Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 241 - Iblis yang Hancur


__ADS_3

Kedelapan orang di dalam ruangan terkesiap saat mendapati di depan bangunan telah berdiri ratusan orang bersenjata. Api obor menerangi malam yang mencekam itu, menampakkan wajah-wajah yang tertutupi pelindung kepala dipenuhi amarah.


Tidak ada Dong Ye di sana selain para prajurit yang telah direkrutnya. Bai Huang mendekat ke ambang pintu, mendapati para prajurit yang bahkan sangat dipercayainya ikut bergabung bersama pasukan Dong Ye.


"Kami di sini untuk menyingkirkan tanah suci ini dari dominasi kekuasaan kalian. Serta kebijakan dan peraturan baru yang kalian buat seenaknya, semua itu memberatkan banyak pihak dan untuk itu, kami memaksa kalian turun jabatan dan meninggalkan tempat ini sesegera mungkin!"


"Bedebah tidak tahu diri-!" Urat di leher Nan Ran menegang, pemuda itu mengambil senjatanya hendak menghabisi ratusan orang itu. namun tangan Tian Xi yang menahannya tak membiarkan Nan Ran bertindak sendirian.


"Tenang."


Tian Xi sebenarnya ingin sekali mengumpat saat itu juga, tapi pihak mereka juga serba tersudutkan. Dong Ye tidak menampakkan diri dan itu membuat mereka kesal. Jika dia ada di sana, mungkin hal ini masih diperbincangkan baik-baik.


"Kami adalah orang yang ditunjuk langsung untuk mengawasi tempat ini selama Tuan Muda tidak ada. Untuk semua peraturan yang kami terapkan, itu dilakukan mengingat semakin banyaknya anggota yang bertambah. Lagipula memangnya peraturan apa yang memberatkan kalian sehingga berani mempermasalahkan ini?" Tegas Bai Huang sedikit meninggikan suara.


"Peraturan membayar uang pendaftaran dan tempat tinggal sebanyak lima puluh keping emas yang diterapkan dari tiga hari yang lalu. Peraturan itu dibuat langsung oleh Lan Zhuxian-"


"Mulutmu-" Nan Yin menunjuk pria itu dengan telunjuk lentiknya. "Aku melihat sendiri Dong Ye yang memberlakukan aturan seperti itu, itu bukan peraturan dari Lan Zhuxian! Dan yang menandatanganinya bukan dia sama sekali."


"Maling tidak akan mengaku dirinya maling."

__ADS_1


"Kita bicarakan ini baik-baik." Lao Zi mengeluarkan suara, berusaha untuk lebih tenang dibandingkan temannya yang lain. "Kami tidak akan mempermasalahkan hal ini jika kalian segera angkat kaki dari sini."


"Kalau pun mengusir kami, Tuan Muda akan kembali dan mempertanyakan apa yang terjadi. Tentu saja, jika kalian terbukti mengada-ada masalah besar akan datang pada kalian."


"Tuan Muda Dong Ye jauh lebih paham tentang itu dari pada anda." Usai mengatakan itu dia tersenyum penuh makna, senyuman yang membuat Lao Zi mati kutu. Tidak, dia terlalu takut jika mengakui bahwa Dong Ye memiliki lidah beracun. Sukar untuk tidak terpengaruh ucapannya yang semanis gula.


"Sekarang sudah jelas. Sudah terbukti banyak anggota yang tak menyukai ketetapan baru kalian. Kami akan melaporkan masalah ini pada ketua kita. Sebelum itu, silakan angkat kaki dari tempat ini."


Puluhan orang masuk dan menyeret ke delapan orang itu keluar dengan cara tidak etis, Nan Ran jatuh telungkup mencium tanah. Pemuda itu mengumpat sampai pita suaranya seperti akan pecah. Ini terlalu menghancurkan harga diri mereka, terlebih lagi saat pantat Nan Ran sengaja ditendang kaki mereka.


Lan Zhuxian menatap tajam orang-orang tersebut, mereka tertawa miris saat kedelapan orang itu terusir dengan cara menyedihkan.


