
Untung saja Xin Chen sigap menerima serangan tersebut dan mundur cepat beberapa meter. Dia melompat dan menjadikan batang pohon batang pohon sebagai pijakan. Tubuh Xin Chen berputar kencang dan dalam detik berikutnya, Pedang Petir telah bersiap menembus kepala Landak Api.
Siluman itu tentu menyadari marabahaya sedang mengintai saat Xin Chen mengarahkan Pedang Petir ke arahnya, dia segera berlindung dengan menggunakan duri-duri di tubuhnya. Hal itu tidak menghentikan Xin Chen sama sekali, dia tetap meneruskan serangan tersebut tanpa peduli duri-duri milik Landak Api akan menusuk anggota tubuhnya jika dia memaksakan.
Landak Api terkena sayatan Pedang Petir sepenuhnya, sama halnya seperti Xin Chen yang tertusuk sebanyak enam duri milik lawannya. Hal itu menyebabkan tangan Xin Chen sulit untuk digerakkan, dan perlahan-lahan tubuhnya mendapatkan dampak yang begitu kuat. Landak Api memberhentikan pertarungan secara tiba-tiba. Di posisi itu, dia dapat melihat Xin Chen jatuh berlutut.
"Aku mengakui kekalahan ku. Sebaiknya jangan kita teruskan pertarungan ini." Landak Api berbicara.
"Hah? Padahal kau nyaris menang, Landak Api." Katak Daun menyahut kebingungan, di antara Xin Chen dan Landak Api memang situasi yang jauh lebih terpuruk adalah Xin Chen. Tubuhnya mendapatkan luka begitu parah akibat pertarungan tersebut dan genangan darah telah mengalir di bawah kakinya.
Tapi satu hal yang membuat Katak Daun tak percaya adalah Xin Chen bahkan masih bisa berdiri dengan luka separah itu.
"Kau melihatnya, bukan?" Landak Api menatap Katak Daun setelah menyadari perubahan ekspresi tersebut.
"Aku takkan mampu melawan petarung gila sepertinya, dia bahkan nekad menyerang walaupun duri-duri ku akan menembus jantungnya. Dan sebaliknya..." Landak Api memeriksa kepalanya hati-hati.
"Aku nyaris mati tadi, Petirnya menembus tulang kepalaku dan membuat permata siluman milikku retak di dalam," jelas Landak Api kemudian. Dia mengatakannya dengan jujur karena tampaknya Katak Daun akan meremehkan kekuatannya jika tak menjelaskan bahwa nyawanya hampir dibuat sekarat.
Namun tiba-tiba saja sesuatu yang buruk terjadi, tanpa disangka sebuah letupan besar membakar seisi hutan dan menyebabkan ranting kayu dilalap oleh api secara cepat. Serangan mendadak ini membuat Landak Api langsung mengambil langkah, "Pemburu datang! Pemburu datang! Bersembunyi!"
__ADS_1
"Sial, kenapa mereka datang di saat-saat seperti ini?"
"Ada apa memangnya?" tanya Xin Chen sambil berusaha berdiri, setelah mendengar ledakan tersebut dia sadar memang pemburu yang dimaksud Landak Api adalah para pendekar yang sedang mengincar permata siluman untuk dijadikan alat memperkuat senjata mereka ataupun untuk dijadikan obat.
"Biasanya aku yang akan melindungi hutan ini jika para pemburu itu datang, sayangnya..." Katak Daun menampakkan sebuah luka sayatan panjang yang melingkari tubuh atasnya. "Jika aku mencoba melawan pun aku hanya akan mati tanpa bisa menghentikan mereka."
Katak Daun menoleh ke arah Rubah Petir, "Bisakah kau menolong kami?"
Rubah itu menggeleng perlahan, dia menjelaskan maksud mengapa dirinya benar-benar tidak bisa membantu dalam situasi ini. "Jumlah mereka yang banyak membuatku khawatir, kalau hanya mengeluarkan kekuatanku sebanyak lima persen mereka semua takkan mati. Lebih dari itu, kemungkinan para manusia di luar sana bisa mengendus keberadaan Siluman Penguasa Bumi di sini dan pasti akan mengincar ku. Kau sudah tahu betul, kan? Mengeluarkan kekuatan seperti ini sangat berbahaya untukku, bisa jadi Siluman Kegelapan menyadarinya dan mengakhiri nyawaku di sini."
