
Lang hanya berharap kali ini Xin Fai dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, yakni menjaga Kekaisaran yang tengah dihadapkan pada kekacauan berat.
Bunga Api adalah lambang dari kekejaman, pembunuh para pendosa. Gebrakan itu tak semata-mata mengarahkan Naga tersebut ke dalam pusaran mantra, Xin Fai menghilang sepersekian detik sebelum akhirnya kembali bertempur dengan Naga Kegelapan.
"Lebih cepat lagi, aku sudah tidak punya waktu untuk menahan mantra ini!" Lang mengeluarkan darah kental dari mulut bergigi taringnya, Mantra Api yang diajarkan Qiang Jun adalah jurus yang cukup sulit, pun dengan jumlah kekuatan yang dibutuhkannya. Bisa-bisa Lang mati sebelum teman manusianya itu bisa menggiring Naga Kegelapan ke dalam pusaran mantra.
Mantra Api kian memudar, Lang pikir dirinya terlalu gegabah. Namun menyiapkan Mantra Api membutuhkan waktu, dia terpaksa mengandalkan Xin Fai sebelum mantra api itu hilang untuk memerangkap Naga Kegelapan.
Rantai Api Neraka menggelung tubuh Naga Kegelapan, Xin Fai menariknya paksa hingga Naga Kegelapan terseret beberapa meter.
"Matilah di dalam Neraka, Naga Jelek!"
Naga Kegelapan memberontak, kekuatan itu lebih besar dalam waktu yang signifikan. Hingga akhirnya tiap rantai tersebut terasa seperti meleburkan kulitnya. Naga Kegelapan hampir kehabisan daya, mau tak mau tubuhnya berada tepat di atas mantra, nyaris tipis sebelum Lang jatuh ambruk di atas tanah.
Para pendekar di sekitarnya terpana, ukuran tubuh Naga Kegelapan yang sangat besar itu mendadak hilang. Hanya cahaya merah yang berkilau indah di tempat Xin Fai berdiri. Lelaki itu duduk bersila, ini adalah penentuan terakhir. Sebelum menutup matanya dia berbicara pada Pilar Kekaisaran kedelapan.
"Kau dan yang lain, bawa orang bertopeng gagak itu dan segera musnahkan dia. Tanpa terkecuali, jangan biarkan dia lepas. Aku takkan membiarkannya hidup walau hanya sepenggal napas pun."
"Baik!"
Puluhan orang bergerak kompak dan menyebar di seluruh penjuru Kota Renwu. Hanya tersisa dua orang yang berjaga di sekitar Xin Fai.
"Entah mengapa aku merasa ini seperti takkan berakhir ...." Salah seorang pria yang berdiri di kiri Xin Fai bercelutuk rendah, nyaris tidak terdengar apa yang dia risaukan.
Sementara itu Shui dan Rubah Petir telah kembali pada wujud mereka semula, rubah sendiri kehabisan hampir sembilan puluh persen kekuatannya, jumlah yang melewati batas perkiraannya itu membuat Rubah Petir sadar. Mereka jauh dari kata siap untuk menghadapi ini semua.
Tapi mau berbuat apa, bencana datang lebih awal yang yang diperkirakan. Seandainya Xin Chen sepuluh tahun lebih tua untuk menghadapi ini semua, Rubah Petir takkan meragukan kemenangan pasti berada di tangan mereka.
Rubah itu kehabisan kekuatannya, tapi setidaknya dengan ini semua semua pasti akan baik-baik saja. Dia yakin Xin Fai takkan membiarkan Naga Kegelapan mengalahkannya. Satu-satunya masalah adalah pria bertopeng gagak itu, tapi mengingat roh yang dipanggilnya tapi Han Wu dan Han Zilong adalah dua manusia terkuat, dia pasti kehilangan banyak kekuatan untuk memanggil mereka.
