
Gu Long sempat tertarik dengan harta itu, dia masih mencoba untuk menawar karena dalam hal negosiasi menerima langsung tanpa menaikkan tawaran bukanlah dirinya. Untuk permasalahan keuangan, dirinya memang terkenal handal. Maka dari itu meski sekte Bukit Tawon Emas masih termasuk kecil namun uang-uang mereka berlimpah ruah.
"Hanya dengan harta-harta itu? Kupikir harga kepalamu jauh lebih mahal dibanding itu semua, Tuan Muda Xin kedua." Gu Long semakin menguasai keadaan, dia tersenyum leluasa. Yakin bisa memenangkan argumen dengan anak kecil seperti Xin Chen. Lagipula tanpa Topeng Hantu Darah sama saja Xin Chen seperti tikus tak berguna.
Sebagai sosok pendekar senior dia sudah tahu siapa Xin Chen setelah anak itu melepas topengnya, siapa yang tidak mengenal keluarga besar Xin di jaman ini. Bagi Gu Long, dengan bukti dan alasan yang kuat menyingkirkan Xin Chen sama saja seperti melemahkan kekuatan sekte-sekte besar. Karena Xin Chen sendiri merupakan generasi yang akan mewarisi sekte Lembah Kabut Putih.
"Tuan Gu Long sepertinya sangat meremehkan anak kecil sepertiku..." Keadaan mulai terbalik, saat Xin Chen mengeluarkan sejumlah kertas dan catatan lainnya yang didapatkannya di tempat Gu Long bekerja.
"Perintah pembunuhan seratus siluman berumur ribuan tahun, penggelapan anggaran-"
Gu Long mengangkat tangannya, mengeluarkan pedang dari baju lengan yang meluncur cepat ke arah Xin Chen. Sedang Xin Chen menahan laju serangan tersebut menggunakan pedang Baja Phoenix. "Bukannya sudah diberlakukan peraturan baru oleh Kaisar Qin? Membunuh siluman berumur ribuan tahun tanpa alasan adalah sebuah pelanggaran besar, demi menjaga keseimbangan antara manusia dan siluman kau tidak boleh membunuh mereka. Apalagi dengan jumlah sebanyak itu, kau pikir hukuman apa yang akan diterima sekte Bukit Tawon Emas nanti?"
Xin Chen sedikit menambahkan, "Mungkin denda jutaan keping emas paling rendahnya, kuharap Ayah juga tak akan mempertimbangkan keringanan akan perbuatan kalian."
Langkah Gu Long sedikit tertahan, merasa terancam dengan pembicaraan mereka berdua apalagi disaksikan oleh muridnya sendiri, ingin sekali dia menghajar anak kecil itu. "Aku menerima tantanganmu bocah, kau pikir kau bisa apa dengan kekuatan kelas teri seperti itu, Anak Gagal?"
Pedang yang dikendalikan Gu Long bergerak semakin brutal, pria itu memanfaatkan perubahan energi angin untuk mengendalikan arah senjatanya tanpa harus memegang. Sebagai pendekar senior Gu Long sangat dihormati di sektenya. Pengalamannya dalam bertarung pun sudah tidak bisa diremehkan lagi.
Sedangkan Xin Chen masih bertahan, kakinya terseret beberapa meter oleh kekuatan dahsyat yang dikeluarkan Gu Long. "Sepertinya kau tidak pernah kau hadapi pendekar agung sepertiku? Memalukan sekali harus bertarung dengan bocah ingusan sepertimu."
__ADS_1
Xin Chen masih menahan, kata demi kata yang dilontarkan Gu Long memang menyayat hati. Tidak bisa dipungkiri lagi memang seperti itu kenyataannya, tapi itu dulu. Xin Chen menatap Gu Long tajam.
"Pak tua sepertimu memang tahu apa?"
"Aku tahu kalau di keluargamu kau hanya satu-satunya orang tidak berguna, suka mengacau dan hanya menambah beban. Benar, bukan? Jangan hanya karena berhasil mendapatkan penawar racun itu kau sudah besar kepala.... Hahahaha andai aku jadi Ayahmu, mungkin sudah kubuang ke selokan!" Gu Long tertawa tak berhenti-henti. Dia masih berniat melanjutkan.
"Aah sudah berapa tahun yang lalu, ya, saat kudengar nenekmu sekarat karena dirimu. Haha, payah. Semua orang yang menghormati Ayahmu mulai miris, melihat anaknya tak lebih dari manusia sampah. Kau pernah lihat wajahnya itu sudah terlewat bersinar?! Karena malu punya anak sepertimu! Kau akan menjadi anak gagal selamanya!"
Hentakan pedang Gu Long semakin berat, tubuh Xin Chen tak bisa menahannya lebih lama lagi tapi dirinya tetap bergeming. Tak mengeluarkan sepatah kata pun saat Gu Long menghinanya.
