
Sebelum sempat menanyakan lagi, Xin Chen telah menghilang dari tempatnya semula. Laki-laki itu mengerjap tiga kali, nyaris tak mempercayai penglihatannya sendiri dan menganggap penumpang perahu tadi adalah hantu.
Air sungai yang sebelumnya sangat tenang berubah menjadi genangan darah saat salah satu tubuh tercebur ke dalam dengan bekas luka tusukan di perut. Darah merembes keluar, amis darah tercium kuat. Para perempuan terkejut dan menjerit saat pertarungan selanjutnya terjadi antara lelaki gemuk yang merupakan pendekar senior di Kota Qingyun.
Seorang pendekar senior itu melawan dua belas musuh yang hampir setara dengannya, tombak tajam menembus bahu lelaki itu. Meninggalkan luka sayat yang menorehkan sayatan dalam, napasnya memburu hebat. Mata laki-laki itu mulai buram ketika darah dari keningnya mengalir membasahi matanya.
Dalam satu hantaman telak, sang pria pendekar jatuh diinjak-injak dan dihajar sampai babak belur. Jeritan semakin menjadi-jadi, ketika pendekar senior itu dibuat sekarat di atas jembatan sungai. Berdarah-darah dan tak ada yang bisa menolongnya.
Tangan pria pendekar itu mengais tanah, mencoba merangkak agar bisa melepaskan diri namun tangannya dihantam dengan semena-mena. Menimbulkan suara keretakan tulang yang membuat siapa pun akan meringis ngilu. Pertarungan tak imbang itu tak lebih dari setengah jam, lawannya sangat-sangat ganas dan jauh lebih tahu cara bertarung binatang dari pada manusia.
Salah satu dari kumpulan penjarah meludahinya, menertawai kemalangan lelaki gempal tersebut dengan senyuman biadab.
"Tidak ada lagi keadilan di Kekaisaran ini. Kita telah kehilangan pahlawan. Untuk apa kau batu? Terus berdiri layaknya pahlawan yang melindungi orang-orang lemah ini? Sementara kau sendiri dibiarkan menderita dan mati tanpa dipedulikan?" Pria dengan pedang yang panjangnya hampir satu badannya mendecih muak.
"Lihat, pahlawan yang kalian agung-agungkan hari itu. Tidak ada yang memedulikannya bahkan jika dia mati di sana! Ha-ha-ha! Menjijikkan sekali, membawa-bawa keadilan, kalian tidak tahu apa-apa. Hanya manusia bodoh yang berlagak keren."
Kaki sang penjarah menekan kepala pendekar senior di jembatan, darah dari kepalanya mengalir kian deras. Telinganya berdenging, terlalu sulit untuk menangkap apa yang sedang lawannya ucapkan selain rasa sakit hebat yang menjalar hebat di sekujur tubuhnya.
Pria itu sadar dirinya akan mati dalam hitungan menit lagi, tapi hatinya tidak rela jika harus melepaskan Kota Qingyun dalam jeratan para penjarah yang datang entah dari mana. Mereka sangat kuat dan juga picik.
__ADS_1
Hilangnya Pedang Iblis selama tujuh tahun terakhir nyatanya mempengaruhi banyak hal di Kekaisaran Shang. Semua orang ketakutan, waspada dan tak sedikit yang memberontak. Semua ini terjadi di seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali para bangsawan. Ibaratnya sebuah Pilar yang menopang sebuah istana. Saat pilar itu roboh, hancur sudah tempat yang dinaunginya.
Sebelum para prajurit mendatangi tempat ini, dua belas penjarah itu rencana akan mengambil harta yang dimiliki pendekar senior itu serta mengambil uang dari penduduk.
Namun, terdengar sebuah suara derap kaki mendekat, seketika hawa pembunuh menguar dengan sangat keji. Menyerang satu dari kedua belas pria tersebut hingga jatuh tak sadarkan diri. Sebelas lainnya menengok ke belakang tak percaya, seorang berjubah dengan caping di kepala. Jalannya tampak tenang, namun kehadirannya sama sekali tidak membuat orang-orang di depannya tenang.
"Apa maksudmu menyerang temanku?"
Tidak ada jawaban selain derap langkah kaki yang semakin mendekat. Napasnya tertahan, kehadiran sosok itu secara tak sadar membuat kedua tungkai kakinya lemas.
