruh masalah yang menimpa dunia ini adalah akibat dari kelalaianmu. Kau menekan diri terlalu dalam dan itu yang membuatmu lupa di mana awal kau berpijak." Ye Long mendengkus, lalu dia bergerak dengan menyemburkan sedikit api ke bawah tanah. Mengukir sesuatu dengan hati-hati.


Xin Chen teringat dulu Ye Long juga pernah mengukir sesuatu, tetapi kali ini, naga itu jauh lebih mahir sehingga apa yang diukirnya tergambar jelas.


Sebuah garis saling menyatu, segitiga hingga kotak kecil. Membentuk sebuah susunan bergambar rumah yang sederhana. Ye Long menyengir puas melihat mahakaryanya itu.

__ADS_1


"Kau mulai dari sini. Untuk menyelamatkan rumahmu. Sederhana, tapi semakin jauh kau berjalan hal sesederhana itu menjadi sulit." Ye Long merunut semua yang pernah diketahuinya tentang Xin Chen. Sebagai satu-satunya manusia yang dia kenal, Ye Long tak pernah melepaskan perhatiannya dari majikan. Meski dia harus dibuang berapa kali pun, Ye Long merasa dia takkan pernah sanggup meninggalkan majikannya itu.


Kali ini Ye Long tak menggunakan apinya dan justru mengambil ranting-ranting pohon yang telah patah, berputar dan mengitari sambil menancapkan ke tanah. Terlihat beberapa bentuk manusia. Naga itu berhenti, lalu menyemburkan api besar ke gambar rumah yang tadi dibuatnya.


"Rumah yang kau lindungi hancur oleh sesuatu yang besar dan tak bisa kau hindari. Dan semua orang menderita oleh hal itu. Kau menumpukan beban dan menganggap dirimu payah karena tak bisa melindungi rumah yang berharga bagimu. Sampai di situ, pikiranmu kacau dan kau meninggalkan semua orang. Kau takut, aku sering mendengar tangisanmu di akhir tahun."


Xin Chen tak mengerti apa maksud Ye Long, dia tak pernah menangis seingatnya.


"Seruling itu bukti kesedihanmu. Kau takut orang melihatmu runtuh sedangkan semua harapan ditujukan padamu. Kau takut mengulangnya lagi, saat kau gagal menyelamatkan ayahmu. Mungkin, dibandingkan rubah aku memang belum tahu apa-apa tentangmu. Tapi ..." Ye Long kali ini bersungguh-sungguh.


"Aku selalu memperhatikan langkahmu. Sejauh apa pun kau berlari, aku ingin selalu mengikutimu. Karena aku merasa kita sama. Kita sama-sama merasa kesepian. Kita sama-sama kehilangan rumah. Dan ingin berlari mengejar apa yang seharusnya diperjuangkan."


Sekilas, mata hitam pekat naga itu menyilaukan kilau biru yang indah. Xin Chen tersenyum tanpa sadar, ada sesuatu yang membuat dirinya jauh lebih tenang. Dia tidak tahu itu, tetapi Ye Long ternyata memiliki kata-kata yang jauh lebih baik dari sekedar mengomel dan meminta makan.


"Temani aku sampai akhir dari semua perang ini."


***


Pada dasarnya membayar uang pajak tanah adalah hal yang harus dilakukan oleh golongan klan terendah di pelosok Kekaisaran. Terdapat sekelompok orang tak bertuan yang dikatakan tak pernah mengucapkan sumpah setia pada pemimpin mana pun. Di rantai keturunan mereka, tak pernah dijabarkan soal asal muasal kedatangan mereka dan itu terus menjadi pertanyaan yang menimbulkan adu argumen antar masyarakat.

__ADS_1


YuangXe. Tanah kumuh yang kotor oleh genangan air banjir dan sisa-sisa darah dari binatang. Mereka menyerupai sekelompok manusia dengan baju tebal yang terbuat dari kulit dan bulu binatang. Memiliki pipi tirus dan runcing serta tinggi tubuh di atas rata-rata. Dua ratus tahun lalu, Kaisar memberikan hak tanah untuk menjamin kehidupan mereka. Kaisar yang murah hati itu menawarkan kebaikan hati pada pemimpin mereka dan disetujui dengan seluruh hormat.


Namun kebaikan itu tak serta merta membuat mereka ikut pada pemerintahan Kekaisaran Shang. Generasi turun menurun di tanah tersebut tanpa melupakan leluhur mereka. Orang-orang YuangXe dikenal mandiri dan tertutup pada orang luar.


Akhir-akhir ini terjadi sesuatu yang membuat tanah YuangXe tak bisa disentuh lagi. Hal itu menimbulkan kemarahan. Pada dasarnya mereka tak memiliki hak atas tanah tersebut dan hanya sekedar pinjaman. Namun tindakan mereka seolah-olah meludahi pemberian Kaisar yang memberikan mereka tempat tinggal.


Hingga akhirnya terjadi peperangan saudara yang menumpahkan darah di tanah tersebut.


Sang pencerita memenggal kisah itu demi menyeruput teh hijau. Asap panas mengepul di atas air tersebut, udara pagi masih begitu terasa membawa hawa dingin. Dia mengeratkan pakaian tebalnya agar tubuhnya lebih hangat. Kedai teh kali ini jauh lebih sepi dan seseorang memintanya untuk datang ke sana. Hanya seorang pemuda biasa, dia tak begitu paham mengapa orang itu membutuhkannya.


Piao Qi, laki-laki yang telah hidup tujuh puluh tahun itu tak bisa melihat jelas rupa pemuda di depannya. Piao Qi dikenal dengan sebutan Pendongeng Legenda pada masa jayanya, dia dulunya merupakan pendekar terhebat di desa. Namanya membumbung tinggi setelah menjalankan sebuah misi penting untuk penyelamatan putri kepala desa. Julukannya itu sendiri diberikan karena setiap kali pulang dari tugas, laki-laki itu selalu mengingat setiap detil hal yang dilaluinya.


Entah itu tentang ciri-ciri musuh yang bahkan berjumlah puluhan. Dan kisah-kisah peperangan serta latar belakang yang pernah didengarnya. Laki-laki itu dianugerahi ingatan yang luar biasa tajam. Bahkan di usianya yang sudah terbilang sangat tua ini, dia masih sering dibutuhkan untuk mencari informasi lama yang tak tertuliskan di buku maupun sejarah mana pun.


Usai menikmati seperempat tehnya, Piao Qi berdeham kecil. "Aku tidak bisa menebak sembarangan, tapi apa yang bisa kukatakan sekarang bahwa memang ada sesuatu yang dilindungi orang-orang YuangXe selama dua ratus tahun di tanah itu. Tidak ada yang mengira, mereka memiliki pendekar hebat yang sangat banyak. Bahkan anak-anak muda mereka-" Piao Qi menggeleng, "Bisa saja dua kali lebih tinggi darimu. Mereka kuat dan tak sebanding dengan penduduk asli Kekaisaran Shang. Jika mereka kuat, maka arti kuat itu akan dua kali lipat juga dari kalian."


Logika tersebut memang kenyataan yang tak bisa disangkal. Keturunan tersebut memiliki darah yang berbeda dengan orang asli di tanah mereka sendiri.


"Lalu, menurutmu apa yang sedang mereka sembunyikan?"

__ADS_1


Piao Qi menurunkan wajah sembari mendekat pada Xin Chen.


"Sebuah pusaka yang telah lama hancur."


__ADS_2