
Satu orang yang berhasil itu selamat dari kobaran Api Keabadian, Xin Chen tak bisa mengejarnya karena musuh yang berlarian pun juga semakin bertambah. Mereka semua mati oleh roh yang mengintai Lembah Para Dewa. Perang dimenangkan oleh mereka namun Xin Chen tak merasa ini seperti kemenangan mereka juga.
"Tak lama lagi mereka akan membawa aliansi yang lebih banyak, tanah ini akan diperebutkan kembali ..." Xin Chen menggerutu, walau hanya dirinya sendiri yang mendengar.
Lan Zhuxian memegang erat pegangan pada pedangnya. "Maafkan saya, Tuan Muda. Saya terlalu naif."
Xin Chen berdiri di atas bebatuan, menancapkan pedangnya ke tanah. Menatap langit malam yang mulai membiru gelap, pagi buta datang dan matahari akan muncul.
"Lan Zhuxian, kemari."
"Baik, Tuan Muda."
Xin Chen menggambarkan sesuatu di atas tanah, gambaran secara garis besarnya Lembah Para Dewa. Terdiri atas dua desa dan satu tanah perkampungan yang telah dipagari oleh benteng tinggi. Hanya berdua yang tersisa usai perang tersebut, dan satu orang yang melarikan diri tentunya.
Mereka berdua takkan bisa mempertahankan tempat ini sendirian, akan datang perang selanjutnya yang melibatkan anggota inti Empat Unit Pengintai. Xin Chen ragu apakah dia bisa mengatasinya nanti. Dan perhitungannya, dia yakin Lan Zhuxian akan ikut terbunuh dalam perang tersebut.
Kematian Mou Zhueyang membekas dalam, Xin Chen tak menyangka prajurit yang sudah bersumpah setia padanya akan mati sehari setelahnya. Kematian yang tak bisa dia terima, Xin Chen tak ingin membuatnya sia-sia. Tempat ini harus segera kembali menjadi kemilikan Kekaisaran Shang.
"Di setiap titik ini kita membutuhkan setidaknya lima puluh pasukan untuk menghadapi lawan. Gerbang depan dan juga belakang, kita membutuhkan lima ratus pasukan jika tak ingin tanah ini jatuh ke tangan mereka."
"Dalam waktu berapa hari, Tuan Muda?"
"Jika markas utama mereka di Kekaisaran Qing, mungkin paling cepat mereka akan kembali dalam tujuh hari."
Lan Zhuxian menggeleng tak percaya, mengumpulkan prajurit sebanyak itu dalam waktu sepekan sangat mustahil. Apalagi Xin Chen enggan membuka diri atas identitasnya. Mengandalkan nama sebagai prajurit yang berhasil selamat dalam peperangan yang dipimpin Mou Zhueyang hanya memberikan harapan kecil bagi mereka untuk didengar Kekaisaran.
__ADS_1
"Saya akan kirimkan surat pada beberapa kenalan yang mungkin bisa membantu."
"Tidak, kita akan memperebutkan nama Empat Unit Pengintai. Bukan tanah ini, lebih tepatnya."
Lan Zhuxian mengalihkan tatapannya, memandang serius Xin Chen. "Apa maksudnya itu Tuan Muda?"
"Pikir saja sendiri. Jika mempertahankan tanah ini juga apa gunanya, mereka bisa datang kapan saja pengawasan di sini melemah. Aku harus memberantasnya sampai ke akar-akar. Kita akan merebut bendera Empat Unit Pengintai, hanya itu satu-satunya cara yang kupunya."
"Saya tidak yakin, Tuan. Kita tidak memiliki banyak pasukan."
Xin Chen tak menjawab lagi setelah itu, hanya melemparkan pandangan pada langit pagi buta yang suram. Cahaya jingga mulai muncul dari timur, pagi akan datang.
