Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 90 - Gadis Kedai Arak


__ADS_3

Larinya semakin dipercepat saat melihat sebuah desa di ujung hutan, Xin Chen menebak tujuan musuhnya datang memang ke desa Shengyou sepertinya. Tapi Xin Chen kehilangan jejak dua orang tersebut, lari mereka jauh lebih gesit dari pendekar manapun. Tampaknya memang dilatih untuk menyusup dan memata-matai.


"Mereka menghilang, tapi aku yakin mereka akan bersinggah di desa ini selama beberapa hari..." Kata Xin Chen mengembuskan napas kasar, arah pandangannya berganti ke titik lain di mana terjadi banyaknya perselisihan di tempat ini. Xin Chen mengedipkan mata beberapa kali saat matanya menangkap sosok Pilar Kekaisaran berada di tengah-tengah mereka yaitu Lin Lin.


Pendekar wanita yang umurnya masih tergolong muda itu adalah salah satu murid genius dari Lembah Kabut Putih. Dalam pertarungan dirinya tidak boleh diremehkan lagi, lawan yang ukurannya tiga kali lipat dari tubuhnya saja bisa dia banting seperti kapas.


Lin Lin tampaknya sedang sibuk mengatasi salah satu permasalahan di Desa Shengyou yang membuat kekacauan hingga terjadi pembakaran besar akibat kemarahan seorang pria. Lin Lin melindungi seorang pengemis di belakangnya yang disangka sebagai pelaku pencurian takut sewaktu-waktu pria di depannya membunuh orang tersebut, dia menghunuskan tombak dengan berani.


"Chen, sampai di sini kita berpencar. Aku akan membawa Ye Long untuk bersembunyi di penginapan. Selagi itu sebaiknya kau mencari tahu tentang dua orang yang membawa kepingan Baja Phoenix."


"Aku mengerti."


Langkah kaki terdengar mendekat dari tempat Lin Lin berdiri, gadis muda itu sedikit menolehkan wajahnya agar bisa melihat siapa gerangan yang datang. Namun saat dirinya melihat Xin Chen kedua alisnya segera menyatu, "Tuan Muda Xin kedua?"


Dia menahan Xin Chen agar tak mendekat ke arah mereka. "Tuan Muda Xin, jangan tersinggung dengan sikapku. Kau sarankan anak kecil sepertimu jangan ikut campur permasalahan orang dewasa seperti ini atau kalau tidak, jika kau terkena masalah Ibumu pasti akan memarahiku."


"Memangnya ibuku pernah memarahimu?"


Lin Lin terdiam sejenak, terlihat bingung ingin menjawabnya seperti apa tapi di sisi lain dia tetap menghalau jalan Xin Chen.


"Hei-? Kau mengabaikan ku?" Lelaki berkulit gelap di depannya merasa tersinggung berat diabaikan oleh Lin Lin, "Kalau kau tak mau masalah ini semakin berlarut-larut sebaiknya kau persiapkan sepuluh ribu keping emas untuk membuat ini selesai. Atau aku akan membunuh laki-laki itu."


"Hah...?" Lin Lin membuka mulutnya hampir tertawa. "Sepuluh ribu keping emas atas apa? Aku bahkan sama sekali belum memukulmu. Kupikir kau yang harus menyiapkan uang itu untuk berobat setelah menerima pukulan ku."

__ADS_1


Lelaki itu meludah, "Cih, sombong sekali gayamu!"


"Sebenarnya apa yang sedang kalian permasalahkan sampai bisa seperti ini?"


Pandangan lelaki tersebut teralihkan pada Xin Chen, mengetahui anak itu pasti memiliki uang yang banyak dia segera buka suara. "Kau tahu? Pengemis itu telah mencuri sepuluh ribu keping emas dariku dan tak mau mengaku sama sekali atas perbuatannya!"


Xin Chen mendekati lelaki itu, "Kau memiliki bukti apa?"


"Tentu saja aku punya bukti! Tanyakan saja pada gadis di kedai arak. Dia melihat sendiri aku membawa sekantung emas di tanganku, belum ku tinggal sebentar uang itu hilang begitu saja. Satu-satunya orang yang berada waktu itu di sana hanya dia!"


