Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 177 - Tumbangnya Kaisar Langit


__ADS_3

"Dengan begini apakah Qiang Jun sang Kaisar Langit berhasil dikalahkan?" Salah satu bertanya masih dengan perasaan kagumnya.


"Tidak ... Tidak salah lagi! Tuan Muda Xin kedua berhasil membunuh Qiang Jun! Demi apapun di muka bumi ini, aku merasa beruntung sang Pedang Iblis kedua telah ditakdirkan bersama kita!!"


Sorak-sorai terdengar sangatlah ramai, Xin Chen tak mengalihkan perhatiannya dari gerbang tersebut. Ancaman masih terasa di benaknya. Terbiasa dengan kehidupan di alam bebas melatih kemampuannya melihat ancaman di depannya.


Tiga detik tak lama setelahnya pintu gerbang dihancurkan oleh Qiang Jun, Xin Chen mencoba menahannya tapi tendangan tersebut begitu tiba-tiba. Qiang Jun kembali dengan bunga api yang bersinar. Jubah kebesarannya berkibar, lelaki itu tampak lebih berang dari sebelumnya.


Xin Fai mendekatinya, menyerahkan sesuatu. "Jika kau benar-benar membutuhkannya. Kali ini aku takkan melarangmu."


Permata milik Naga Es, dengan kemampuan menghentikan dan mempercepat waktu. Xin Chen menerimanya namun tak menggunakannya. "Mungkin belum saatnya, tapi suatu saat ketika aku benar-benar tak bisa melawan apapun yang ada di hadapanku. Aku akan menggunakannya."


Sedari tadi Xin Chen mengerti apa yang dimaksud Ayahnya, dirinya tak bisa selamanya menggantungkan diri pada kekuatan Naga Es. Dalam situasi mendesak dia harus mengandalkan dirinya sendiri, tidak peduli sesulit apapun. Karena untuk itulah nama Pahlawan diciptakan.


"Aku belajar cukup banyak hari ini." Dia mengatakannya sambil tersenyum. Berjalan perlahan menghadap Qiang Jun, tampaknya lelaki itu hanya berniat menghabisinya saja sekarang.


Sekarang adalah penentuannya, Xin Chen melihat telapak tangannya yang membara oleh api biru. Perlahan cahaya biru itu meredup tatkala kekuatan roh mengelilinginya. Tubuhnya dikelilingi oleh kegelapan yang menyala-nyala oleh Api Keabadian.


Sementara Qiang Jun telah bersiap menyerangnya, pria itu menghilang karena begitu hebat kecepatannya. Muncul di hadapan Xin Chen tanpa peringatan sedikitpun, hanya saja anak itu sudah memperkirakannya lebih dulu dan menyiapkan perangkap di balik punggungnya.


Qiang Jun menemui sebuah gerbang kematian di depannya, teknik yang sama kembali dipakai Xin Chen.

__ADS_1


Tapi sayangnya teknik itu takkan berhasil dua kali, Qiang Jun mengelak dan mundur untuk jaga jarak setidaknya dua puluh meter.


Qiang Jun masih begitu terpaku dengan Gerbang Dewi Kematian kecil di depannya, sampai dirinya tak sadar di belakangnya perlahan muncul Gerbang Dewi Kematian lainnya yang jauh lebih besar dari yang pertama. Sebelumnya Xin Chen sudah memperkirakan kekuatan seperti itu takkan sanggup menahan Qiang Jun.


Tapi kali ini dia yakin, dengan mengerahkan kekuatannya secara sempurna meskipun harus membuatnya pingsan karena kehabisan kekuatan, setidaknya lelaki itu berhasil dikalahkan.


Qiang Jun baru merasakan kekuatan besar di belakangnya saat Xin Chen melepaskan pengaruh dari Topeng Hantu Darah yang menyembunyikan wujud serta hawa dari kekuatan Gerbang Dewi Kematian. Tubuhnya diseret dalam mulut gerbang dan sepuluh lapis penutup menguncinya di dalam. Tak habis sampai di situ Xin Chen masih menciptakan api yang mengungkung gerbang tersebut sangat tinggi, tak ada tempat untuk melarikan diri. Gerbang Dewi tersebut membuat bumi terasa bergetar saat Qiang Jun memaksa keluar.


