Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 112 - Persiapan Latihan


__ADS_3

"Satu hal lagi?"


"Begini, sebagai teman lama Rubah Pertapa aku sudah mengenal betul bagaimana sifatnya. Bahkan untuk berteman dengannya saja aku membutuhkan waktu yang sangat lama hingga dia mau mempercayaiku. Melihatmu mudah akrab dengannya... Hahahaha lupakan, intinya aku hanya ingin mengatakan kalau kau harus merahasiakan pembicaraan kita tadi. Rubah akan membunuhku jika dia tahu aku memberitahukan rahasia tadi padamu."


Penjelasan Katak Daun membuat Xin Chen tertawa canggung, kelihatan dari wajahnya saja katak itu takut dibunuh secara mengenaskan Rubah Petir yang memang kalau sudah marah sangat mengerikan. Wajah seriusnya dan ketika Rubah Petir komat-kamit tidak jelaslah yang membuat Xin Chen takut.


Xin Chen mengangguk pelan, dia berusaha bangun dan dibantu oleh Katak Daun untuk berdiri. Dengan dipapah seperti itu, mereka berdua berjalan perlahan melewati jalan setapak yang ditumbuhi sedikit tumbuhan liar. Dalam goa tersebut Xin Chen sempat teringat jika di sekitar tempat ini terdapat sebuah gunung yang seharusnya dekat dengan tempat yang akan mereka datangi.


Benar saja, dari jalan goa tersebut terdapat jalan untuk naik ke atas dan merasakan kekuatan alam di tempat ini Xin Chen bisa menebak mereka sedang memasuki gunung tinggi yang dilihatnya sebelumnya. Umumnya kekuatan alam dapat dirasakan lebih kuat saat memasuki area-area tertentu dan tersembunyi. Xin Chen sudah terlatih untuk mengenali berbagai jenis kekuatan seperti ini, namun baru kali ini dia merasakan kekuatan alam yang sangat kuat.


Saat mereka memasuki jalan lorong yang dihinggapi oleh kelelawar bergaris kemerahan, binatang-binatang itu terbang tak karuan dan terbang liar mencari jalan keluar. Xin Chen melindungi kepalanya dengan menyilangkan kedua tangan.


"Kita sudah sampai."


Katak Daun melepaskan Xin Chen dan membiarkannya berdiri sendiri tanpa bantuan, saat Xin Chen membuka matanya dan melihat apa yang berada di depan matanya dia menjadi sangat terpana.


Sejauh mata memandang Xin Chen dapat melihat ribuan kelelawar berterbangan di dalam gunung ini. Mereka berada di ketinggian dan dapat merasakan angin dari bawah sana naik ke atas, Xin Chen mencoba untuk mengintip ke bawah dan terdapat aliran sungai tak biasa mengalir di bawahnya. Aliran sungai itu menimbulkan sengatan listrik kecil dan ketika Xin Chen mencoba untuk melihat lebih jelas, sungai itu adalah sarang Belut Listrik.

__ADS_1


"Wah... Belut Listrik sebanyak itu kalau dijual..."


"Pikiranmu hanya sebatas uang saja, Chen."


Xin Chen mengangkat kepalanya, dia baru menyadari di tengah-tengah bagian dalam gunung ini terdapat satu batu yang menjulang ke atas. Persis berada di tengah dan agak kecil. Di tempat tersebut Rubah Petir bermeditasi, di sekitarnya kelelawar-kelelawar berterbangan. Kebisingan dan bunyi deru angin terasa sangat berat di sini.


"Kau sudah siap untuk latihan mu?"


"Aku siap, Guru." Xin Chen menyahutinya dari kejauhan, di sisi lain Katak Daun mengatakan dia harus kembali setelah mengantarkan Xin Chen ke sini karena dia harus memindahkan jasad para manusia sekaligus menjaga hutan untuk memastikan tidak ada lagi manusia yang mencoba masuk ke tempat rahasia ini. Sudah bukan hal aneh lagi tempat-tempat seperti ini tak pernah bisa dijangkau oleh para manusia, siluman-siluman berkekuatan tinggi selalu membentenginya dan memastikan rumah aman dari kedatangan orang asing.


Karena kekuatan alam sendiri memiliki efek yang sangat baik bagi tubuh mereka, terutama untuk memperpanjang umur mereka hingga ribuan bahkan ratusan tahun. Rubah Pertapa sering melakukan meditasi di tempat ini dan dulu sekali dia menggunakannya untuk mencari mangsa bertarung. Saat dirinya masih setara dengan siluman berusia ratusan ribu tahun, Rubah Petir menjadikan tempat ini sebagai rumahnya sementara. Menjaga daerah teritorialnya dan membunuh siapapun yang berani datang.


