Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 242 - Sumpah Seumur Hidup


__ADS_3

Shui cukup terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, Xin Chen tak pernah menunjukkan kemarahannya semenjak mereka bertemu. Pribadinya yang jauh lebih tenang semenjak tujuh tahun berakhir berbanding terbalik dengan yang saat ini dilihatnya. Ada sesuatu yang benar-benar disesalinya dan kekuatan yang tak terkendali itu adalah bukti dari kehancurannya.


"Chen ... Kau, jangan sampai hilang arah."


Mata biru itu menyorot dengan tatapan pembunuh, sementara ratusan kawan mereka tewas tanpa satu pun yang utuh kemudian menghilang tanpa menyisakan apa pun. Bai Huang mulai merasakan ada yang salah dengan ini semua. Xin Chen tak seharusnya membunuh para prajurit ini, apalagi sampai membantai mereka tanpa ampun. Tapi tak ada satu pun kata terucap dari mulutnya.


Xin Chen menghilang entah ke mana. Kedelapan orang itu panik, mereka jauh lebih gelisah dari pada sebelumnya. "Apa yang terjadi dengannya?" Tian Xi benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi yang jelas dia sadar ada yang tidak beres dengan pemuda tadi. Shui menggumam tanpa sadar. "Rubah, apa karena kau?"


"Rubah siapa?"


"Aku harus menyusulnya."


"Berpencar! Cari ke mana Dong Ye bersembunyi!"


"Baik!"


Nan Ran dan Tian Xi puas mencari ke sebelah timur, tidak ada Dong Ye selai para prajurit yang mulai cemas tentang apa yang baru saja mereka lewatkan malam itu. Anggota mereka berkurang secara drastis. Kedelapan unit satu pun tak ada yang mau angkat bicara selain mencari sesuatu dengan buru-buru.


Shui semakin panik saat dia tiba di depan sebuah pintu, aliran darah mereembes di bawah kaki pintu hingga keluar. Shui mencoba memutar gagangnya, dikunci dari dalam. Dia menggunakan kekuatannya untuk mendobrak benda tersebut hingga menyusruk di lantai. Melihat sebuah kepala dengan mata melotot ke langit-langit ruangan dalam tatapan seram. Telapak tangan Shui di penuhi darah, dia mencoba melihat lebih jelas lagi. Pemuda itu adalah Dong Ye.


"Jangan gunakan kemarahanmu untuk melukai orang lain, Chen."


Ucapnya khawatir, entahh apa yang sudah terjadi pada rubah sehingga Xin Chen berubah menjadi seperti ini. Shui masuk ke dalam ruangan yang dibatasi dengan tirai. Seseorang duduk di sana dengan kepala tertunduk, tudung jubah menutupi wajahnya yang bermandikan darah. Sementara itu, yang paling menarik perhatian Shui adalah sebuah gumpalan kain besar hitam yang tergeletak di sampingnya.

__ADS_1


Pemuda itu tampak tertidur, Shui mencoba mendekati kain tersebut dan tiba-tiba saja sosok tersebut terbangun. Tatapannya hampa seperti sebelumnya, bibirnya terlalu kelu untuk sekedar bersuara. "Dia sudah mati."


"Tidak mungkin ...."


Shui membuka lipatan kain dan melihat sesosok rubah yang malang, luka di sekujur tubuhnya tak terhitung sama sekali. Shui tak merasakan kekuatan Siluman Penguasa Bumi lagi dari tubuh itu. Tidak, lebih tepatnya dia sudah tidak memiliki kekuatan menjadi seekor siluman. Jari Shui bergetar saat melihat mayat rubah itu, dia merasakan kesedihan yang mendalam. Rubah Petir adalah sosok yang begitu dikaguminya. Semenjak umur mereka ratusan tahun, rubah sudah menantang ratusan siluman terkuat tanpa pandang bulu. Dia kuat dalam segala hal.


"Rubah Petir tidak akan mati semudah itu."


"Andai hari itu aku datang lebih cepat. Mungkin tidak akan terjadi hal yang seperti ini."


Shui menyangkalnya, "Jangan menimpakan masalah ini pada dirimu sendiri. Kau justru akan membinasakan ratusan nyawa hanya karena kematian gurumu."