"Aku harus kembali ke laut," sesal Shui, dia merasa bersalah jika harus pergi lebih awal. Tapi apa daya, dia adalah Naga Air. Tempatnya adalah di air. Berlama-lama di daratan membuat kulitnya kering terbakar matahari. Naga itu menoleh saat Rubah Petir yang sama babak belurnya menyeloteh.
"Tidak mau berkeliaran dulu?"
"Cih, kalau aku bisa bertahan di daratan lebih lama mungkin akan kusiapkan upacara untuk membakarmu, Rubah Tua."
__ADS_1
"Kalau berani." Lepas berkata begitu, Rubah Petir tergelak kata-katanya sendiri. Shui mendecak.
"Kau akan tetap di sini, Rubah?"
"Aku tidak peduli lagi jika tiba-tiba manusia itu menangkapku, dunia sedang sekarat, Shui. Aku akan tetap berada di sini untuk sementara."
Shui mengangguk, tapi Rubah Petir nyatanya masih terus berbicara. "Sepertinya luka yang diberikan Salamender Api semakin parah."
Meskipun sudah berusaha menutupi pada akhirnya Rubah Petir tetap menyadarinya, rubah itu sangat teliti. Hanya dia yang mengetahui masa lalu Shui, saat perang-perang besar mengguncang dunia di masa lalu. Perang melawan Salamender Api lah yang membuat Shui menghukum dirinya dengan mengunci diri hingga jutaan tahun, enggan keluar dari sana kecuali jika keturunan dari klan Xin yang mendatanginya.
"Mungkin saat ini aku terlihat lebih lemah darimu, suatu hari nanti, mungkin aku akan meminta maaf pada Salamender itu."
Sedikit tertawa, Rubah Petir menjawabnya. "Pikirkan saja dulu cara agar kau bisa melangsungkan upacara pembakaran untukku. Pergilah, tidak ada yang mau menahanmu di sini."
Shui berjengkit kesal, Rubah Petir memang paling handal dalam mengejek.
"Kau ini-" Shui mendengus, "Sudahlah, kalau terjadi sesuatu lagi jangan kau panggil-panggil namaku."
Rubah Petir hanya menatap bayang-bayang tubuh Shui yang kian jauh ke lautan lepas, hingga akhirnya Naga Air menghilang. Situasi di kota Renwu yang sebelumnya sangat kacau perlahan sunyi. Beberapa bantuan datang untuk menyelamatkan para penduduk yang terluka, sesekali para manusia itu terkagum-kagum melihat wujud kecil Rubah Petir.
'Serius, bocah itu ke mana?' Hanya itu yang berputar-putar di kepala Rubah, Xin Chen menghilang seperti ditelan bumi, tahu begini lebih baik Rubah menyimpan baik-baik jubahnya.
Evakuasi berlangsung cukup lama karena banyak mayat korban yang tertimbun reruntuhan, saat sedang disibukkan dengan pekerjaan suara teriakan yang sangat nyaring seolah mengoyak langit. Lan An berlari dari kejauhan sembari menyerukan nama Xin Fai.
Xin Fai membuka sebelah matanya, keringat membasahi pelipisnya. Jelas pertarungan di alam bawah sadarnya berlangsung sangat sengit, deru napasnya sangat-sangat tenang.
"Xia'er tidak ada di pelabuhan!"
Raut wajah terkejut terpatri di wajah Xin Fai, jika saja sekarang dia bebas bergerak mungkin hal yang pertama dilakukannya adalah memukul wajah Lan An.
"Cari dia ...." Kata-kata singkat itu menyiratkan kecemasan mendalam.
"Atau jangan pernah anggap dia sebagai istrimu."
Lan An tak membalas apa-apa, namun justru mengalihkan pembicaraan. "Kami menemukan sebuah markas bawah tanah tak jauh dari sini, kemungkinan besar itu tempat musuh merencanakan semuanya. Hanya saja ...."
