Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 308 - Salamender Api VI


__ADS_3

Salamender Api tak merespon apa-apa untuk beberapa saat, tetapi di pergerakan berikutnya bisa dilihat siluman itu tengah membuka mulutnya lebar-lebar. Mengeluarkan kekuatan api yang menutupi seluruh wajahnya. Angin kencang berembus begitu kencang hingga membuat serpihan batu berterbangan.


Di samping itu kobaran api biru membesar di kedua telapak Xin Chen, dia terus menaikkan tingkat kekuatan dari Api Keabadian hingga merasa seluruh dirinya terbakar bersama panasnya api tersebut. Kedua kekuatan saling bertabrakan untuk yang ke sekian kalinya hingga menghasilkan benturan besar.


Salamender Api menembakkan kekuatan besar tersebut, Xin Chen berhasil menghindarinya. Tapi tampaknya serangan pertama itu memang tak begitu serius dilakukan oleh Salamender Api. Sebelum benar-benar mengakhiri hidup Xin Chen, dia ingin berkata lebih banyak.


Di sela-sela pertarungan kedua elemen api, Sang Salamender mengeluarkan ancaman yang terdengar angkuh.


"Kekuatanmu tak akan sebanding denganku. Walau pun Api Keabadian memihak pada dirimu, jika berhadapan dengan kekuatan sang Dewi Api aku pastikan kedua lututmu akan bertekuk memohon ampun darinya."


"Suruh dia saja yang berlutut padaku."


Salamender Api tahu memang jawaban pemuda itu selalu tak sesuai deeper yang ingin didengarnya, dia tak mencoba memaklumi. Muncul rasa benci saat Xin Chen mengatakannya dengan enteng, seolah-olah Dewi Api bukan hal penting. Bagi Salamender Api, Dewi tersebut layaknya penyelamat. Penuh dengan keadilan dan kebenaran. Tidak ada yang mampu menaklukkan kekuatan api begitu lama ini, dan semua itu berkat dukungan dari Dewi tersebut. Mungkin di antara Siluman Penguasa Bumi lain, hanya dirinya yang memiliki hubungan baik dengan Roh Elemen Api.


"Seperti yang kau minta. Kematianmu hari ini adalah takdir. Beruntung kau bertemu denganku sehingga kematianmu menjadi lebih cepat. Bersiaplah. Kau akan mati tanpa perlu pemakaman."


Api dari atas laut naik ke permukaan, membentuk bola-bola kecil yang bersinar terang. Selayaknya bintang yang bertaburan di langit, jumlah bola tersebut nyaris tak dapat terhitung jumlahnya. Hanya menunggu Salamender Api melepaskannya, Xin Chen pasti akan kewalahan.


Namun Xin Chen tetap keras kepala, dia yakin bahkan tanpa Kitab Pengendali Roh dirinya tetap bisa bertarung. Hal itu menjadi keyakinannya sendiri, bahwa kekuatannya yang sekarang bukan hanya karena kekuatan para roh melainkan kekuatan dari dirinya sendiri.

__ADS_1


Salamender Api dapat melihat keragu-raguan Xin Chen, dia tersenyum miris. "Kau bahkan tak yakin dengan dirimu dan bersikeras untuk menemuiku."


Xin Chen tak menatap Salamander Api lagi, dia hanya menatap kedua tangannya yang seperti terbakar.


"Aku datang ke sini demi Rubah Petir."


"Apa katamu?"


Salamender Api masih belum bisa menerima kenyataan bahwa sahabat yang begitu dikaguminya itu menyuruh manusia yang paling dia benci untuk datang padanya. Bukan hanya itu, orang tersebut datang setelah Rubah Petir tiada.


"Rubah ingin menyingkirkan Naga Kegelapan dari muka bumi ini. Demi kalian semua, Siluman Penguasa Bumi. Dan dia mati di medan pertempuran terakhir. Dia tidak pernah bilang dia kalah, karena itu aku berpikir untuk mengembalikannya. Meski kesadarannya telah habis atau tubuhnya membusuk. Aku akan memanggil jiwanya dari dunia mana pun. Karena dia masih belum menyelesaikan tugasnya."


