Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 298 - Pemuda Kincir Angin


__ADS_3

Yu Xiong menyengir lebar, "Kau tak pernah kembali ke tempat kami, dan berita tentang kematian mu pun terus terdengar. Maka dari itu, saat mendengar tentang Empat Unit Pengintai, Kak Wei bilang ini pasti ulah mu."


Wei Feng melipat kedua tangannya di depan dada, memalingkan muka kesal. "Hah, sudah ku kira kau pasti melupakan kami." Dia mendecak tiga kali, tak habis pikir dengan anak kecil yang dulu pernah datang ke tempat mereka itu. "Tapi ku maafkan. Lagipula kau sekarang sudah bukan anak-anak lagi."


Ucapan Wei Feng seperti tertahan, dia melihat wajah Xin Chen yang hanya tertutupi oleh caping. "Aku sudah memata-matai tempat ini dan yakin bahwa kau lah yang memimpin. Jadi bagaimana, apa kau sudah kaya raya dengan teknik menghilangkan diri itu?"


Dari sekian banyaknya pertanyaan Wei Feng justru ingat dengan hal itu, Xin Chen tertawa kecil.


"Masuklah dulu. Tidak baik berbicara di luar."


"Ya, ya! Masuk, Youji, Yu Xiong! Anggap saja seperti rumah sendiri!" ajak Wei Feng sembari meletakkan kedua tangan di belakang kepala. Dia berjalan dengan wajah tak acuh, menatap sinis para penjaga gerbang yang dari kemarin mengusir mereka. Lihatlah, Pimpinan Empat Unit Pengintai sudah datang dan menyambut kedatangan mereka.


Para penjaga itu menunduk malu. Tak ada yang berani mengangkat kepala saat mereka lewat. Daripada Wei Feng yang hanya berfokus pada penjaga, Yu Xiong dan Youji dibuat terpana oleh markas terbesar yang pernah mereka lihat. Dulu, Youji hanya pernah melihat sekte besar yang dua kali lebih kecil dari pada markas kelompok Empat Unit Pengintai.


Wei Feng baru saja bertatap temu dengan orang menyebalkan yang dari kemarin mengusirnya seperti mengusir seekor ayam.


"Nah, kau! Bocah pendek!"


Tian Xi menoleh, wajah bodohnya itu seakan-akan tak mengingat siapa Wei Feng yang kini memanggilnya.


"Siapa lagi ikan satu biji ini? Pengawal, bawa keluar!"


Tak ada yang sanggup mengiyakan perintah Tian Xi, sejenak pemuda itu terdiam dan baru menyadari Xin Chen sudah pulang. Dia memasang sikap sopan baru menoleh lagi kepada Wei Feng.


"Aku tak tahu siapa dia, tapi dari kemarin dia terus menggedor gerbang dan hampir memanjatnya. Jika dia orang penting bagi Tuan Muda, seharusnya dia membawa kartu undangan atau apa pun yang bisa membuktikan identitasnya sebagai rekan Tuan Muda."

__ADS_1


Wei Feng menggeram, "Aku sudah mengatakannya lima puluh kali! Mungkin telingamu saja yang sudah pindah ke pantat hingga tak bisa mendengar apa kataku!"


Tian Xi memasang wajah geram. "Sial, mimpi apa aku semalam bertemu dengan mahkluk sepertimu."


"Apa katamu?!"


Xin Chen ingin segera angkat kaki dari sana sebelum perang dimulai. Tetapi dia menahannya, memilih melerai dua kubu api yang sama-sama cerewet itu.


"Tian Xi, hormati mereka. Dan Kak Wei, mohon jangan dibawa ke hati kata-katanya."


"Aku bicara cuma pakai mulut, dia saja yang mendengarnya pakai hati." Tian Xi mendumel tak jelas, Wei Feng tak dapat mendengar apa yang baru saja diocehkannya. Yang jelas itu pasti tentang dirinya.


"Mereka sudah kembali?"


Tian Xi mengerti yang dimaksud Xin Chen adalah Lan Zhuxian, Lao Zi, Shui, dan Nan Ran. Dia menyapu pandangan ke sekitar, barangkali menemukan satu orang yang dimaksud Xin Chen.


"Terima kasih."