Katak Daun tentu tahu permasalahan Siluman Kegelapan karena memang Rubah Petir pernah menceritakannya. Saat mendengar alasan tersebut dia terlihat sangat putus asa.
"Aku khawatir dia yang akan mati."
"Dia takkan mati, percaya padaku."
Setelahnya Rubah Petir tak menjelaskan perkataannya tadi, membuat Katak Daun bingung dan hanya bisa menerka apa maksud dari temannya itu.
"Chen, selesaikan masalah ini dengan tanganmu. Anggap saja sebagai tes sebelum kau bisa mempelajari teknik Hujan Petir." Rubah berbicara agak keras karena memang suaranya tak terlalu terdengar oleh suara gemeretak yang ditimbulkan oleh ranting yang dimakan api.
__ADS_1
Xin Chen menoleh sedikit, Rubah Petir kembali berbicara. "Dan jika kau bisa menyelesaikannya tanpa membiarkan satu pun lolos aku akan mengajarimu teknik Hukuman Langit," katanya. Semangat Xin Chen seolah terbakar ketika mendengar nama teknik tersebut. Hukuman Langit tampaknya bukan jurus sembarangan, di kepala Xin Chen mungkin teknik itu adalah salah satu jurus andalan yang sering dipakai Rubah Petir.
"Baiklah... Duduk manis di sana, akan ku bersihkan tempat ini secepatnya!"
"Hahahaha aku suka semangat jiwa anak muda." Katak Daun tertawa lebar, dia terbatuk kesakitan sewaktu luka sayatan di tubuhnya kembali berdenyut perih. Luka yang didapatkannya itu memang diakibatkan oleh pertarungan melawan pemburu yang mendatangi hutan belantara ini tempo lalu.
Sebenarnya hutan yang mereka tinggali jarang dilewati oleh manusia, namun akhir-akhir ini keberadaan para siluman di sini mulai diketahui dan beberapa kali mengalami penyerangan beruntun. Yang biasanya menyerang mereka adalah para pendekar aliran hitam, mereka datang bergerombol dan juga membawa senjata seperti bom dan juga panah api.
Terakhir kali nyawa Katak Daun dibuat sekarat dan seandainya hari itu Landak Api tidak menolongnya kemungkinan besar dia akan mati.
Di mata Rubah Petir sendiri penyerangan seperti ini sebenarnya sudah sering kali dialaminya, bahkan dia jauh lebih sering merasakannya di banding mereka. Bukan tanpa alasan, sebagai Siluman Penguasa Bumi bukan hal mudah untuk menyembunyikan hawa keberadaan mereka. Jika mereka mengeluarkan kekuatan secara berlebihan maka manusia akan langsung datang bergiliran mengantarkan nyawa padanya. Demi mencoba peruntungan mendapatkan permata siluman kuat mereka kerap kali tak memedulikan keselamatan nyawa lagi.
Jadi bukan hal aneh lagi di Kekaisaran Shang salah satu tempat yang memiliki energi jahat paling besar adalah Hutan Kabut, di tempat itu lebih dari sepuluh ribu nyawa telah mati mengenaskan di tangan Rubah Petir.
Dan tak disangka mulai saat ini pula Rubah Petir harus meninggalkan tempat paling amannya itu, walaupun kekuatannya dikatakan sangat kuat tapi tentu saja memiliki syarat jika ingin menggunakannya. Rubah Petir takkan pernah menggunakan kekuatannya jika memang level kekuatan musuhnya masih berada di bawahnya. Terakhir kali dia menggunakan kekuatan penuh adalah ketika melawan Naga Es dan tak disangka di hari itu dia merasakan kekalahan terpahitnya.
Saat Rubah Petir sedang mengingat kembali masa lalunya, tanpa disadari langit yang semula cerah berubah redup. Bersamaan dengan datangnya puluhan suara derap kaki yang sudah sangat dekat serta dentuman gemuruh yang seolah mengamuk tepat di atas kepala mereka. Raut wajah Rubah Petir yang semula tenang berubah panik.
"Chen, apa yang kau lakukan?!"
__ADS_1