Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 236 - Pencarian


__ADS_3

Hujan turun begitu derasnya, aliran sungai meluap tinggi di desa hingga membuat pohon yang tumbuh di atas pegunungan tumbang. Jalanan terjal dan licin oleh lumut juga turut di aliri oleh air hujan.


Xin Chen menengadah, masih seperempat perjalanan untuk sampai ke puncak. Dia menghilangkan diri, hingga akhirnya muncul di atas pegunungan tinggi. Melihat lautan lepas yang luas, di bawah hanya ada beberapa rumah dibangun. Tempat tinggal Yuzhan sudah jauh dari tempatnya berdiri dan pula, di pegunungan itu banyak pepohonan mati tersambar petir.


Xin Chen menyelidiki keseluruhan tempat tersebut, sialnya dia tak merasakan hawa siluman atau pun petunjuk keberadaan Rubah Petir. Tidak ada bekas jejak apa pun, namun cuaca di atasnya seolah-olah mengatakan bahwa ada sesuatu yang menariknya ke tempat ini.


Xin Chen menengadah, membiarkan air hujan membasahi wajahnya. Berharap Rubah Petir memang ada di sana, tapi berputar-putar sepuluh kali dirinya tak mendapatkan apa-apa selain tempat gersang yang tak berpenghuni.


Kecewa, Xin Chen memilih duduk di tepi tebing. Berpikir mungkin hanya perasaannya saja. Badai petir selalu mengingatkannya pada Rubah. Tiap akhir tahun, di Kota Renwu selalu disambut dengan hujan berminggu-minggu. Xin Chen kembali bergerak, hendak turun dari gunung tersebut.


Langkahnya beralih ke satu titik. Di tempat itu rerumputan tidak tumbuh, mungkin bekas tempat memasak yang kini dipenuhi oleh arang. Seseorang pernah singgah di sini. Xin Chen melanjutkan perjalanan hingga pandangannya jatuh ke bawah, dia menginjak sebuah jubah kusam yang rusak dan hampir menyatu dengan akar rumput. Tampak sudah sangat tua dan nyaris hancur di tanah.


Xin Chen menggenggamnya, sedikit bergetar saat tak merasakan kekuatan apa-apa di sana. Itu adalah jubah yang dulu dibeli oleh Rubah Petir, hari di mana mereka sama-sama melarikan diri dari Kota Renwu dan menyadari satu tujuan yang sama mengapa keduanya dipertemukan.


Rubah Petir yang ingin menyelamatkan manusia, dan dirinya yang ingin melindungi semuanya.


Koyak dan cobekan di baju itu, meski tak terlalu terlihat karena hampir tak berbentuk tetapi Xin Chen yakin Rubah Petir telah melewati pertarungan hebat sebelum sampai di tempat ini.


Dan sekarang dia sama sekali tak menemukan jejak apa pun. Rubah Petir seolah-olah berakhir di sini tanpa adanya tanda-tanda. Xin Chen mengamati sekitar yang basah oleh derasnya air hujan.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" desisnya tenggelam oleh ribut badai yang menerjang hutan-hutan bambu. Xin Chen turun dari gunung, menyimpan jubah tersebut sambil berpikir-pikir. Tidak ada satu pun kesimpulan yang bisa diambilnya. Rubah Petir, badai di desa ini dan jubah yang telah rusak.

__ADS_1


Langkah kakinya membawa Xin Chen ke tepian laut, tidak ada orang di sana selain burung-burung pelikan yang bertengger di tiang kapal. Laut itu masih menghubungkan desa ini dengan Kota Renwu. Sayang, jarak tempuhnya yang sangat jauh membuat orang-orang enggan menyebrang dari tempat ini.


"Apa anda mencari sesuatu di tempat ini?"


Suara seseorang terdengar dari belakang, terdengar agak berat. Xin Chen berbalik, mendapati seorang gadis kecil berumur 14 tahun tengah menatapnya. Kedua rambutnya diikat ke belakang serta mengenakan baju layaknya seorang pemburu siluman.


"Aku mendengar pembicaraanmu dengan ayahku tadi," sambungnya. Berjalan mendekati tepian laut yang bergejolak oleh badai.