Hingga saat Rubah Petir merasa tempat ini tak aman lagi dan mencari rumahnya yang baru, Katak Daun memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai rumah para siluman.


Xin Chen memerhatikan Katak Daun yang telah meninggalkan lorong goa dan kembali menatap Rubah Petir.


Angin kencang yang seharusnya naik ke atas mulai bergerak beraturan mengitari Rubah Petir. Xin Chen mengernyitkan dahinya heran sewaktu kelelawar-kelelawar di sekitar Rubah menjerit. Tak disangka-sangka kelelawar yang terlihat seperti binatang biasa itu dapat menyemburkan api besar. Mereka menyerang karena angin menerbangkan tubuh mereka.

__ADS_1


"Api dan Petir. Dua elemen itu akan dengan mudah kau murnikan di sini, Chen." Rubah Petir akhirnya membuka mata, Xin Chen yang baru saja mendengar penuturan tersebut segera memalingkan wajahnya ke sekitar. Para kelelawar api yang barusan disibukkan dengan angin kencang kini beralih menatapnya dari kejauhan. Tampaknya mereka baru menyadari kehadiran Xin Chen di kandang para siluman dan terancam.


"Aku takkan menahan kelelawar ini jika mereka ingin menyerangmu, dalam hal ini kau harus bertahan sampai kau benar-benar memurnikan kekuatan api terlebih dahulu."


Xin Chen agak panik saat Rubah Petir mulai menutup matanya kembali, kalau sudah bermeditasi Rubah itu takkan bisa dipanggil lagi walaupun dia menangis ataupun menjerit. Sementara itu Xin Chen baru sadar jumlah kelelawar yang dilihatnya di awal hanya sebagian kecilnya saja. Para kelelawar ini sendiri memiliki elemen api dikarenakan kekuatan alam yang memperpanjang umur mereka serta pengaruh dari gunung yang dipenuhi oleh elemen api.


Rubah Petir sendiri yang mengatakan elemen petir dan api berpusat di tempat ini, kekuatan api yang berasal dari gunung dan petir oleh awan yang biasanya menyambar ke tempat ini. Semua kekuatan yang terkumpul itu membuat para siluman yang menetap di gunung tersebut tiga kali lebih kebal terhadap serangan dari pada yang Xin Chen temui di luar sana.


Xin Chen tak bisa melihat dengan jelas, suara jeritan kelelawar yang melebihi angka ribuan dan sangat memekakkan telinga menyerbu indera pendengarannya, hal ini berakibat fatal dengan penglihatannya pula. Setiap kali kelelawar lewat di dekat kepalanya dan frekuensi suara mereka ikut meninggi Xin Chen hanya bisa melindungi diri.


Sementara dirinya tak berani membunuh para kelelawar ini karena takut kejadiannya sama seperti yang dilakukannya terhadap Landak Api. Xin Chen menutup kedua telinganya dengan kesakitan, darah mulai mengalir di antara sela-sela jarinya dan membanjiri bajunya.


Di tengah-tengah situasi mendesak seperti itu Rubah Petir sama sekali tetap tak bergeming, Xin Chen tahu dia akan tetap disiksa habis-habisan oleh para kelelawar tersebut dan memutuskan untuk melawan dengan kekuatan petir pula.


Sayangnya Pedang Petir yang biasanya memberi dampak besar pada lawannya kini terasa seperti pisau berkarat di tubuh kelelawar itu. Walaupun ukuran tubuh mereka sepuluh kali lebih kecil dari Landak Api, tapi daya tahan mereka bukan sembarangan. Tiga kali tusukan pedang petir tak membuat mereka berhenti menyerang Xin Chen dan justru nekad maju, cakaran dari kaki mereka menggores pipi Xin Chen sehingga menimbulkan luka goresan.


Belum habis sampai di situ, ternyata Rubah Petir sedari tadi menyaksikan penderitaan Xin Chen. "Oh iya, aku lupa memberitahu. Hawa manusia membuat siluman di sini menjadi liar, mereka tidak sama seperti yang kau temui di tempat lain. Siluman di sini sudah terlatih berendam di lelehan api. Besok aku akan melihat hasil latihan mu. Semoga kau masih bisa berdiri besok atau para kelelawar ini akan melemparkanmu ke lahar api yang sangat panas. Jika hal itu terjadi, sepertinya kau akan benar-benar mati."

__ADS_1


***


maaf kalau ada kesalahan tulis atau plot hole:( lagi kejar deadline UAS tengah malam ini soalnyaT.T kapan bisa luang sih ya Allah, pengen nulis kerjaan numpuk😢 dahlah pasrah aku mah


__ADS_2