Xin Chen memberanikan diri untuk melihat di hadapannya, Tatapan ingin membunuh Salamender Api dan sosok perempuan dengan gaun dari bara api di kepalanya. Serta kekuatan api tanpa batas yang berhasil membuat laut seperti mendidih.


"Tutup mulutmu atau aku akan melelehkannya!" Tiba-tiba saja Salamender Api memotong. Dia menggeram hebat layaknya binatang buas yang merasa terancam.


"Naga Air dan Rubah Petir sudah bertarung denganku. Dan Shui yang dimaksud adalah Naga Air. Dia sebenarnya datang ke sini untuk meminta pertolongan darimu."


"Omong kosong! Tunjukkan mana dia, dia tak mungkin meninggalkan kandangnya hanya demi membantu manusia rendahan sepertimu."

__ADS_1


Mata Salamender Api semakin memerah, sekali pun dia menunjukkan gelagat ingin mengalah, seperti ada sesuatu yang terus memaksanya berteriak. Xin Chen memperhatikan lama sosok yang hanya seperti bayangan merah di kepala Salamender Api. Dia tersenyum penuh arti. Rona merah di wajahnya tampak begitu anggun sekaligus berbahaya.


Lagi dan lagi Salamender Api mengamuk, dia meledakkan api dalam skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Mengejar Xin Chen yang terus mengelak dari kejarannya. Pertarungan berat sebelah itu membuat Salamender Api menghancurkan pulau asing di tengah laut itu. Membuatnya seperti tanah yang hangus oleh kebakaran hebat. Xin Chen berhenti di satu titik, pengendaliannya terhadap Api Keabadian semakin parah saat tekanan yang diberikan Salamender Api membesar.


Kini Salamender Api telah berada di depannya. Hanya butuh satu serangan dari kekuatan roh untuk mengalahkan siluman itu.


Demi Rubah Petir. Pikir Xin Chen, dia mengeluarkan Kitab Pengendali Roh. Untuk pertama kalinya, menggunakan jurus tingkat lanjutan dari ilmu tersebut.


"Kitab Pengendali Roh - Jiwa Dewa Perang—"


'Aku melihat jiwa yang begitu putus asa.'


Sebuah suara mendengung di telinganya, diiringi nada bicara penuh ejekan dan disambut oleh tawa menggema setelahnya. Waktu seolah-olah berhenti ketika Xin Chen kembali dipertemukan oleh sosok tersebut. Sosok yang memiliki kekuatan penuh ancaman dan marabahaya. Dengan tongkat di sebelah tangan. Tanpa disadari, Xin Chen kini telah berada di Aula Penghakiman. Tempat yang dulunya seperti neraka dalam sebuah kastil. Tempat di mana dia berputus asa karena kepergian Ye Long atas kesalahannya.


Dan laki-laki yang berdiri di kursi singgasananya kini tengah menutup mulut dengan sebelah tangan. Tertawa sehingga suaranya menggema di tempat yang sunyi senyap tersebut.


'Aku tahu kau sedang memanggilku. Kau terlalu takut dengan kekuatanmu sendiri. Kekuatan besar yang ternyata sekarang sudah di luar Pengendalianmu. Sudah berapa sekarang prajurit rohmu? Mencapai dua puluh ribu? Kau pasti akan gila menyimpan dua puluh ribu jiwa dalam satu tubuh itu."


***

__ADS_1


Beberapa hari terakhir author sibuk merevisi dari chapter 1, karena ada beberapa kesalahan kecil yang takutnya mempengaruhi alur cerita ke depannya. Untuk masalah itu author belum bisa crazy up. tapi seperti yang author bilang, kalau hari ini belum bisa update, akan author gantikan di lain hari. yang pasti dalam satu bulan minimal author akan upload sampai 60 chapter. Mau updatenya seminggu sekali kek. Paling akhir bulan dah, updatenya baru banyak2. Thor tahu banyak yang kecewa, tapi author juga yakin masih banyak lagi yang mau peduli dan mengerti keadaannya bagaimana


Karena Author klo ngerevisi satu bab sampai lima jam༎ຶ‿༎ຶ mata suntuk, update kaga, ide ngilang. Mengsedih. Tapi gak apa, ini demi keberlangsungan cerita ini juga wkwk


__ADS_2