Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 330 - Yan Xue


__ADS_3

"Ingat ini baik-baik. Kurasa otakmu tidak langsung penuh hanya untuk mengingat ini."


Wajah Roh Dewa Perang berubah. "Aku bisa hidup tanpa kekuatanmu. Dan kau tak akan bisa hidup tanpa pemilik kekuatan ini. Pilihanmu hanya dua. Pertama, ikuti perintahku. Kedua, lakukan semaumu."


"Pilihan kedua cocok untukku."


"Aku akan membuang Kitab ini ke dasar laut hingga tak ada satu pun manusia yang bisa menemukannya."


"Jangan mengada-ada!"


Pintu digedor dari luar, lalu kunci dan palang pintu dibuka secara terburu-buru. Mereka segera masuk memeriksa keadaan sekitar yang berantakan.


"Apa yang terjadi?"


Mereka dapat melihat Xin Chen bersembunyi di bawah kolong kasur. Pemuda itu dibantu keluar dari sana.


"Seseorang masuk. Aku tidak tahu itu apa. Tiba-tiba saja dia menggerakkan sesuatu yang tidak masuk akal. Seperti hantu dengan zirah. Tiba-tiba saja dia mengamuk dan kehilangan kendali. Setelah itu menghilang."


"Kekuatannya menghilang. Apa yang terjadi padanya?" Mereka saling berbisik kecil, tampak mempertanyakan situasi yang baru saja terjadi. Pintu besi ditendang keras oleh prajurit dengan zirah berwarna emas. Dia adalah prajurit utama dengan pangkat tertinggi di distrik ini. Suaranya yang berat menggelegar.


"Aku mencium bau-bau pembunuh! Di mana dia?! Apakah kau?!" Laki-laki itu menarik kerah Xin Chen, wajah mereka saling berhadapan. Xin Chen dapat melihat sepasang mata tajam di balik pelindung kepala besi tersebut.


"Seseorang masuk ke tempat ini dan mengatakan ingin membunuh kami semua. Aku punya bukti."


"Katakan!"


"Semua orang sedang berada di bawah pengaruh obat yang dibuat orang itu."


"Aku tak tahu apakah kau memang tidak tahu apa-apa atau hanya berpura-pura ..." Dia mengencangkan cengkramannya pada kerah Xin Chen. "Tapi yang barusan itu adalah kekuatan level tinggi yang akan membuat orang biasa sepertimu mati ketakutan."


Xin Chen menoleh ke sekitarnya. "Mereka tidak mati."

__ADS_1


Prajurit itu melepaskan tangannya dan mendorong Xin Chen cukup kuat. "Di mana dia?"


"Dia seperti kehilangan kendali. Lalu hilang."


"Tidak ada informasi lain yang kau ketahui?"


"Aku tidak berani keluar dari sana. Dia akan membunuhku."


Prajurit itu mundur, menghadap bawahannya yang sedari tadi menunduk ketakutan.


"Kalian membawa orang yang tidak beres. Cari tahu tentangnya sampai ke akar-akarnya. Akan menjadi masalah jika orang pusat mengetahui persoalan ini. Bisa-bisa distrik-18 dibakar habis oleh Kaisar!"


Semuanya segera menyebar. Namun salah satunya berhenti saat atasannya menggeram emosi. "Siapa yang bilang kau boleh pergi?"


Dia menunduk. Tepat di saat itu kepalanya jatuh menggelinding bersimbah darah.


Prajurit tersebut menoleh ke arah Xin Chen, "Jangan katakan apa pun tentang masalah ini. Atau kau akan mati seperti dia."


Dia hanya terdiam, larut dalam pikirannya sendiri. Kekuatan baru tadi pastinya mustahil dikendalikan. Dan kenyataan bahwa dirinya telah memasuki tingkat kedua dari Kitab Pengendali Roh membuat Xin Chen was-was.


"Bencana dan keserakahan?" Dia menatap tangannya sendiri. Rasanya dulu dia sering mendengar bahwa seseorang ingin dengan kedua tangan itu, dirinya dapat menyelamatkan ribuan nyawa. Mengembalikan kebahagiaan dan menghapus kesengsaraan. Bukan sebagai pendatang bencana dan keserakahan.


