Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 190 - Tujuh Tahun Berlalu


__ADS_3

7 Tahun Berlalu


Pembalasan dendam adalah cerita yang tidak pernah selesai. Hujan menjadi darah, dan tanah ibarat bangkai. Perang berkecamuk, merenggut, dan menorehkan luka di mana-mana. Tangis dan jerit layaknya iringan lagu yang menyertai, dan daun-daun yang berjatuhan menandakan kekejaman takkan berhenti bagaimana pun juga itu berakhir.


Kota Renwu adalah bukti dari semua itu, tak pernah tumbuh apa pun lagi di tanah bekas perang berdarah itu, langit biru bahkan tampak kelabu di atasnya. Sepanjang tahun, di Kota Renwu hanya ada badai petir yang bahkan datang di saat musim panas. Gelombang lautan naik saat kemarahan di dalam kota hancur itu dimulai. Tak ada yang berani menapakkan kaki di sana. Mitos-mitos dan dugaan mistis ditujukan pada tempat itu; bahwa telah bersemayam sesuatu di tanah yang sudah tak bertuan itu.


Beberapa kapal yang bertolak ke Kota Renwu ditemukan hancur menjadi puing-puing di pinggir laut kota Fanlu. Tak pernah terlihat burung-burung imigran berhasil melewati Kota Renwu. Seolah, semua yang hidup akan binasa ditelan sesuatu. Maka dalam kurun tujuh tahun, Kota Renwu sudah menjadi legenda kota mengerikan yang terabaikan.


Kekaisaran Shang kembali memulih dalam tiga tahun terakhir, tak ada perang besar yang merenggut nyawa lagi. Semua tampak damai, Kota Fanlu resmi ditunjuk sebagai Ibukota pengganti. Dan ditetapkan oleh Kaisar Qin.


Kabar baik datang dari keluarga kecil Lan An, dalam waktu sebulan ini Xin Xia dikabarkan akan melahirkan putra keduanya. Sebuah berita yang membuat seisi Kota bersukacita. Dirayakan acara kecil-kecilan untuk menyambutnya. Di antara seluruh kebahagiaan itu, hanya Xin Xia yang tidak pernah tersenyum.


Tengah malam, di depan rumah indah dengan ditemani bulan purnama yang bersinar redup, Xin Xia mendongak ke atas langit. Melihat bintang-bintang yang bahkan lebih terang dibandingkan bulan itu sendiri. Sekali-kali angin menelusup di balik helaian rambutnya. Xin Xia tak pernah merasakan kebahagiaan semenjak kepergian Xin Fai.


"Sudah kedua kalinya kau menyelamatkanku. Mengapa aku selalu merasa bersalah dan tak berguna?" Xin Xia mengelus perutnya pelan, setitik air mata jatuh di pipi putih saljunya.


Sudah berapa kali dikirimkan pasukan pengintai untuk mencari tahu keberadaan Xin Fai, menempuh perjalanan menuju Kekaisaran bengis yang tak mengenal kata ampun. Tak satu orang pun kembali dengan selamat dari misi rahasia tersebut.


Xin Zhan dan orang-orang utusan Lembah Kabut Putih pernah turun tangan dan hal itu hanya berujung kematian, hari itu, hanya Xin Zhan yang selamat meskipun harus sekarat selama tiga bulan. Hal yang takkan memungkinkan bagi mereka untuk menyelamatkan Xin Fai, dia telah dikurung dalam sebuah penjara di bagian terdalam bumi. Tak ada yang bisa menjangkaunya.


"Xiaxia ...."


Lan An memanggilnya, seperti biasa istrinya itu selalu memandang langit saat hatinya tengah gundah.

__ADS_1


Hanya keheningan yang hadir, Lan An tertawa hambar.


"Kupikir aku bisa membahagiakanmu," lirih laki-laki itu.


"Nyatanya aku tak bisa mempertahankan segala hal yang membuatmu bahagia. Aku tidak seperti Xin Fai, selama bersamanya kau selalu merasakan kebahagiaan. Dia selalu memastikan kau dan orang-orang merasa tenang dan nyaman. Aku ..."


"Tidak begitu, suamiku. Aku bahagia. Hanya saja aku mengkhawatirkannya. Apakah masih ada dirinya saat ini, entah apa yang dialaminya. Bertahun-tahun sudah pencarian dilakukan, semuanya tak pernah membuahkan hasil."


Lan An mendekap pelan Xin Xia, hanya untuk menenangkannya.