"Sudah tidak ada di sini lebih tepatnya," ralat Xin Chen. Membayangkan kapal yang membawa Rubah Petir seperti yang Shui katakan. Entah bagaimana kejadiannya hingga Rubah Petir terdampar di sini, melihat para manusia sampai mengetahui keberadaannya, kemungkinan bertahun-tahun lalu identitas dan persembunyiannya terbongkar. Mencoba mencari tempat baru, sayangnya ada sesuatu yang mencoba menyerangnya. Hanya itu yang dapat Xin Chen simpulkan.


"Dia telah lama mati."


Seakan-akan membeku di tempat, Xin Chen tak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Tak sepenuhnya percaya tetapi jujur saja hal itu membuatnya cemas.


"Sebelumnya maaf mengganggumu." Gadis itu duduk di pinggiran laut, membiarkan pangkuannya dibasahi oleh gelombang kecil yang menyentuh bibir pantai. "Namaku Mo Yin'er. Cucu dari tetua adat. Semua hal yang terjadi di sini ... Menghilangnya para penduduk kami adalah karena ramalan yang benar-benar terjadi di Kekaisaran ini."


Mo Yin'er menarik napas hingga kedua bahunya terangkat. "Matinya kesepuluh Siluman Penguasa Bumi adalah awal dari kehancuran manusia, semua itu bermuara pada Siluman Kegelapan. Hanya ada satu orang yang dapat menghentikannya tapi sayang, orang itu sudah tiada."


Mo Yin'er terlihat getir, "Maka, tanah ini akan menjadi awal mula kehancuran mereka. Beberapa tahun lalu kami kedatangan rubah asing yang begitu indah bulunya. Aku tidak mengerti mengapa kakek langsung mengusirnya hari itu sehingga rubah marah dan menyerang desa kami. Badai ini adalah bentuk kemarahannya. Tidak ada lagi yang berani tinggal di sini setelah kejadian itu. Tapi aku sadar, kakek hanya tidak ingin rubah mati oleh sesuatu yang telah ditetapkan. Dia jauh lebih tahu bahwa tamu kami itu, adalah Rubah Petir yang kehilangan seluruh kekuatannya."


Sampai di situ Mo Yin'er memberhentikan ucapnya. Pandangan bergulir pada Xin Chen yang kini memandangi pasang surut air laut.

__ADS_1


"Berarti dia masih selamat."


"Aku tak berani mengatakan dia masih hidup atau tidak. Dia ... Kalau pun sudah mati, tidak ada ruginya aku memberi tahu hal ini padamu." Mo Yin'er menepuk-nepuk pakaiannya yang ditempeli pasir.


"Tapi aku sangat berharap padamu. Dari pada mencari Rubah Petir itu, lebih baik kau mencari keberadaan Tuan Muda Xin kedua di Kota Renwu. Tidak ada yang berani ke sana, mungkin kau bisa. Tetua kami masih mempercayai bahwa orang itu masih hidup. Ramalan itu adalah ramalan terakhir, aku tidak peduli benar apa tidaknya. Tapi," ucapnya tertahan.


"Bahkan rubah pun tahu tak ada yang bisa menghentikan naga itu selain dia."


Sebelum Mo Yin'er pergi, Xin Chen menahan dengan menghalangi jalannya.


"Katakan padaku di mana perginya Rubah Petir?"


"Tidak ada yang ku ketahui, Tuan. Aku mengatakan ini agar pencarianmu tidak sia-sia. Carilah titik dari sumber ramalan ini, jika dengan begitu hidupmu jauh lebih berguna dari pada mengejar-ngejar seekor rubah yang enggan menampakkan diri."


"Aku tanya Rubah Petir, bukan hal lain."


Mo Yin'er menyesal mengapa dia menceritakannya tadi. Niat hati menyuruh pemuda itu ke Kota Renwu, justru dirinya hanya menambah masalah pada kakeknya.


"Aku tidak akan mengatakannya, kecuali jika kau membawa Tuan Muda Xin kedua kemari. Berani bertaruh?"


Gadis itu melipat kedua tangan di depan dada, seperti menerka-nerka jawaban Xin Chen selanjutnya. Dia takkan bisa, pergi ke Kota Renwu adalah hal paling mengerikan yang takkan mau diterima pendekar mana pun.

__ADS_1


"Dia sudah ada di sini. Tepatnya di hadapanmu saat ini."


__ADS_2