Sosok itu berjongkok saat tiba di hadapannya, memapah pendekar senior yang napasnya terdengar seperti orang akan kehilangan nyawa. Semuanya begitu terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Saat tersadar, sosok berjubah itu ternyata sudah berjalan agak jauh dari mereka.
"Bajingan! Kau menghina kelompok kami?! Kau tahu aku siapa? Aku penguasa Kota ini! Jangan mencari-cari masalah denganku!" berangnya dengan tangan terkepal kencang, urat di tangannya terlihat jelas. Tapi sama sekali tak berani laki-laki itu beranjak dari tempatnya.
"Kalau pun kau menyumpah serapah tidak artinya, Pedang Iblis tetap tak akan kembali."
Sejenak mereka terdiam, hingga yang memiliki pedang besar itu berujar ketus. "Pahlawan di Kekaisaran ini sudah lama mati! Api telah padam, tidak ada sumber cahaya lagi di hutan yang gelap ini. Kau mengerti maksudku, bukan? Saat hutan gelap, dan kau berada di dalamnya, maka binatang-binatang buas akan datang. Tergantung padamu ingin menjadi manusia atau binatang itu."
Lalu setelah berbicara panjang lebar laki-laki itu tersenyum puas. Seolah-olah berhasil menggurui sosok di hadapannya yang tidak tahu apa-apa tentang yang tengah terjadi di Kekaisaran Shang.
__ADS_1
"Pedang Iblis hanya akan kembali jika seseorang yang telah berjanji padanya menolongnya."
Terlihat meremehkan, lelaki berpedang besar itu mengayunkan pedangnya di atas bahu sambil memasang tampang congkak.
"Oh, sepertinya kau orang yang cukup sensitif dengan keadaan politik di Kekaisaran ini? Sudah lihat kelakuan Pilar Pertama kita sekarang ini? Dia hanya melindungi Kota Fanlu, istrinya dan orang-orang di sekitarnya saja. Begitulah wajah pahlawan kita sekarang! Cuih!'
Air mukanya berangsur dipenuhi api amarah, dia mengangkat pedangnya dan menghantamkan di atas jembatan hingga berlubang. Aliran sungai terlihat di balik lubang tersebut.
"Aku tak membutuhkan pahlawan yang seperti itu!"
Xin Chen mengangkat wajahnya, membiarkan wajahnya dilihat oleh kesebelas laki-laki yang tengah mengukur kekuatannya. Laki-laki yang memegang pedang besar itu terkesima, bukan oleh kharismanya yang kuat. Namun oleh wajah yang memiliki banyak kesamaan dengan sosok yang begitu dikaguminya. Pedang Iblis. Kehilangan sosok itu adalah luka terbesar baginya sehingga dia mencoba berontak dengan melakukan penjarahan di kota Qingyun. Berharap dengan tindakan itu para Pilar Kekaisaran dan Kaisar Qin akan mengambil tindakan lebih jauh tentang mengembalikan Pedang Iblis. Dengan atau tidaknya perang.
"Semenjak Pilar Kekaisaran pertama meninggalkan kita, para pendekar aliran hitam berbuat semena-mena. Yang kalian lihat saat ini hanya bagian indahnya kekaisaran kita! Desa-desa, perkampungan dan orang-orang miskin dijadikan budak. Mereka dibunuh, disiksa dan dihina oleh binatang bermuka manusia itu!"
Pria itu kali ini mendekati Xin Chen, tak terlihat gentar di wajahnya sama sekali. Dia tahu dirinya salah, pengampunan takkan menebus dosa yang telah dia perbuat selama menjarah Kota Qingyun ini. Tapi jika dengan itu, dirinya bisa menyadarkan para pendekar, bangsawan, Pilar Kekaisaran dan juga Kaisar Qin maka semua hal itu sudah cukup.
"Rumahku dihancurkan. Keluargaku dibunuh tak bersisa. Dan merekalah yang tersisa dari kami semua! Orang-orang yang mati saat nama Pedang Iblis digeser dari Pilar Kekaisaran pertama-! Kumohon, jangan biarkan semakin banyak teman kami yang mati sia-sia."
Lalu laki-laki itu dengan mudahnya bersimpuh lalu bersujud. Nada bicaranya bergetar dengan mata berlinangan air mata.
__ADS_1
"Tolong, Tuan Muda! Hamba mohon, tolong kembalikan Pedang Iblis pada kami!"
***