Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 244 - Pendeta Jubah Putih


__ADS_3

Melewati perbatasan kota tanpa tanda identitas adalah hal yang sangat buruk, Xin Chen terpaksa menerobos masuk dengan diam-diam untuk menghindari pemeriksaan. Di beberapa tempat terdapat banyak prajurit yang berlalu lalang, mereka mengintai seisi jalanan dengan tatapan was-was. Hal ini membuat beberapa warga cemas, bahkan beberapa lebih memilih tinggal di rumah hingga keadaan membaik.


Akhir-akhir ini keamanan di segala tempat diketatkan setelah terdengar berita besar yang mengguncangkan dunia persilatan Kekaisaran Shang. Empat ratus sekaligus tiga puluh anggota Empat Unit Pengintai habis tak bersisa. Melihat tiga orang hendak bepergian hanya dengan buntalan kain di pundak mereka, tiga orang itu sedang berdebat serius dengan penjaga gerbang.


"Kami mau lewat! Persetan dengan peraturan!"


"Ini adalah aturan pemerintah! Dilarang untuk pergi tanpa izin!"


"Kaki-kaki kami! Memangnya pemerintah yang memberi kami makan?!" tantang yang paling muda di antara mereka, mungkin usianya sekitar 14 tahun namun sorot matanya yang berani membuat dia tampak seperti pemuda dewasa.


Mendengar bentakan tersebut para penjaga gerbang kewalahan hanya untuk menghalau jalan mereka. Xin Chen dan beberapa orang lainnya menyimak adu mulut itu, memang sangat menarik perhatian. Xin Chen memperhatikan yang paling kecil di antara tiga pemuda itu, dia tersenyum tipis saat melihat bocah itu masih menggenggam kincir angin di tangannya.


"Kami akan bergabung dengan Empat Unit Pengintai! Tidak peduli ap katamu-! Dan lagi pula kami bukan orang dari Kekaisaran Shang, kalian tak berhak mengatur kami!" kali ini yang paling tua menyeru keras, Xin Chen tertegun saat mendengar suara itu, sangat tidak asing di telinganya.


"Kalian ..."


"Aku tahu siapa kau, sudah bangkit dari kuburmu?"


Suara seseorang berdengung di telinganya, Xin Chen membalikkaan badan dengan cekatan, mendapati seorang laki-laki tua dengan jubah putih yang menutupi seluruh tubuhnya kini berdiri tepat di belakang. Dia melarikan diri ke jalan kota yang lebih sepi, mereka saling berkejaran hingga tiba di sebuah tempat luas yang hanya di tumbuhi satu pohon rindang.


Li Yong memamerkan senyum lebar, umurnya memang sangat tua tetapi ingatannya jelas mengatakan bahwa sosok tersebut adalah anak dari muridnya yang telah menghilang beberapa tahun terakhir. "Kau mudah dialihkan, Xin Chen."


Xin Chen menunduk identitasnya bisa terbongkar di tangan Li Yong, bahkan saat ini laki-laki itu tersenyum di saat dirinya merasa terancam.

__ADS_1


Li Yong membaca ekspresi Xin Chen yang sama sekali merasa terganggu. "Semuanya berlalu begitu cepat. Ayahmu pergi di saat aku tidak ada di sana."


"Aku tak mempunyai waktu untuk berbasa-basi," Lalu Xin Chen menunduk. Li Yong yang mendengarnya justru tergelak, "Hahahhaha benar juga, kau terlalu sibuk mengurusi semua itu. Seperti ayahmu dulu. Tidak perlu takut, aku tak akan menghambat langkahmu."


Raut wajah Li Yong yang penuh makna seakan-akan mengartikan bahwa dirinya tak akan membongkar keberadaan Xin Chen, terdengar tarikan napas dalam dari pendeta tua itu. Dia menatap Xin Chen lurus, tatapan matanya yang kini dipenuhi kerutan tampak teduh dan menenangkan.


"Kau menunggu lama di balik gejolak api itu. Apakah untuk sebuah pembalasan?"


Xin Chen tak bergerak atau pun menyahutnya, dia tak bisa menjawab pertanyaan Li Yong. Laki-lai tua itu mengeluarkan sebuah pedang kayu dan melemparnya ke arah Xin Chen.


