
"Ini, pakailah jubah ini." Gadis itu melepaskan jubah luarnya, masih tersisa pakaian yang cukup tebal di tubuhnya. Jubah tersebut adalah pakaian resmi dari sekte Bunga. Namun karena hal ini lebih mendesak, gadis itu menyerahkannya pada Ye Long. Naga itu juga telah menyelamatkannya tadi.
"Terimakasih." Xin Chen menerimanya dan menutup Ye Long.
Rubah Petir mengatakan dia harus pergi duluan, bahaya jika manusia lain melihatnya. Apalagi jika ada salah satu pendekar senior di sana, bisa jadi orang itu dapat mengenali kekuatan siluman sepertinya.
Huang Kun dan Su Zhen telah datang dengan membawa lentera di tangan mereka, sikap siaga terlihat di wajah lelaki itu. Dia memegang tanggung jawab penuh terhadap keamanan Kuil Teratai.
"Chen, apa yang terjadi di sini? Ke mana-"
Huang Kun berjalan mendekat kemudian berjongkok pada abu yang berada di kaki Xin Chen. Sebentar pria itu seolah berpikir, dia mengangkat wajahnya agar bisa menatap anak dari sahabatnya itu. "Bisa kau jelaskan, tadi aku mendengar ada pertarungan di sini. Siapa lawan yang kau hadapi dan siapa yang membuatnya menjadi abu seperti sekarang?"
Xin Chen membungkam mulutnya, tak mengatakan apa-apa.
Su Zhen menukikkan alis kencang, "Fu Yu! Sudah kukatakan padamu jangan keluar ke mana-mana saat malam tiba! Kau suka sekali merepotkan orang!"
Fu Yu, gadis bermata seindah batu safir itu menundukkan kepalanya, membuat rambut hitam panjangnya turun menutup wajah. "Maafkan aku Guru, aku mencari obat untuk mengobati luka Bai'er." Selama perjalanan ke Kuil Teratai, teman seperguruannya mengalami demam tinggi. Hal itu membuatnya tak tega dan mencari bahan untuk membuat obat. Hanya saja Su Zhen tak mengijinkannya sehingga Fu Yu memaksa pergi sendirian.
Sementara Huang Kun masih senantiasa menatap Xin Chen lekat, sepertinya anak itu hanya ingin memberitahukan kekuatannya pada orang yang benar-benar dipercayanya.
"Bukan aku yang membunuh, tapi silumanku ini. Dia menyelamatkan kami semua."
Dibilang begitu Ye Long bersikap sok keren, naga itu memanjati bebatuan besar di tengah danau sembari mengepakkan sayapnya yang lebar.
"Woahh baru kali ini aku melihat siluman sepertinya!" Kata seorang murid dari Kuil Teratai, dia amat tertarik dengan wujud Ye Long.
__ADS_1
"Aaa itu dia sejenis kadal gurun hasil perkawinan kadal dan capung. Makanya dia memiliki sayap. Ye Long, cepat kita harus pulang sebelum Guru kita marah!!"
Ye Long buru-buru turun dan menghampiri majikannya, mengangkat Xin Chen ke atas punggungnya dan berlari ke tempat penginapan mereka sebelum Rubah Petir marah dan mengomeli mereka.
Huang Kun menarik napas dalam-dalam, mengatakan pada yang lainnya keadaan sudah aman dan mereka bisa melanjutkan beristirahat tanpa harus memikirkan bahaya apapun karena dia akan mengurus sisanya. Tanding antar murid akan dilaksanakan besok, dia menganjurkan istirahat yang cukup agar baik muridnya dan murid sekte lain dapat menunjukkan performa terbaik.
Sebenarnya masih banyak yang mempertanyakan tentang pertarungan tadi, mereka mencoba menanyakan pada Fu Yu namun gadis itu mengatakan sama halnya seperti yang Xin Chen katakan. Ye Long lah yang menghabisi penyusup itu sendirian.
*
Di keesokan paginya, halaman sekte dipenuhi oleh murid-murid sekte Kuil Teratai. Tampaknya Patriark mereka telah kembali. Li Yong, lelaki dengan wibawa besar dan sangat dihormati semua orang itu berjalan dengan dikawal beberapa orang. Huang Kun mendekat kemudian berbisik kepadanya. Mata lelaki itu sedikit terbeliak sebelum berdehem kecil.