Yang lebih mencengangkan dari perang itu adalah tak satu pun mayat tersisa di sana. Hanya ada cipratan darah dan bekas senjata yang dijatuhkan para pendekar Empat Unit Pengintai. Xin Chen berniat mengoleksinya, membangun sebuah tempat yang nantinya akan berpihak pada Kekaisaran Shang nanti. Hanya saja untuk mewujudkannya seperti tidak mungkin.
"Mungkin jika aku pulang dan ..." Xin Chen mengenyahkan pilihan itu. Dia tidak punya muka lagi untuk menemui Xin Zhan.
"Tuan Muda, mungkin saya bisa membawa dua orang yang cukup kuat. Kembar Timur. Mereka dari Kekaisaran Qing yang pindah ke sini. Saya yakin, jika mengatakan maksud kita mereka akan bergabung. Sisanya, kita lihat apakah mereka mempunyai koneksi lain yang bisa diajak bekerjasama."
Xin Chen bangun dari duduknya, "Kita lihat apa yang bisa kita lakukan ..." Lalu Xin Chen menatap Lan Zhuxian. "Kumpulkan sebanyak yang kau bisa. Kita akan kembali bertemu di sini tujuh hari lagi. Dan ingat-"
"Jangan memakai nama Tuan untuk hal apa pun." Lan Zhuxian mengernyit. "Tapi Tuan Muda hendak ke mana?"
"Mencari pasukan-pasukan kuat, tujuh hari adalah waktu yang cepat. Aku takut 500 orang tak terkejar. Tapi ... Tidak hanya tentang jumlah, kita harus mencari kekuatan yang cukup hebat untuk membentengi tempat ini."
"Baik, dimengerti, Tuan Muda."
__ADS_1
"Sebarkanlah berita tentang peperangan ini, atau buat semacam perekrutan. Aku yakin orang yang kau kenal itu bisa membantumu."
"Serahkan pada saya, Tuan Muda."
Xin Chen menuju kandang kuda dan menaiki salah satunya, kuda yang dihiasi oleh berbagai aksesoris. Kemungkinan besar adalah milik orang yang memiliki jabatan di Empat Unit Pengintai. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di seluruh penjuru, Xin Chen mengeluarkan kekuatannya. Energi roh menguasai Lembah Para Dewa, membuat tanah itu dipenuhi kabut hitam tebal.
"Jaga tempat ini selagi aku tidak ada."
Lan Zhuxian berdiri canggung di tempatnya, mulai berpikir untuk pergi ke tempat terakhir kali dirinya bertemu dengan kedua orang berjulukan Kembar Timur itu. Mereka berdua hanya musafir yang sering berpindah-pindah tempat, mencoba mencari mereka pun hanya akan memakan waktu lama. Dan dia pun tak tahu harus mengirimkan surat itu ke mana.
Kabut pekat hitam di sekitarnya membuat Lan Zhuxian takut. Dia mencoba beradaptasi dengan kekuatan ini. Dan mulai ketakutan untuk mengikuti langkah Xin Chen.
"Jalan penuh darah, ya ...."
Gumamnya terhenti saat dari balik kepulan asap muncul bayang-bayang gelap. Lan Zhuxian mundur dan menarik gagang pedang. Takut jika yang berdiri di depannya adalah sisa dari Empat Unit Pengintai atau mereka yang baru saja dipanggil sebagai bala bantuan.
Xin Chen sudah tidak ada, kekhawatiran Lan Zhuxian meningkat saat menyadari tidak hanya satu orang yang mendekatinya.
"Cepat atau lambat kau akan mengambil nyawa orang."
Kata-kata itu tergiang di kepalanya. Lan Zhuxian mencabut pedang, menghunus pada dua orang yang tersembunyi tersebut.
"Siapa kalian?"
"Lawan?" Sahut seseorang dari sana, sedikit tertawa congkak. Lan Zhuxian hanya mendengar sayup-sayup suaranya yang semakin mendekat. Mereka berhenti berjalan. Begitu juga suara langkah kaki mereka.
__ADS_1
"Atau mungkin kawan?" Satu yang lainnya menyahut, kini suara perempuan itu terdengar jelas. Lan Zhuxian terkesiap.