"Buktikan kesungguhanmu untuk menjadi seorang petarung yang terlahir untuk mempertahankan keadilan."


"Keadilan dan perdamaian sudah lama mati."


"Semua pahlawan sudah lama gugur."


Kali ini Li Yong tak lagi membalasnya, dia tertegun saat Xin Chen bersiap bertarung. Kedua matanya tetap terpejam, membuat Li Yong bertanya-tanya. "Kau sudah banyak berubah."


Pertarungan sengit terjadi saat angin dari selatan meniu jubah keduanya, pendekar tua dengan jubah putih-Li Yong bergerak gesit. Pedangnya tak pernah tumpul sekali pun perang tak pernah terjadi. Dia membalas tangkisan Xin Chen dengan memasukkan tarikan pedang lurus, membuat lawannya mundul mengambil jarak. Menyerang kaki Li Yong, laki-laki itu melompat tinggi.


Xin Chen menyerang Li Yong beruntun, adu tangkis dan serang di antara keduanya terjadi cukup lama. Nyaris berimbang, Li Yong berhasil mengenai pedang kayu lawannya. Dia memojokkan Xin Chen dalam sekali serang, namun semua itu dibalas Xin Chen dengan begitu cepat.


Satu tebasana melintang miring, Xin Chen kini berdiri di belakang Li Yong dengan pedang kayu masih berada di posisi semula.

__ADS_1


Hingga akhirnya setengah bagian pedang Li Yong jatuh ke tanah, terbelah menjadi dua. Laki-laki itu menatap ke bawah, memperhatikan jubah di dadanya yang sedikit terkoyak oleh hembusan angin tajam. Lagi-lagi Li Yong tersenyum, "Aku yakin sekali kau menyerang dari sisi kiriku."


"Kecepatan bisa membutakanmu, Senior Li."


"Hahhaa kau benar." Li Yong terkagum-kagum dengan perkembangan Xin Chen saat ini, dia belajar lebih cepat tanpa dititah oleh seorang guru. Menyendiri di Kota Renwu mendewasakannya dalam banyak hal, itulah yang disadari Li Yong saat melihatnya yang sekarang.


"Pedang di tanganmu itu, bisa menyelamatkan ribuan nyawa. Seperti ayahmu dulu, jangan pernah takut akan kalah dengan dirimu sendiri. Ada begitu banyak orang yang ingin membantumu di sini. Datanglah, Kuil Teratai menunggu kepulanganmu." Senyum hangat Li Yong secara tak langsung menentramkan Xin Chen, dia membalas dengan menunduk.


"Aku akan kembali."


"Jaga diri baik-baik, kami menyertaimu."


Li Yong tak bisa mengatakan lebih banyak karena kini Xin Chen telah menghilang dari pandangannya, namun kini hati laki-laki itu jauh lebih tenang dari sebelumnya. Menemukan Xin Chen setelah begitu lama mencari keberadaannya, Li Yong percaya akan takdir. Xin Chen akan terus hidup dan itulah yang diyakininya selama tujuh tahun ini, bahkan saat semua orang bersikeras mengatakan bahwa anak dari Pedang Iblis itu sudah mati.


Dengan begitu laki-laki itu merasa bisa beristirahat dengan tenang. Li Yong menghembuskan napas untuk yang ke sekian kalinya, menatap padang rumput di hadapannya sembari berujar samar.


"Menyatukan Tiga Kekaisaran, ya? Dulu aku menganggap kau tak sanggup melakukannya, tapi, aku justru berharap kau benar-benar bisa mewujudkannya. Kau yang sekarang ...."


Dia meneruskan, "Aku yakin kau benar-benar akan melakukannya, Xin Chen."


Li Yong rasanya tak ingin pergi begitu cepat, namun racun yang menggerogoti tubuhnya tak mengizinkan laki-laki itu hidup lebih lama. Shen Xuemei menghilang semenjak para pendekar aliran hitam semakin gencar mengejarnya. Li Yong tak bisa mengelak lagi, Kuil Teratai berada di ambang kehancuran. Sekte lain yang lebih kuat menggeser posisi atas mereka dari Kekaisaran.


"Aku takut sebelum kau kembali, rumah kami sudah lebih dulu roboh."

__ADS_1


***


__ADS_2