Tian Xi tampak bingung. "Untuk apa berterima kasih, Tuan Muda?"


"Untuk pembangunan markas ini. Kau melakukannya dengan baik."


Dipuji begitu Tian Xi memasang wajah bangga. "Ho, tentu, tentu! Pendek-pendek begini otakku ada gunanya."


Tian Xi menoleh ketiga manusia yang hanya menatapnya jengah, mungkin karena kesan awal dirinya terlihat seperti orang sombong, tak ada satu pun dari tamu Xin Chen yang ingin berbasa-basi dengannya.

__ADS_1


"Tiga orang ini pasti kelaparan." Dia memanggil beberapa orang yang segera mendekat, "Bawa mereka ke kedai makanan. Gratiskan saja, kalau tidak mau kau sebut saja namaku."


"Baik!"


Tiga orang itu diseret begitu saja, Tian Xi berbicara setengah berbisik setelah itu.


"Tuan Muda, ada masalah-masalah baru datang ke markas ini. Baiknya bertemu dengan Senior Bai lebih dahulu. Ikut aku."


Tak lama mereka tiba di bangunan yang lumayan besar, tempat itu ditandai sebagai tempat Unit Satu berkumpul. Ruangan-ruangannya pun dibuat khusus untuk mengadakan pertemuan dan rapat penting. Tak sembarangan dibuat, mengingat dalam beberapa minggu terakhir, Tian Xi berhasil membawa banyak orang ahli ke dalam markas. Pengrajin sampai mata-mata, bisa dibilang koneksi Empat Unit Pengintai dengan orang atau organisasi tertutup kian meluas.


Hanya beberapa menit mereka di dalam ruangan, Bai Huang datang dengan tergopoh-gopoh. Laki-laki itu tampak lebih berotot dari sebelumnya, latihan keras untuk menempa prajurit memakan tenaga dan pikirannya. Namun ada yang aneh dari laki-laki itu, jalannya terlihat pincang. Tian Xi mempersilahkan ketiganya duduk. Xin Chen duduk di satu kursi khusus yang menghadap langsung ke bangku-bangku lain. Sementara Bai Huang dan Tian Xi saling berhadapan.


"Senior Bai dan dua puluh prajurit diserang di pagi buta oleh sekelompok orang dengan jubah lambang segitiga mata. Aku sudah menyuruh orang menyelidikinya dan mendapatkan kabar jika mereka adalah penghuni tanah ini sebelum Empat Unit Pengintai."


Berbeda dari biasanya, Tian Xi serius membahas permasalahan ini, dia menautkan kedua jarinya di atas meja. Berpikir keras.


"Orang Lembah Para Dewa yang pernah menghuni tanah ini sudah pasti bangsawan konglomerat di Kekaisaran Qing. Mereka bisa melakukan apa saja untuk menghancurkan kita. Aku khawatir dengan uang-uang mereka, Kaisar Yin akan menggerakkan ratusan ribu prajuritnya untuk merebut kembali tanah ini."


Terus terang Tian Xi tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, jika seandainya Empat Unit Pengintai sudah mulai stabil, dia takut markas akan langsung dihancurkan tepat setelah pembangunan selesai dilakukan. Hal ini hanya akan menimbulkan kerugian besar. Pikirannya buntu, kapan musuh akan menyerang dan seberapa banyak pasukan yang mereka bawa.


Bai Huang mengambil alih, "Sebelum mereka pergi mereka memberikan peringatan padaku. 'Tinggalkan atau dihancurkan'. Mata-mata kita mendapatkan informasi terkait pergerakan aliansi di barat Kekaisaran Qing. Mereka sedang dipersiapkan dan berjumlah di atas lima puluh ribu."


"Kau yakin orang itu ditujukan untuk kita?"


"Mereka menyebut ini seperti taruhan. Ada banyak pendekar berbahaya di belakang mereka. Dan melihat pendukung mereka adalah orang-orang yang memiliki kaitan dengan Lembah Para Dewa, bisa dipastikan informasi ini benar."

__ADS_1


Tian Xi dan Bai Huang saling bertatapan, menatap Xin Chen yang tengah berpikir. Terlihat senyuman iblis di wajah pemuda itu


"Aku sudah lama menunggu kesempatan ini."


__ADS_2