"Hei, hei, tahan dulu..." Wei Feng melerai sambil mengangkat tangannya, "Kau mencoba menjatuhkannya dengan kata-kata. Sadar tidak, dia masih anak kecil. Sebagai orang tua kau cukup licik juga, ya?"
Wei Feng sedikit tersentak kala mengenali suara tersebut bukan Gu Long yang menjawab, melainkan Xin Chen sendiri. Dia lekat-lekat menatap Xin Chen, mempertanyakan maksudnya ini.
"Siapa peduli aku anak gagal atau tidak? Kau tahu apa tentangku? Sejak kecil memang Zhan Gege sudah dikelilingi orang-orang yang kagum padanya, kau bahkan lebih senang kalau mendengar aku diinjak-injak oleh orang yang mengagumi kakakku." Xin Chen menurunkan pedang yang sejak tadi melindunginya dari tikaman senjata milik Gu Long.
Lelaki itu sedikit heran, mengapa perubahan energinya terganggu hingga tak bisa mengendalikan pedang tersebut semaunya. "Kau hanya orang luar, kenal denganku saja tidak. Sudah menentukan bagaimana nasibku ke depannya. Lihat dirimu sendiri, memang kau merasa selalu menang? Tidak pernah gagal atau putus asa?"
"Hahahaha!" Tawa Gu Long menggelegar, sorot mata meremehkan sengaja dipasangnya untuk memanasi lawan bicaranya. "Membandingkan diriku dengan bocah seperti-Argghh!!"
__ADS_1
Gu Long spontan menjerit kencang, dia mundur beberapa saat dalam keterkejutan. Setelah sedikit terkendali mata Gu Long langsung ke arah Xin Chen, rantai petir yang menyengatnya tadi memang dari anak itu. Petir berbaur dengan api menjalar di udara yang dia kendalikan dan menyambar Gu Long bagaikan sengatan api.
"Biar ku ajarkan padamu arti gagal yang sebenarnya. Seperti saat kau gagal menjadi seorang pemimpin yang baik, menerima semua pekerjaan kotor demi pundi-pundi uang. Menyedihkan." Dia sedikit menambahkan, "Menjadi seorang pahlawan tidak cukup hanya dengan kekuatan, perbuatan dan pengorbananlah yang mendatangkan kehormatan."
Gu Long sigap melawan balik serangan Xin Chen, mengingat tubuh Xin Chen masih sangat kecil dengan mudah saja dia berlari dan membuat gerakan tipuan. Kecepatan berlarinya pun meskipun tidak sehebat Gu Long masih cukup untuk mengecohnya.
Kesal dipermainkan oleh anak kecil, Gu Long mengeluarkan kekuatannya. Membuat angin berdebu berhembus sangat kencang dan menghalau Xin Chen hingga tak bisa mendekatinya.
Aliran pedang dari Bukit Tawon Emas sendiri lebih condong dengan penguasaan teknik pedang yang lebih leluasa. Mereka memainkan pedang dengan pernapasan angin sehingga setiap tebasan memunculkan angin tajam. Untuk petarung tingkat tinggi seperti Gu Long, mengendalikan pedang dengan menggunakan angin sudah bukan hal aneh lagi. Mereka dapat menyerang sesuka hati tanpa harus berpindah tempat.
Gu Long menghentakkan kakinya, membuat gelombang angin datang dan menerbangkan apapun yang berada di sekitarnya. "Bocah kecil ... Ku bilang saja, aku takkan bermain-main mulai sekarang. Saat mendapatkan kepalamu nanti jangan harap akan ku lepaskan kau." Ancaman tersebut membuat Wei Feng bergidik ngeri, dia ingin sekali menghentikan pertarungan ini.
Menurut Wei Feng, sehebat apapun Xin Chen jika dia dihadapkan pada pendekar agung tentu saja dia akan kalah. Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian, para pendekar agung sendiri bukanlah orang sembarangan. Mereka telah melalui banyak pengalaman dan latihan mati-matian, bertarung melawan kematian dan mendapatkan ketahanan tubuh yang luar biasa.
Untuk setingkat itu, walaupun isi perut mereka disobek sedemikian rupa mereka masih dapat berdiri. Seperti pendekar agung yang melindungi Desa Hantu waktu itu.
Masih dalam pertarungan sengit antara Gu Long dan Xin Chen, detik demi detik berjalan menegangkan. Mereka yang menonton pertarungan tersebut hanya bisa menahan napas saat kaki Xin Chen hampir tertangkap oleh Gu Long, seperti kata pria itu tadi. Jika Xin Chen tertangkap tidak segan-segan isi perutnya akan dikoyak. Pemandangan mengerikan itu pasti akan dilakukan di desa ini, di depan orang banyak. Membuat suasana semakin memanas detik demi detiknya.
***
__ADS_1