"Benar kau mencurinya?" Xin Chen bergiliran memandangi gelandangan tua itu, wajahnya yang kumal menutupi sebagian besar bagian wajahnya sehingga sulit dikenali.


"A-aku tidak mencurinya...."


Lin Lin menyanggah, "Tapi kau tidak boleh seenaknya membakar rumah-rumah seperti ini, jika seandainya dia mencurinya lantas ke mana dia menyembunyikan koin emas itu? Kau lihat dia tak memiliki apapun?"


Tak menunggu lama pria itu menjawab masih dengan nada tinggi, "Kau tanya padaku? Tanyakan pada pengemis itu, dia membawanya lari begitu saja dan saat aku menemukannya dia telah menyimpannya di tempat lain. Pengemis-pengemis seperti mereka memang tidak bisa dipercaya! Penipu ulung!"


Sang pengemis menerima tendangan keras di bagian perutnya, dia membungkuk kesakitan. Ingin membela diri tapi posisinya sama sekali tidak diuntungkan.


Semua orang menonton pertikaian ini dan memang merasa yang pengemis lah pelakunya. Dia sama sekali tak memiliki pembelaan untuk membalas tuduhan tersebut.


"Baiklah kalau begini kita serahkan keputusannya pada Tuan Muda Xin saja! Aku tak mau mendengarkan pendapat Nona Lin lagi!" teriak pria itu, dia rasa akan mendapatkan pembelaan dari Xin Chen. Terlepas dari pandangan anak itu yang masih terus mengintrogasi pengemis berusia cukup tua itu.

__ADS_1


Kini Xin Chen bergerak ke arah saksi mata yang dibawa pria itu, dia bekerja di kedai arak. Karena merasa permasalahan kecil ini semakin melebar akhirnya gadis kedai arak dipaksa untuk menjadi saksi oleh pria di sebelahnya.


"Pengemis itu, dia sejak kapan berada di kedai arakmu dan di posisi mana dia berdiri?"


"Eh.... Itu, dia berdiri di depan pintu kedai."


Tiba-tiba terdengar sahutan dari orang-orang lain.


"Sudahlah Tuan Muda Xin, jangan membuang-buang waktumu untuk hal yang tak perlu. Dibanding itu lebih baik kau pulang ke rumahmu saja! Lihatlah luka di tubuhmu itu." Salah seorang pendekar dari sekte menengah memberitahu, melihat banyaknya luka perban di lengannya belum lagi di bagian tubuhnya. Xin Chen pasti butuh istirahat untuk memulihkan tubuhnya yang terluka parah akibat pertarungan melawan Zhang Ziyi.


Anggapan orang-orang terhadap permasalahan ini masih tetap sama, pengemis memiliki kesan kuat yang suka mencuri makanan dan harta. Karena rata-rata mereka berada di golongan paling bawah dan sulit mendapatkan uang.


Banyaknya uang yang didapatkan para petarung hingga ribuan keping emas sering membuat mereka iri dan ingin memilikinya.


Meskipun memang kebanyakan pengemis yang diketahui orang-orang seperti namun Xin Chen merasa ada sedikit kejanggalan.


"Kau bilang dia berdiri di depan pintu. Ku tebak pria ini pasti berada di dalam kedai arak. Dan bisa kau jelaskan bagaimana pengemis ini bisa masuk ke kedai arak itu?"


"Tu-tuan Muda, aku tak tahu begitu banyak. Saat aku melihat lagi pengemis itu sudah tidak ada lagi di tempat kami dan tiba-tiba saja pria ini mengatakan uangnya telah hilang dicuri dan langsung menuduhku..."


Gadis itu ketakutan. Sebenarnya dalam posisi ini dirinya juga terancam disalahkan karena di kedai arak selain dirinya dan pemilik kedai hanya ada pria di sebelahnya dan sang pengemis.


"Tuan Muda Xin, permasalahan ini menjadi semakin melebar. Sekarang gadis kedai arak juga terkena imbasnya. Biar aku yang selesaikan permasalahan ini." Lin Lin maju namun tangannya ditahan dari belakang.

__ADS_1


"Sepuluh ribu keping emasmu akan menjadi sia-sia jika kau serahkan begitu saja," cekal Xin Chen.


__ADS_2