"Aku akan mengunjunginya sebentar lagi."
Pintu rumah terbuka lebar, penginapan yang semula berupa rumah biasa ini telah menjadi kapal pecah. Perabotan dan kapas dari kamar berhamburan tak karuan. Ulah Ye Long pastinya. Lelaki itu memijit batang hidungnya pusing. Dia sudah mencoba mencari hingga ke halaman belakang tapi orang yang dicarinya sama sekali tidak ada. Menyerah, akhirnya Li Yong memutuskan kembali.
Ada satu tempat yang sempat terlintas di kepalanya, Li Yong sempat ragu namun memutuskan untuk mendatanginya. Sekedar untuk mengingat masa lalunya dulu.
Siluet dari tubuh seorang muridnya di sepuluh tahun lalu muncul di bawah pepohonan di atas tanah yang cukup tinggi. Li Yong mendekat, semakin jelas itu bukan hanya halusinasi semata. Rasanya dia sangat merindukan muridnya itu.
Namun nyatanya Xin Chen sedang berlatih di sana. Bukan melatih fisik seperti muridnya yang dulu lakukan namun meniup sebuah benda dengan wajahnya yang tenang. Li Yong mengernyit sebelum menyapanya.
"Akhirnya kau datang juga."
"Hm? Senior Li, aku sudah menunggumu dari kemarin." Xin Chen berdiri dan membungkukkan tubuhnya, Li Yong adalah salah satu Guru ayahnya dan dia begitu menghormati lelaki itu. Sama seperti dia menghormati ayah dan ibunya.
__ADS_1
Li Yong duduk bersama Xin Chen di bawah pohon, rasanya sudah lama sekali dia tak menyempatkan untuk sekedar duduk menikmati udara di rumahnya sendiri, Kuil Teratai. Menghadapi banyak permasalahan membuatnya lupa untuk beristirahat.
Tiba-tiba suara tiupan suling yang begitu menenangkan menyapa telinganya, seperti menghapus semua beban di pundaknya. Li Yong tersenyum kecil, "Kau mempelajarinya juga? Kupikir orang sepertimu tak berniat berlatih alat musik seperti ini."
"Ya, Senandung Air dari Kuil Teratai memang diperlukan untuk menenangkan roh-roh halus. Hanya saja aku tak begitu pandai memainkannya. Jadi irama yang dihasilkan juga berbeda."
"Benar sekali."
"Bagaimana jika aku menggunakan serulingku dan membuat iramanya kacau?"
Li Yong yang semula duduk bersandar pada pohon meluruskan punggungnya, "Coba lakukan."
Xin Chen mengangguk kecil, kali ini dia mengikuti irama kematian yang hampir sama dengan Senandung Air. Bukannya menenangkan jiwa, irama itu justru seperti mencoba menghancurkan jiwa seseorang dari dalam. Li Yong mengatakan cukup, tekanan udara di sekitarnya menjadi sedikit. Aura yang cukup menekan ini seharusnya bergantung pada sang penggunanya.
"Kau sudah mempelajari ilmu hitam ini sejak lama? Tak bisa ku pungkiri, irama itu sedikit mengganggu psikis ku. Seharusnya hanya dapat dilakukan oleh orang-orang aliran hitam.."
Xin Chen mengangguk, "Kupelajari ilmu ini karena merasa ganjil. Setahuku hanya di Kuil Teratai yang menggunakan alat musik dalam pengusiran roh. Hanya saja... Irama Kematian ini, sepertinya bukan dari sekte kalian namun iramanya hampir sama. Pertanyaanku, apakah pendiri sekte ini bukan dari Kekaisaran Shang?"
Xin Chen lebih dahulu bertanya padahal di posisi Ini seharusnya Li Yong yang kebingungan. "Itu sejarah yang sangat lama. Bahkan sudah hampir ribuan tahun lalu. Jika kau bertanya seperti itu, mungkin jawabannya hanya ada di satu tempat."
"Beritahu aku di mana." Wajahnya begitu serius, Li Yong sedikit terpana melihat tatapan itu. Selama hidupnya dia tak pernah menemui anak seumur Xin Chen, dia seolah menanggung sebuah tanggungjawab besar di pundaknya. Li Yong menghembuskan napas pelan.
"Mari ikut denganku jika dengan itu aku bisa membantumu."
***
__ADS_1