
Langit yang semula biru berganti ke kuning keemasan, malam akan tiba tak berapa lama lagi, burung-burung kembali ke sarang mereka. Li Yong baru saja memasukkan pedang kayu di tangannya ke tempat semula. Pedang kayu yang akan menjadi mimpi buruk Xin Chen. Mengerikan, bahkan dirinya sudah mati rasa dibuat oleh guru ayahnya ini.
"Bersiaplah, sebentar lagi jamuan makan tiba. Pastikan kau datang tepat waktu.." Li Yong berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "Dan pastikan kali ini kau tak membuat masalah."
Menanggapi hal tersebut Xin Chen hanya mengangguk, dia sudah cukup kena ceramah oleh lelaki itu. Bahkan sambil latihan pun Li Yong sempat-sempatnya menceramahinya tentang ketidaksopanan anak itu terhadap Su Zhen. Biar begitu Xin Chen masih memiliki kewajiban untuk menghormati orang yang lebih senior daripadanya.
Dan apalagi Li Yong meminta Xin Chen untuk segera meminta maaf, awalnya dia menolak tapi pada akhirnya Xin Chen menyerah. Mendebat dengan Li Yong tidak akan menghasilkan apa-apa.
Malam telah datang, lampu-lampu penerang membuat suasana malam itu begitu indah. Makanan yang kebanyakan dibuat dari sayuran, buah-buahan dan tanaman dengan khasiat tinggi diletakkan di atas piring. Diiringi oleh alunan alat musik petik yang begitu menenangkan, dan juga tarian yang dipersembahkan oleh murid sekte Bunga.
Acara yang tenang itu sedikit membuatnya lupa akan kejadian tadi siang, Su Zhen mengembuskan napas kasar. Saat berusaha untuk melupakan justru Xin Chen datang tepat di hadapannya. Meminta maaf padanya secara formal.
"Maafkan sikapku tadi siang, aku tak bermaksud membuat Senior Su menanggung malu. Tentu saja jika Senior mau memaafkanku."
"Kalau tidak?" Su Zhen membalas ketus.
"Kalau tidak terserah, lagipula aku dipaksa, bukan mau ku juga."
"Ch sudah ku tebak. Kau takkan meminta maaf secara tulus walaupun tahu kau salah," tukasnya sembari mengalihkan perhatiannya ke tempat lain, Su Zhen tidak mau diganggu lagi.
Apalagi sedari tadi siang banyak teman-temannya yang melihat pertandingan tadi mulai berbisik-bisik di belakangnya. Su Zhen sampai tidak tahu harus ditaruh ke mana mukanya.
__ADS_1
"Semuanya, mohon perhatian sebentar!" Xin Chen berteriak lantang, lantas puluhan tatap mata teralih padanya.
"Aku Xin Chen, benar-benar meminta maaf kepada Senior Su dengan tulus, mengenai pertandingan tadi memang salahku tak memperhitungkan sehingga pedang kebanggaan beliau menjadi patah. Jika dengan dihukum Senior Su memaafkanku maka dengan senang hati aku akan menerimanya."
Su Zhen sedikit terkejut, yang awalnya kesal terhadap sikap Xin Chen kini dia merasa anak itu tak berniat buruk kepadanya. Pedangnya patah memang karena dia gunakan untuk menghalau serangan yang masuk.
Terdengar suara dengusan napas, Su Zhen berdiri. "Tidak perlu merasa bersalah, Tuan Muda Xin. Dibandingkan menghukummu bukankah lebih baik kau menawarkan pedang pengganti yang cukup memuaskan padaku?"
Xin Chen tertawa kecil, "Yah... Aku tidak tahu juga apa ini cukup. Setidaknya izinkan aku memperlihatkan koleksi yang ku punya."
Semua orang saling berebut pandang untuk bisa melihat pedang-pedang yang Xin Chen letakkan di sebuah meja panjang. Kilatan di setiap bilah pedangnya membuat orang-orang merinding, setidaknya ada dua pedang pusaka bumi dan tiga lainnya yang kualitasnya tak begitu buruk. Su Zhen mengamatinya satu per satu dan mencobanya untuk menebas udara. Sebenarnya dia cukup tertarik dengan satu pedang yang begitu tajam, pedang pusaka bumi itu memiliki aura yang cukup kuat dibandingkan yang lainnya.
