Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 155 - Puing-puing Kayu


__ADS_3

"Leluhurku pernah berkata, bahwa ada satu pusaka di dunia ini yang memiliki kekuatan tak tertandingi. Dan nama kitab itu adalah-"


Liu Fengying memotong dengan percaya diri, "Kitab Terlarang. Seharusnya kitab itu berada di tangan ayah kalian. Namun sayangnya, Kitab itu tidak ada apa-apanya di banding satu lembar yang kini menjadi musuh kalian di atas."


Kini Xin Chen mengerti, "Itu adalah Lembar Ketiga dari Kitab Terlarang, Ilmu Pemanggil. Jurus yang dapat memanggil jiwa milik orang terkuat sekalipun."


Yong Tao memegang dadanya kesakitan, meskipun kondisi tubuhnya buruk namun pria itu tidak ingin terlihat lemah apalagi di hadapan Xin Zhan saat ini.


"Dan orang yang berada di atas seharusnya adalah Han Zilong. Orang yang pertama kali menemukan Kitab Terlarang."


"Han Zilong-?" Xin Chen hampir tak percaya, jelas sudah semuanya. Orang yang dikenal sebagai pendekar pengelana yang menyeberangi berbagai benua itu adalah sosok terkuat di eranya. Bukan hanya dalam pertarungan, keahliannya dalam menempa pedang juga tidak ada tandingannya.


Lelaki itu mengelilingi dunia untuk mengumpulkan pusaka-pusaka bernilai tinggi dan mendapatkan ramalan dari leluhurnya bahwa akan terlahir kembali anak iblis. Sehingga membuat Han Zilong menempa seluruh senjata terkuat untuk diberikan kepada sosok yang akan menghabisi raja iblis tersebut.


Hanya saja pria itu tak tahu justru senjatanya lah yang menimbulkan perang sesungguhnya. Peperangan antar manusia, tumpah darah dan pembunuhan berantai terus terjadi seolah tak memiliki akhir.


"Lalu yang sekarang bertarung dengan Ayahku di sana?"


Xin Zhan mencengkram pedangnya, dalam situasi terberat pun Ayahnya tak mengizinkannya untuk membantunya bertarung. Sebelum ke bagian pusat kota Renwu Xin Zhan melihat Ayahnya sedang bertarung melawan sosok yang sama mengerikannya seperti Han Zilong, hanya saja pergerakan musuhnya itu seribu kali lebih buas. Ditambah lagi amukan Naga Kegelapan, dia begitu khawatir dengan keadaan ayahnya. Meski yakin ayahnya tidak akan kalah, Xin Zhan hanya bisa membantunya dengan bertarung di tempat yang lebih aman.


Xin Chen sendiri kurang lebih dapat menebak siapa yang saat ini sedang bertarung dengan ayahnya, dan juga penyebab getaran yang begitu dahsyat hingga membuat gelombang laut naik. Di dalam sebuah buku bersejarah di katakan Han Zilong memiliki seorang anak dengan kekuatan iblis yang membara, dia terkenal dengan tangan besinya dan disebut sebagai Tangan Iblis. Han Wu, anak dari Han Zilong dan merupakan sosok di balik Era 11 Tahun Kehancuran. Masa di mana belum lahirnya Qiang Jun yang ditunjuk sebagai pemilik tujuh pusaka langit tersebut. Han Wu memegang pusaka tersebut di tangannya hingga akhir hayatnya dan menciptakan kekacauan di mana-mana.


"Pria itu, bahkan hanya dengan dua ayah dan anak itu seluruh Kekaisaran Shang akan menemui akhirnya."


Xin Chen memalingkan muka, dia menatap ke arah Chang Wei yang baru saja menghabisi siluman.


"Senior Chang! Kumpulkan anggota Aliansi untuk memindahkan penduduk ke tempat aman!"

__ADS_1


"Baik!"


"Dan kalian para prajurit jangan bengong saja! Ikuti Senior Chang dan bantu mereka untuk memindahkan penduduk sipil!"


"Hei, hei, kau sekarang bertingkah seolah kau yang memimpin mereka semua." Liu Fengying mencibir.


"Tentu saja aku tidak mempunyai waktu untuk menunggu orang lain bertindak. Sudah cukup bermain-mainnya! Mati saja sekarang kau kakek tua!"