"Semua pasti akan baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggu informasi dari orang suruhan Kaisar. Jika letaknya sudah ditemukan, sumpah mati aku akan menyeret Xin Fai ke depanmu!" Lan An benar-benar serius, sebuah senyum kecil muncul di wajah Xin Xia.


"Aku menunggu janjimu itu."


*


Seorang nelayan sedang fokus menunggu ikan menggigit umpannya. Hingga lelaki tua itu menguap-nguap menahan kantuk. Dia sekali lagi menatap ke atas permukaan laut, hanya pantulan cahaya rembulan yang terlihat di matanya.


Pendapatan para nelayan mungkin takkan mencukupi, lautan pemisah Kota Renwu dan Kota Fanlu dikabarkan tak memiliki ikan lagi. Suhu panas dari arah Kota Renwu seolah memasak ikan itu hidup-hidup. Dikabarkan bahwa Api Keabadian telah menjalar hingga ke bagian dasar laut. Api itu terus bergerak membakar apa pun yang dilaluinya.


Permukaan air laut bergetar, laki-laki itu terkejut. Bukan karena pancingannya disambar ikan tapi sebuah gempa mengombang-ambing perahu layarnya. Hal itu terjadi cukup lama hingga sebuah ledakan besar menyusul. Pria tua itu tiarap di atas perahu, sambil menutup kepalanya ketakutan setengah mati. Seharusnya dia berada tak begitu jauh dari pelabuhan Fanlu. Tak mungkin dirinya celaka karena jarak Kota Renwu jauh jaraknya.


Suara itu jelas-jelas berasal dari Kota Renwu, lalu saat pria itu membuka mata dan melihat sekelilingnya. Sebuah awan tebal nan gelap sedang berlayar di atasnya. Seperti akan menyentuh permukaan laut dan bergerak menuju ke kota tak bertuan itu. Rasa ngeri dan terancam menyelimuti laki-laki tua itu. Bahkan untuk sekedar berkedip atau melarikan diri dia tak berani.

__ADS_1


Petir besar jatuh di atas permukaan sungai, beriringan setelahnya amukan badai dan angin kencang terjadi disusul sambaran petir. Laki-laki tua itu menghilang di tengah kegelapan malam tanpa ada yang mengetahuinya.


Kabar mengerikan datang saat terdengar kegaduhan di pesisir laut, orang-orang berkerubutan melihat tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Kebisingan terjadi, keluarga sang lelaki tua menangisi kematian jasad yang sudah mengeras itu. Tak ada tanda-tanda luka atau pun penyakit tiba-tiba yang membunuhnya. Laki-laki itu seperti mati begitu saja dan menjadi pertanyaan besar di kepala orang.


"Jangan katakan Kota Renwu itu memang sudah ...."


"Aku juga berpikir demikian, mungkin kematian banyak orang telah menjadikan kota itu berhantu."


"Tak mungkin ada yang bisa hidup di sana, tak ada tanaman atau binatang yang hidup di sana. Manusia mana pun pasti akan mati tanpa makanan dan minuman."


Debat-debat terjadi semakin cepat, di antara kerumunan itu Ren Yuan yang memang tinggal di pesisir laut ikut menghampiri. Menatap jasad tersebut prihatin, matanya tertuju pada sebuah kayu kecil yang digenggam mayat itu sangat erat.


Lantas Ren Yuan membelah kerumunan, dia mengabaikan petugas yang hendak mengamankan jasad tersebut. Ren Yuan duduk bersimpuh, tangan lentiknya meraih sebuah kayu persegi panjang yang hanya seukuran telapak tangan. Membaca kalimat di sana dalam kesedihan.


"Aku kembali dari kuburku."


***



Heyhooo~


**Sedikit spoiler (mungkin?) PPI 2 bakal tamat di chapter 600-an. mgkin lebih, baru perkiraan aja soalnya misi yg diemban mc kesayangan kita ini bukan kaleng2. ada yg udh nebak tujuan utamanya apa? menghentikan Naga Kegelapan? Qin Yijun? atau ... Hayoo tebak, wkwk.

__ADS_1


Entah ke depannya akan thor bagi jadi dua buku. Tenang aja bakal tetap up di noveltoon kok. Apa pun keputusan thor, semoga dapat diterima ya😊 mau dimengerti aja Thor udh seneng pake banget hwehe**


arigathanks! 🐣🐣


__ADS_2