Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 45 - Kisah Rubah yang Malang


__ADS_3

Derap langkah kaki Rubah Petir berhenti, menatap Xin Chen yang tak menyadari situasi di sekitarnya. Dia menepuk pundak anak itu.


"Itu yang selama ini kau butuhkan."


Xin Chen kaget beberapa detik, merasakan percikan api serta sengatan listrik terlihat sekilas di depan matanya.


"Apa yang–" kata-katanya berhenti saat menyadari pedang dalam genggaman tangannya berubah total. Xin Chen tersedak napasnya sendiri berusaha melepaskan diri dari senjata yang berubah sangat menakutkan itu. Pedangnya kini terlihat dipenuhi bara api dan juga rantai listrik bercabang-cabang. Sangat sulit dijabarkan dengan akal sehatnya.


Namun saat senjata itu terlepas semuanya kembali ke bentuk semula.


"Kekuatan itu murni dari dirimu, bukan pedangnya. Justru yang harus kau takuti itu adalah tubuhmu sendiri." Rubah Petir memungut pedang tersebut, tampaknya sudah mengalami keretakan besar. Dia menatap Xin Chen tak percaya akan tetapi memilih tak mengeluarkan apa yang sedang dia pikirkan.


Rubah Petir membuang pedang tersebut begitu saja, membuat Xin Chen terkejut bukan main. "Jangan main buang-buang saja! Guru itu 'kan mahal–"


"Percuma saja jika kau pakai barang rusak, lain kali kau harus mengendalikan kekuatanmu itu agar tidak merusak. Sekarang kita harus segera bergerak."


Xin Chen membereskan semua barangnya buru-buru, memakai tas pemberian Lang dan hampir terpeleset oleh sebuah batu besar. "Tunggu, Guru! Apa maksudnya merusak? Dan pedang kesayanganku itu-"


"Kau memiliki banyak uang, bukan?" Rubah Petir menyerobot berbicara, memutuskan perkataan Xin Chen bersama bola mata tajam. "Untuk itu kita harus menemukan senjata yang cocok dengan kekuatanmu itu."


Xin Chen agak menolak, selain dia tidak suka menghabiskan harta yang semakin menggunung di dalam cincin ruangnya dia juga masih memiliki dua pedang pusaka bumi. Xin Chen mengeluarkan keduanya tanpa ragu, menimang-nimang kualitas kedua senjata itu dengan pujian setinggi langit.


"Kalau aku pakai dua begini pasti jadi lebih keren, Guru, lihatlah! Dengan kekuatanku tadi..." Xin Chen mencoba hal yang sama seperti yang dia lakukan tadi. Beberapa lama dia masih kebingungan bagaimana caranya, Xin Chen membenarkan posisi dan memusatkan pikiran. Mengalirkan kekuatan dalam kedua pedang tersebut dalam waktu hampir bersamaan.


"Aku bisa menguasai dunia!"


Percobaan ketiga senjata tersebut saling menimbulkan cahaya terang, api dan listrik kembali menyala membakar dua pedang tersebut dengan kekuatan besar. Xin Chen menelan ludahnya dalam-dalam saat menyadari ada sesuatu yang salah. Semakin lama dia mengalirkan kekuatannya, besi pedang semakin meleleh dan terbakar oleh api menjadi abu. Kualitas dua pedang yang dia dapatkan dari Asosiasi Pagoda Perak memang lebih buruk dari yang dia miliki sebelumnya.


Menyadari apa maksud omongan Rubah Petir sejak tadi akhirnya Xin Chen hanya bisa memamerkan senyuman bodoh, sambil menggaruk-garuk belakang lehernya yang tidak gatal.


"Jadi sampai mana pembicaraan kita tadi?"

__ADS_1


Kali ini Rubah Petir memasang tatapan malas. "Sampai menguasai dunia dengan pedang yang sudah menjadi abu itu?"


Tawa canggung terdengar kecil, tangan Xin Chen mengibas beberapa kali. "Aku tidak ingat pernah mengatakannya, Guru. Jadi begini..."


Rubah Petir menunggunya selesai berbicara, kelihatan Xin Chen sudah kehabisan kata-kata. Masih terkejut dan tak mengerti bagaimana harus merespon situasi seperti ini. Berselang agak lama barulah Rubah Petir menjelaskan, tahu Xin Chen pasti kebingungan sendiri dengan kekuatannya.


Rubah Petir menggunakan tongkatnya dan menggambarkan sesuatu di tanah, membentuk struktur tubuh manusia secara sederhana. Karena sudah hidup jutaan tahun jelas saja Rubah Petir mengetahui banyak hal di dunia ini yang tidak diketahui Xin Chen.


Xin Chen memerhatikan seksama sambil menerka-nerka apa maksud Rubah Petir dengan gambar itu.