Karena Su Zhen mengamatinya begitu lama Xin Chen yakin wanita itu tertarik dengan pedangnya, namun tak berapa lama dia meletakkannya kembali ke tempat semula sambil berkata, "Tidak ada pedang yang cocok denganku."
Tidak bisa berbohong lagi, koleksi pedang yang dia miliki hanya itu. Sisanya hanya buku kitab, mantra dan koin-koin emas. Su Zhen menaikkan sebelah alisnya, tahu begini Xin Chen takkan mau meminta maaf. Hanya saja dia sendiri tak ingin melukai harga diri wanita itu terutama di antara para pendekar senior lainnya. Hanya bisa menarik napas, Xin Chen menggeleng dua kali. Pasrah.
"Aku tidak pun-"
Sesuatu menabrak betisnya dari belakang, Xin Chen segera menghadap ke belakang agar bisa melihat siapa gerangan yang memotongnya berbicara. Ye Long mengangkat kepalanya tinggi-tinggi agar bisa sejajar dengan Xin Chen. Dengan sebilah pedang dengan gagang yang memiliki ukiran indah.
"Ye Long-? Kau dapat pedang ini darimana?"
__ADS_1
Ye Long menaikkan telinganya meniru telinga rubah sambil memasang wajah setengah mengumpat.
"Rubah Petir? Dia memberikanmu ini?" Bisik Xin Chen kecil, naga itu mengangguk dua kali. Dia segera meletakkan pedang tersebut ke atas meja dan melirik ke arah Su Zhen. Tak disangka-sangka justru dalam situasi ini Rubah Petir membantunya.
Xin Chen mengamati pedang tersebut dengan teliti, jika benar dugaannya kualitas senjata itu benar-benar bagus. Keunikan pedang tersebut terletak pada besinya yang sengaja dibuat setipis mungkin, cocok untuk pengguna aliran pedang seperti Su Zhen.
Su Zhen hampir tak bisa bernapas, tentu saja karena pedang yang dibawa Ye Long sangatlah indah. Kualitasnya juga tidak main-main. Dia segera menyentuh senjata itu dan merasa sangat cocok untuknya.
Di titik ini Xin Chen merenungkan sesuatu yang begitu mengejutkan. Ye Long bilang pedang itu berasal dari Rubah Petir namun saat Xin Chen bertanya tentang ruang dimensi rubah itu, dia mengatakan bahwa dirinya tak menyimpan harta berharga di dalam ruang tanpa batasnya.
Pedang itu telah menjadi bukti bahwa Rubah Petir berbohong, dan dari dugaannya kali ini hanya satu yang dapat Xin Chen simpulkan.
Rubah Petir adalah bandar pusaka dan koin-koin emas yang sejuta kali lebih kaya dibandingkan dirinya.
'Guru Rubah, sebenarnya sudah seberapa banyak harta yang kau timbun selama jutaan tahun kau hidup...?' batinnya tak habis pikir.
Xin Chen tidak sadar bahwa Su Zhen telah menerima pedang itu sebagai permintaan maafnya, Ye Long sengaja menginjak kaki anak itu agar dia tersadar.
"Aku takkan mempermasalahkan hal ini lagi, setidaknya kau memang berniat meminta maaf padaku. Itu saja sebenarnya sudah cukup," ujar Su Zhen. Li Yong yang semenjak tadi memperhatikan mereka hanya bisa tersenyum.
Li Yong berniat menarik Xin Chen untuk ikut makan di dekatnya hanya saja Xin Chen bilang dia ingin keluar sebentar. Sekedar mencari angin, melepas penatnya sebelum menempuh perjalanan berikutnya.
__ADS_1
Saat Xin Chen melirik lagi ke belakang, dia menyadari di antara kerumunan tersebut dirinya tak menemukan salah satu murid dari sekte Bunga. Fu Yu. Perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada suara berisik yang berasal dari dalam hutan tak jauh darinya.