"Delapan melawan tiga ratus, kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa di sini. Sampai Tuan Muda Dong Ye mendapatkan tempatnya, maka jangan harap kalian bisa kembali."


"Segala hal di tempat ini adalah milik kelompok dan kalian bukan lagi bagian dari kami. Maka dari itu, angkat kaki kalian dan jangan membawa sepeserpun harta dari sini. Paham?"


"Milik kelompok?"


"Benar sekali. Pergilah jika kau tidak ingin mati sekarang juga."

__ADS_1


"Kalau begitu aku juga tak segan membunuh kalian semua."


Laki-laki itu terkesiap saat itu juga, demi apa pun. Dia bersumpah tak pernah merasakan hal yang lebih mengerikan dari sekedar berdiri di tengah hawa mencekam yang seolah-olah menusuk jantungnya, membekuk seluruh tubuhnya dan sekaligus membuat pandangan laki-laki itu buram. Jiwanya menjerit kesakitan akan sesuatu yang tak diduga.


Hal itu dialami oleh semua prajurit di belakangnya, mereka jatuh berguling-guling di tanah seperti orang kesetanan. Mata mengeluarkan darah yang begitu banyak dan perlahan-lahan digerogoti oleh serangga roh yang memakan sedikit demi sedikit daging serta organ tubuh mereka.


Lao Zi terkejut saat serangga hitam membanjiri tanah, melalui mereka berdelapan sementara ratusan orang di sekitar mereka mati dengan cara yang sangat mengenaskan. Bola mata mereka dicongkel hingga keluar dan menggelinding di tanah. Dan sampai detik itu, sosok yang melakukannya tak pernah memunculkan diri.


Terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, laki-laki itu membakar tubuh kawannya sendiri hingga api membesar. Berharap api tersebut dapat mengusir serangga. Tapi sayangnya, serangga itu bukan serangga biasa. Mereka memakan, tidak pernah merasa kenyang dan selalu merasa kelaparan.


"Si-siapa yang!?" Napasnya tercekat bukan main, seseorang datang di balik kepulan asap. Mencekik lehernya hingga pria itu berjingkat ketakutan, Xin Chen menatap dalam-dalam mata lawannya. Sesuatu yang mematikan dari seorang pengguna roh, adalah jiwanya sendiri. Yang dapat mengendalikan, menghancurkan dan memberi kutukan pada lawannya.


Mata biru tersebut dalam sekejap mata berubah kelabu, laki-laki itu terperangkap dalam ilusi mematikan. Hingga akhirnya dia mati dan tubuhnya dimakan serangga dalam hitungan detik.


"A-apa yang sedang terjadi?!" Semua prajurit itu kocar-kacir seperti semut, tahu akan marabahaya tak biasa yang mengincar nyawa mereka.


Seorang prajurit berlari cepat, belum separuh jalan kepalanya terpenggal. Namun tubuhnya tetap berlari hingga akhirnya tumbang. Tertancap tombak tajam. Pembantaian sadis itu terjadi di depan mata Lan Zhuxian dan yang lainnnya tanpa ada yang berani bergerak dari tempat mereka. Rasa mual saat usus dan isi perut menghambur di tanah bahkan tak terasa lagi. Nan Yin pingsan ketakutan. Lao Zi gemetar hebat dan Bai Huang membeku di tempatnya.


Dia merasa tak pernah melihat pembantaian yang jauh lebih kejam dari pada ini. Kepala-kepala hancur hingga ke tengkorak, otak mereka berceceran dan digerogoti serangga hitam. Dalam kegelapan itu pedang yang memutilasi tubuh prajurit sama sekali tak tampak. Hingga akhirnya keseluruhan dari mereka tumbang, sesosok wujud menampakkan diri dengan pedang berdarah meneteskan pedang.

__ADS_1


Jubah Bulan Darah di tubuhnya basah sepenuhnya oleh darah kental, tatapan yang begitu dingin membuat kedelapan dari mereka tak mampu bergerak. Melihat seberapa kejamnya orang itu.


Sosok itu terlihat hampa, hanya terlihat kebencian dan penyesalan di redup matanya yang biru. Dia adalah Xin Chen.


__ADS_2