Sambil menjelaskan Rubah Petir mengarahkan tongkatnya ke bagian pusar. "Di dunia ini pengendalian bentuk perubahan memang sangat sulit, merubah kekuatanmu itu menjadi api atau air atau petir bukanlah hal mudah."


"Dan kau menyuruhku mempelajarinya dalam kurun waktu tak masuk akal?" Meski sedang bertanya Xin Chen lebih terlihat seperti sedang memprotes.


"Aku hanya menguji tekadmu, seandainya kau memang pengecut seperti yang kau pikirkan, kau takkan bergerak hingga sejauh ini. Kau belajar keluar sendiri dari masalahmu tanpa harus menyalahkan keadaan. Jika bukan karena alasan itu, tanpa latihan seperti tadi juga sudah lama aku tidak mau menjadi gurumu."


Baru sampai sini Xin Chen mengerti untuk apa Rubah Petir melatihnya dengan cara tidak manusiawi. Agar dia benar-benar ditempa tanpa ampun, layaknya pedang. Semakin tajam semakin kuat. Itulah yang selama ini Rubah Petir terapkan padanya.


Xin Chen mengangguk kecil, memahami apa yang dikatakan Rubah Petir ini walaupun sulit.


"Umumnya saat kekuatan itu keluar dan berubah, kau hanya bisa menjadikannya ke satu jenis perubahan. Sangat jarang orang dapat menggunakan dua jenis perubahan sekaligus."


"Seperti yang kulakukan tadi?" Xin Chen menebak.


"Benar. Kekuatan api itu adalah jati dirimu sebenarnya, lalu dengan kekuatan abadi itu aku yakin struktur tubuhmu pun turut berubah. Kau mungkin bisa menguasai semua jenis perubahan dalam satu tubuh."


Rubah Petir mengarahkan tongkatnya pada dada, "Dan kau bisa mengendalikan itu semua dari sini."


"Dari hati?" Xin Chen memegang dadanya sendiri.


"Ya. Keinginan kuat dan tekad penuh akan mempengaruhi kekuatanmu sendiri. Kau memilikinya di alam bawah sadarmu tanpa harus melatihnya berpuluh-puluh tahun seperti banyak manusia lainnya."

__ADS_1


Xin Chen mulai memahami dirinya sendiri, memang sejak kecil dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi Pedang Iblis kedua. Jauh sebelum Xin Zhan menunjukkan kebolehannya dan semua orang memuji bakatnya. Di saat semua orang tetap merendahkannya, sekalipun harus dipukul dan menerima tamparan keras, Xin Chen tak pernah membuang mimpinya itu.


"Tekad yang kuat, ya..." Xin Chen tersenyum kecil.


"Kau sudah melatih mentalmu sejak dulu, hal itulah yang membuat kekuatan dengan mudahnya keluar mengikuti naluri. Sayangnya..."


"Ada sayangnya memang?"


"Untuk beberapa hal kau masih sangat ceroboh, untuk itulah pengalaman bertarung di perlukan. Sebelum aku benar-benar menjadi Siluman Penguasa Bumi, aku hanya seekor rubah malang. Kau tahu, kan bagaimana hukum rimba bekerja?"


"Yang kuat yang layak bertahan?"


Rubah Petir mengangguk, "Dalam satu hari mungkin aku kehilangan setengah darah dari tubuhku."


"Karena kau masih lemah bukan?" Anak itu menyahut sembarangan, walaupun sudah tahu sampai sebesar apa kekuatan Rubah Petir hingga bisa mengendalikan cuaca, dia yakin Rubah Petir pasti pernah merasakan rasanya menjadi lemah dan tak berdaya.


"Ya, aku memang lemah. Tapi setidaknya aku tidak lemah di antara mereka yang lemah pula." Rubah Petir mengalihkan perhatian pada Xin Chen.


"Aku bertarung melawan siapapun yang berada di atasku, terus mengalahkan mereka hingga akhirnya aku berada di titik paling teratas dan tidak ada yang bisa kukalahkan lagi."


"Kereeen..."


Plak!


"Aduh kenapa lagi memukulku?" rutuk anak itu tak terima, kalau Xin Zhan yang memukulnya sudah pasti dia balas pukul tadi. "Seharusnya kau tidak hanya menyimak, tapi memahami apa inti dari kisah ku tadi! Makanya kusebut kau itu bodoh!"


Mulut Xin Chen seketika terbuka, Rubah Petir telah meninggalkannya dengan langkah cepat. Baru saja rubah itu terlihat sangat baik dan tiba-tiba marah lagi. Mungkin tidak ada waktu untuk merasa tenang karena dimarahi oleh si rubah itu.


Xin Chen termenung sebentar, dia meyakinkan hati sebelum berteriak kencang.


"Kalau begitu, boleh kita bertarung Guruuu?!"

__ADS_1


__ADS_2