Tepat saat Xin Chen mengatakan hal itu, hembusan angin yang sangat kuat menghalangi pandangan mereka. Di balik kepulan debu sesuatu yang bersinar biru terang muncul, Xin Zhan tak dapat mengenali kekuatan yang sangat besar ini. Selama tinggal bertahun-tahun di Lembah Kabut Putih tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan seperti yang hadir di depannya sekarang.


"Kitab Pengendali Roh - Gerbang Penghancur," bisik Xin Chen kecil, tidak ad yang mendengar selain dirinya.


Liu Fengying menaikkan sebelah alisnya, merasa omongan Xin Chen hanya gertakan semata sementara tidak terjadi apa-apa di sekitarnya. "Apanya yang-"


Xin Zhan tak mengerti mengapa adiknya tiba-tiba mengenakan topeng, namun dibandingkan itu Liu Fengying tiba-tiba berteriak kesakitan. Seperti ada yang menjalar di tubuhnya dan mencoba memutilasi tubuh itu dengan pedang panas yang dapat melelehkan tulangnya.


Ketika mereka dapat melihat dengan jelas kini Liu Fengying telah terpotong-potong dan sekarat di sana.


"Ti-tidak mungkin... Dia... Iblis itu..."


Xin Zhan melebarkan matanya, namun saat Liu Fengying mencoba merangkak seorang pria datang dan menginjak kepala siluman kalajengking itu dengan kuat. Dia adalah Lan An, tak menunggu waktu lama untuk langsung menghabisi Liu Fengying.


"Sudah ku duga pasti Paman Lan An yang melakukannya! Seperti biasa kekuatan Anda memang tidak ada bandingannya." Xin Zhan menarik napas panjang, akhirnya Liu Fengying berhasil dikalahkan meskipun saat ini Xin Chen menghilang tiba-tiba.


"Heeeh? Aku?"


"Senior Lan memang hebat!" Prajurit lainnya menyeru, di saat-saat genting seperti tadi Lan An datang tepat waktu.

__ADS_1


"Tunggu, bukan aku-"


"Bahkan Senior Lan masih sangat rendah diri di hadapan kami. Seperti yang diharapkan dari Pilar Kekaisaran kedua, Senior Lan bahkan bisa membunuh lawannya dalam satu kali pukulan!"


"Mimpi apa aku semalam diselamatkan oleh jagoan seperti Anda,"


Lan An hanya bisa tertawa canggung, beberapa detik lalu dia merasakan kekuatan misterius yang amat besar di tempat ini. Meskipun begitu cepat, Lan An dapat menyadarinya dan berasumsi bahwa ada pendekar senior dari Kekaisaran lain yang datang ke Kota Renwu.


"Sebenarnya siapa orang itu?" Lan An menatap atap-atap rumah tempat sosok tersebut melarikan diri.


Melihat keadaan kota Renwu yang telah rusak parah seperti ini mungkin hampir 60% kota luluh lantak terlebih di bagian pusatnya. Beruntung para penduduk lokal lebih dulu di asingkan sehingga korban jiwa berkurang.


Xin Chen ingin segera menuju ke tempat Ayahnya namun untuk saat ini dia harus memastikan keadaan ibunya terlebih dahulu, ketika berhasil mencapai bagian paling terpencil dari Lembah Kabut Putih hal pertama yang menunggu Xin Chen adalah puing-puing bangunan rumahnya yang tidak memiliki bentuk lagi.


Rumahnya telah hancur berkeping-keping, begitu pula dengan perasaannya sekarang. Tangan Xin Chen mengepal erat.


"Apanya yang melindungi rumah!? Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa sampai saat ini!" kemarahannya meluap-luap, kekesalan dan rasa hancur di saat-saat seperti ini.


Xin Chen berjongkok, semua kenangan dari rumah ini sangat berharga baginya.


"Akhirnya, Chen'er ... Kau kembali," ucap seorang wanita yang terdengar begitu lembut. Suara yang selalu berhasil memenangkan Xin Chen saat dirinya benar-benar marah.


"Selamat datang. Ah ... Maaf rumah kita jadi berantakan begini." Ren Yuan menitikkan air matanya, meskipun ingin terlihat tegar di depan putra tersayangnya.


Xin Chen tersenyum kecil, air mata mengalir di sebelah pipinya. "Aku merindukanmu, Ibu."


**

__ADS_1


__ADS_2