__ADS_1
Dia tak melanjutkan kata-katanya, tahu informasi itu hanya menambah beban pikiran Xin Fai.
"Tidak ada siapa-siapa di sana? Itu berarti mereka sudah selesai dengan sesuatu."
Lan An tak terkejut lagi, Xin Fai paling handal dalam menilai situasi. Setiap keputusannya sebagai Pilar Kekaisaran yang selalu menjaga kedamaian di Kekaisaran Shang ini.
"Tolong panggilkan orang-orang dari Kuil Teratai."
Walau sedikit bingung Lan An tetap mengikuti perintahnya, dia memanggil bawahannya untuk menyampaikan perintah tersebut. Dengan mengandalkan siluman burung seharusnya informasi itu akan cepat sampai, paling tidak dalam tiga jam ke depan.
"Oh-ho! Sepertinya para jagoan ini berhasil menyingkirkan para bonekaku?"
Suara tersebut seolah membuat Xin Fai waspada tanpa sadar, itu adalah suara yang sama dengan pria bertopeng gagak. Laki-laki yang begitu berbahaya, dia telah menciptakan kekacauan terbesar, andai Xin Fai tak memiliki cara untuk menyingkirkan Naga Kegelapan dari Kota Renwu, dia yakin setelahnya satu Kekaisaran Shang akan porak-poranda dibuat mereka.
"Heh ... Sepertinya aku melihat wajah ketakutan di wajah kalian, pertarungan yang menarik ini tak mungkin berhenti sampai di sini saja. Ha-ha-ha!"
Lan An tak menyia-nyiakan kesempatannya, dia melepaskan serangan brutal yang beruntun mengenai pelipis lelaki itu. Sayangnya, pria bertopeng gagak itu menghilang dalam dimensi lain.
Satu-satunya kesempatan memusnahkan pria itu hanya sekarang, tapi Lan An menyesali mengapa tubuh musuhnya itu sama sekali tidak bisa disentuhnya. Andai saja lawannya ini sedikit lebih bodoh, Lan An pastikan tubuhnya sudah berserakan di tanah.
"Kau kemanakan istriku, bajingan?!"
"Ho ... Jangan galak seperti itu, Tuan Lan. Walau aku sudah menyentuhnya kupastikan tubuhnya masih tetap utuh, kau pasti terpana dengan kebaikanku, bukan? Mau bergabung denganku? Dengan senang hati akan kuterima kau sebagai bawahan baruku, tentunya untuk menggantikan posisi Liu Fengying yang sudah tiada."
Nada bicara yang dibuat-buat sedih itu memuncak kan emosi Lan An, pria itu masih berusaha menyerang namun lawannya cekikikan tak karuan.
"Kau bodoh sekali, mau berapa ribu kali kau mencobanya tetap saja kau takkan bisa melukaiku."
"Kembalikan dia atau-"
"Tentu saja, aku akan mengembalikannya ...." Dia menghadapkan tubuhnya pada Xin Fai, "jika kau mau berjanji padaku untuk mengambil pedang itu dari temanmu itu."
"Kau gila?! Kau kira aku serendah itu?!"
"Hm? Yakin tidak mau dengan penawaran terbaikku? Saat ini temanmu sedang berada di dua dunia. Dia sedang berada di pertahanan terlemah. Jika kau melakukannya, kau akan mendapatkan wanita ini kembali, dan juga!" Dia semakin semangat menceritakan, Lan An menyimaknya dengan tampang mengumpat.
__ADS_1
"Kau akan menjadi penguasa di dunia ini, aku akan mendukungmu dari belakang. Tentunya dengan segala taktik hebat ku, menarik tidak? Pasti menarik 'kan? Jangan munafik, kau pasti menginginkannya, hahahaha!"
"Tentu saja aku tertarik." Lan An berkata demikian, membuat Xin Fai membeku dan pria bertopeng itu berhenti menertawainya.