
Ren Yuan keluar rumah dengan buru-buru, sambil membawa kain berdarah di tangannya hendak mengambil beberapa persediaan obat namun langkahnya berhenti begitu saja. Wanita itu terkesiap untuk beberapa saat dan mematung di tempatnya.
"Xin Chen?"
Ren Yuan tak yakin penglihatannya benar atau tidak tetapi bayangan semu itu menghilang dalam gelapnya malam dan keramaian, wanita itu menggeleng pelan. Sadar apa yang dia lihat hanya bayangan semata, mungkin juga karena terlalu kelelahan.
Di dalam rumah terjadi keributan besar, terlebih saat serang pria berseru keras. Marah dan kecewa akan dirinya sendiri.
"Apanya Pilar Pertama?! Buang semua itu, membuatku muntah saja! Lepaskan, berengsek!" erang laki-laki itu menghempaskamn tangannya, memberontak keras. "Berhenti mengasihaniku, aku tahu kalian selalu mengharapkan lebih! Tapi apa dayaku, aku sudah mencoba berulang kali tapi apa?! Sudah kedua kalinya aku sekarat begini!" Perlahan nada tingginya berubah putus asa, meski tak menangis laki-laki itu jelas sedang menanggung semua rasa sedih dan bersalah. Lan An, dia terluka paling parah di antara lainnya.
Namun dengan semua luka itu dia msih sanggup bergerak, semua rasa sait di tubuhnya tidak ada apa-apanya dengan luka di hatinya. Lan An ingin kembali seperti dulu, di mana dia tidak terlalu diharapkan lalu dibanding-bandngkan dengan Pilar Pertama sebelumnya. Tapi semua itu tak mungkin, semua orang menyalahkannya. Bahkan untuk sesuatu yang di luar kendalinya.
"Aku sudah melakukan segala cara untuk menyelamatkannya dari kekaisaran busuk itu, aku menyuruh pilar lainnya menjaga dan melayani kekaisaran ini saat aku fokus dalam misi penyelamatan!"
Lan An menumpahkan semua kekecewaannya, menjadi seorang Pilar Pertama bukanlah perkara mudah terlebih untuk orang sepertinya. Alasan Lan An tak pernah turun langsung ke masyarakat adalah karena dia dan para prajurit terpercayanya tengah merencanakan misi penyelamatan untuk Xin Fai. Berharap pilar-pilar lain melakukan tugas mereka dengan baik.
Setiap hari mereka melaporkan perkembangan baik atas permasalahan yang mereka tangani, tapi Lan An baru menyadari ada yang salah sewaktu salah satu bawahannya mengungkit tentang Lembah Para Dewa yang bahkan telah dikuasai Empat Unit Pengintai dan beberapa desa di seberangnya turut terkena serangan. Lan An kecewa saat semua masalah itu datang, semua masyarakat menuduh, menyerang dan menghujatnya.
"Aku ingin melepaskan jabatan in-"
__ADS_1
"Hentikan itu, kau tidak boleh mengatakannya." Xin Xia masih menahan tangan Lan An yang penuh luka sayatan. Dia ingin menangis namun semua air matanya seperti kering, terlalu banyak hal yang membuat dia menangis. Xin Fai, Ren Yuan, Lan An dan semua kesedihan lainnya.
"Kau sudah berjanji akan melindungi tanah ini, demi aku dan anak kita."
Lan An ingin menampar mukanya sendiri, di hadapan Xin Xia dia begitu malu memperlihatkan semua kelemahannya itu. Xin Xia dan anak yang sedang dikandungnya adalah alasan penting mengapa dia tetap bertahan di tengah cacian dan makian orang.
"Aku pasti akan melindungi kalian. Sampai aku berhasil menyeretnya kembali ke sini ..." Lan An mengelus pipi istrinya, sebelah matanya ditumpahi oleh air mata. "Tolong untuk tetap bahagia."
"Aku akan selalu bahagia untukmu."
*
Ren Yuan baru masuk ke ruangan dan mendapati Xin Xia menangis, dia baru kembali satu jam setelahnya dan di sana Lan An sudah terbaring tak sadarkan diri. Beberapa tabib dan ahli obat berdatangan, melihat keadaan Lan An yang tengah sekarat.
