
"Aku tidak melihat apa-apa selain kita di sini," lontarnya menoleh kanan kiri. Lalu matanya melotot lebar saat mengerti maksud Xin Chen tadi.
"Jangan-jangan ..." Dia mulai menduga, tetapi berusaha mematahkan argumennya sendiri. "Tidak, tidak mungkin. Tuan Muda Xin kedua tak mungkin ..."
Namun ramalan itu membuatnya ragu-ragu, mereka didatangi seperti ini adalah satu petunjuk. Cahaya di matanya berbinar terang.
"Tunjukkan buktinya agar aku bisa percaya."
"Beri tahu aku di mana Rubah Petir, aku akan menunjukkannya. Jika tidak mau juga tidak apa," ketus pemuda itu. Mo Yin'er tampak ragu-ragu, tapi dia takut salah langkah. Jika benar yang dikatakan sosok di depannya itu, Mo Yin'er tidak tahu harus dikemanakan mukanya.
"Baiklah, baiklah!" pekiknya, "Ada satu kawasan tersembunyi di seberang desa ini. Letaknya di dalam goa yang tersembunyi oleh air terjun tinggi. Tidak mudah datang ke sana, ada banyak sekali siluman serigala berjaga-"
Jubah Xin Chen berkibar saat dia berlari kencang, Mo Yin'er tertegun dan hendak menyusul. "Hei-! Be-berhenti! Bagaimana dengan kata-katamu tadi?! Kau berbohong?!"
"Pikir saja sendiri. Terima kasih informasinya, Nona Mo."
"Pemuda berengsek--" langkah Mo Yin'er terlalu pendek untuk menyusul langkah kaki Xin Chen yang panjang, dia mengumpat di belakangnya. Tak berani mengadukannya pada Tetua Adat yang merupakan kakeknya. Gadis itu mencak-mencak di tempat, menyesali perbuatan sendiri; memberi tahu hal rahasia itu pada orang asing.
"Cih, orang-orang sepertinya hanya menang di muka saja! Kelakuan seperti setan. Mati aku dimarahi kakek!" Mo Yin'er lemas sendiri di tempat, dia sempat percaya sosok itu adalah Tuan Muda Xin kedua. Entah untuk alasan apa.
"Semoga rubah baik-baik saja ..." Mo Yin'er mengangkat wajahnya, menatapi hujan gerimis yang membuat tubuhnya serasa menggigil kedinginan. Mo Yin'er masih sering mendatangi tempat rubah, sekali dalam sepekan untuk memberikannya makanan. Makanan yang diantarkannya pun selalu habis tak bersisa. Dia tak berani masuk langsung ke dalam hutan yang melindungi goa tersebut dikarenakan siluman serigala menjaganya.
Namun Mo Yin'er yakin bahwa Rubah Petir juga akrab dengan manusia.
__ADS_1
*
Desa itu tak begitu luas, dibatasi oleh hutan lebat yang membatasi kawasan pemukiman. Terdapat sebuah hutan yang suram, bunyi-bunyi binatang menggema dari dalam. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia sama sekali. Xin Chen menembus semak-semak tinggi di depannya, para siluman serigala terkaing-kaing saat merasakan hawa keberadaan yang menusuk.
Kawasan hutan rusak parah sebagian, bekas pertarungan lama yang membuat beberapa batang pepohonan tua terkoyak dalam. Xin Chen mengikuti jalur terjal yang berbahaya, membawanya pada sebuah tempat penuh siluman mengerikan yang kelaparan. Mereka menatap Xin Chen dengan liur yang menetes, menganggap pemuda itu makanan lezat.
Xin Chen menerobos kawanan serigala tersebut, tanpa sedikit pun mengganggu mereka. Menghadapi pemimpin serigala tersebut, tubuhnya lebih besar dari manusia dewasa. Taring serigala tersebut runcing dan terlatih mengoyak daging, tapi meski pun dia yang terkuat di antara yang lain instingnya mengatakan untuk tidak menyerang manusia tersebut.
"Aku tidak merasakan hawa kehadiran Siluman Penguasa Bumi di sini, mungkin kalian tahu?"
Xin Chen merutuk dalam hati, siluman seperti mereka tidak bisa berbicara seperti manusia. Justru saat ini kawanan serigala berniat menyerang, Xin Chen tak menanggapi dan melanjutkan jalannya. Bahkan saat mereka menerjang dan menikam ke arahnya, dia tetap fokus dengan pencarian goa.