Tiap detik berlalu begitu lama, hingga sepuluh menit berlalu getaran yang terasa mulai melemah. Xin Chen nyaris ambruk, dia menggunakan wujud roh sekaligus untuk memulihkan tenaga dalamnya. Tubuh barunya ini berbeda dari sebelumnya, meski harga yang dibayar tak setimpal.


Sekali lagi Petir Kutukan jatuh merampak Gerbang Dewi Kematian, menimbulkan suara berdenging yang cukup lama di telinga hingga petir itu menghilang. Keadaan yang begitu silau oleh cahaya petir perlahan menghilang, Gerbang Dewi Kematian membuka pintunya. Memuntahkan sebuah mayat manusia, tak bergerak lagi.


Api yang mengelilingi mayat itu pun pelan-pelan lenyap tak bersisa, Xin Chen mendekati mayat tersebut. Tak disangka sudah mati pun dia masih terpikirkan untuk membuat mayat itu habis hingga ke abu-abunya. Hal itu membuat para pendekar lainnya memasang tampang heran.


"Guru Rubah ...."


Hanya kata itu yang terucap, Rubah Petir baru saja menghantamkan cakar besarnya pada kepala Naga Kegelapan. Hal itu membuatnya mendapatkan balasan terjangan ekor naga tersebut, begitu berat hingga kedua kaki Rubah Petir membuat retakan besar di tanah kala menahannya.


"Naga Kegelapan ku serahkan padamu."


Lambat laun tubuhnya menghilang bersama angin-angin yang bergerak pelan menyapu abu mayat Qiang Jun, Gerbang Dewi Kematian menghilang tak lama setelahnya. Seakan-akan semuanya hilang tanpa sisa, tak pernah terjadi apa-apa. Menyisakan rasa kagum tiada tara di mata orang-orang, sekali ini mereka dapat melihat kekuatan sebenarnya Xin Chen.

__ADS_1


"Seandainya setelah ini aku masih hidup, aku dengan sangat bangga menceritakan kisah ini pada anak-anakku. Anak itu, aku yakin dia akan menginspirasi generasi muda saat ini."


"Ah, rasanya tak percaya melihat anak itu tumbuh begitu cepat. Rasanya baru kemarin ku dengar kabar dirinya meninggalkan rumah, meskipun tak pernah mengatakannya tapi aku salah satu orang yang mengakui kekuatan Tuan Muda Xin kedua," akunya sembari tersenyum tipis.


"Hei apa yang kalian perbincangkan di sana?! Tetap pada formasi!"


Kedua pria itu tersentak, beberapa siluman burung yang digunakan mati oleh api dari mulut sang naga. Hanya lalai beberapa detik saja, mereka kehilangan setidaknya sebelas orang pendekar. Jangkauan serang api itu jauh, tak heran bahkan sudah menjaga jarak jauh pun mereka dibakar hangus olehnya.


Naga Kegelapan meraung nyaring, perangkap yang disiapkan untuknya terlepas sudah. Naga Kegelapan kembali bergerak leluasa, dia membakar para manusia di bawahnya tanpa ampun. Mengibaskan ekornya membuat siapapun akan tersapu bersama tanah. Dalam secepat itu kini ratusan nyawa kembali melayang, tak bisa dipungkiri sudah berapa kali Naga itu terus mengamuk.


Rubah Petir mendecih, kesabarannya hampir habis oleh naga ini. Dua hari dia menghabiskan kekuatannya dan tak menemukan harapan untuk menang. Xin Fai datang ke sisinya.


"Sudah lama tidak melihatmu, Rubah Petir." Suara itu menyapanya, tidak ada yang berubah.


"Hah, kau saja yang tidak pernah mengunjungiku lagi."


Xin Fai hanya bisa tersenyum ketir, bagaimana bisa dia menemui Rubah Petir jika seandainya persembunyian siluman itu terbongkar karenanya. Di sisi lain dirinya baru pertama kali ini melihat wujud asli Rubah Petir, sangat indah sekaligus mencekam.


"Terimakasih sudah menjaganya selama aku tidak ada."


"Kau terlalu memanjakannya, orang dewasa bodoh."

__ADS_1


"Uhuk! Uhuk!" Dia terbatuk, "Dulu kau meledekku bocah bodoh dan sekarang orang dewasa bodoh?"


__ADS_2