Wajah Lan An tampa damai, ekpresi wajah yang sudah lama menghilang selama beberapa tahun terakhir. Lan An menanggung semua bebannya sendirian dan Xin Xia yang paling mengerti akan hal itu. Dia sudah melakukan segala cara untuk mencari jejak ke mana Xin Fai disembunyikan, hingga mereka akhirnya mereka mendapatkan kabar tentang sebuah kamp tersembunyi di bagian pelosok Kekaisaran Qing timur.
Lan An menggerakkan sekitar tiga puluh prajurit terpilih, mereka tak sempat menjangkau kamp tersebut karena lebih dulu diserang oleh sekelompok pendekar aliran hitam. Ilmu mereka bukan main berbahayanya. Mereka dibuat babak belur, hanya tersisa dua belas orang saat itu namun empat dari mereka tewas dalam perjalanan kembali.
Xin Xia berhenti menangis, hanya memandang pilu wajah damai Lan An. "Kau sudah banyak berjuang dan berkorban. Kau kuat, jadi pastikan kau tetap ada sampai semuanya terlindungi ...."
__ADS_1
Tidak jelas lagi apa yang dilihatnya, mata Xin Xia kabur oleh air matanya sendiri. Dia masih menunggu sampai mereka selesai menangani luka dan menyembuhkan Lan An.
Ren Yuan berhenti mengobati luka Lan An saat mendengar alunan seruling yang terdengar pilu, sayup-sayup menyapa telinga mereka di malam yang penuh duka. Alunan seruling itu menghilang, entah ke mana saat orang-orang dibuat terdiam mendengar irama berisi penyesalan itu.
*
Hampir memasuki awal fajar dan langit biru kelam mendung menunggu hingga pagi tiba, hujan akan turun. Angin memberitahunya demikian. Xin Chen sudah mendengar semuanya dari para penduduk di sini, walau pun mereka mengatakannya dengan berat hati karena ini semua terkait dengan keselamatan Pilar Pertama saat ini. Tak mudah memberitahu orang asing sepertinya.
Lan An telah turun ke medan perang sendirian, tanpa bantuan Pilar Kekaisaran, memang mereka sudah menandatangani perjanjian damai namun itu takkan mempengaruhi tindakan untuk merebut kembali apa yang hilang dari mereka.
Rasanya semua yang didengarnya begitu berkebalikan, di masyarakat ada begitu banyak masyarakat yang tidak begitu menyukai Lan An sementara di sini, Lan An mati-matian bertarung demi memprjuangkan nasib Kekaisaran Shang ke depannya.
Yang diketahuinya sekarang adalah Lan An tengah diobati, Xin Chen duduk di atap rumah di mana tidak ada satu pun orang yang melihatnya. Di depan sana terlihat laut yang begitu luas membentang membatasi kota pelabuhan ini. Terdapat istana kaisar yang tak begitu jauh dari sana dan beberapa bangunan mewah, mungkin tempat tinggal Pilar Kekaisaran lainnya. Mereka hidup serba dalam kemewahan, begitu tampak megah bangunan itu. lebih jaya dari sebelumnya.
Satu Pilar Kekaisaran lainnya yang tersisa usai perang tujuh tahun lalu sudah mengundurkan diri dari jabatannya dan enggan bergabung setelah melihat siapa-siapa saja yang mengantikan posisi tersebut. Bukannya keinginannya tapi setelah melihat sendiri perubahan mencolok saat bangku-bangku pemerintahan berganti, dia merasa muak dan lebih memilih menjadi penjaga kedai daripada bergabung dengan mereka.
Secara tidak langsung, kini hanya tersisa Lan An seorang dari Pilar Kekaisaran lama yang bertahan, enam orang telah tiada, satu mengundurkan diri dan yang satunya lagi, Xin Fai, menyerahkan diri dalam peperangan.
Xin Chen meniup serulingnya, kesedihan di kota ini terdengar ramai di telinganya. Suara tersebut didengar, membuat tangisan berhenti dan orang-orang terpaku di tempatnya. Hingga Xin Chen berhenti meniupnya saat melihat pemuda yang seumuran dengannya tengah berdiri di ujung atap. Memandang dengan amarah kepadanya.
__ADS_1
"Aku tahu kau siapa, berhenti melarikan diri seperti pecundang dan tampakkan dirimu sekarang juga!"
Xin Zhan mengeluarkan pedangnya tanpa ragu-ragu.