"Tidak mungkin di sini, aku tak merasakan kekuatan Rubah Petir sama sekali-" ucapannya terjeda, jika benar memang ini tempat Rubah Petir bersembunyi, mengapa tidak ada kekuatan petir lagi di sekitarnya. Layaknya Hutan Kabut yang dinaungi Rubah Petir dulu, kekuatan murni di sana amat banyak. Dan tempat itu begitu terlindungi hingga ribuan manusia pun mati tanpa sisa saat mencoba memasukinya.
"Sekali lagi menyerang ku pastikan kalian hangus ku bakar."
Xin Chen kembali memusatkan perhatian ke depan di mana terdengar suara air terjun dari kejauhan, tanpa berpikir panjang lagi segera diikutinya sumber suara tersebut.
Benar saja, sebuah aliran air yang jatuh dari ketinggian terlihat di sana. Xin Chen meloncat ke atas bebatuan dan berdiri di bawah aliran air terjun. Saat masuk ke dalam, terlihat sebuah batu besar yang menutupi lubang besar.
"Ini ...."
Api biru menyala di tangannya, membakar batu besar itu dalam sekejap mata hingga hangus tak bersisa. Baru setelahnya terlihat jalan kecil di dalam. Xin Chen mengumpat karena tubuhnya tak lagi muat memasukinya. Dia merubah wujud, menembus ke dalam dan tiba di ujung lubang kecil itu. Saat melihat sekitarnya yang kosong, Xin Chen mulai ragu-ragu. Suara tetesan air di atas bebatuan terdengar menggema.
__ADS_1
Tempat ini terlalu sunyi. Xin Chen memasuki sebuah lorong kecil lain, tak mendapatkan apa-apa di sana dia beralih ke jalan lain. Goa ini selayaknya labirin tanpa ujung.
"Aku jadi teringat saat kita berburu Baja Phoenix," gumam Xin Chen berbisik. Melewati rintangan hari itu bersama Rubah Petir rasanya lebih menyenangkan dari pada sendirian.
"Maafkan aku, Rubah. Hari itu ... Aku tidak menengokmu, bahkan tujuh tahun berlalu aku tetap menjadi pengecut yang ketakutan dengan kekuatan sendiri. Aku terlalu kecil untuk menghadapi takdir yang besar, aku memilih untuk merenungkan itu semua dan meninggalkan segalanya."
Kata-kata Xin Chen terhenti, menimbulkan gema yang berulang-ulang di dalam goa.
"Aku membenci banyak hal. Dan semua sumber kebencianku adalah diriku sendiri. Aku akan hilang arah jika berjalan sendirian. Ayah, ibu, Kakak Zhan, aku tak ingin mengecewakan mereka. Dan semua orang di Kekaisaran ini menumpukan harapan mereka padaku." Detik itu, Xin Chen tak terlalu berharap rubah ada di sana untuk mendengar semua kesedihannya. Dia tak bisa bercerita pada siapa pun. Hal-hal berat bertumpu di pundaknya, semua orang mengharapkan yang terbaik darinya.
"Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri, untuk menyatukan Tiga Kekaisaran walau pun harus menebusnya dengan nyawa. Menghapuskan perang antar manusia atau perang antar siluman, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tapi ... Apakah jalan yang kutempuh selamanya benar?"
Ucapannya tertahan, di sisi lain kedua kakinya terus berjalan memasuki tempat yang lebih gelap. Angin dari kejauhan menerbangkan jubahnya, gelap dari dalam tempat itu ternyata disinari oleh lubang cahaya di atas. Cahaya matahari tembus dari sana, tepat di atas bebatuan besar yang dikelilingi oleh aliran air.
Detik itu jantung Xin Chen seolah-olah melemah saat melihat sosok yang terbaring kaku di atas batu, menghadap ke arahnya. Matanya memanas seketika.
Suara Xin Chen serak, "Kau pernah berjanji untuk selalu memperhatikan langkahku, Guru Rubah."
Air mata menetes di pipi kirinya tanpa sadar. Penyesalan yang tak pernah sembuh dalam hatinya, dan kebencian yang terus tumbuh dalam dirinya.
Dia menundukkan kepala, melihat tulisan dari cakar yang dituliskan sosok tersebut untuk yang terakhir kali. Darah mengering di sana bertahun-tahun, bertuliskan kalimat yang seumur hidup tak ingin Xin Chen baca.
'Sampai di sini aku memperhatikan langkahmu'.
__ADS_1
*