"Hanya, katamu?" Xin Chen mempertanyakan kalimat itu, Shui memejamkan mata berusaha untuk lebih tenang. "Maafkan aku."


"Kau harus terus berjalan, sesakit apa pun itu."


"Aku hanya akan tersesat." Xin Chen menatap telapak tangannya yang kini dinodai darah. "Aku adalah bagian dari banyak hal. Dan semua itu hanya akan membuatku hilang arah."


Shui tersenyum gelisah, tak ada lagi yang bisa dikatakannya pada Xin Chen. Tatapannya jatuh pada tubuh Rubah Petir dan menyadari ada yang hilang darinya.


"Kau ingat saat perang tujuh tahun lalu, Chen?"


"Rubah kehilangan semua kekuatannya."

__ADS_1


Shui semakin yakin dengan dugaannya, "Saat itu aku yakin Rubah Petir dalam kondisi terburuknya. Dia kehabisan seluruh kekuatannya, menyerangnya hampir tak beda dengan menyerang siluman biasa. Jika dihadapkan pada orang-orang sekelas pendekar besar, kemungkinan dia akan tetap kalah."


"Aku juga berpikir begitu." Xin Chen menambah, "Saat sesudah perang semua orang beralih meninggalkan kota renwu yang habis terbakar. Rubah Petir kehilangan kekuatannya, tetap tinggal di sana akan menghabisi seluruh kekuatannya. Hutan Kabut sudah hancur saat itu."


"Dia meninggalkan Kota Renwu dan menghindari para manusia, dia tidak melewati Kota Fanlu dan memilih pergi ke desa lain."


Xin Chen berpikir saat itu Rubah Petir tak memiliki pilihan lain selain ke gunung, dia diusir oleh tetua adat. Meskipun dia adalah Siluman Penguasa Bumi, ketakutannya terhadap manusia masih ada. Rubah tak akan semarah itu jika tidak dilukai. Dan luka bakar di beberapa bagian tubuhnya adalah ulah dari penduduk desa tersebut, dia meninggalkan gunung dan pergi ke tempat persembunyian lain.


Dengan meninggalkan kutukan di tempat tersebut. Salah satu penduduk desa membocorkan informasi tersebut pada kelompok lain dan sisanya seperti yang dia lihat kemarin. Terjadi pertarungan tak seimbang yang merenggut nyawa Rubah Petir.


"Dan bagian paling pentingnya adalah permatanya dicuri. Dia takkan bisa hidup tanpa kekuatan, ratusan manusia mengejarnya. Lagi-lagi, salah satu dari kami gugur."


"Aku sudah mencari segala hal untuk menyelamatkannya, tapi tak berhasil. Dengan permata atau pusaka langka mana pun, nyawa Siluman Penguasa Bumi tidak bisa ditawar dengan apa pun." Xin Chen mengepalkan tangannya, "Bahkan Api Keabadian takkan sanggup mengembalikannya."


Shui mengerti hal itu lebih dari pada Xin Chen. Kekuatan Siluman Penguasa Bumi ribuan kali lebih besar dari pada manusia. Termasuk Xin Chen, dia takkan mampu menyelamatkan Rubah Petir yang bahkan ukuran tubuhnya sangat besar.


"Kau marah?" Shui tersenyum saat mendapati wajah kebingungan Xin Chen. "Berarti kau masih manusia. Kau pantas untuk sedih. Tapi gunakan kesedihan itu untuk menguatkanmu, bukan untuk mengendalikanmu."


Shui tak tahu apakah kata-katanya dapat menenangkan Xin Chen. Dia menyentuh Rubah Petir sekali lagi, "Izinkan aku menjaganya di dimensi ruangku. Aku pastikan tubuhnya akan aman."


"Terima kasih. Jaga dia selagi aku belum mencari cara untuk mengembalikannya. Walau pun harus mencarinya ribuan tahun ... Aku bersumpah akan mencoba segala cara untuk menariknya dari neraka."


"Kupastikan Rubah Petir tidak akan bisa tenang setelah mendengar sumpahmu itu."

__ADS_1


__ADS_2