"Aku tidak bisa membuangnya. Sampai semua ini selesai."


Apakah saat semuanya telah berdamai, hanya Xin Chen satu-satunya yang pergi? Dengan membakar Kitab Pengendali Roh beserta dirinya sendiri. Sebelum kekuatan itu menjadi sumber masalah yang selanjutnya muncul. Xin Chen menyandarkan kepalanya pada dinding. Tak menyadari dia terlalu lama terdiam hingga pagi datang. Keributan di luar sana mulai senyap, berganti dengan bunyi derap langkah puluhan kaki yang berbaris di lapangan yang sangat luas.


Mereka kembali berbaris teratur, keluar dari asrama tanpa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi semalam. Hanya ada satu orang yang tewas. Bisik-bisik di antara mereka seketika lenyap ketika suara keras dan menggelegar memberi instruksi di depan.


"Selamat untuk kalian yang berhasil masuk ke seleksi kedua. Jumlah peserta yang lolos memang di luar perkiraan. Tapi kami mengakui ada begitu banyak pemanah berpotensi yang akan kami pertimbangkan untuk maju di barisan depan peperangan. Selanjutnya, kita akan memasuki seleksi kedua yang mengandalkan ketahanan fisik, kecekatan dan yang terpenting kekuatan. Siap atau tidak siap. Mati atau hidup. Semua itu bergantung pada diri kalian sendiri."


Laki-laki itu menunjuk ke samping, jauh di sana mereka dapat melihat gunung tinggi yang dikelilingi oleh hutan berkabut. Suara-suara binatang buas terdengar dari sana hampir setiap malam. Mereka memerhatikan gunung itu dengan tidak yakin. Apalagi ada beberapa di antara mereka yang memiliki fisik lemah. Terutama mereka yang sudah berusia di atas 50 tahun.

__ADS_1


"Kita akan memanjat gunung itu?" bisik Yu Xiong. Yang lainnya mengangguk.


"Sepertinya aku akan menjadi beban lagi." Youji menarik napas, menatap gunung berkabut itu tanpa harapan.


"Beban atau tidak jangan sampai kau mati, aku akan ditampar sampai masuk kubur oleh ayahmu nanti," celoteh Wei Feng. Membayangkan laki-laki itu mengamuk dengan palu besar di tangannya. Bulu kuduknya berdiri seketika.


"Dalam lima jam, siapa pun yang berhasil naik ke atas dianggap lolos. Perhatikan langkah kalian baik-baik. Kalian harus sampai di atas sebelum malam tiba."


Dia berdiri, diikuti semua orang yang memberi hormat padanya.


Meski berdiri di tempat yang paling ujung, Xin Chen tetap terlihat oleh laki-laki itu. Barisan telah berpencar, bersiap melakukan perjalanan ke gunung yang memakan waktu sampai tiga jam. Suara memanggil terdengar dari arah belakang, Xin Chen dan yang lain menoleh.


"Kau saja. Kemari."


Xin Chen maju meninggalkan lainnya yang menghela napas lega. Tidak ada yang berani berurusan dengan prajurit utama itu. Pembawaannya saja seperti ingin membunuh orang-orang yang membelot. Wei Feng hanya bisa berdoa Xin Chen tidak mengatakan sesuatu yang membuat dirinya tewas seketika oleh laki-laki itu.


"Ikut denganku."


Xin Chen mengikuti laki-laki tersebut, dia dibawa ke sebuah bangunan yang dihiasi oleh patung bangau dan kolam teratai. Terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan tempat lainnya. Laki-laki itu duduk di sebuah kursi batu dengan meja bulat di tengahnya. Menyilakan Xin Chen untuk duduk di depannya.


"Tidak perlu begitu serius. Aku tidak akan memakanmu."


"Apakah aku terlihat seperti orang yang gugup?"


Laki-laki itu mengangkat wajah dan baru menyadari betapa santainya Xin Chen. Dia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, sepertinya aku terlalu meremehkanmu."


"Jadi untuk apa kau membawa aku ke sini?"


"Untuk mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya."


Kali ini baru Xin Chen cemas.

__ADS_1


__ADS_2